Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Menolak Tawaran


__ADS_3

Sore hari, Steve datang ke rumah kepala desa ditemani oleh Satria. Ia datang dengan niat ingin menolak secara halus tawaran yang diberikan kepala desa padanya.


Tok... Tok... Tok...


"Selamat sore, pak kepala desa..." Satria yang memanggil pak kepala desa dari depan pintu rumah kepala desa.


"Iya, tunggu sebentar," seseorang keluar dari dalam rumah.


"Eh, pak Steve dan Satria. Ada apa ini sore-sore datang ke sini?" Tanya seseorang yang membukakan pintu untuk mereka, yang ternyata adalah ibu kepala desa.


"Pak kepala desanya ada bu?" Tanya Satria.


"Oh, bapak sedang ke ladang. Paling sebentar lagi juga pulang, ada apa ya nak Satria?" Tanya bu kepala desa dengan ramah.


"Begini bu, kami ada perlu dengan kepala desa. Apa kami boleh menunggu saja di sini hingga pak kepala desa pulang?" Tanya Steve.


"Oh... Iya, tentu saja boleh. Silahkan masuk kalau begitu," bu kepala desa mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk ke dalam rumah.


"Baik bu, terima kasih."


Satria dan Steve pun masuk ke dalam rumah pak kepala desa. Mereka pun duduk di kursi tamu yang terbuat dari kayu jati, dengan ukiran sangat rumit.


"Kalau boleh tau, ada keperluan apa ya?"


"Begini bu kepala desa, jadi tadi malam pak kepala desa memberikan saya sebuah kesempatan untuk menjadi kepala desa," jawab Steve.


"Apa? Kenapa bapak bicara begitu?" Bu kepala desa terkejut. Ia tak menyangka karena yang ia percaya suaminya akan menjabat sebagai kepala desa untuk selamanya.


"Saya juga kurang tau bu kepala desa, tapi bapak sendiri yang datang dan menawarkan saya menjadi kepala desa."


"Maksudnya apa sih si bapak ini?" Bu kepala desa terlihat sangat kesal.


"Tapi ayah saya datang ke sini untuk mengatakan penolakannya bu, Ayah saya merasa tak bisa menjadi sosok kepala desa seperti bapak," Satria yang sudah melihat gelagat tak enak dari bu kepala desa segera berusaha untuk membuat bu kepala desa tenang.


Namun bukannya tenang, bu kepala desa malah semakin marah.


"Kenapa menolak? Kenapa gak mau jadi kepala desa? Apa menurut kamu kepala desa itu adalah jabatan yang sangat rendah sehingga kamu tak mau menjadi kepala desa?"

__ADS_1


"Bukan begitu bu, saya merasa saya tidak bisa menjadi kepala desa yang baik seperti bapak. Menurut saya, bapak sudah sangat cocok menjabat sebagai kepala desa. Tidak semua orang mampu menerima jabatan itu bu," Steve mengambil alih.


"Jadi begitu menurut pak Steve?" Amarah bu kepala desa mulai mereda.


"Iya bu, bapak itu sangat bertanggung jawab dan bapak merupakan sosok pemimpin yang baik bagi warganya bu," Steve menambahkan.


"Lalu, menurut pak Steve. Kenapa suami saya ingin pak Steve yang menjabat sebagai kepala desa?"


"Ah, bapak itu hanya merendah saja. Merasa selama ini saya sering membantu warga, bapak jadi merasa bahwa saya lebih pantas. Padahal bu, saya tidak bisa memimpin sama sekali. Perusahaan yang saya punya saja saya serahkan pada anak saya, lalu bagaimana saya bisa menjadi pemimpin untuk warga di sini?"


Bu kepala desa mengangguk-angguk setuju. Ia juga merasa suaminya itu memang sering merasa tak bisa membantu warga jika sudah berhubungan dengan masalah keuangan.


"Bu, saya ini hanya bisa membantu. Tapi saya tidak bisa memimpin. Yang saya punya hanyalah harta, tapi saya sama sekali tidak piawai dalam memimpin. Jadi, sebaiknya ibu tidak usah marah pada siapapun, termasuk pada suami ibu."


Steve memang paling jago bernegosiasi. Sebenarnya ia bukan tidak bisa memimpin, ia hanya merasa malas saja karena harus mengemban beban yang berat nantinya.


"Kalau begitu menurut pak Steve, nanti saya akan katakan pada suami saya untuk menarik tawarannya lagi pada bapak. Suami saya memang begitu, kadang suka tidak percaya diri. Padahal kan dia yang paling cocok di desa ini untuk menerima jabatan itu," ucap bu kepala desa.


"Iya bu, terima kasih atas pengertian ibu. Kalau begitu saya permisi dulu ya bu, selamat sore..." Steve dan Satria pamit untuk pulang ke rumah.


"Wah, ayah hebat sekali. Dari hal ini saja aku bisa melihat bahwa ayah adalah sosok pemimpin yang baik," puji Satria saat mereka sudah berada jauh dari rumah kepala desa.


"Kamu ini, bukan begitu. Ayah itu sudah tau watak bu kepala desa itu seperti apa? Dia itu sangat ambisius, dia senang jika suaminya menjadi orang yang terpandang di desa."


"Oh begitu, tapi untungnya pak kepala desa itu adalah sosok yang pantas untuk menjadi kepala desa."


"Ya, kekurangannya hanya kurang percaya diri. Ayah dengar, jika bukan karena bu kepala desa, pak kepala desa tak akan bisa menjadi kepala desa. Karena rasa kurang percaya dirinya itu," jelas Steve.


Satria mengangguk paham. Dari hal ini Satria belajar satu hal, bahwa pasangan itu saling melengkapi.


Pak kepala desa dengan bakatnya yang terpendam, namun tak memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Berpasangan dengan bu kepala desa yang ambisius, padahal dia sendiri tak punya keahlian apapun.


Tapi bagusnya, ambisi bu kepala desa itu malah membuat suaminya menempati posisi yang sesuai dengan keahliannya menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijaksana.


Pak kepala desa sebenarnya sangat dicintai oleh warganya, karena beliau adalah sosok yang selalu mementingkan urusan warga dibanding dengan urusan pribadinya.


Bu kepala desa pun tak keberatan dengan hal itu, karena baginya hal itu bisa membangun citra yang baik untuk suaminya agar bisa terus menjabat sebagai kepala desa di desa itu.

__ADS_1


...***...


Malam hari, Steve mengajak kedua anaknya untuk mengadakan acara bakaran daging sapi di halaman belakang rumah.


Mereka juga mengajak Arya dan beberapa pemuda untuk ikut bergabung bersama mereka. Para pengawal yang menjaga pun juga ikut berkumpul untuk menikmati daging panggang bersama.


"Anggap saja ini perayaan," ucap Satria.


"Perayaan apa?" Tanya Melisa dan Arya kompak.


"Perayaan karena ayah tak menjadi kepala desa," jawab Satria.


Semua orang pun tertawa terbahak-bahak.


"Mana ada perayaan seperti itu?" Tanta Arya.


"Ada dong, kita harus merayakan hal ini karena ayah memang tak ingin menjadi kepala desa. Iya kan yah?" jawab Satria.


"Iya kamu benar, ayah merasa tak pantas menjadi kepala desa," ucap Steve.


"Ah, itu sih ayahnya saja yang malas mengurusi warga," ledek Melisa.


"Tau aja kamu..."


"Oh iya, kamu mau berlibur di sini sampai kapan?" Tanya Steve pada Melisa dan Satria.


"Sampai minggu depan yah," jawab Satria.


"Loh, kalian gak pergi bulan madu?" Tanya Steve lagi.


"Ah, di sini juga cukup. Biar hemat waktu, tenaga dan pikiran, ya gak sayang?" jawab Satria.


Melisa hanya merengut mendengar jawaban Satria.


"Dasar Satria, itu sih kamu saja yang malas," seru Arya.


Semua orang pun tertawa, mereka menikmati daging panggang dengan kualitas terbaik. Selain itu, ada beberapa makanan pendamping lainnya. Minuman dingin pun juga tersedia di sana.

__ADS_1


__ADS_2