Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Maaf


__ADS_3

Di halaman depan rumah, Steve mengajak Dion duduk di bangku taman.


"Langitnya cerah ya," ucap Steve.


"Iya om," Dion mengangguk setuju.


"Dion, om mau tanya sesuatu sama kamu boleh?"


"Iya om tanya saja," Dion menggeser posisi duduknya agar mengarah ke Steve.


"Kamu dan Melisa bisa bertunangan karena sebelumnya kalian berpacaran atau memang tiba-tiba saja bertunangan?"


"Om Gunawan yang meminta saya untuk menjadi suaminya Melisa om," jawab Dion.


"Kenapa?"


"Hah?" Dion terlihat bingung dengan pertanyaan dari Steve.


"Maksudnya, gimana kronologinya sampai Gunawan bisa meminta kamu jadi suami Melisa?"


Dion menceritakan pada Steve, alasan mengapa Gunawan memintanya menjadi suami Melisa.


Sebenarnya permintaan itu sudah sejak lama Gunawan utarakan pada Dion, saat itu mereka baru saja lulus sekolah.


Dion awalnya keberatan, karena ia sangat tau bahwa di hati Melisa hanya ada Satria. Namun seiring berjalannya waktu, karena Gunawan terus membujuk Dion untuk melamar Melisa. Akhirnya Dion pun melamar Melisa, dan itu semua adalah rencana Gunawan.


Dion menyadari satu hal saat itu, Gunawan tak merestui hubungan Melisa dan Satria. Meski ia merasa sedikit bingung karena setau Dion, Gunawan sangat baik pada Satria.


Meski begitu, Dion menurut saja saat Gunawan memintanya melamar Melisa. Bahkan cincin yang melingkar di jari Melisa pun, Gunawan yang membelikannya.


"Dion, jika sampai saat ini di hati Melisa masih ada Satria bagaimana?"


"Memang Melisa masih menyukai Satria, aku tau tadi dia kecewa karena tak bisa bertemu dengan Satria."


"Kamu tak masalah dengan semua itu?"


"Entahlah om, saat ini aku masih bisa memahami. Tapi aku tak yakin kedepannya akan bisa terus begini atau tidak," ucap Dion sambil menghela nafas panjang.


"Kamu mau tau satu rahasia tentang calon mertuamu itu?"


"Rahasia?"


Steve mengangguk sambil tersenyum menyeringai.


"Apa itu om?"


"Aku juga tak tau kalau Gunawan seperti itu, Natasya tak pernah menceritakan tentang Gunawan padaku. Yang aku tau, dia adalah pria yang baik. Ya dia sangat baik dan sangat menyayangi putrinya."

__ADS_1


Steve menghentikan ucapannya sejenak. Dion semakin serius mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Steve.


"Kecelakaan keluarga Satria saat itu..."


Steve kembali berhenti bicara membuat Dion semakin penasaran.


"Gunawan lah dalang dibalik kecelakaan itu," ucap Steve dengan wajah yang serius.


Tentu saja hal itu membuat Dion terkejut.


"Tak mungkin om Gunawan seperti itu," Dion tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Awalnya aku juga tak mempercayainya, tapi melihat bagaimana renggangnya hubungan antara Gunawan dan Satria setelah kecelakaan itu membuatku yakin bahwa itu bukan hanya cerita karangan belaka."


Dion terdiam, ia memikirkan perkataan Steve. Saat itu, dirinya dan Satria memang tidak dekat. Begitu juga dengan Melisa yang terlihat menjauh dari Satria, lebih tepatnya Satria yang menjauhi Melisa.


Awalnya Dion berpikir mungkin karena hadirnya Natasya dalam kehidupan Satria sehingga hubungan Melisa dan Satria menjadi renggang. Namun ternyata bukan karena itu.


"Lalu apa Satria tau?"


"Tau!"


"Dan Satria diam saja?"


"Mana mungkin? Bayangkan jika keluargamu kecelakaan karena seseorang dengan sengaja ingin mencelakai mereka bahkan hingga mereka tewas. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Dan tak cukup sampai di situ, Gunawan bahkan menyuruh anak buahnya untuk membuat Satria semakin menderita. Dengan meminta ganti rugi atas mobil perusahaan yang rusak akibat kecelakaan. Ditambah lagi, Satria juga diusir dari rumah dinas ayahnya," tambah Steve.


Dion hanya bisa terdiam mendengar cerita dari Steve. Ia tak tau harus berkata apa mendengar cerita itu. Saat itu, Dion memang tidak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi. Ia memang pernah mendengar selentingan cerita dari beberapa temannya, tapi ia hanya menganggap itu semua hanya gosip belaka.


"Kamu tau, satu hal yang membuatku tak percaya?"


"Apa itu om?"


"Kamu ternyata tidak tau tentang hal ini," Steve menatap Dion dengan penuh keheranan.


"Aku memang pernah mendengar gosip ini, tapi aku tak terlalu memperdulikannya saat itu. Waktu itu aku hanya fokus pada Melisa, aku hanya berpikir bagaimana cara agar aku bisa meluluhkan Melisa?"


"Hahh... Dasar kamu," Steve menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara itu, situasi di dalam rumah saat ini terlihat sangat harmonis. Ibu dan anak itu nampak sangat kompak membereskan ruang makan, serta mencuci piring berdua.


"Mel, kamu yakin mau nikah sama Dion?" Tanya Natasya tiba-tiba.


Melisa mengerucutkan bibirnya, dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa sebenarnya Melisa tak ingin melanjutkan hubungan itu dengan Dion.


"Kamu takut dengan ayahmu?"

__ADS_1


Melisa mengangguk.


"Apa kamu tidak bisa menolak saja saat Dion melamar kamu?"


"Hah... Andai aku bisa, rasanya percuma jika aku menolak. Ayah akan tetap bersikeras menjodohkan aku dengan Dion."


"Apa aku perlu membantumu?"


"Apa mamah bisa?"


"Mmm... Akan ku coba," Natasya membelai rambut Melisa.


"Mah, kenapa tidak sejak dulu saja kau seperti ini padaku?"


"Maafkan aku Melisa, dulu aku terlalu membenci ayahmu hingga tanpa sadar aku sudah menjadikanmu pelampiasan atas rasa kecewaku. Mamah tau, kamu pasti sangat membenci mamah kan?"


Melisa terdiam, ia memperhatikan dengan seksama wajah Natasya yang sudah tak lagi muda. Nampak beberapa kerutan sudah muncul di wajah cantik itu.


Bahkan jika diperhatikan lebih detail, tubuh Natasya bahkan terlihat lebih kurus.


"Mah, apa kau sakit?"


"Apa aku terlihat seperti orang sakit?"


Melisa kembali memperhatikan Natasya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan Melisa pun mengangguk.


Natasya tersenyum.


"Ada kanker di kepalaku," bisik Natasya.


Melisa tertegun, ia kembali menatap wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Ia berpikir sejenak, apa karena sakit yang kini di derita Natasya hingga membuat sikap Natasya padanya berubah?


"Aku mungkin hidup tak akan lama lagi, tapi aku tak mau pergi dengan meninggalkan kebencian di hatiku."


Melisa menatap ibunya semakin lekat.


"Saat pertama kali dokter mengatakan tentang penyakit ini, aku merasa duniaku seakan terhenti. Aku tak bisa berpikir jernih, sepanjang hari aku hanya duduk di lobi rumah sakit," Natasya mengingat kembali saat-saat pertama kali ia divonis kanker otak oleh dokter.


Melisa mendengarkan dengan seksama.


"Saat itu, aku melihat seorang yang usianya jauh lebih tua dariku. Duduk di atas kursi roda, wanita itu terus saja menatap langit. Hingga seorang gadis datang menghampirinya dan memanggilnya dengan sebutan ibu. Keduanya bercengkrama dengan hangat."


"Kamu tau? Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasakan rindu padamu. Rindu yang teramat sangat, aku bahkan sampai menangis karena terlalu rindu," Natasya menitikkan air matanya.


Melihat itu, Melisa segera memeluk ibunya.


"Maafkan mamah Mel, mamah bukan ibu yang baik. Mamah adalah ibu yang egois," tangis Natasya pecah di dalam pelukan Melisa yang juga ikut menitikkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2