
"Seperti itulah, tuan menepati janjinya ia sudah tak lagi menemui nona Silvana sejak hari itu. Meski kita tau sebenarnya tuan tidak menemui kekasihnya bukan karena permintaan nyonya. Melainkan karena kami belum juga bisa menemukan nona," Fredy mengakhiri ceritanya.
Melisa hanya mengangguk menanggapi cerita Fredy.
"Jadi ayah tak lagi mencari tante Silvana?" Tanya Melisa.
"Tidak sejak hari itu, tapi saat nyonya meninggalkan rumah. Tuan memintaku untuk melanjutkan pencarian," jawab Fredy.
"Kalian belum menemukannya?"
Fredy menggelengkan kepala. "Kami sudah mencari hampir semua tempat di dunia ini. Namun nihil, kami tak dapat menemukan petunjuk apapun."
Melisa menatap Fredy tanpa berkedip, membuat Fredy merasa tak nyaman. Pria di hadapannya ini usianya tak beda jauh dengan ayahnya. Namun ia belum juga menikah, demi dedikasi pada tuannya.
Sejenak pikiran aneh muncul di benak Melisa, hingga ia mengernyitkan dahinya.
"Ada apa nona?"
"Apa kau tak ingin menikah?" Tanya Melisa penasaran.
Fredy tersenyum, "aku tak ada niat untuk menikah."
"Kenapa?" Melisa semakin penasaran.
"Entahlah, aku tak tertarik. Aku menikmati kesendirianku," jawab Fredy dengan tenang.
Meski sebenarnya tak begitu paham, tapi Melisa mencoba mengerti. Melisa juga pernah merasa nyaman saat ia seorang diri tinggal di rumah. Sebelum ia bertemu Satria, Melisa sangat menikmati kesendiriannya. Tapi kini, ia mudah sekali merasa kesepian.
"Jadi selama ini ayah tinggal dimana?"
"Tuan tinggal di hotel yang berbeda setiap hari. Sebisa mungkin tuan menyibukkan diri, agar ia tak perlu pulang ke rumah. Tuan ingin, nyonya berpikir bahwa tuan sudah kembali pada kekasihnya," jawab Fredy.
"Jadi sampai saat ini mamah tidak tau tante Silvana menghilang?"
Fredy terkekeh, ia menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri tak percaya nona. Ternyata nyonya masih percaya akan keberadaan nona Silvana."
"Kenapa ayah melakukan itu?"
Fredy kembali menghela nafas panjang. Ia mengingat peristiwa beberapa tahun silam.
Flashback
Saat itu Melisa baru saja menerima penghargaan kelulusan di sekolahnya. Ia berjalan riang setelah turun dari mobil yang dikendarai oleh Fredy. Melisa tak sabar ingin memamerkan piala yang ia dapat pada kedua orang tuanya. Melihat mobil keduanya terparkir rapih di sana menandakan keduanya kini berada di rumah.
__ADS_1
Ayah ibunya tak pernah datang ke acara sekolahnya. Fredy lah yang selalu setia menemani dirinya di setiap acara di sekolah. Meski begitu, Melisa berusaha memahami kesibukan keduanya.
Saat Melisa sampai di rumah, ia terkejut dengan pemandangan yang ia lihat. Ibunya sudah berkemas dengan banyak koper yang siap diangkut untuk dibawa pergi. Di sampingnya ada sang ayah yang sedang memohon agar istrinya itu tak pergi.
Melisa mematung, perlahan ia memilih berjalan mundur karena keduanya tak menyadari kehadiran putri semata wayang mereka. Melisa lebih memilih bersembunyi di balik tiang yang menyangga bangunan mewah itu.
"Aku mohon Nat, haruskah kau pergi saat ini juga? Tak bisakah kau pergi saat usianya nanti menginjak tujuh belas tahun?" Gunawan memegang tangan istrinya.
Natasya menepisnya. Wanita itu berbisik di telinga Gunawan. "Aku sudah muak dengan anak itu, kau uruslah dia sendiri. Atau kau bisa menemui kekasihmu itu lagi dan memintanya untuk merawat Melisa."
Gunawan tertegun. Ia selama ini sudah menuruti permintaan Natasya untuk tak lagi memikirkan Silvana, namun kini ia malah seenaknya meminta Silvana mengasuh putrinya.
"Apa kau akan tetap setia pada lelaki yang telah mencampakkan mu selama dua belas tahun?" Gunawan bertanya lirih.
Natasya menyeringai. "Tentu saja tidak."
"Lihat! Kau sendiri juga pasti akan berpaling," Gunawan geram dengan ide Natasya.
"Tapi dia kan sangat mencintaimu. Aku yakin, wanita itu pasti mau saja saat kau memintanya untuk mengasuh anakmu itu," Natasya berkata dengan sinis.
"Ayolah Nat, ini sudah dua belas tahun. Dia pasti sudah menikah." Gunawan berusaha membujuk Natasya. "Tak kasihan kah kau pada Melisa? Ia harus kehilangan sosok ibunya saat hendak tumbuh menjadi gadis dewasa."
"Aku sudah lelah Gunawan. Aku mau bebas, dengan aku tinggal di sini aku merasa seperti hidupku terkurung. Aku tak bisa melakukan apapun yang aku suka," Natasya menatap tajam mata Gunawan.
"Sudahlah, bukankah sudah pernah ku bilang aku akan meninggalkannya? Jadi jangan coba menghentikan langkahku," Natasya menghentikan perdebatan itu. Ia sudah tak ingin lagi mendengar rayuan Gunawan yang memintanya untuk tetap berada di sisi Melisa.
Melisa yang bersembunyi di balik tiang berusaha menguping pembicaraan kedua orang tuanya. Namun sekeras apapun ia mencoba mendengarkan, tak sedikitpun pembicaraan keduanya terdengar di telinga Melisa. Gunawan dan Natasya berbicara sangat pelan seolah tak ingin orang-orang tau apa yang mereka perdebatkan.
Fredy yang melihat Melisa bersembunyi di balik tiang menghampiri gadis kecil itu. Sebelumnya Fredy juga sudah hampir masuk dan melihat pasangan suami istri itu sedang berdebat. Ia memilih mundur seperti Melisa, hingga akhirnya ia menemukan Melisa di balik tiang.
Fredy menghampiri Melisa yang hanya diam mematung.
"Nona, apa kau tak ingin pergi ke suatu tempat?" Tanya Fredy.
Melisa yang tiba-tiba ditanya oleh Fredy terlihat kaget. Namun gadis kecil itu berusaha memikirkan sebuah tempat yang ingin sekali ia kunjungi.
"Bolehkah aku pergi ke taman hiburan?" Tanya Melisa ragu-ragu.
"Tentu saja, ayo kita ke sana," ajak Fredy.
"Sekarang?" Melisa tak percaya.
Fredy mengangguk. Pria itu mengulurkan tangannya pada Melisa. Melisa meraihnya, gadis kecil itu tersenyum senang mengetahui Fredy akan mengajaknya ke taman hiburan.
__ADS_1
Saat hendak memasuki mobil, seorang pria tampan memanggilnya. Melisa menoleh ke arah pria yang memanggilnya itu. Gadis itu terlihat berpikir, siapa laki-laki ini?
"Kau mau kemana?" Tanya Steve yang sudah jongkok di depan Melisa.
"Ke taman hiburan," jawab Melisa polos.
Pria itu tersenyum ramah, "baiklah, selamat bersenang-senang." Steve membelai rambut Melisa dengan sangat lembut.
Setelah Melisa masuk ke dalam mobil, Fredy menghampiri Steve dan mengajaknya bicara menjauh dari mobil agar Melisa tak mendengar pembicaraan mereka.
"Kau mau membawa nyonya pergi?" Tanya Fredy dengan tatapan tak suka.
"Dia yang memintanya," jawab Steve sambil tersenyum.
Fredy hanya mengangguk, lalu ia berjalan kembali ke mobil. Saat hendak masuk ke dalam mobil, Fredy kembali melihat Steve.
"Jagalah nyonya baik-baik," ucapan Fredy hanya dibalas senyuman oleh Steve.
Ya, saat itu Steve diminta oleh Natasya untuk membawa barang-barangnya keluar dari rumah itu.
Sebelum Natasya pergi bersama Steve. Sekali lagi Natasya mengatakan pada Gunawan.
"Carilah wanita itu, aku yakin dia masih sangat mencintaimu dan setia menanti dirimu," cibir Natasya.
"Tentu saja, nanti setelah aku menemukannya. Aku juga akan pergi untuk tinggal dengannya," jawab Gunawan penuh emosi.
Natasya tertawa, "ternyata kita memang bukan orang tua yang baik." Natasya meninggalkan Gunawan yang masih emosi seorang diri di rumahnya yang mewah itu. Rumah yang bagaikan penjara bagi Natasya selama dua belas tahun ini.
"Kau pikir aku tak bisa melakukannya?" Gumam Gunawan saat Natasya sudah benar-benar pergi dari rumahnya.
Flashback end.
"Begitulah nona, tuan melakukan itu karena dendam dengan nyonya," Fredy mengakhiri ceritanya.
Melisa kembali mengingat peristiwa itu, kini ia tau pembicaraan sesungguhnya antara ayah dan ibunya hari itu.
"Jadi ayah hanya pura-pura hidup bahagia dengan kekasihnya?" Gumam Melisa.
"Tentu saja nona, sebenarnya tuan sibuk dengan pekerjaannya. Nona bisa lihat perkembangan perusahaan yang begitu pesat sejak kepergian nyonya. Itu karena tuan terus bekerja tak kenal lelah, siang dan malam."
"Jika tuan memang sibuk dengan kekasihnya, apa mungkin perusahaan akan berkembang sepesat ini?" Fredy mencoba bertanya pada Melisa.
Melisa hanya diam, ia bahkan tidak paham sama sekali tentang perusahaan ayahnya.
__ADS_1
"Tentu tidak bisa nona, mempertahankan sebuah perusahaan saja tidak mudah. Apalagi membuatnya berkembang dengan sangat pesat. Ini semua karena tuan sangat fokus pada perusahaan, hingga perusahaan ini bisa berjalan dengan baik."