Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
S2 Bab 47


__ADS_3

Dua bulan setelahnya,


"hoek...hoek!" Athala muntah-muntah di kamar mandi, sejak beberapa bulan terakhir ini memang dia sering mual dan pusing, Athala lalu keluar dari kamar mandi,


"kenapa?" tanya keempat pria yang ada di depan kamar mandi itu, Athala langsung jengkel,


"kalian nggak ada pekerjaan lain apa? PERGI SANA!" Athala berjalan pergi meninggalkan mereka,


"akhir-akhir ini dia emosinya naik terus, juga sering bolak-balik keluar-masuk kamar mandi, kenapa ya?" ucap Riko dengan nada bertanya,


"bener juga, kemarin aku nggak sengaja jatuhin buku, dia langsing ngamuk-ngamuk nggak jelas" balas Indra,


"dia juga nempel ke aku terus, padahal bilangnya dia benci?" Azkar menggaruk tengkuknya sendiri,


"ada yang nggak beres, ayo bawa dia ke rumah sakit! jangan-jangan......." ucap Edward tertahan,


"apa?" ucap tiga orang di depannya penuh tanda tanya,


"dia kena hipotensi!" tiga orang itu langsung menyerbu Edward, omongannya ngawur banget,


"wah, para ayah lagi ngapain?" lima orang anak kecil memperhatikan mereka, seketika empat pria itu langsung kembali berdiri,


"nggak, kalian main aja sana" ucap Indra sedikit ketus, mata Reva mulai berbinar dan Azkar menyadari itu, lalu langsing mengendong Reva,


"paman dewa nakutin, masak bilangnya gitu" Reva menyembunyikan wajahnya di dada Azkar,

__ADS_1


"paman dewa?" semua orang heran,


"namanya mirip sama dewa yang ada di cerita" jelas Rava mewakili Reva,


"Rava" panggil Athala,


"ada apa?"


"temani mom sebentar, penting banget!" tanpa persetujuan Rava, Athala langsung menariknya begitu saja,


"kenapa dia tuh?" tanya Indra,


"entah"


"kok nggak ajak aku?" kata Rava yang masih di gendong Azkar,


Athala masuk ke dalam rumah dengan aura penuh kegelapan, sedang Rava senyum-senyum nggak jelas,


"Rava, ada apa?" tanya Edward,


"aku akan punya adik!" ucap Rava bersemangat, sontak semua orang langsung terkejut dengan omongan Rava,


"kau bercanda kan?" Arjun menatap Rava dengan tampang tidak percaya,


"iya kok, Mom punya adik di perutnya kata dokter!" ucap Rava dengan suara imutnya,

__ADS_1


"kayaknya dia nggak pernah bicara kayak gitu ya?" Indra menatap heran anak itu,


"jika dia senang terlalu berlebihan ya kek gitu" balas Reva,


"ye...ye...ye" ucap Rava bersemangat,


"apa dia punya dua kepribadian gitu?" Arjun menatap Reva dengan penuh tanda tanya,


"bisa dibilang begitu juga sih, bahkan ibu juga bingung dia punya sifat kekanakan itu dari siapa?" jelas Reva,


"Atta waktu kecil juga kayak gitu kok, bahkan lebih parah sampai di kira anak hiperaktif" Edward tersenyum menatap tingkah Rava yang mengingatkannya dengan Athala waktu kecil,


"betulkah? Mom waktu kecil juga kayak Rava sekarang?" Reva menatap Edward,


"Hem, Azkar sangat dewasa dan juga bertanggung jawab, sedang Atta kekanakan dan sangat cengeng"


"kakak! jangan bicara sembarang!" Athala menatap horor Edward dari belakangnya,


"lagian anakmu ini sangat penasaran, jadi kuberitahu dan jangan marah dong!" Edward langsung mengendong Athala seperti tuan putri,


"tuan putri jangan marah ya?" Edward tersenyum lembut,


"lama juga nggak liat pemandangan ini" Indra tersenyum, anak-anak hanya menatap heran orang tua mereka, Indra yang biasanya cuek bisa senyum dan Edward yang nggak peduli dengan keadaan sekitarnya sekarang jadi pemeran utamanya,


"ya juga ya, ayo kita ambil foto berlima!" Riko bersemangat,

__ADS_1


"Reva tolong ya!" Riko menyerahkan ponselnya untuk mengambil foto, dan mereka berlima pun foto bersama, suasana kembali seperti ke masa lalu.


Terima Kasih πŸ˜ƒπŸ˜„ untuk pembaca setia, novelnya tamatπŸ‘Œ dulu ya, nggak pa-pa kalau nggak puas sama endingnya, silakan komentarπŸ‘„, kalau ada waktu author bikin cerita versi anak-anaknya πŸ˜πŸ˜„πŸ˜€πŸ˜ƒπŸ™πŸ™


__ADS_2