Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Para Pewaris


__ADS_3

Akhir pekan belum berakhir, bagi sebagian muda mudi yang memang selalu menanti kedatangan akhir pekan. Terutama pada dua gadis yang sudah lama tak bertemu. Sejak pagi Melisa dan Amanda sudah siap dan rapih. Keduanya memakai pakaian kasual dengan warna senada.


Sudah cantik dan rapih, tentu saja bukan untuk sekedar menghabiskan waktu di rumah atau di dalam kamar hotel seperti salah satu penghuni hotel di lantai dua belas itu.


Kedua gadis itu memang berniat menghabiskan akhir pekan dengan bermain di taman hiburan mini yang terletak di dalam sebuah mall di samping Grand hotel. Sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota A. Mall itu sendiri tak lain dan tak bukan adalah milik Gunawan, yang otomatis juga adalah milik Melisa.


"Om Gunawan hebat banget, bisa punya mall segede gini," ucap Amanda kagum. Melihat kemegahan yang disuguhkan oleh pihak pengelola mall bahkan saat kaki baru melangkah masuk ke dalam mall.


Amanda memang sudah sering masuk ke mall itu, namun setiap kali masuk ia tetap saja merasa kagum dengan megahnya pemandangan yang disuguhkan di loby mall.


"Ayahmu lebih hebat kak. Kalau kita lihat dari luar, hotel milik ayahmu lebih besar dibanding mall ini," Melisa juga ikut memuji keberhasilan keluarga Amanda yang memang sukses memiliki banyak cabang hotel di berbagai daerah.


"Hey, tentu saja. Itu semua karena om Gunawan. Lu pasti ga tau kan, hampir setengah dari kepemilikan saham di Grand hotel itu punya om Gunawan?" Tanya Amanda.


Melisa hanya melongo, "setengah?"


"Ah.. udahlah, percuma lu ga akan ngerti masalah beginian. Harusnya Mel, lu sekarang udah mulai belajar tentang manajemen bisnis. Kasian kan ayah lu biar ada yang bantu ngurus semua usahanya. Lu kan anak satu-satunya ya siapa lagi yang bakal ngewarisin semua saham-saham yang dimiliki om Gunawan?" Amanda.


"Aku gak mau kak," Melisa.


"Loh, kenapa?" Amanda.


Melisa menghela nafas, ia tak mengerti kenapa juga ayahnya harus punya banyak saham di mana-mana. Kenapa ia tidak memiliki satu usaha saja seperti keluarga Amanda yang hanya memiliki bisnis hotel. Meski hanya satu, tapi bisnis keluarga Amanda bisa dibilang sangat sukses dengan adanya banyak cabang di setiap daerah.


"Biar kak Bobi aja yang mewarisi semua ini," Melisa mendesah.


"Loh, bukannya Bobi mau ikutin jejak ayahnya ya jadi polisi?" Amanda.


Melisa mengangguk.


"Dan gak mungkin adiknya Bobi si Tania kan?" Amanda.

__ADS_1


"Mungkin aja, kan masih cucunya kakek. Tapi keliatannya dia juga ga minat. Sekarang aja malah sibuk jadi trainer, mau jadi idol dia kak," Melisa.


Amanda hanya menggeleng-geleng kan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan keluarga tuan Laksmana yang merupakan kakek dari Melisa. Tak seperti di dalam drama yang sering ia tonton tentang orang-orang kaya yang mencoba berebut kekuasaan. Keluarga tuan Laksmana sama sekali tak tertarik melakukan itu. Mereka malah seakan saling lempar dan tak ingin mengurus perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh tuan Laksmana.


"Gue bener-bener ga paham, buat apa punya bisnis sukses dimana-mana kalau para pewarisnya aja pada ogah buat mewarisi bisnis besar ini," Amanda.


Melisa tersenyum getir, "entahlah." Melisa juga tak paham untuk apa bisnis besar ini.


"Kalau gitu, elu harus jadi sama Satria Mel," Amanda.


Melisa mengernyitkan dahinya. "Emang cita-citaku mau jadi istri Satria."


"Bagus, lu harus pertahanin itu," Amanda.


"Kenapa?" Melisa.


"Menurut gue, kalau lu sampai jadi sama Satria. Lu ga usah takut bakal kebagian ngurusin perusahaan. Karena semua pasti bakal diserahin ke Satria. Gue yakin, dia cukup punya kemampuan buat memimpin sebuah perusahaan," Amanda.


"Tapi, apa Satria mau?" Melisa nampak ragu.


"Gue rasa sih dia gak akan keberatan," Amanda yakin.


Melisa merenungi kata-kata Amanda. Memang bukan dalam waktu dekat dirinya terancam akan menjadi penerus pemimpin perusahaan. Tapi suatu saat semua itu pasti akan datang. Sementara dirinya memang merasa sangat tidak siap untuk menjadi penerus ayahnya.


"Udah ah jangan ngomongin bisnis, sama kok gue juga ga mau ambil pusing sama urusan bisnis. Mending kita naik semua wahana yang ada di sini, abis itu kita puas-puasin main di game zone. Trus kalau masih ada waktu kita shoping," Amanda dengan penuh semangat menarik tangan Melisa.


Dua gadis itu kini sudah memasuki area taman hiburan. Satu persatu wahana mereka naiki. Mulai dari yang paling santai hingga yang paling ekstrem mereka coba.


Puas mencoba semua wahana, mereka pindah ke arena game zone. Mencoba berbagai permainan yang ada di sana. Mulai dari permainan basket, balap mobil, dance, hingga ke permainan mengambil boneka menggunakan capit.


"Kak, udah sore nih. Kakak gak lapar?" Melisa duduk di samping Amanda yang tengah asik bermain balapan mobil.

__ADS_1


"Emang udah sore? Ya ampun, ga kerasa ya saking asiknya main," Amanda masih fokus bermain.


"Kita makan dulu yuk, aku lapar banget," ajak Melisa.


Amanda menghentikan permainannya, "yuk, gue juga lapar nih." Mereka berdua akhirnya keluar dari arena bermain menuju kantin yang terdapat di dalam mall.


"Makan apa kak?" Tanya Melisa.


"Apa ya? Duh, biasanya Bobi yang beliin gue makanan," ucap Amanda sambil melihat-lihat beberapa kios yang menjual makanan dan minuman dengan berbagai menu.


"Iya ya, kalau ada kak Bobi. Pasti kak Amanda tinggal duduk manis, terus tiba-tiba makanan datang," ucap Melisa.


Amanda menghela nafas, ia tersenyum getir mengingat bagaimana Bobi selama ini sudah memperlakukan dirinya dengan sangat baik.


Mereka berdua akhirnya memilih menu set ayam bakar di salah satu gerai kantin. Saat makanan sudah terhidang keduanya menikmati makanan sambil terus berbincang-bincang.


"Kakak gak kangen sama kak Bobi? Kak Bobi bilang kalian udah ga pernah berhubungan lagi," Melisa.


"Gue sengaja Mel, gue ngerasa bersalah banget udah bikin dia kecewa. Biar aja kita jauh dulu untuk saat ini. Suatu saat kalau emang hati kita masih saling mengharapkan, mungkin saat itulah kita baru bisa bersatu," Amanda.


Melisa mengangguk. "Iya kak, lagian kak Bobi juga sebentar lagi masuk akademi kepolisian. Dia akan tinggal di asrama untuk waktu yang lama."


Amanda tersenyum. Jujur ia memang merindukan Bobi. Rindu dengan kejahilannya, rindu dengan perhatiannya, rindu dengan canda dan tawanya. Tapi untuk saat ini Amanda berusaha menahan diri, ia sadar dirinya sudah memberi luka pada hati Bobi.


"Apa kak Amanda gak mau nemuin kak Bobi dulu sebelum pergi?" Melisa.


"Ga ah, ga perlu kayanya," Amanda.


"Yakin?" Melisa.


Amanda terdiam.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Amanda. Diam-diam Melisa mengirim pesan pada Bobi, meminta sepupunya itu untuk datang menemui mereka berdua.


__ADS_2