Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Rencana


__ADS_3

Semenjak Natasya meninggal dunia, Steve sering terlihat melamun seorang diri di dalam kamarnya. Kamar yang menghadap ke arah danau di belakang rumah mereka.


Di tempat itu jugalah Natasya sering menghabiskan waktunya. Terutama saat beberapa hari terakhir sebelum Natasya meninggal dunia.


Satria melihat ayah angkatnya yang terus saja melamun di balik jendela kamar. Satria berinisiatif untuk membuatkan minuman hangat untuknya.


Satria masih tinggal di sana, selagi kuliahnya libur ia ingin menemani Steve agar tak merasa kesepian. Sedangkan Melisa sudah kembali ke kota A, karena ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Padahal ia sangat ingin menghabiskan waktunya bersama Satria, mumpung Satria sedang libur saat ini. Namun apa daya, tanggung jawabnya terhadap perusahaan tak bisa ia abaikan.


Melisa tak mau Gunawan mencabut kembali restunya karena keegoisan Melisa.


"Ini teh hangat untukmu," Satria datang membawakan secangkir teh hangat untuk Steve.


"Terima kasih Satria," Steve tersenyum ramah pada Satria.


"Apa ayah berniat untuk tetap tinggal di rumah ini?"


"Entahlah, aku belum tau. Kenapa? Apa kau akan segera kembali?"


"Kuliahku sedang libur, mungkin sampai satu bulan ke depan aku bisa menemanimu di rumah ini."


Steve tersenyum, ia merasa bersyukur setidaknya ia tidak benar-benar sendirian saat ini.


"Bagaimana menurutmu rumah ini? Apa kau suka?"


"Mmm... Aku suka suasananya yang nyaman. Tidak seperti di kota yang sangat bising."


"Kau benar Satria, Natasya bilang ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah ini. Tempat ini sangat sejuk dan asri, terlebih warga sekitar yang sangat baik dan peduli pada kami yang hanya seorang pendatang."


Satria merasa lega, saat tau di akhir hidup Natasya, ia bertemu dengan orang-orang yang baik padanya. Mungkin Natasya sudah menerima karmanya melalui sakit yang ia derita, namun ia juga mendapatkan anugrah karena kebaikannya pada Satria dengan bertemunya Natasya dengan orang-orang yang baik.


Satria tak akan pernah melupakan kebaikan Natasya padanya. Terlepas dari apapun yang telah Natasya lakukan dulu.


Satria teringat pesan kedua orang tuanya, untuk selalu mengingat kebaikan seseorang.


"Apa kau sudah berkeliling desa?" Tanya Steve.


"Belum," jawab Satria.


"Ah, maaf... Aku lupa bahwa ini pertama kalinya kau datang ke tempat ini. Ayo kita jalan-jalan keliling desa. Akan ku perlihatkan padamu betapa indahnya desa ini."


Steve berjalan keluar dari kamarnya diikuti oleh Satria di belakangnya.


"Mata pencaharian warga desa ini dari hasil bertani dan berkebun. Semua warga di sini sangat baik dan ramah," Steve mulai bercerita tentang penduduk desa.

__ADS_1


"Tapi tempat ini sungguh terpencil, namun yang membuatku heran adalah jalannya beraspal dan sangat mulus," puji Satria.


"Hehe, tentu saja itu karena aku tak mau mobilku rusak karena melewati jalan berbatu yang hancur."


"Jadi ayah yang membiayai pengaspalan jalan itu?"


"Ya,"


"Dengan uang pribadi?"


"Tentu saja, uangku dan uang Natasya. Kau tak lupa kan kalau kami sangat kaya."


"Tentu, dan kalian juga sangat baik. Pantas saja warga sekitar juga baik pada kalian."


"Tapi warga di sini memang baik semua. Sebelum kami membantu mereka, mereka sudah sangat baik menyambut kedatangan kami."


Satria mengangguk, ia tau sifat warga desa mayoritas memang sangat baik dan ramah. Tak seperti orang-orang kota yang mayoritas hidupnya cuek dan tak ingin terlibat dengan urusan orang lain.


"Lalu, apa rencana mu kedepannya?" Tanya Steve.


"Rencana apa?"


"Setahun lagi kau akan lulus kuliah, apa kau sudah membuat rencana?"


"Kau menerima tawaran itu?"


"Itu permintaan terakhir ibu," Satria sebenarnya tak ingin menerima tawaran Natasya untuk meneruskannya mengurus Yayasan. Hanya saja ia ingat bagaimana Natasya sangat berharap padanya saat itu.


Dan Satria juga tak ingin melupakan kebaikan Natasya, hingga ia akhirnya menerima menjadi penerus yayasan Puspa Tunggal.


"Syukurlah jika akhirnya kau mau menerima tawaran Natasya, memang dia sangat berharap bisa meneruskan yayasan pada orang yang kompeten sepertimu," puji Steve.


"Ah, ayah bisa saja. Aku masih harus banyak belajar agar bisa disebut kompeten," Satria yang rendah hati merasa tak enak jika ia disebut kompeten. Padahal ia sendiri juga belum terbayang sama sekali bagaimana cara mengelola yayasan.


"Natasya tak akan memilihmu jika kamu tidak kompeten dimatanya," Steve meyakinkan.


"Semoga saja mata ibu tidak salah lihat."


Keduanya tertawa lepas setelah ucapan Satria.


"Lalu, kapan kau akan menikahi Melisa?"


"Menurut ayah, kapan waktu yang tepat untuk melamarnya?" Satria malah balik bertanya.


"Kau sudah bertemu dengan Gunawan?"

__ADS_1


"Belum," Satria menggeleng.


"Kau harus bertemu dulu dengannya, itulah etikanya."


"Aku tau yah, tapi sangat sulit untuk menemuinya, dia seperti menghindari bertemu denganku," ucap Satria.


"Tentu saja itu karena dia merasa bersalah padamu. Tapi... Apa kau sudah memaafkannya?"


Satria terdiam, ia nampaknya masih belum bisa memaafkan perbuatan Gunawan di masa lalu.


"Sepertinya belum ya?"


"Tapi aku kan tetap harus meminta izin padanya sebelum menikahi Melisa," Satria mengalihkan pembicaraan.


"Kau benar, kesampingkan urusan kalian dulu. Kalau aku boleh kasih saran, temui Gunawan setelah kau lulus dan resmi dinyatakan sebagai pemilik Puspa Tunggal. Tunggu, tidak hanya itu. Kelak kau akan mewarisi agensi milikku," ucap Steve.


"Agensi?"


"Tentu saja, kau pikir kepada siapa aku akan mewarisi perusahaan milikku? Meski hanya agensi kecil, tapi itu berjalan dengan baik."


"Ayah yakin akan mewarisinya untukku?"


"Kenapa? Kau tak mau?"


"Tapi ku rasa aku..."


"Kau kini adalah anakku, dan aku tak mungkin memberikannya pada orang lain. Jadi sudah pasti semua akan jatuh ke tanganmu."


Satria terdiam, ia tak pernah menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu sebelumnya.


Satria teringat kehidupannya dulu, jangankan mewariskan sebuah perusahaan, bahkan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia sudah bersyukur.


Satria pikir, kata-kata pewaris perusahaan hanyalah ada di film-film saja. Ia tak menyangka bahwa ia juga bisa merasakan bagaimana rasanya jadi pewaris tunggal. Meski mereka hanyalah orang tua angkat.


Satria merasa semakin bersemangat, ia tak mau mengecewakan Natasya dan Steve nantinya karena sudah mempercayakan dirinya sebagai pewaris.


"Kalau begitu aku akan belajar lebih giat lagi, agar aku tidak mengecewakan kalian," ucap Satria penuh tekad.


"Inilah Satria yang aku tau," Steve tersenyum sambil menepuk bahu Satria. Ia bangga memiliki putra yang sangat baik dan juga cerdas seperti Satria.


Meski keduanya pernah terlibat konflik, namun kini mereka sangat akrab seperti layaknya ayah dan anak yang sesungguhnya.


"Terima kasih telah memberiku kesempatan," Satria merasa bersyukur atas kehidupannya yang sangat jauh lebih baik kini.


Kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2