
Tiga bulan berlalu...
Melisa termenung menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya memegang ponsel yang sedari tadi diutak-atiknya. Ia ingin mengirim pesan pada Satria, namun ia urungkan niatnya itu.
Melisa teringat kejadian tadi siang saat di sekolah. Semenjak kepergian keluarga Satria, Satria menjadi sosok yang pendiam. Sikapnya sama dinginnya dengan sikap Melisa yang dulu. Meski begitu, otaknya sepertinya jadi semakin encer.
Satria dengan mudah menjawab soal-soal sulit yang diberi oleh gurunya. Satria juga selalu dapat nilai sempurna saat ujian percobaan. Dan saat ujian tengah semester kemaren nilainya nyaris sempurna. Hampir di semua mata pelajaran ia mendapat nilai seratus.
Siang tadi, guru matematika meminta muridnya untuk mengerjakan tugas secara berkelompok. Satu kelompok berisikan dua orang. Melisa dan Satria mendapatkan kelompok yang sama.
Oleh sebab itu saat pulang sekolah, Melisa menghampiri Satria dan bertanya mengenai tugas yang diberikan guru matematika.
"Satria, kapan kamu ada waktu mengerjakan tugas?" Tanya Melisa. Langkah kakinya dipercepat mengimbangi langkah kaki Satria yang panjang.
"Nanti biar aku aja yang kerjain," jawab Satria sambil terus berjalan.
"Terus aku bagian apa?" Tanya Melisa lagi.
"Kamu ga usah ngapa-ngapain, biar aku aja yang kerjain," Satria masih terus berjalan.
"Tapi..."
Belum selesai Melisa bicara, Satria tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Kini Satria sudah berdiri di hadapan Melisa.
"Nanti aku kirimin jawabannya ke kamu sebelum dikumpulin. Supaya kamu bisa belajar dulu dan ga bingung waktu guru nanya," ucap Satria dengan nada yang sedikit ditekan.
Melisa terdiam, ia hanya menatap Satria tanpa menjawab apapun. Melisa sendiri tak mengerti mengapa Satria bersikap seperti ini padanya, terakhir kali ia merasakan sikap baik Satria adalah saat malam terakhir mereka bertemu di rumah Satria. Di malam hari pemakaman ayah, ibu, dan adik Satria.
Malam itu, Satria meminta Melisa untuk datang lagi esok hari. Namun Melisa tak bisa datang, ia jatuh sakit dan harus dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Ayahnya juga saat itu sudah berangkat untuk tugas lagi ke luar negeri, jadi tak ada yang mengabari Satria.
__ADS_1
"Kamu kenapa begini sih Sat? Salah aku ke kamu apa?" Melisa menarik tangan Satria yang hendak berlalu meninggalkannya.
Bukan sekali ini saja Melisa bertanya tentang sikap Satria, tapi sudah sejak pertama kali Melisa merasa perubahan sikap Satria. Melisa sudah berulang kali bertanya, namun laki-laki itu tak pernah menjawabnya. Satria selalu mengabaikan Melisa dan pergi meninggalkan Melisa begitu saja.
Pernah satu ketika Dion sampai memukul pipi Satria karena kesal. Satria tak kunjung menjawab pertanyaan Melisa, membuat Dion tak bisa menahan emosinya. Sebuah bogem mentah pun berhasil mendarat di pipi Satria.
Namun bukannya membalas, Satria hanya sedikit menyeringai lalu pergi meninggalkan Dion dan Melisa.
"Apa karena waktu itu aku tak datang lagi ke rumahmu?"
Satria masih terdiam, tak mau menjawab.
"Aku sakit Satria, waktu itu aku dirawat di rumah sakit. Dan pas udah pulang aku juga ga bisa datang ke rumahmu karena aku..." Melisa berhenti sejenak, ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku belum sanggup untuk datang ke sana lagi Satria, aku... aku masih teringat ibumu," ucap Melisa dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tak perlu datang lagi ke rumahku, ah... itu bukan rumahku, itu milik ayahmu," Satria tersenyum getir.
Memang sejak malam itu, Melisa tak lagi datang ke rumah Satria. Selain karena ia sakit, ia tak sanggup jika harus datang ke rumah itu karena akan semakin merindukan sosok bu Lastri.
Ia tak lagi mendengar kabar tentang Satria hingga masuk sekolah. Di saat itulah Satria mulai berubah sikapnya pada Melisa. Sebenarnya tak hanya pada Melisa, kepada hampir semua orang yang ditemuinya pun Satria bersikap dingin.
Kembali ke kamar Melisa, ia kembali mengangkat ponselnya. Dengan tekad yang kuat, ia akhirnya memberanikan diri menelpon Satria. Melisa sangat ingin tau, apa maksud perkataan Satria tadi siang.
Namun berkali-kali Melisa berusaha menghubungi Satria, ia tetap tak bisa menghubungi. Ponsel Satria tidak aktif saat ini. Melisa menghela nafas, ia kembali menatap langit-langit kamarnya.
"Kamu kenapa Satria?"
Melisa meletakkan tangannya di atas kepala, menutupi matanya yang sudah berair. Ia ingin menangis, menangisi hubungannya dengan Satria yang semakin memburuk.
__ADS_1
Melisa tiba-tiba bangun dari tidurnya. Ia sudah turun dari atas kasur dan segera mengambil jaket di dalam lemari.
"Tidak bisa begini, aku harus selesaikan semua malam ini juga," Melisa bertekad ingin menemui Satria.
Melisa mengambil kunci mobilnya, dan bergegas keluar menuju halaman rumah. Melisa melajukan mobil sportnya dengan kecepatan penuh. Ia ingin segera sampai di rumah Satria.
Namun betapa terkejutnya Melisa saat sampai di depan rumah Satria, rumah itu tampak kosong seperti tak berpenghuni. Melisa melihat ke dalam rumah melalui kaca jendela yang sudah tak memiliki gorden.
Semua kosong, Melisa tak melihat satu perabot pun di rumah itu. Semua kursi-kursi yang ada di teras juga tak ada.
"Apa Satria pindah rumah?" Batin Melisa.
Melisa berjalan kembali ke mobilnya, sebelum masuk kembali ia celingukan di depan rumah Satria. Mencoba mencari seseorang yang bisa ditanya. Namun tak seorangpun Melisa temui, wajar saja itu sudah jam dua belas malam.
Melisa kembali menatap rumah Satria yang kini sudah kosong dan gelap. Ia teringat beberapa bulan yang lalu, bu Lastri masih sibuk membuat gado-gado untuk pelanggannya di teras rumah. Sebagian sisi teras yang dijadikan lapak dagangan oleh bu Lastri.
Melisa kembali merasa sedih, air matanya sudah berlinang mengingat kehangatan yang dulu ia rasakan dari keluarga Satria. Kini kehangatan itu sudah tak ada lagi, bu Lastri yang selalu memeluk dan membelai rambutnya, pak Joni yang selalu tersenyum ramah padanya, dan juga Rian yang selalu menggodanya hingga membuatnya tertawa. Kini tak bisa Melisa temui lagi.
Kehangatan yang dulu Melisa rasakan, tak lagi bisa ia dapatkan. Tak hanya kehilangan bu Lastri, pak Joni, dan Rian. Melisa juga mendapat perlakuan dingin dari Satria, satu-satunya orang yang pernah membuat hidup Melisa terasa hangat.
Melisa berjalan gontai kembali ke dalam mobilnya. Ia menenggelamkan wajahnya di dalam ke dua lengannya yang memeluk stir mobil. Melisa menangis seorang diri, di depan rumah Satria. Tempat dimana orang-orang yang dulu ia cintai tinggal.
Tempat dimana mereka selalu berbagi tawa dan canda, berbagi suka dan duka. Tempat dimana Melisa pernah sangat menginginkan menjadi bagian dari mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haiii Readers, ga kerasa Si Gadis Dingin sudah mencapai seratus episode lebih 🤩
Terima kasih banyak buat semua yang masih setia membaca novel ini, terima kasih buat semua yang selalu memberikan dukungan lewat like, vote, hadiah, dan komen.
__ADS_1
Semoga cerita ini menghibur para readers semua 🥰
Jangan lupa terus beri dukungan buat author ya ☺️