Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Makan Gado-gado


__ADS_3

Siang itu, setelah pergi meninggalkan Steve di penginapan. Natasya mendapat kabar bahwa Melisa dan Bobi kembali ke rumah. Wanita itu memang menempatkan seseorang untuk mengawasi tempat tinggal putrinya.


Natasya memutuskan untuk kembali menghampiri putrinya.


"Untung saja kalian segera kembali. Jika tidak, Bobi akan ku laporkan pada polisi karena sudah menculik anakku," gumam Natasya.


Sampai di rumah Melisa, Natasya melihat rumah itu sangat sepi. Ia segera memasukkan kode sandi di pintu masuk rumah. Namun berkali-kali ia coba pintu tak kunjung terbuka, kode yang ia masukkan selalu salah.


"Dia mengganti kodenya?" Tanya Natasya.


Natasya memencet tombol bel berkali-kali. Namun tak juga ada tanggapan dari dalam. Akhirnya Natasya menggedor-gedor pintu itu dengan sangat keras.


"Melisa... Buka pintunya!!!" Teriak Natasya.


Natasya terus menggedor hingga tangannya sakit. Namun tetap Melisa tak membukakan pintunya. Ia mencoba menaruh telinganya di daun pintu. Mendengarkan dengan seksama apa ada suara dari dalam rumah, namun sia-sia. Rumah itu benar-benar sunyi seperti tak berpenghuni.


"Apa dia sudah pergi?" Natasya mencoba melihat ke dalam rumah dari jendela yang terkunci. Meski sebenarnya apa yang ia lakukan hanyalah sia-sia. Karena kaca jendela dibuat sedemikian rupa agar hanya bisa terlihat dari dalam rumah.


Natasya akhirnya menyerah. Meski ia terpikir untuk masuk lewat pintu belakang, namun ia mengurungkan niatnya. Ia masih memiliki harga diri yang tinggi untuk melakukan itu.


"Aku ini nyonya besar tentu saja aku harus masuk dari pintu depan, pintu belakang hanya untuk para pelayan," gumam Natasya. Wanita itu akhirnya pergi meninggalkan kediaman Melisa.


Sementara itu, dibalik jendela yang tadi dipakai Natasya untuk melihat ke dalam rumah. Melisa berdiri mematung. Ia sedari tadi sudah berdiri di sana, sejak Natasya berusaha masuk dengan mengutak atik kode sandi pintu masuk.


"Mau apa wanita itu kemari?" Bobi sudah berdiri di belakang Melisa.


Melisa menoleh ke arah Bobi. "Kakak sudah bangun?"


"Siapa yang tidak akan bangun saat mendengar pintu yang digedor-gedor dengan keras seperti itu?" Tanya Bobi.


Melisa mengangguk, ia kembali melihat ke halaman rumahnya meski Natasya sudah tak lagi terlihat.


"Menurut kakak dia mau apa kemari?" Tanya Melisa.


"Entahlah," Bobi mengangkat kedua bahunya. "Apa kau tak lapar? Bukankah belum makan apapun dari semalam?" Bobi mengusap-usap perutnya.


Melisa berpikir sejenak, "sepertinya aku tak punya bahan makanan apapun di rumah."


"Bagaimana kalau kita makan di rumah Satria. Kau tau gado-gado bu Lastri benar-benar sangat enak," Bobi mengecap mulutnya. Membayangkan makanan itu ada dalam mulutnya membuat ia semakin lapar.


"Aku pernah mencobanya," Melisa mengangguk.


"Enak bukan?" Seru Bobi.


Melisa kembali mengangguk. "Ayo kak, kau membuatku jadi lapar."


Bobi segera mengambil kunci motornya, "kita naik motor aja ya, kalau ketemu ibumu kita bisa langsung kabur."


"Cih, buat apa kabur? Aku tidak takut dengan wanita itu," ucap Melisa.

__ADS_1


"Haha... tidak takut? Bukankah semalam ada yang menangis sambil badannya gemetar ketakutan di hadapan ibunya?" Ledek Bobi.


"Aku tak akan lagi seperti itu, udahlah kak ayo kita berangkat. Sudah lapar aku," Melisa menarik tangan Bobi keluar dari rumah.


"Ga asik ngeledek kamu Mel, cuma gitu aja responnya," gerutu Bobi. "Jadi kangen Amanda."


Melisa tak merespon ucapan Bobi. Ia sudah tak sabar ingin menyantap gado-gado buatan bu Lastri.


Awalnya memang ia tak merasa lapar, namun mendengar Bobi mengatakan ingin memakan gado-gado bu Lastri membuat Melisa menjadi sangat lapar.


"Ayo dong kak cepet," Melisa meminta Bobi mempercepat laju motornya.


Sesampainya di rumah Satria mereka di sambut senyuman hangat milik bu Lastri.


"Ya ampun nak Melisa..." bu Lastri berlari memeluk Melisa yang baru saja turun dari motor.


Melisa yang bingung dengan sikap bu Lastri mencoba membalas pelukan bu Lastri sambil menatap bingung ke arah Bobi.


"Kok Melisa aja yang dipeluk aku engga?" Bobi cemburu.


"Kak Bobi..." Rian berjalan ke arah Bobi dengan kedua tangannya yang terbuka lebar. Bobi juga membuka lebar kedua tangannya, menyambut Rian yang datang memeluknya.


"Ada apa nih pada peluk-pelukan?" Tanya Bobi.


"Aku mah cuma kasian liat kak Bobi ga dipeluk ibu, jadi biar aku aja yang peluk," jawab Rian.


Bu Lastri melepaskan pelukannya, "nak Melisa kenapa repot-repot beliin ibu oleh-oleh segitu banyak sih nak? Kamu pasti ngeluarin uang banyak banget kan buat beliin ibu oleh-oleh."


"Engga bu, malah menurut aku itu masih kurang," jawab Melisa polos.


"Ya ampun nak Melisa, ibu jadi ga enak ini. Terima kasih banyak ya nak Melisa. Eh iya, kamu udah makan belum?" Bu Lastri.


"Belum bu," Melisa


"Justru kita kesini mau minta makan sama ibu," celetuk Bobi.


"Ya udah yuk masuk dulu, mau ibu buatin apa?" Bu Lastri menggandeng tangan Melisa masuk ke dalam rumah.


"Aku mau gado-gado bu," jawab Melisa.


"Aku juga bu," Bobi tak mau kalah.


"Oke, nanti ibu bikinin. Sekarang kalian masuk aja dulu ya tunggu di dalem," pinta bu Lastri.


"Iya bu, Satria mana?" Bobi melongok ke dalam rumah tak menemukan sosok Satria di sana.


"Itu di belakang lagi nyuci baju," jawab Rian.


Melisa dan Bobi mengangguk, keduanya duduk di ruang tamu. Sedangkan bu Lastri kembali ke warungnya untuk membuatkan dua porsi gado-gado untuk Melisa dan Bobi.

__ADS_1


"Kak Bobi makasih ya oleh-olehnya," ucap Rian.


"Kamu suka?" Bobi.


"Iya, suka banget," Rian mengangguk, Bobi tersenyum lalu mengacak-acak rambut Rian.


"Syukurlah, maaf ya aku bingung mau beliin apa? Jadi aku beliin itu aja," Bobi.


"Padahal kalau kakak beliin kaos juga aku udah seneng banget," Rian.


"Aku kan beliin kamu kaos," Melisa.


"Iya, kak Melisa beliin banyak banget. Makasih ya kak," Rian tersenyum malu pada Melisa.


Melisa membalas senyuman itu.


"Satria masih lama cuci bajunya?" Tanya Melisa.


"Masih kayanya kak, soalnya kan bajunya banyak banget," jawab Rian.


"Aku mau liat y," Melisa menunjuk ke arah belakang rumah.


"Iya kak, silahkan aja." Rian mempersilahkan Melisa untuk masuk ke rumah bagian belakang mereka.


Melisa dengan riang berjalan menuju tempat Satria dan keluarganya biasa mencuci pakaian.


"Hai," sapa Melisa ketika melihat sosok Satria.


"Loh, kamu di sini Mel?" Satria menoleh ke arah Melisa.


Melisa mengangguk, "Iya, sama kak Bobi.


"Sini duduk," Satria meminta Melisa duduk di sebelahnya.


"Mau dibantuin?" Tanya Melisa.


"Ga usah, temenin aja." Jawab Satria.


Satria melanjutkan pekerjaannya ditemani oleh Melisa di sampingnya.


Tak lama, bu Lastri memanggil Melisa. Gado-gado pesanannya sudah jadi.


"Kamu makan dulu sana, nanti aku nyusul," Satria.


"Ya udah, aku makan dulu y. Udah lapar banget," Melisa memegang perutnya.


Satria tersenyum mengangguk pada Melisa.


Melisa menghampiri bu Lastri yang sudah menghidangkan dua porsi gado-gado untuk dirinya dan Bobi.

__ADS_1


"Nih, makan yang banyak y," ucap bu Lastri.


"Iya bu, terima kasih," balas Bobi dan Melisa. Keduanya segera menyantap gado-gado buatan bu Lastri. Melisa merasa jauh lebih baik saat ini, ia melupakan sejenak masalah dirinya dengan ibunya.


__ADS_2