Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Perjalanan (part 1)


__ADS_3

Pagi ini, Satria dan Melisa sudah pergi meninggalkan hotel. Mereka akan mengunjungi tempat pertama yang ingin Satria tunjukkan pada Melisa.


Mereka akan menaiki kereta gantung hingga ke atas bukit. Dan dari atas bukit akan terlihat pemandangan kota yang sangat indah.


Perjalanan menuju tempat tujuan lumayan jauh, jarak yang harus mereka tempuh kira-kira sekitar lima jam dengan menggunakan kendaraan umum.


Saat siang hari, mereka baru tiba di tempat tujuan, Melisa merasa sangat senang sekali. Tempat yang sangat sejuk membuat Melisa betah berlama-lama tinggal di sana.


"Suamiku, kenapa kita tidak menginap di sini saja?" Tanya Melisa.


"Di sini kalau malam sangat dingin," jawab Satria.


"Tidak apa, bukannya malah asik kalau dingin begitu? Kita kan bisa saling menghangatkan," Melisa mulai menggoda.


"Lain kali ya sayang, masih ada tempat lain yang ingn aku tunjukkan padamu," ucap Satria.


Meski permintaannya untuk menginap tidak di turuti oleh Satria, namun Melisa tak merasa marah sama sekali. Karena ia sendiri juga tak sabar tempat apa lagi yang akan Satria tunjukkan padanya.


Saat sore hari, Satria mengajak Melisa untuk turun dari bukit, masih menggunakan kereta gantung. Mereka lalu pergi ke bukit berikutnya.


Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka mampir dulu di pos tempat mereka akan berangkat.


Satria hendak mengajak Melisa naik gunung, dan berencana akan menginap di atas sana.


"Kita mau mendaki?" Tanya Melisa tak percaya.


"Iya sayang... Sudah yuk kita berangkat sekarang," ajak Satria.


Meski Melisa sendiri enggan untuk mendaki, namun ia menurut saja kemana pun Satria membawanya.


Karena mereka tak membawa peralatan mendaki, mereka pun menyewa alat-alat untuk mendaki yang disediakan di sana.


Mereka mulai berangkat pukul enam sore, dan sempat berhenti beberapa kali karena Melisa sering merasa kelelahan.


Tepat saat tengah malam, mereka pun tiba di pos yang paling dekat dengan puncak. Meski berjalan perlahan, mereka berhasil tiba sesuai dengan jadwal yang Satria rencanakan.


"Kita akan mendirikan tenda di sini, nanti kita tidur sebentar. Lalu jam empat pagi kita akan berangkat lagi ke atas untuk melihat matahari terbit," ucap Satria.


"Matahari terbit?"


"Mmm..." Satria mengangguk.


Melisa yang tadinya lesu karena kelelahan, mendadak kembali bersemangat. Ia belum pernah melihat pemandangan matahari terbit sebelumnya.


Melisa membantu Satria mendirikan tenda. Setelah tenda jadi, Satria meminta Melisa untuk istirahat di dalam.


"Istirahatlah dulu, aku akan memasakkan mie instan untukmu," ucap Satria.


"Tapi aku mau menemanimu memasak," Melisa menolak untuk istirahat.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita masak bersama."


Satria menyalakan api unggun, sedangkan Melisa menyiapkan peralatan masak dan juga bahan-bahan untuk dimasak.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, satu panci mie sudah siap untuk di santap.


"Ayo kita makan," ajak Satria.


Dengan lahap keduanya memakan mie di dalam panci, hingga habis tak bersisa.


"Ayo kita tidur, sudah jam satu pagi. Nanti jam empat kita sudah harus bangun dan berangkat."


Melisa menurut, di dalam tenda yang sebenarnya tidak nyaman itu. Melisa berusaha menyesuaikan diri. Ini memang pertama kalinya bagi Melisa menginap di dalam tenda.


Walau terasa tak nyaman, Melisa tetap tertidur lelap karena ada Satria di sampingnya yang membuatnya dengan mudah tertidur nyenyak.


Tepat pukul empat pagi, Satria sudah bangun dan bersiap untuk naik ke puncak. Ia juga sudah membangunkan Melisa yang kini masih setengah sadar.


"Ayo sayang, kita berangkat sekarang," ajak Satria.


"Tapi aku mau buang air kecil dulu," rengek Melisa.


"Ya sudah, ayo biar aku antar," Satria mengajak Melisa ke toilet umum yang letaknya tak jauh dari tenda mereka.


Setelah beres dengan urusannya, mereka pun segera berangkat menuju puncak.


Dua jam perjalanan, Melisa dan Satria akhirnya tiba juga di puncak. Tak hanya mereka berdua, ada beberapa pendaki lain juga yang berada di sana.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya matahari pun terbit juga.


"Indah sekali," Melisa terpesona dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


"Bagaimana, kamu suka?"


Melisa tersenyum seraya mengangguk.


"Lelah yang ku rasa kemarin terbayar sudah, ternyata ini yang mau kamu tunjukkan padaku?"


"Mmm... Aku sebelumnya ke sini bersama teman-teman sekelas ku. Dan asal kamu tau, saat aku melihat matahari terbit ini, aku memikirkan dirimu."


"Kenapa?"


"Entahlah, mungkin karena saat itu sangat merindukanmu."


"Pasti saat itu tidak ada wanita yang ikut?"


"Banyak," jawab Satria.


"Lalu kenapa masih merindukan aku?"


Cup...


Satu kecupan mendarat di pipi Melisa.


"Apa sih? Tiba-tiba, aku kan jadi malu," Melisa tersipu karena tiba-tiba Satria menciumnya.


"Mana ada alasan untuk merindukan seseorang?"

__ADS_1


"Emangnya gak ada?"


"Ya gak adalah, kalau sudah rindu ya rindu saja."


Melisa semakin tersipu dibuatnya. Ia benar-benar tak menyangka, Satria juga sama seperti dirinya yang masih menyimpan rasa meski mereka tak lagi bersama saat itu.


Satu jam mereka berada di atas puncak, Satria pun mengajak Melisa untuk turun setelah puas berfoto di berbagai tempat.


"Kita turun sekarang yuk," ajak Satria.


Melisa mengangguk. Ini adalah pengalaman pertamanya mendaki di gunung sebesar ini, lalu menginap di dalam tenda, dan terakhir melihat matahari terbit di atas puncak gunung.


"Terima kasih suamiku, sudah mengajakku ke tempat seperti ini."


Melisa memeluk Satria dengan erat, ia bersyukur karena memiliki Satria di sisinya.


Pukul sembilan, mereka sudah tiba kembali di tenda. Satria menyiapkan sarapan untuk Melisa.


"Kamu istirahat saja, biar aku siapkan sarapan dulu."


Melisa menurut kali ini, ia pun merebahkan dirinya di dalam tenda. Hingga beberapa saat kemudian, Satria sudah selesai dengan hidangannya.


"Mie instan lagi?" Tanya Melisa.


"Hehe, di gunung seperti ini aku hanya tau cara memasak mie instan," jawan Satria.


Melisa tersenyum, ia tau suaminya itu sudah bekerja keras untuk membuatkannya sarapan.


Melisa segera menyantap sarapannya dengan lahap, tanpa bicara apapun lagi.


Saat hari menjelang siang, Satria dan Melisa pun membereskan tenda mereka. Dan beberapa saat kemudian, mereka pun siap untuk kembali turun gunung.


Pukul enam sore, mereka sudah tiba di pos tempat pendaftaran dan sewa peralatan mendaki. Setelah mengembalikan barang sewaan, mereka pun segera pergi menuju tempat berikutnya.


"Kali ini kita mau kemana?" Tanya Melisa penasaran.


"Malam ini kita menginap dulu di hotel terdekat ya, besok pagi baru kita lanjutkan lagi perjalanan kita," jawab Satria.


Melisa lagi-lagi hanya menuruti ucapan Satria, mereka pun pergi menuju hotel terdekat dengan menggunakan taksi.


Setelah memesan kamar, mereka diantar oleh pelayan kamar menuju kamar mereka.


"Aku ingin mandi air hangat," bisik mereka di telinga Satria.


"Aku juga," balas Satria yang juga berbisik.


"Kalau begitu kita mandi bareng saja yuk," ajak Melisa.


Satria tersenyum penuh arti, membuat Melisa tersipu malu.


Akhirnya mereka berdua pun mandi bersama, dilanjutkan dengan aktivitas malam mereka yang penuh dengan cinta dan gairah.


♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2