
Satria sudah sampai di rumahnya. Ia merebahkan tubuhnya setelah membersihkan dirinya di kamar mandi. Saat hampir terlelap, terdengar suara pintu kamarnya di ketuk.
"Satria, ini ibu," suara bu Lastri terdengar dari balik pintu.
Satria langsung bangun dari tidurnya, ia beranjak membukakan pintu untuk bu Lastri.
"Ada apa bu?" Tanya Satria.
"Kamu sudah makan? Akhir-akhir ini kamu gak pernah makan malam di rumah," bu Lastri terlihat khawatir.
"Aku udah makan sebelum pulang ke rumah bu," jawab Satria.
"Oh begitu, kalau begitu istirahatlah. Kau pasti lelah," bu Lastri memberikan senyum hangat pada putra sulungnya itu.
Satria mengangguk, ia kembali menutup pintu kamarnya ketika bu Lastri sudah melangkahkan kaki pergi dari depan pintu kamarnya.
Satria benar-benar merasa lelah, akhir-akhir ini jadwal belajarnya bertambah banyak. Kadang ia merasa kepalanya mau pecah karena terlalu banyak mengerjakan soal.
Satria membuka ponsel milik Natasya yang masih disimpannya. Ada sebuah pesan masuk, dari Natasya tentunya.
Selamat tidur anak baik.
Satria menghela nafas panjang, ia kembali memejamkan mata. Pikirannya kembali mengingat saat ia kembali dari Grand hotel lantai 1301.
Flashback
Saat ia sampai di rumah malam itu, Natasya langsung mengiriminya pesan.
Aku merasa aneh, padahal baru saja bertemu denganmu tapi aku sudah merindukanmu.
Isi pesan yang Natasya kirim ke ponsel miliknya yang disimpan oleh Satria.
Satria mengabaikan pesan itu. Dan keesokan harinya, Natasya mengirim pesan serupa yang mengatakan ia merindukan Satria. Namun sepeti biasa Satria terus mengabaikan pesan itu.
Semua pesan dan panggilan masuk diabaikan oleh Satria. Satria sengaja meninggalkan ponsel milik Natasya di rumahnya. Meski begitu, Satria tetap mengecek ponselnya setiap malam sebelum ia tidur.
Dan malam itu adalah malam ketiga ia menyimpan ponsel Natasya di dalam lemarinya. Seperti biasa, Satria memeriksa ponsel milik ibunda Melisa itu. Dan betapa terkejutnya ia karena Natasya mengirim gambar dirinya yang tak memakai busana. Reflek Satria melempar ponsel itu ke dalam lemari.
Ia bergegas menuju tempat tidur, berusaha memejamkan mata namun bayang-bayang dari gambar yang baru saja dilihatnya terus berkelebat dalam pikirannya.
Tak lama ponsel milik Satria berdering. Panggilan masuk dari Natasya. Dengan berat hati Satria mengangkatnya.
"Kenapa kau tak mengangkat telepon yang masuk ke ponselku? Kau juga tak membalas pesan yang ku kirimkan," suara Natasya terdengar jengkel di seberang sana.
"Maaf nyonya, aku tak pernah membawa ponselmu ke sekolah, aku meninggalkannya di rumah," jawab Satria.
"Kenapa? Kau takut Melisa tau?" Tanya Natasya.
"Iya nyonya," Satria.
Natasya tertawa mendengar jawaban Satria.
"Nyonya, saya mohon untuk tidak mengirimkan gambar-gambar yang tidak senonoh seperti itu lagi," Satria.
__ADS_1
"Kau sudah melihatnya? Bagaimana? Apa kau tergoda?" Natasya.
"Nyonya, saya mohon," Satria memelas.
"Kenapa? Kau tidak suka?" Natasya.
"Iya nyonya," Satria.
"Cih, kenapa sulit sekali menaklukan dirimu? Sebagian laki-laki di luar sana sudah takluk saat melihat tubuhku, apalagi tanpa busana seperti itu," Natasya.
"Maaf nyonya," Satria.
"Hah, kenapa kau malah meminta maaf? Aku kan jadi semakin penasaran. Satria, apa kau tak ingin bertemu denganku?" Natasya.
"Maaf nyonya," Satria meminta maaf lagi.
"Ayolah, apa hanya aku yang merindukanmu? Hah, bagaimana ini Satria. Tak bisakah kau bertanggung jawab atas hal ini? Aku terus saja memikirkan dirimu," rengek Natasya.
"Saya harus apa nyonya, itu kan perasaan anda," Satria.
"Cih, dingin sekali. Kau tau? Aku sangat ingin bertemu denganmu saat ini, jika saja kau setuju mau bertemu denganku. Maka aku akan berlari ke tempatmu saat ini juga," Natasya mengutarakan ide gilanya.
"Maaf nyonya, ini sudah larut malam. Sebaiknya nyonya beristirahat," saran Satria.
"Aku tak bisa tidur, kau kejam sekali Satria. Sebenarnya apa yang kau lakukan padaku hingga aku terus memikirkan dirimu?" Natasya.
Satria terdiam, dia sendiri tak tau mengapa Natasya begitu tergila-gila padanya. Jika bisa memilih, ia lebih suka Natasya yang membencinya karena status sosialnya yang rendah dari pada dikejar-kejar seperti ini.
Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Satria teringat saat pertama kali ia dekat dengan Melisa. Melisa juga saat itu terlihat sangat agresif padanya. Kini ia tau dari mana watak itu menurun.
Sebenarnya Satria merasa jijik mendengarnya, namun ia coba untuk menahannya.
"Maaf nyonya, saya tidak bisa," Satria menolak.
"Kenapa? Kau ingin aku yang menemuimu di sekolah?" Natasya.
"Tidak perlu nyonya," Satria.
"Lalu aku harus bagaimana? Kau tak mau datang ke tempatku, dan aku tak boleh datang ke tempatmu," Natasya masih dengan nada manjanya.
"Nyonya, anda hanya ingin bertemu denganku kan?" Satria.
"Tentu saja," Natasya.
"Saya akan menemui anda besok sepulang sekolah, namun saya punya beberapa syarat," Satria.
"Syarat? Apa itu?" Natasya.
"Saya tak mau menemui anda di hotel, kita bertemu di tempat lain saja. Dan juga saya mohon untuk memakai pakaian yang tertutup saat kita bertemu besok," Satria mengutarakan syarat darinya.
"Hanya itu? Mmm... Baiklah, aku akan kirimkan sebuah alamat padamu besok," Natasya.
"Baik nyonya," Satria.
__ADS_1
"Satria, apa kau membenciku?" Natasya.
"Tidak nyonya, bagaimana bisa saya membenci anda," Satria.
"Lalu kenapa kau dingin sekali padaku?" Natasya.
"Saya hanya merasa cukup tau diri nyonya, saya berasal dari level yang berbeda dengan anda. Anda pasti merasa tak nyaman berada di dekat saya," Satria.
"Yah, memang seharusnya aku begitu. Tapi entah mengapa justru aku ingin selalu berada di dekatmu. Aku memang tak suka karena kau dari keluarga tak mampu, tapi aku tak pernah bisa melupakanmu," Natasya.
"Anda pasti bisa nyonya," Satria.
"Cih, bagaimana bisa kau mengatakan itu pada wanita yang tergila-gila padamu? Apa kau benar-benar tak mau menjalin hubungan denganku?" Natasya.
"Hubungan apa nyonya?" Satria.
"Hubungan gelap?" Natasya terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Satria diam tak menjawab.
"Satria, bukankah aku sudah nampak seperti wanita murahan?" Natasya berkata miris.
"Baguslah anda sadar nyonya," Satria.
"Cih, jujur sekali kau. Baiklah, aku sudah memutuskan. Jika aku tak bisa menggodamu dan memilikimu, maka aku akan memberikan peluang bagimu. Bagaimana jika kita menjalin hubungan bisnis?" Natasya kembali mengutarakan ide gilanya.
"Ide bisnis apa nyonya?" Satria.
"Aku akan berinvestasi padamu," Natasya.
"Investasi apa nyonya?" Satria.
"Aku akan membiayai sekolahmu, sampai S1? S2? Atau S3? Sekolahlah yang tinggi, kau tak perlu takut akan biayanya, kau hanya harus belajar. Dan aku yang akan membiayainya," Natasya.
"Lalu imbalan apa yang akan anda minta pada saya?"
"Entahlah, jujur saja aku lelah jika harus terus terlihat seperti wanita murahan di hadapanmu. Tapi aku benar-benar tak mau berada jauh darimu. Begini saja, aku janji aku tak akan menggodamu lagi. Tapi tetaplah berada di sisiku, tetaplah berada di pihakku. Apa kau bisa melakukannya?"
"Hanya itu nyonya?" Satria merasa ragu akan ucapan Natasya.
"Ya, aku hanya ingin kau berada di sisiku," jawab Natasya.
"Di sisi anda?" Satria masih tak mengerti.
"Ya, di sisiku. Coba pikirkanlah baik-baik Satria. Mmm?"
"Baiklah nyonya, saya pikirkan tawaran anda ini," Satria.
"Bagus, oh ya... Jangan beri tau siapapun pembicaraan kita ini ya," Natasya.
"Baik nyonya," Satria.
Sambungan telepon terputus, sejak saat itulah hubungan antara Satria dan Natasya terbentuk. Hubungan yang hanya diketahui Satria dan Natasya.
__ADS_1
Sebuah hubungan Rahasia.
Flashback end.