
Kelahiran Melisa.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Natasya merasa perutnya sakit. Beberapa kali ia merasakan sakit di perutnya yang datang dan pergi.
"Apa anak ini akan lahir?" Batin Natasya.
Natasya perlahan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka, ia berniat untuk pergi ke rumah sakit saat itu juga. Sejak Natasya hamil, Gunawan membuatkan kamar mandi di dalam kamar Natasya. Sebelumnya, kamar mandi hanya ada satu di lantai atas. Kamar mandi yang di Gunakan Natasya dan Gunawan secara bergantian.
Setelah mencuci muka, Natasya berjalan perlahan keluar kamarnya. Ia mengetuk kamar Gunawan, namun tak ada jawaban dari dalam. Natasya membuka pintu kamar Gunawan, tetapi lelaki itu tak ada di sana.
"Ia pasti tak pulang lagi," keluh Natasya.
Dengan tertatih-tatih Natasya mengambil kunci mobilnya dan sambil menahan sakit ia mencoba berjalan keluar rumah. Kebetulan hari itu pelayan yang biasa mengurus rumah mereka sedang pulang kampung karena ibunya meninggal dunia. Jadilah Natasya hanya seorang diri di rumah.
Sampai di dalam mobil, Natasya mencoba menghubungi Steve. Tapi pria itu tak kunjung menjawabnya. Natasya ragu untuk menghubungi Gunawan. Akhirnya ia memberanikan diri, Natasya mencoba menelpon Gunawan.
Satu kali, dua kali, tiga kali. Gunawan tak menjawab satu pun panggilan yang masuk dari Natasya. Hal ini membuat Natasya jengkel.
"Angkatlah!!! Anakmu akan lahir!!!" Natasya hanya bisa marah-marah seorang diri. Sakit yang ia rasa diperutnya semakin jadi.
Saat sakitnya hilang, ia memberanikan diri menyalahkan mesin mobil. Pelan-pelan Natasya menjalankan mobilnya. Jalanan sangat sepi, tentu saja orang-orang pasti masih tidur saat ini.
"Tidak bisakah kau keluar saat matahari sudah terbit nanti?" Natasya bicara pada bayi dalam perutnya.
Sambil menahan rasa sakit yang semakin menjadi, Natasya terus melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit. Ia masih berusaha menghubungi Steve. Hanya Steve yang kini menjadi harapan terakhirnya.
Saat Natasya merasa sudah tak sanggup menahan rasa sakitnya, ia menghentikan mobilnya di tengah jalan yang sepi. Seorang diri menahan sakit diperutnya. Natasya mencengkram kemudi dengan sangat erat, ia menangis seorang diri.
"Seperti inikah rasanya orang yang akan melahirkan? Mengapa sakit sekali?" Batin Natasya.
Ditengah rasa sakitnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Natasya meliriknya, ternyata itu Steve. Natasya segera mengangkatnya.
"Halo Nat, ada apa?" Steve terdengar panik, ia segera menghubungi Natasya saat tau wanita itu telah menghubunginya berkali-kali.
Natasya tak menjawab, ia hanya menangis membuat Steve semakin panik.
"Nat, kamu dimana?"
Kali ini Natasya menjawabnya, "entahlah, sepertinya aku sudah hampir sampai di rumah sakit."
"Kau akan melahirkan?" Tanya Steve.
"Mmm..." jawab Natasya singkat.
"Kau bersama siapa sekarang?"
"Aku sendiri," Natasya menangis semakin kencang.
"Kemana suamimu?" Steve malah tersulut emosinya mengetahui Gunawan tak ada di sana saat ini.
"Aku tak tau, cepatlah kemari! Aku sudah tak sanggup menyetir, sekarang sakitnya sedang hilang. Tapi sebentar lagi pasti akan muncul."
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Steve segera mengambil kunci motornya, berkendara cepat menuju tempat Natasya.
"Dia bilang sudah hampir sampai rumah sakit, jika dia berkendara dari rumah berarti..." belum selesai Steve berpikir dimana keberadaan Natasya ia sudah menemukan mobil Natasya yang berhenti di tengah jalan.
Steve segera menepikan motornya. Lalu berlari menuju mobil Natasya.
Saat itu Natasya sedang memegang erat stir kemudi, badannya gemetar menahan rasa sakit yang sedang muncul.
"Nat, aku datang," Steve mengetuk kaca mobil.
Natasya menoleh, ia menangis semakin jadi saat melihat wajah Steve. Lalu membuka pintu mobil.
Steve memeluk Natasya yang tubuhnya masih bergetar karena menahan sakit. Setelah sedikit tenang. Steve segera memindahkan Natasya ke kursi belakang kemudi. Sementara ia mengambil alih kemudi.
Dengan cepat Steve melajukan mobilnya memasuki area rumah sakit. Sampai di depan IGD ia segera turun dan memanggil petugas. Meminta bantuan untuk menurunkan Natasya.
Akhirnya Natasya bisa dibawa ke ruang bersalin. Steve dengan setia menemani kekasihnya itu. Natasya terus saja menangis membuat Steve tak tega melihat Natasya.
"Bertahanlah, jika pembukaannya bagus bayi ini bisa lahir sebelum pagi," ucap Steve memberi semangat pada Natasya sepertinya sudah tak tahan dengan rasa sakitnya.
Saat pembukaan lengkap, para perawat dan dokter dengan sigap menyiapkan peralatan dan memposisikan Natasya agar ia bisa dengan mudah mengejan.
Steve mengusap lembut kepala Natasya, memberikan kecupan lembut di kening Natasya, memberikan kekuatan untuk Natasya agar kuat mengeluarkan bayinya.
Setelah perjuangan panjang, Natasya akhirnya melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik seperti dirinya. Steve sangat senang melihat gadis kecil itu, ia bahkan tak segan menggendong bayi kecil itu meski bayi itu bukan anaknya.
Tapi lain dengan Natasya. Setelah bayi itu lahir, ia malah tak mau melihatnya. Meski Steve berusaha untuk membuat Natasya melihat bayi yang baru saja keluar dari rahimnya. Natasya tetap memalingkan wajahnya.
Setelah mulai pulih, Natasya kembali ke ruang perawatan. Dokter yang memeriksanya mengatakan kondisi Natasya sangat baik. Besok jika tidak ada masalah Natasya sudah bisa pulang.
Mendengar Natasya yang sudah melahirkan, Gunawan segera berlari ke rumah sakit. Di kamar perawatan, pria itu segera memeluk istrinya.
Natasya yang dipeluk hanya diam tak bergeming.
"Kau baik-baik saja?" Gunawan terlihat sangat khawatir. Ia melihat Natasya dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Maaf aku tak mengangkat telpon darimu, aku ketiduran di kantor." Gunawan merasa sangat bersalah karena ia tertidur saat sedang asik bekerja.
"Tak apa, anakmu sudah lahir. Temui dia," pinta Natasya.
"Kau benar tak apa?" Gunawan masih mengkhawatirkan Natasya.
Natasya hanya mengangguk.
Saat Gunawan meninggalkan kamar perawatan. Natasya mendengus kesal.
"Cih, bilang saja kau sedang asik dengan kekasihmu," gumam Natasya.
Sampai di ruang perawatan bayi, Gunawan kaget melihat Steve berada di sana.
"Sedang apa kau disini?" Gunawan menatap sinis pada Steve.
"Tentu saja menemani anakmu. Kasian anak ini lahir tanpa ditemani ayahnya," cibir Steve.
__ADS_1
Gunawan segera menggendong bayi mungil itu, ia sama sekali tak memperdulikan cibiran dari Steve.
Setelah menyerahkan bayi yang tadi ia gendong, Steve keluar meninggalkan Gunawan di ruang perawatan bayi. Gunawan menatap punggung Steve dengan curiga. Ia melihat Steve dan bayi kecil itu secara bergantian.
Lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak mungkin, jelas ini anakku," gumam Gunawan.
Hari-hari berlalu, Natasya dan bayinya sudah pulang ke rumah. Sejak pulang ke rumah Natasya sama sekali tak pernah menggendong anaknya. Semua perawatan bayi ia serahkan pada perawat yang ia sewa.
Natasya bahkan tak pernah menyusuinya secara langsung. Sebelumnya ia juga menolak untuk memberikan asi pada anaknya itu. Tapi dengan bujuk rayu Steve yang mengatakan kemungkinan ia akan terkena kanker suatu saat nanti jika asinya tak dikeluarkan. Akhirnya Natasya mau meski hanya dengan pompa asi.
"Sampai kapan aku harus melakukan ini?" Tanya Natasya yang mulai bosan dengan aktivitas memompa asi.
"Sampai usianya dua tahun nyonya," jawab perawat bayi dengan sabar.
"Hah... lama sekali," keluh Natasya.
Natasya yang sudah mulai jengah karena terus berada di rumah, mulai mengeluh pada Gunawan. Terlebih suaminya itu masih saja sering pulang sampai larut malam, meski tak lagi menginap.
"Aku ingin pergi, kau saja yang urus anak itu," ucap Natasya tiba-tiba. Saat itu usia Melisa sudah menginjak dua bulan.
"Kau mau kemana? Anak kita masih butuh ibunya. Apa kau tega meninggalkannya?" Tanya Gunawan yang heran melihat Natasya sudah rapih dan siap pergi dengan kopernya.
"Aku lelah mengasuhnya, sementara kau enak-enakan di luar sana," jawab Natasya jengkel. Padahal selama ini ia hanya memompa asi, perawatlah yang mengurus Melisa mulai dari bangun hingga tidur lagi.
Gunawan menghela nafas, mencoba menahan emosi "Nat, aku mohon. Apa kau tak kasihan pada Melisa?"
"Untuk apa aku kasihan pada anak itu? Dia juga tak kasihan padaku, kau bahkan tak tahu anak itu seringkali menangis tengah malam. Mengganggu tidurku saja," Natasya tetap bersikukuh ingin pergi.
Mereka terus berdebat, yang satu merasa sudah kewajiban seorang ibu mengasuh anak yang satunya lagi merasa bukan urusannya mengasuh anak. Tentu saja, bagi Natasya hamil dan melahirkan saja sudah pengorbanan yang besar baginya. Apa perlu ditambah lagi dengan mengurusnya?
Akhirnya Gunawan mengalah, ia berlutut di hadapan Natasya. Memohon agar istrinya tak pergi meninggalkan anak mereka.
"Aku akan lakukan apapun yang kau mau, asalkan kau tetap berada di sisi Melisa. Setidaknya sampai Melisa beranjak remaja."
Natasya terlihat berpikir.
"Ayolah, bagaimana pun dia darah daging kita. Apa kau tega meninggalkannya?"
Natasya menghela nafas.
"Baiklah, aku tak akan pergi. Asal kau penuhi syarat dariku," ucap Natasya.
"Apapun syarat darimu akan ku penuhi," Gunawan berusaha menyanggupi apapun mau Natasya. Ia tak ingin Melisa tumbuh dengan orang tua yang tak lengkap.
"Berhentilah menemui gadis itu," syarat dari Natasya akhirnya terucap.
Gunawan mengernyitkan dahinya, ia memang tak pernah mengatakan pada Natasya bahwa Silvana sudah pergi dari hidupnya. Tapi ia tak menyangka, dirinya yang sering tak pulang ke rumah membuat Natasya menganggap ia telah menemui Silvana.
"Berhentilah menemuinya, berhentilah mencarinya, dan berhentilah memikirkannya. Maka setidaknya aku akan berada di samping anak itu hingga usianya menginjak dua belas tahun," pinta Natasya.
Gunawan bangun, kini ia berdiri di hadapan Natasya. Lelaki itu menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
"Baiklah jika itu maumu, aku akan melakukannya," ucap Gunawan yakin.