Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Penyelidikan Gunawan


__ADS_3

Gunawan menatap kepergian Natasya, ia tak percaya Natasya lebih memilih seorang anak yang bukan siapa-siapa dari pada darah dagingnya sendiri.


"Itulah sebabnya aku tak mengerti, mengapa ayah tak jadi menceraikan mamah?" Terdengar suara Melisa bicara.


Gunawan menoleh, putrinya sudah sadar.


"Mel, kau sudah sadar?"


Melisa mengangguk, namun ia kembali memejamkan matanya.


"Tunggulah di sini akan ayah panggilkan dokter," ucap Gunawan.


Gunawan lalu pergi menuju meja dokter dan mengatakan bahwa Melisa telah sadar. Dokter dan beberapa perawat bergegas menuju ranjang tempat Melisa berbaring.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokter pun memberi resep dan meminta Gunawan untuk menebusnya.sekalian mengurus administrasi karena Melisa sudah diperbolehkan pulang


Gunawan meninggalkan Melisa sendirian, ia sendiri yang mengurus segala administrasi di rumah sakit. Padahal bisa saja ia meminta Fredy untuk mengurusnya. Namun kali ini ia ingin melakukannya sendiri.


Sebenarnya Gunawan hanya ingin mengalihkan pikirannya. Sejak ia melihat Natasya di rumah sakit ini, ia berpikir Natasya sudah berubah. Namun nyatanya Gunawan salah, Natasya datang ke rumah sakit bukan karena Melisa, melainkan karena mengantar Satria.


Gunawan melihat mata Natasya yang memerah. Seperti habis menangis. Yang tak habis pikir, mengapa Natasya menangis? Apa ia menangis karena Satria? Bagaimana bisa?


Setelah menyelesaikan administrasi dan mengambil obat untuk dibawa pulang, Gunawan kembali ke tempat Melisa. Gunawan melihat putrinya sedang duduk di tepi ranjang.


"Kamu sudah merasa lebih baik?"


Melisa mengangguk.


"Mau pulang sekarang?"


Melisa kembali mengangguk.


Gunawan lalu membantu Melisa turun dari ranjang dan menuntunnya untuk keluar dari rumah sakit. Di dalam perjalanan pulang, Gunawan berkali-kali melirik putrinya.


"Ada yang mau kamu sampaikan pada ayah?"


"Ayah, bercerailah. Kau lihat, mamah bukan wanita yang setia. Setelah dia meninggalkan om Steve, sekarang dia merayu Satria," ucap Melisa tanpa menoleh ke arah Gunawan.

__ADS_1


"Natasya merayu Satria? Bagaimana bisa? Bukankah dia tidak menyukai Satria karena statusnya?"


"Entahlah, aku tak pernah paham isi hati wanita itu. Jadi sebaiknya, ayah ceraikan saja dia. Sampai kapanpun aku tak akan mau mengakuinya sebagai ibuku," Melisa menatap tajam ayahnya. Melisa ingin ayahnya tau bahwa ia sangat membenci ibunya.


"Bagaimana kau tau Natasya merayu Satria?"


"Wanita itu mengatakannya langsung padaku ayah, dia bilang bahwa aku adalah saingannya. Dia ingin merebut Satria dariku," mata Melisa kini menatap nanar ayahnya.


Gunawan yang melihat ekspresi Melisa seperti itu merasakan sakit di hatinya. Gunawan tau, Melisa sangat menyukai Satria. Gunawan sendiri juga tau, bahwa Satria adalah pria baik dan juga tampan. Pasti banyak wanita yang akan menjadi saingan Melisa.


Namun Gunawan sungguh tak menyangka, saingan putrinya itu adalah istrinya sendiri. Ibu kandung dari anaknya. Mereka ibu dan anak, bagaimana bisa menjadi saingan untuk merebutkan hati seseorang? Dan itu bukan dirinya.


"Ayah akan bicara dengan ibumu Mel. Ayah ingin tau, sebenarnya apa yang dia mau? Setelah itu, baru ayah akan membuat keputusan," ucap Gunawan.


Setelah malam itu, Gunawan selalu mencoba menghubungi Natasya. Namun wanita itu tampak menghindar. Ia bahkan tak bisa menemuinya di hotel.


Gunawan sudah coba datang ke rumah Natasya yang dijadikan rumah belajar untuk Satria. Namun ia juga tak bisa menemukan Natasya di sana. Akhirnya, Gunawan memutuskan untuk menemui Satria terlebih dahulu.


Gunawan datang ke sekolah, ia akan menemui Satria di sana. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Satria dipanggil oleh pak Dedi.


Pak Dedi menggiring Satria menuju mobil Gunawan yang terparkir di halaman sekolah. Setelah menyuruh Satria untuk masuk, pak Dedi pergi dan kembali masuk ke dalam gedung sekolah.


"Baik tuan. Tuan sendiri bagaimana kabarnya?" Satria balik bertanya.


"Aku, tentu baik-baik saja," Gunawan tersenyum ramah.


"Ada apa tuan memanggil saya?" Tanya Satria.


"Satria, aku tau kau orang yang baik. Aku yakin kau bukanlah laki-laki seperti Steve. Natasya adalah istriku, ibu dari temanmu. Aku yakin, kau tak memiliki perasaan apapun pada Natasya kan?"


Satria terdiam. Pertanyaan macam apa ini? Tadinya Satria kira ia akan mendapatkan makian dari Gunawan, karena telah memiliki hubungan rahasia dengan istrinya. Namun apa ini?


"Tentu saja tidak tuan," jawab Satria yakin.


"Baiklah, kalau begitu kau pasti akan bisa dengan mudah menjelaskan semua pertanyaan yang ada di dalam pikiranku kan? Pertanyaan yang tak bisa aku tanyakan padamu, karena aku sendiri bingung pertanyaan seperti apa yang seharusnya ku ajukan padamu?"


Satria tersenyum. Ia tau, Gunawan adalah pria baik dan berwibawa. Ia bukan orang yang semena-mena dan suka main hakim sendiri. Gunawan adalah orang yang bijaksana, maka ia harus tau semua hal secara detail sebelum mengambil keputusan.

__ADS_1


"Maaf jika kehadiran saya diantara anda dan nyonya membuat hubungan kalian merenggang," sebelum menjelaskan semuanya Satria meminta maaf terlebih dahulu.


"Sebenarnya hubungan kami baik-baik saja, kami tidak bertengkar atau apapun. Sebelum pertemuan kita di rumah sakit, Natasya masih bersikap biasa saja. Namun setelah hari itu, dia menghilang. Apa kau tau dimana Natasya saat ini?"


"Syukurlah jika hubungan kalian baik-baik saja, saya merasa sedikit lega. Namun maaf tuan, saya sungguh tidak tau dimana nyonya saat ini," jawab Satria.


Gunawan hanya mengangguk. Ia terus memandangi Satria, laki-laki dihadapannya ini jika diperhatikan dengan seksama memang sangat tampan. Namun gaya dan pakaiannya yang sederhana, membuat ketampanan Satria tak bisa dengan mudah dilihat.


"Hubungan saya dan nyonya hanya sebatas bisnis tuan, itu yang saya tafsirkan. Saya sendiri tidak tau pasti, apa nyonya juga menganggap semua ini hanyalah hubungan bisnis," Satria mulai menjelaskan bagaimana awal mula hubungan rahasia ini terjalin.


Dari saat ia mendapat tawaran untuk membuat Melisa dan Gunawan kembali pada Natasya. Hingga kini Natasya dengan serius membantunya belajar agar Satria bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri.


Satria juga menjelaskan mengapa ia menerima tawaran itu, dan setiap hal detail yang ia alami bersama Natasya. Gunawan hanya diam, ia mendengarkan dengan seksama setiap detail yang diceritakan Satria.


"Jadi Natasya menyukaimu?" Kesimpulan yang diambil Gunawan.


Satria hanya diam, ia juga tau pasti jika Natasya menyukainya.


"Baiklah Satria, sekarang aku tau. Tujuanmu hanyalah beasiswa. Lalu, apakah kau masih menyukai Melisa?"


Satria perlahan mengangguk, membuat Gunawan tersenyum.


"Syukurlah... ah, satu pertanyaan lagi," ucap Gunawan.


Satria menatap Gunawan, menanti pertanyaan apa yang akan keluar dari mulut Gunawan.


"Jika aku menggantikan Natasya untuk menjadi investormu, apa kau bersedia?"


Satria langsung tersenyum senang mendengarnya.


"Tentu saja tuan, itu bahkan jauh lebih baik," jawab Satria.


Gunawan tersenyum mendengar jawaban Satria.


"Baiklah, aku akan bicara dengan Natasya. Tapi kau jangan terlalu berharap, Natasya orang yang keras kepala. Kau bisa saja terus terjerat dan tak bisa lepas darinya," Gunawan memegang tangan Satria.


"Aku tau tuan, terima kasih atas kebaikan anda," Satria membalas memegang tangan Gunawan.

__ADS_1


Setelah itu Satria pamit, ia hendak melanjutkan pelajaran hari ini di rumah belajar milik Natasya.


__ADS_2