Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Negosiasi Berlanjut


__ADS_3

"Bisa-bisanya anak itu membual tentang tentang anakku," batin Gunawan.


"Apa ayah hanya akan mengatakan itu?" Tanya Melisa.


"Tidak, masih ada banyak hal yang ingin ayah sampaikan."


"Kalau begitu katakanlah, sebelum aku benar-benar sibuk dan tak punya waktu untukmu lagi."


"Secepatnya ayah akan menikah dengan Silvana," ucap Gunawan dengan wajah serius


"Ayah tadi sudah mengatakan itu."


"Benar, lalu setelah menikah ayah akan pergi keluar negeri dan tinggal di sana bersamanya," lanjut Gunawan.


"Kalau begitu kenapa tidak sekalian saja mengurus perusahaan yang di luar negeri sana?"


"Tidak Mel, ayah tidak bisa meninggalkan Silvana sendirian lagi."


"Lalu sekarang? Ayah menitipkan tante sama siapa?"


Gunawan terdiam, ia tak menjawab pertanyaan Melisa.


"Mel, apa kau tak menyukai Silvana?"


"Aku tak membencinya, tapi bukan berarti aku setuju kalian menikah."


"Kenapa? Apa karena ayah tidak merestui hubunganmu dengan Satria?"


Melisa hanya diam, namun Gunawan tau diamnya Melisa saat ini seolah membenarkan pertanyaannya.


"Kau tau kenapa ayah tak merestui hubunganmu dengan Satria?"


"Karena dia bukan dari kalangan yang sama seperti kita?"


"Benar, awalnya memang begitu."


"Tapi apa ayah tak lihat? Ke depannya Satria bisa saja jauh lebih sukses dari pada apa yang sudah ayah capai."


"Itulah yang ayah sesali," ucapan Gunawan membuat Melisa tertegun.


"Ayah pikir dia hanya akan selamanya menjadi bawahan, dia tidak pernah setara dengan kita. Tapi ibumu malah membantunya untuk naik ke puncak hingga kini ia bisa setara dengan kita," Gunawan menatap Melisa tanpa ekspresi.


"Kalau ayah menyesal, kenapa ayah tak minta maaf padanya?"


"Ayah tidak bisa, sampai kapan pun ayah akan tetap membenarkan keputusan ayah saat itu. Tapi bukankah berkat itu dia bisa jadi sesukses sekarang?"


"Apa ayah merasa bangga?"


"Tentu saja!" Jawab Gunawan dengan percaya dirinya. "Coba kau bayangkan, bagaimana jika dia tidak mengalami keterpurukan itu? Mungkin saja dia tak punya ambisi seperti sekarang."

__ADS_1


Melisa tersenyum miris melihat kepercayaan diri ayahnya.


"Seharusnya dia yang berterima kasih padaku, bukan aku yang meminta maaf padanya."


"Ayah benar-benar tidak tahu malu. Satria bahkan melarang aku untuk membenci ayah, terlepas dari apapun yang sudah pernah ayah lakukan padanya. Dia tidak pernah mempengaruhi aku sedikitpun, yang ada Satria selalu menasihati aku untuk tetap bersikap baik padamu."


Gunawan menyeringai.


"Itulah yang semakin membuat aku benci!"


"Sampai kapan pun kau tak akan bisa memprovokasi Satria ayah, dia bukan aku, ayah, atau ibu yang mudah sekali menyimpan dendam. Dia dididik dengan baik oleh orang tuanya untuk selalu bisa memaafkan meski tak mudah."


"Memaafkan? Apa kau pikir dia sudah memaafkan ayah?"


"Tentu saja! Dia saat ini bersikap dingin hanya untuk menjaga jarak denganmu. Bukan membencimu! Tak pernah ada sifat benci dalam dirinya. Tidak seperti kita!"


Gunawan terdiam, ia tak percaya selama ini Satria tak pernah sedikitpun membencinya. Meski ia telah membuat Satria terluka sedalam-dalamnya.


"Apa ayah masih tak mau minta maaf padanya?"


"Sudah ayah katakan, ayah tak merasa perbuatan ayah saat itu salah."


"Lalu, selamanya kita akan tetap seperti ini!" Ucap Melisa dengan tegas.


"Mel, bisakah aku hanya merestui hubungan kalian tanpa meminta maaf padanya?" Gunawan memberi penawaran.


"Merestui?" Melisa sanksi dengan apa yang dikatakan Gunawan barusan.


"Kau tau, kenapa ayah tak lagi menghubungi kamu dalam beberapa hari ini?"


Melisa terdiam menunggu jawaban ayahnya.


"Karena hampir setiap hari Silvana selalu menasihatiku, dia bilang jika aku terlalu keras padamu. Meski ku katakan bahwa aku melakukan ini karena aku menyayangimu," Gunawan menghentikan ucapannya sejenak.


"Tapi bagi Silvana, itu bukanlah kasih sayang. Kasih sayang yang sebenarnya adalah membiarkannya bebas memilih jalan yang ia suka," lanjutnya.


Melisa hanya diam mendengarkan ucapan ayahnya.


"Lalu ayah tanya, apa jalan yang Silvana inginkan? Dan dia menjawab, dia ingin hidup damai dan tentram bersama ayah," Gunawan tersenyum mengingat ucapan Silvana padanya.


"Lalu?"


"Ayah kali ini sungguh-sungguh. Ayah merestui hubungan kalian. Tapi jangan paksa ayah untuk minta maaf padanya!"


Gunawan berdiri, ia berjalan mendekati Melisa yang sejak tadi masih berdiri di samping meja kerjanya.


Gunawan lalu memeluk putri semata wayangnya itu.


"Ayah akan pergi meninggalkan kamu seorang diri Melisa. Tapi mengingat kamu memiliki orang-orang yang akan selalu ada untukmu, setidaknya itu bisa membuatku sedikit tenang."

__ADS_1


"Apa Widia juga akan ikut kalian?"


Gunawan melepaskan pelukannya.


"Tentu saja, tidak ada tempat yang aman bagi mereka berdua di negeri ini. Hendra masih mencari keberadaan Silvana dan anaknya."


"Kapan ayah akan pergi?"


"Secepatnya, mungkin ayah tak bisa datang ke pernikahan ibumu. Meski ayah tak yakin, tapi ayah akan berusaha percaya bahwa kini ibumu sudah berubah."


"Mamah memang sudah berubah," jawab Melisa.


"Syukurlah kalau kau merasa begitu," Gunawan tersenyum menatap wajah putrinya.


"Kalau begitu mulai hari ini kamu akan pulang ke rumah kan?" Tanya Gunawan.


"Izinkan aku tinggal beberapa hari lagi dengan mamah," pinta Melisa.


"Baiklah," meski berat namun Gunawan tetap mengizinkan Melisa untuk tinggal beberapa hari lagi di tempat ibunya.


"Ayah, sebenarnya ada satu hal yang sudah sejak lama ingin ku tanyakan padamu."


"Apa itu? Katakanlah!"


"Kenapa om Bob dan keluarganya sama sekali tidak pernah turun untuk mengurus perusahaan? Bukan kah mereka juga seharusnya juga memiliki saham di perusahaan ini?"


Gunawan tersenyum, ia tau suatu saat Melisa akan menanyakan hal ini padanya.


"Mereka memang memiliki saham di perusahaan ini, namun jumlahnya sangat kecil. Bahkan masih lebih besar saham milik ibumu."


"Lalu?"


"Dulu, saat kami masih sama-sama sekolah. Kami berdua membuat taruhan, taruhan yang diketahui oleh orang tua kami. Siapa yang mendapat peringkat satu terus menerus tanpa ada nilai yang turun, maka dialah yang berhak atas kepemilikan perusahaan. Dan akulah pemenangnya," ucap Gunawan dengan bangga.


"Apa om Bob tidak pernah marah atau merasa iri?"


"Tentu saja tidak, dia memang sejak awal tak tertarik dengan perusahaan. Jadi Bob sangat senang bisa memilih jalannya sendiri."


"Apa om Bob juga melarang anak-anaknya untuk terlibat di perusahaan juga?"


"Kalau itu ayah tidak tau, tapi kalau mereka mau kenapa tidak? Bukankah ayah pernah menawarkan posisimu ini pada Bobi?"


"Benar, tapi kak Bobi tidak mau."


"Pilihan di tangan mereka, jika suatu saat kamu merasa keberatan dengan tugasmu di perusahaan mintalah bantuan pada keluarga om Bob. Karena Bob pernah berjanji padaku akan datang ke perusahaan jika dibutuhkan."


Melisa mengangguk paham, kini ia mengerti kenapa keluarga om Bob tidak terlibat dalam kepengurusan perusahaan. Setidaknya itu mengurangi rasa benci pada ayahnya, karena ayahnya tidak berbuat sesuatu yang memaksa om Bob untuk mundur dari perusahaan.


"Kalau begitu ayah pergi dulu, ayah harap kamu bisa pulang sebelum ayah pergi."

__ADS_1


Melisa hanya mengangguk, sambil tersenyum melihat kepergian ayahnya.


__ADS_2