
Hari ini, Natasya dan Gunawan benar-benar menghabiskan akhir pekan mereka bersama. Di dalam sebuah kamar hotel. Memadu kasih yang telah lama tertunda.
Setelah puas dengan hasrat mereka, keduanya memilih duduk di depan televisi. Menonton sebuah film romansa yang membuat siapapun yang menontonnya akan hanyut terbawa suasana cinta dari para pemeran utama.
Sambil menikmati beberapa makanan ringan keduanya fokus menonton hingga film selesai diputar.
"Filmnya bagus, aku benar-benar terbawa suasana," Natasya tersenyum menatap layar televisi.
Gunawan mengangguk setuju.
"Nat, bolehkan ku tanya sesuatu padamu?" Gunawan.
"Mmm..." jawab Natasya singkat.
"Dulu, saat pertama kali kita bertemu. Apa kesan pertamamu terhadapku?" Gunawan.
"Apa ya? Seingat ku, kau hanyalah pria tampan yang berasal dari keluarga kaya raya," jawab Natasya sambil mengingat-ingat saat-saat mereka berdua pertama kali bertemu dulu.
"Apa kau tertarik padaku saat itu?" Gunawan.
Natasya tersenyum. "Tentu saja, hanya saja aku tak mau mengakuinya."
"Kenapa?" Gunawan penasaran.
"Karena aku sudah terlanjur menolak mentah-mentah perjodohan ini. Aku gengsi harus mengakui bahwa aku menyukai pria yang dijodohkan padaku," Natasya.
"Jika memang dari awal kau sudah tertarik padaku, kenapa kau tak putus dengan Steve?" Gunawan.
"Entahlah, saat itu aku memang sangat egois menginginkan kalian berdua. Namun ada saatnya aku sadar, bahwa aku bukanlah siapa-siapa bagimu. Beberapa tahun menikah, ku pikir aku bisa menaklukan hatimu. Namun nyatanya, kau tetap pada pendirianmu. Mencintai wanita itu," cibir Natasya. Gunawan hanya mengangguk mendengar jawaban Natasya
"Lalu malam itu, saat kita sepakat untuk memiliki anak. Apa yang membuatmu setuju?" Gunawan.
"Ada dua hal yang aku pertimbangkan saat itu. Pertama, kau tau kan ayahku mengancam akan memberikan yayasan pada staf ahli jika pernikahan kita tak kunjung dikaruniai anak?" Natasya.
Gunawan mengangguk.
__ADS_1
"Kau tau mengapa ayahku sampai mengancam padaku?"
Gunawan tak menjawab, ia hanya menatap lekat mata Natasya.
"Karena ia tau aku masih berhubungan dengan Steve setelah kita menikah. Ayahku takut, hal ini akan memicu perceraian. Kau tau kan, ayahku sangat ambisius. Dia menjodohkan aku dengan kamu pasti kamu juga sudah tau alasannya kan?"
Gunawan kembali mengangguk.
"Sebenarnya aku frustasi saat itu, Steve memang tak sekaya dirimu. Tapi dia juga bukan pria miskin. Steve saat itu hanya seorang model. Meski penghasilannya bisa dibilang sangat besar, tapi ayahku tak merestui hubungan kami," Natasya mendesah kesal.
Gunawan tetap menyimak dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Natasya. Benar, selama ini ia memang tak tau wanita seperti apa yang telah menjadi istrinya itu. Setelah menikah pun Gunawan tak pernah melirik Natasya sedikitpun.
Terlebih saat Gunawan tau, bahwa Natasya juga sama seperti dirinya yang juga sudah mempunyai kekasih. Baginya saat itu, pernikahan ini hanya status. Pernikahan ini hanya akan berdampak pada perkembangan bisnis dua keluarga. Tak lebih dari itu.
"Melihat calon suami yang tak hanya mapan tapi juga tampan, membuat hatiku sedikit goyah. Meski saat itu Steve memohon padaku untuk tidak meninggalkannya. Tapi pada akhirnya, aku tetap menyetujui pernikahan ini," Natasya.
"Lalu kau memutuskan Steve?"
Natasya mengangguk.
"Saat itu, aku berharap. Bisa saja suatu saat nanti, pria ini akan jatuh cinta padaku. Bukankah aku adalah wanita yang cantik?"
"Lalu yang kedua?" Gunawan.
Natasya tersenyum. "Sudah ku bilang kan, aku berharap kau kelak akan menyukaiku. Jadi jika aku mengandung anakmu, ku pikir saat itu kau akan memperlakukanku dengan lebih baik. Kau akan menjadikan aku wanita satu-satunya yang ada dalam hidupmu," Natasya tersenyum getir.
"Maafkan aku," Gunawan memegang erat tangan Natasya. "Saat itu, hanya Silvana... Hanya wanita itu yang aku cintai. Aku tak bisa mengkhianatinya. Aku juga berjuang keras untuk mempertahankan hubungan kami. Kau tau? Aku bilang padanya semua ini hanya sandiwara," Gunawan tertawa membayangkan dirinya yang dulu.
"Tapi sepertinya aku terlalu egois saat itu. Menuruti tuntutan dari kedua orang tuaku yang ingin segera menimang cucu. Kak Bob dan istrinya yang sudah menikah lebih dulu belum juga dikaruniai anak. Maka tuntutan untuk segera memberi keturunan juga berimbas padaku." Gunawan menghela nafas panjang.
"Maafkan aku Nat, padahal aku yang memintamu untuk memiliki anak. Namun aku malah meninggalkanmu berjuang seorang diri," Gunawan memeluk Natasya.
Hati Natasya bergetar, ia tak pernah menyangka Gunawan akan mengatakan permohonan maaf padanya. Ia pikir, ia tak akan pernah mendengar kata-kata itu seumur hidupnya. Natasya tersenyum.
Jika saja dulu setelah melahirkan Melisa, Gunawan segera meminta maaf karena tak menemani Natasya saat dimasa-masa hamil dan melahirkan. Mungkin hati Natasya bisa luluh saat itu. Natasya bisa saja menerima kehadiran Melisa dalam hidupnya.
__ADS_1
Namun semua sudah terjadi, meski terlambat. Gunawan tetap mengharapkan Natasya bisa memaafkan dirinya yang dulu. Dan permintaan maafnya ini, ia harap bisa mengubah sikap Natasya pada Melisa.
Natasya mengangguk setelah Gunawan melepaskan pelukannya.
"Apa kau tau? Silvana pergi meninggalkanku," ungkap Gunawan.
Natasya mengernyitkan dahinya.
"Kau tak tau?" Tanya Gunawan.
Natasya menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa?"
Gunawan tersenyum. "Silvana meninggalkanku saat tau kau tengah mengandung anakku."
Natasya terdiam. Ia berpikir keras, saat ia hamil Gunawan memang jarang menampakkan dirinya di rumah. Karena saat itu ia pikir Gunawan sedang bersama Silvana. Namun jika Silvana pergi saat itu, bersama siapa Gunawan?
"Aku jarang pulang saat itu bukan karena selalu bersamanya. Namun karena aku sibuk mencarinya," Gunawan menatap sendu pada Natasya.
"Jadi selama ini kau?" Natasya merasa kebingungan. Bagaimana bisa ia tak tau suaminya itu sudah tak bersama dengan wanita yang dicintainya sekian tahun lamanya.
"Aku hanya sibuk bekerja, saat ku bilang padamu aku akan tinggal bersama Silvana lagi, itu juga hanya untuk menaikkan harga diriku. Aku hanya takut kau akan mencemooh diriku. Kau meninggalkanku, pergi bersama Steve, sedangkan aku..."
"Apa selama itu, kau pernah menaruh rasa padaku?" Natasya memotong ucapan Gunawan.
"Aku bekerja keras, siang dan malam. Mengembangkan bisnis di sana sini. Karena aku ingin kau dan Melisa hidup dengan nyaman. Kalian berdua bisa membeli apapun yang kalian mau, bisa melakukan apapun yang kalian suka."
"Ku pikir kau membenciku," Natasya menundukkan wajahnya. Ada rasa sesal yang nampak saat itu.
Gunawan menggeleng pelan. "Sejak Silvana pergi, sejak kau memintaku untuk berhenti mencarinya. Sejak saat itulah, aku menjadikan anak dan istriku sebagai penyemangat hidupku."
"Namun nyatanya semua itu tak cukup membuatmu bertahan di sisiku," Gunawan kembali menampakkan wajah sedihnya.
Natasya melihat wajah sedih itu, membuatnya merasa bersalah. Natasya lalu memeluk Gunawan.
"Ku pikir, saat itu kau masih menemui wanita itu diam-diam. Jika saja aku tau kau sudah tak bersama wanita itu. Tentu saja aku tak mungkin akan pergi meninggalkanmu."
__ADS_1
Keduanya terdiam, masih berpelukan. Mereka menyadari komunikasi sangatlah penting bagi suami istri. Inilah yang terjadi jika suami istri tak bisa membangun komunikasi dengan baik, anaklah yang akan menjadi korbannya. Korban yang belum tentu akan paham dan mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi.
Selain itu, mereka juga menyadari. Jika memang menyukai seseorang, terlebih dia sudah resmi menjadi pasanganmu. Maka ungkapkanlah, jujurlah pada perasaanmu. Jangan hanya diam dan berharap ia akan mengerti semua maumu. Katakanlah, meski tak mudah. Tapi setidaknya, tidak akan ada kesalahpahaman yang akan terjadi.