Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Jamuan Makan Malam


__ADS_3

Keesokan harinya, tubuh Satria sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia bahkan bisa bangun lebih pagi dan berolah raga di sekitar halaman rumah Steve.


Melisa sangat senang melihat suaminya kini sudah sehat kembali.


"Sepertinya aku tidak perlu melakukan pengecekkan di rumah sakit," ujar Satria seraya menghampiri Melisa yang tengah menunggunya di teras rumah.


"Tidak suamiku, aku masih merasa khawatir. Setidaknya kita lakukan pemeriksaan hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja ya," bujuk Melisa.


"Tapi aku sudah tidak merasa sakit lagi, lihatlah... Aku bisa berlari kencang ke sana kemari," Satria memamerkan pada Melisa bahwa tubuhnya sudah baik-baik saja.


Melisa hanya bisa menghela nafas, ia tau Satria tidak akan mau dibujuk untuk pergi ke rumah sakit. Hal ini mengingatkannya kepada mendiang ibunya.


"Dulu mamah juga tidak mau jika terlalu sering pergi ke rumah sakit," gumam Melisa.


Selesai berolah raga, Satria dan Melisa pun menuju ruang makan. Di sana sudah ada Steve dan Arya yang menunggu mereka untuk sarapan bersama.


Semenjak dipercaya oleh Satria, Arya memang sering datang ke rumah itu. Bahkan kini ia ikut tinggal di sana.


"Bagaimana kondisimu Satria?" Tanya Steve saat melihat Satria yang baru selesai olahraga.


"Aku sudah merasa jauh lebih baik yah," jawab Satria.


"Syukurlah, Datuk memang hebat," puji Steve.


"Iya benar, Datuk memang terkenal sebagai orang yang pandai mengobati di desa ini. Kami semua jika sakit selalu datang padanya," ucap Arya.


"Terima kasih Arya, karena sudah membawa Datuk kemari. Sehingga suamiku kondisinya sudah jauh lebih baik," Melisa berterima kasih pada Arya.


"Sama-sama, jangan sungkan. Jika butuh sesuatu katakan saja padaku," ucap Arya.


"Oh iya Arya, bagaimana persiapan untuk nanti malam?" Tanya Steve.


"Sebentar lagi para bapak-bapak akan datang membawa tenda dan kursi-kursi. Sementara ibu-ibu kini sedang berkumpul di rumah kepala desa, mereka memasak di sana."

__ADS_1


"Kenapa tidak di sini saja masaknya?" Tanya Melisa.


"Karena semua peralatan memasak ada di rumah kepala desa, dan akan memakan banyak waktu jika harus dipindahkan ke sini. Biar mereka membawa makanan yang sudah matangnya saja ke sini."


"Oh begitu," Melisa mengangguk paham.


Mereka pun melanjutkan sarapan pagi sambil menikmati obrolan santai. Pengawal yang menjaga mereka pun juga ikut makan, hanya saja tidak makan di meja yang sama.


Para pengawal lebih memilih makan di teras belakang rumah, yang masih sejuk dan asri. Sambil menikmati indahnya pemandangan desa.


Beberapa warga laki-laki sudah datang membawa kerangka tenda. Mereka akan memasang tenda di halaman depan rumah Steve.


Semua warga desa mulai dari yang tua hingga yang muda saling membantu satu sama lain, begitulah kehidupan di desa. Yang selalu saling membantu satu sama lain.


Mereka bahu membahu saling membantu tanpa meminta imbalan apapun. Meski begitu, Steve selaku pengangkat hajat tentu saja merasa tak enak jika tak membayar tenaga mereka.


Dia sudah menyiapkan beberapa lembar uang di dalam amplop yang akan dibagikan kepada setiap warga yang membantu. Steve meminta bantuan Arya untuk mendata nama-nama orang yang turut serta membantu.


Hingga malam hari pun tiba, semua warga sudah datang ke kediaman Steve. Mereka mengucapkan selamat kepada Melisa dan Satria atas pernikahan mereka.


"Non Melisa benar-benar cantik, mirip sekali dengan mendiang nyonya Natasya," bisik salah seorang warga yang memuji kecantikan Melisa kepada warga lainnya.


Warga lainnya pun setuju, bahkan Satria yang hanya memakai setelan kemeja biru polos pun ikut menuai pujian.


"Mereka memang serasi, yang satu tampan dan yang satunya cantik," pujian terus saja terucap dari mulut para warga desa.


Para pengawal yang dikirim Gunawan, sudah siap di posisi masing-masing. Meski sama sekali tak nampak akan ada masalah yang datang. Namun para pengawal itu tetap melakukan tugasnya sesuai dengan perintah Gunawan.


Para warga yang sudah memberikan ucapan selamat pun langsung mengambil makanan yang sudah disajikan. Masakan buatan para ibu-ibu dari desa itu.


Alunan musik tradisional pun mengiringi acara makan malam itu.


Saat semua tamu sedang menikmati makanan mereka, Steve keluar dengan membawa mic di tangannya.

__ADS_1


"Selamat malam, semua warga desa yang saya hormati. Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga yang sudah membantu terlaksananya acara ini, hingga acara ini bisa berjalan sebagaimana mestinya."


"Kedua anak saya, Melisa dan Satria kini sudah sah menjadi sepasang suami istri. Untuk itu saya mohon doa dan restunya kepada warga desa untuk kedua mempelai yang kini tengah berbahagia."


"Saya juga ingin memohon maaf jika dalam jamuan makan malam kali ini mungkin ada hal-hal yang kurang ataupun tidak layak, mohon di maklumi."


Steve menutup sambutannya dengan membungkukkan badan, sebagai ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Setelah sambutan dari Steve selesai, acara inti pun di mulai. Warga desa sudah menyiapkan seorang penyanyi sekaligus penari untuk memeriahkan acara malam itu.


Di belakang panggung, seseorang datang menghampiri Steve. Dia adalah seseorang yang kini menjabat sebagai kepala desa.


"Loh... Pak kepala desa, ada apa kemari?" Tanya Steve yang kaget melihat kepala desa mengikutinya masuk ke dalam rumah.


"Mohon maaf pak Steve, bisa kita bicara sebentar?"


"Ada apa pak?"


"Begini, saya mohon maaf sebelumnya. Ini hanya usulan saya saja, bagaimana jika pak Steve yang menggantikan saya sebagai kepala desa di sini."


"Loh memangnya bapak mau kemana, kok minta diganti segala?"


"Saya gak kemana-mana, hanya saja setelah beberapa tahun pak Steve tinggal di sini, bapak sudah banyak sekali membantu warga desa kami. Jadi saya pikir sudah selayaknya bapak menggantikan saya menjadi kepala desa di sini."


"Oh begitu," Steve menganggukkan kepalanya paham.


"Terima kasih sebelumnya kepada bapak kepala desa yang sudah mempercayai dan menganggap saya mampu melakukan tugas sebagai kepala desa. Tapi mohon maaf, saya tidak cocok menjadi pemimpin pak. Perusahaan saja saya serahkan ke anak saya, karena saya merasa tak mampu. Apalagi mengurus warga desa?" Steve menolak secara halus.


"Tapi saya rasa, pak Steve ini cocok loh untuk menjadi kepala desa."


"Kalau boleh tau, saya terlihat cocok dari mananya ya?"


"Pak Steve kan sudah sering membantu warga. Apalagi dengan mereka yang bermasalah dengan keuangan, jadi saya rasa pak Steve cocok untuk mengemban tugas ini."

__ADS_1


Steve diam sejenak, ia memikirkan ucapan pak kepala desa barusan.


__ADS_2