
Sore itu hujan lebat turun mengguyur kota A, tepat sesaat sebelum bel sekolah berbunyi. Melisa yang masih di atas atap sekolah memandangi halaman sekolah, matanya tertuju pada motor Satria yang basah karena kehujanan.
Melisa sendiri membiarkan dirinya basah terguyur hujan. Dari atas atap, ia mendengar bel sekolah berbunyi. Beberapa murid yang membawa mobil sudah pulang lebih dulu. Beberapa yang membawa payung juga sudah keluar gedung sekolah menuju halte bus.
Diantara murid-murid yang keluar itu, ada seorang murid yang tidak memakai payung berjalan di tengah derasnya hujan. Dia adalah Satria yang berjalan menuju motornya yang terparkir di seberang gedung.
Melisa mengamati dari atap. Satria yang sudah tiba di samping motornya segera menaiki lalu melajukan motornya di tengah hujan.
Melisa merasa khawatir pada Satria, ia tadi sempat melihat wajah Satria yang pucat. Tadi malam, saat hujan turun. Melisa melihat dari kaca jendela rumahnya ke arah depan rumah. Ia menemukan Satria masih di sana.
Ingin rasanya saat itu Melisa mengajak Satria untuk berteduh dulu di rumahnya, namun saat Melisa membuka pintu Satria sudah melajukan motornya. Ia sempat mengejar Satria bahkan memanggil-manggil nama Satria. Namun Satria tak mendengarnya, laki-laki itu terus berkendara menjauhi rumah Melisa.
Kini Melisa melihat Satria sudah keluar gerbang sekolah. Satria memacu motornya dengan lumayan cepat, saat itu Melisa berharap Satria bisa selamat sampai rumah.
Diperjalanan, Satria yang terus berkendara di tengah derasnya hujan merasa sangat kedinginan. Tubuhnya menggigil hebat, namun ia tetap melajukan motornya dengan kencang menuju rumah belajarnya. Rumah Natasya.
Sampai di depan rumah, Satria masih berusaha sekuat tenaga agar bisa masuk ke rumah itu. Namun sampai di depan pintu, saat ia baru memasukan kode sandi. Tiba-tiba tubuhnya terkulai lemah, pandangannya hitam. Satria jatuh tak sadarkan diri.
Hujan perlahan mulai mereda. Di sekolah, beberapa murid memaksa berlari ditengah hujan yang hampir reda. Mereka sudah menunggu terlalu lama di sekolah. Hari juga sudah mulai gelap.
Melisa yang sedari tadi masih berdiri di atap, kini mulai berjalan turun. Ia tak kembali ke kelas untuk mengambil tasnya. Ia segera berjalan menuju parkiran mobil.
Pak Dedi yang melihat Melisa basah kuyup segera menghampiri.
"Non, kenapa nona bisa basah kuyup begini?" Pak Dedi terlihat panik.
Melisa tak menjawab, ia hanya menatap wajah pak Dedi yang kini tengah mengkhawatirkannya.
"Ayo non, ganti baju dulu. Jangan pulang pakai baju basah begini," pak Dedi mengajak Melisa masuk kembali ke gedung sekolah. Melisa menuruti.
__ADS_1
Pak Dedi juga sudah membawa baju ganti untuk Melisa. Itu adalah baju olahraga yang ada di ruang guru.
"Non, pakai ini dulu. Ayo cepat ganti baju non," ucap pak Dedi seraya memberikan baju yang dipegangnya. Pak Dedi juga membawa sebuah handuk untuk Melisa.
Melisa menerimanya, ia lalu berjalan menuju ruang ganti yang tak jauh dari ruang guru berada.
Setelah berganti baju, Melisa memutuskan untuk segera pulang.
"Non, yakin bisa bawa mobil sendiri?" Pak Dedi masih merasa khawatir.
"Iya pak, aku baik-baik aja. Terima kasih untuk bajunya," ucap Melisa. Ia lalu berjalan meninggalkan pak Dedi. Mulai hari ini Melisa sudah memutuskan untuk kembali membawa mobil ke sekolah.
Mobil sport warna merah yang selama ini tersimpan rapih di garasi. Kini ia akan kembali memakainya.
Di dalam mobil, Melisa menyadari suhu tubuhnya yang meningkat. Ia bergegas mengendarai mobilnya agar bisa segera sampai di rumah. Ia ingin segera beristirahat.
Natasya yang baru saja pulang dari kunjungannya ke universitas puspa tunggal yang ada di kota A sangat terkejut melihat Satria yang terbaring di teras rumah.
"SATRIA..." Natasya berteriak histeris melihat tubuh Satria yang terbaring lemah di depan rumahnya.
Wajah Satria pucat, semua pakaiannya basah. Natasya segera mengangkat kepala Satria ke dalam pangkuannya. Ia merasakan suhu tubuh Satria sangat panas.
"Satria... kau kenapa?" Natasya menepuk-nepuk pipi Satria agar terbangun. Namun berkali-kali ia menepuk pipi Satria, laki-laki itu tak juga sadar.
Natasya yang panik segera menghubungi rumah sakit untuk segera mengirim ambulance ke rumahnya.
"Satria, bangunlah..." Natasya mulai menangis. Namun hatinya sedikit lega ketika ia tau Satria masih bernafas.
Tak lama ambulance datang ke rumah itu. Natasya yang masih memangku kepala Satria meminta petugas kesehatan untuk segera membawa Satria ke rumah sakit.
__ADS_1
Satria kini sudah berada di ruang gawat darurat. Tangannya sudah tersambung dengan infusan yang menggantung di tiang di sebelah ranjangnya. Meski dokter bilang kondisi Satria baik-baik saja, namun Natasya masih merasa gelisah karena Satria belum juga sadar.
"Bagaimana ini suster, kenapa Satria belum juga sadar?" Natasya bertanya pada suster yang sedang mengambil darah Satria melalui jarum infus yang melekat ditangan Satria.
"Tenang bu, dokter bilang Satria hanya kelelahan. Mungkin ia hanya butuh istirahat. Tadi kami juga sudah memasukan vitamin di dalam infusan," jawab perawat dengan ramah.
"Tapi sus..." Natasya merasa jawaban itu masih belum bisa membuatnya tenang.
"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut melalui tes darah, setelah hasilnya keluar. Dokter akan menjelaskan lebih lanjut," suster itupun pamit pada Natasya.
Wanita itu benar-benar merasa panik. Ia segera duduk di samping Satria, menggenggam tangan Satria.
"Kenapa kamu bisa begini Satria?" Natasya menciumi tangan Satria. Air matanya tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya.
Natasya tak tau, saat ia sedang sibuk menangisi Satria yang sedang sakit. Melisa yang merupakan putri kandungnya sendiri juga kini kondisinya tak jauh beda dari Satria.
Meski begitu, Melisa sudah berada dalam kamarnya yang nyaman. Tubuhnya sangat panas, hingga ia merasa kedinginan. Melisa menyelimuti tubuhnya yang panas itu. Seorang diri, mengurus dirinya yang sedang sakit.
Melisa sempat mengirim pesan pada Fredy tadi saat ia sampai di rumahnya. Ia meminta Fredy untuk membelikannya obat, karena ia tak punya stok di rumah.
Namun setelah mengirim pesan pada Fredy itu, Melisa malah meninggalkan ponselnya di ruang makan. Hingga berkali-kali Fredy menghubunginya, ia tak tau.
Dan Fredy yang panik karena Melisa tak kunjung mengangkat teleponnya, memberi tahu Gunawan tentang Melisa yang tadi memintanya membelikan obat penurun panas.
Gunawan mendengar itu tentu saja merasa panik. Ia memutuskan untuk segera pulang menemui Melisa. Dan betapa terkejutnya Gunawan saat melihat tubuh Melisa yang pucat tengah terbaring di atas ranjang.
"Melisa..." Gunawan menyentuh kening Melisa, tubuhnya sangat panas. Gunawan berkali-kali memanggil nama Melisa, namun Melisa tal juga membuka mata.
"Fredy, ayo kita bawa Melisa ke rumah sakit. Melisa tak sadarkan diri," Gunawan segera membopong putrinya menuju mobil, lalu meninta Fredy untuk segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
__ADS_1