
Satria tak mengerti apa maksud Steve, ia tak merasa pakaian yang berjejer rapih di dalam lemari itu adalah miliknya. Lagi pula, dilihat dari model dan bahannya sepertinya itu semua pakaian bermerk dengan harga yang mahal. Jelas tak mungkin itu miliknya.
"Jika bukan punya mu, apa mungkin punyanya Gunawan?" Steve terlihat berpikir.
"Mungkin saja, yang pasti itu bukan punyaku," jawab Satria.
"Baiklah, lalu kemana semua pakaian milikku? Aku yakin masih ada beberapa pakaian milikku yang tertinggal," Steve melihat isi lemari dengan seksama.
"Aku tidak tau om, aku datang ke sini hanya belajar. Setelah selesai lalu pulang," ucap Satria.
"Baiklah, tanyakan pada Natasya jika nanti kau bertemu dengannya," Steve menutup pintu lemari. Ia berjalan menyusuri kamar. Memperhatikan dengan seksama setiap sudut kamar yang memang tak jauh berubah.
Puas melihat-lihat isi kamar, Steve kembali ke ruang tengah.
"Apa Gunawan juga sering datang ke tempat ini?"
"Aku kurang tau om, selama aku datang ke tempat ini aku belum pernah bertemu dengan tuan Gunawan," jawab Satria.
Steve mengangguk. "Apa hanya kau yang belajar di tempat ini?"
Satria mengangguk menjawab pertanyaan Steve.
"Apa yang kau pelajari di tempat ini?" Steve punya banyak pertanyaan di dalam pikirannya. Tentang bagaimana Natasya bisa mengubah tempat ini menjadi seperti jendela dunia. Banyak buku-buku yang entah buku apa itu, tersusun rapih di setiap sisi.
"Aku belajar dengan menggunakan itu," Satria menunjuk laptop yang terdapat di ruang tengah.
"Di rumahmu tak ada laptop?" Steve mengernyitkan dahinya.
Satria menggeleng.
"Apa tidak bisa laptop itu kau bawa pulang ke rumah?" Steve berjalan keluar kamar menuju tempat duduk di ruang tengah. Di sana ada dua buah laptop dan juga setumpuk buku yang tertata rapi di meja ruang tengah.
"Bukan tidak bisa om, tapi fasilitas belajar di tempat ini lebih baik dari di rumahku. Tidak mungkin aku membawa semua buku-buku ini dan juga laptopnya ke rumah. Lagi pula di rumah tak ada sambungan internet," Satria memberi alasan.
Steve duduk di kursi dimana Satria biasa duduk saat sedang belajar. "Kau benar, kursi ini bahkan nyaman sekali. Lalu bagaimana kau belajar? Dengan membaca semua buku-buku ini?" Steve menunjuk setumpuk buku yang tersusun rapih di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa om ingin tau?" Satria tak langsung menjawab rasa penasaran Steve.
"Aku hanya penasaran saja, bagaimana orang cerdas belajar," Steve lalu bangun dari duduknya.
Ia hendak berkeliling rumah lagi, tapi Satria mencegahnya.
"Maaf om, aku sudah mau pulang. Besok jika nyonya kemari akan saya tanyakan dimana nyonya menyimpan barang-barang milik om," Satria mengusir Steve dengan sopan.
"Kau mengusirku? Padahal kau tinggal pergi saja. Aku bisa keluar sendiri jika aku sudah menemukan apa yang ku cari," Steve tak mengindahkan ucapan Satria.
Satria hanya terdiam, ia terus membuntuti kemanapun Steve pergi.
"Baiklah, aku akan pulang. Jangan lupa tanyakan pada Natasya dimana barang-barang milikku?" Steve akhirnya menyerah. Ia gerah juga karena Satria terus membuntutinya.
"Baik om," Satria lalu mempersilahkan Steve keluar dari rumah itu.
"Jadi sekarang aku bukan siapa-siapa bagimu Nat?" Gumam Steve. Ia merasa dirinya sudah tak berhak berada di rumah itu lagi.
Satria juga sudah keluar dari rumah, motornya terparkir di halaman samping hingga Steve tak melihatnya saat datang tadi.
Saat hendak mengendarai motornya, ponsel Satria berbunyi. Ia melihat panggilan masuk dari Natasya. Satria segera mengangkatnya.
"Steve sudah pergi?" Tanya Natasya dari seberang sana.
"Iya, bagaimana anda tau om Steve datang?" Satria melihat ke sekeliling, namun tak menemukan seorang pun di sana.
"Kau lupa? Rumah itu penuh dengan CCTV, tentu saja aku tau dia datang," jawab Natasya.
"Ah," Satria mengangguk.
"Sikapmu padanya bagus sekali, aku suka. Kau jangan terlalu dekat dengannya, dia bukan lagi kekasihku. Itu artinya, dia adalah musuhku," ucap Natasya.
"Dia bukannya hanya mantan kekasih anda? Bagaimana bisa langsung menjadi musuh?" Satria tak mengerti.
"Tentu saja, Satria yang polos mana paham hal seperti ini," terdengar suara cekikikan Natasya di sana.
__ADS_1
Satria terdiam, ia memang tak paham apa yang di maksud Natasya.
Natasya menghela nafas, "bagaimana pelajaranmu hari ini? Maaf aku tak bisa datang menemanimu, aku masih berada di luar kota. Semoga saja ini semua cepat selesai, jadi aku bisa kembali menemanimu belajar di sana."
"Anda tak perlu terburu-buru nyonya," jawab Satria.
"Kenapa? Kau tak merindukanku?" Natasya.
Satria diam saja, ia tak mau menjawab pertanyaan itu.
"Nyonya, apa saya boleh mengatakan pada Melisa tentang apa yang sedang saya lakukan di tempat ini?" Satria.
"Kau mau mengatakan apa pada Melisa?" Natasya.
"Saya rasa Melisa harus tau ini, lagi pula ini bukan sesuatu yang harus disembunyikan dari Melisa. Saya pikir ini semua bisa membuatnya luluh, dan hubungan anda dengan Melisa bisa membaik," Satria.
"Katakanlah, jika memang menurutmu dia bisa menerima ini. Bagaimana jika setelah kau mengatakannya, dia memintamu untuk meninggalkan semua ini?" Natasya.
"Jika memang begitu, saya akan menuruti permintaan Melisa," Satria.
Natasya menghela nafas. "Kau sudah lupa pada impianmu? Mudah sekali menyerah. Dengar Satria, Jika dia memintamu meninggalkan ini semua, kau harus meninggalkan Melisa. Kalian kan tak punya hubungan apa-apa, kenapa kau harus mengorbankan mimpimu hanya untuk Melisa?"
Satria terdiam.
"Bukankah itu alasan kau tak mau memiliki hubungan lebih pada Melisa? Supaya kalian tidak saling menghambat satu sama lain?"
Memang benar ucapan Natasya, ia sendiri yang tak ingin merasa terhambat atau menghambat Melisa dalam pengembangan diri masing-masing. Maka dari itu ia tak mau terikat hubungan dengan siapapun.
"Tapi saya rasa tak benar menyembunyikan ini semua dari Melisa," Satria tetap bersikukuh ingin memberi tau tentang hal ini pada Melisa.
"Apa yang membuatmu ingin mengatakan yang sebenarnya pada Melisa? Apa karena Steve sudah melihatmu di sini? Kau takut dia akan mengadu pada Melisa?" Tebakan Natasya sepertinya tepat. Karena Satria terdengar menghembuskan nafas dengan kasar.
"Aku serahkan semua keputusan padamu Satria, satu hal yang aku pinta. Jika Melisa tak bisa menerima semua ini, jangan korbankan mimpimu. Asal kau tau, kau sudah berada di jalan yang benar saat ini untuk mengejar mimpimu," Natasya lalu menutup sambungan teleponnya.
Satria menundukkan kepalanya. Andai saja tadi ia melihat dulu keluar sebelum Steve datang, mungkin ia masih bisa merahasiakan ini pada Melisa.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Satria terus memikirkan keputusan apa yang seharusnya ia ambil? Haruskan tetap merahasiakan ini semua dari Melisa? Ataukah ia akan jujur lada Melisa?