Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kesedihan


__ADS_3

Setelah menutup sambungan teleponnya dengan Satria, Melisa merasa sangat bersemangat. Bagaimana pun hubungan mereka saat ini, Melisa masih memiliki rasa yang tersimpan untuk Satria.


Melisa juga tau, bahwa Satria masih menyukainya. Maka dari itu, ia sengaja sedikit berdandan sebelum pergi menemui Satria di rumahnya.


"Mau kemana udah cantik banget?" Tanya Gunawan melihat putrinya sudah cantik dan rapih padahal belum lama mereka tiba di rumah.


"Mau ke rumah Satria yah, ini mau nganterin bunga titipan ibu," jawab Melisa.


"Ah, alasan kamu aja itu. Padahal kan sebenarnya kamu mau ketemu Satria kan?" Goda Gunawan.


"Apa sih ayah nih? Engga kok, aku beneran cuma mau ketemu ibu. Ayah tau kan aku kangen banget sama ibu," gerutu Melisa.


"Iya deh, mau ketemu ibu aja dandannya kaya begini. Gimana kalau mau ketemu Satria?"


"Emang dandanan aku kenapa yah?"


"Terlalu menor," protes Gunawan.


Dengan gerak reflek Melisa menghapus make up dengan tangannya.


"Kamu ga usah dandan juga udah cantik kok. Yuk sini, biar ayah antar," Gunawan mengambil kunci mobil yang belum lama ia letakkan.


"Beneran ayah mau antar aku?"


"Iya, mana tega ayah biarin kamu keluar malam-malam sendiri," ucap Gunawan seraya berlalu keluar rumah.


Melisa tersenyum, ia senang karena sejak orang tuanya bercerai. Gunawan jadi semakin perhatian terhadapnya.


"Tapi ini kan masih jam delapan yah, belum malem-malem banget."


"Tetep aja, ayah ga mau biarin kamu keluar sendiri," Gunawan bersikukuh ingin mengantar Melisa ke rumah Satria.


Sepanjang jalan, Melisa tak henti-hentinya mengembangkan senyum. Dadanya berdebar hebat membayangkan akan segera bertemu dengan Satria. Namun saat hampir sampai di rumah Satria, Melisa dan Gunawan melihat banyak sekali karangan bunga di sekitar rumah Satria.


"Karangan bunga siapa ini? Ada yang meninggal?" Tanya Gunawan.

__ADS_1


Melisa tak menjawab, ia berharap karangan bunga itu bukan berasal dari rumah Satria. Namun harapannya pupus saat mobil sudah memasuki halaman rumah Satria. Di halaman rumah ada lebih banyak lagi karangan bunga yang terpajang.


Melisa tak mau membaca tulisan yang tertera di sana. Senyum yang sejak tadi mengembang, kini sirna melihat raut wajah Satria yang sedang duduk di teras bersama seseorang. Raut wajah kesedihan sangat terlihat jelas di wajah Satria.


Melisa sudah turun dari dalam mobil, di susul oleh Gunawan. Gunawan masih memperhatikan satu persatu tulisan yang tertera pada karangan bunga. Dan betapa terkejutnya Gunawan mendapati nama pak Joni, bu Lastri, dan Rian yang tertera di karangan bunga itu.


Gunawan menatap wajah sendu Satria, ia segera menghampiri Satria. Sementara itu, Melisa masih diam mematung seakan sedang mencerna apa yang sebenarnya terjadi di sana.


"Tuan," sapa Satria seraya berdiri menyambut Gunawan.


"Ada apa ini Satria? Bagaimana bisa?" Gunawan menatap Satria tak percaya. Ia tak yakin pada tulisan yang tadi dibacanya.


"Apa benar keluargamu?" Gunawan tak melanjutkan kata-katanya.


Satria hanya mengangguk. Gunawan memeluk Satria dengan erat.


"Ya ampun Satria, kamu yang sabar ya. Saya turut berduka cita," ucap Gunawan.


Melisa yang masih berdiri mematung sambil membawa buket bunga pesanan bu Lastri belum selesai mencerna apa yang sedang terjadi di tempat ini. Melihat ayahnya yang tiba-tiba memeluk Satria dan mengatakan bela sungkawa, membuat Melisa menjatuhkan buket bunga yang dipegangnya.


Di dalam pelukan Gunawan, Satria terus memandangi Melisa. Gadis itu terlihat sudah berlinang air mata, dan sebentar lagi akan tumpah.


"Ibumu mana Sat?"


Tes...


Satu tetes air mata berhasil jatuh di pipi Melisa. Jantung Melisa berdetak lebih cepat dari biasanya, kini ia tengah bersiap mendengar kabar buruk yang akan keluar dari mulut Satria.


"Ibu udah ga ada Mel, ibu ninggalin aku sendirian di sini Mel," jawab Satria datar.


"Ibu kemana Satria? Ibu mana? Aku kangen ibu, aku mau ketemu ibu. Ibu bilang mau dibeliin bunga, aku udah beliin ibu bunga Satria. Sekarang ibunya mana?" Melisa sedikit histeris mendengar jawaban Satria


Gunawan melepaskan pelukannya, kini ia beralih pada Melisa yang nampak sangat terguncang mendengar jawaban dari Satria.


Sedangkan Satria hanya terdiam, ia tak tau harus mengatakan apa pada Melisa. Satria sendiri masih merasa sangat terpukul atas kepergian keluarganya, ia tidak tau harus bagaimana menghadapi histerisnya Melisa yang sudah menganggap ibunya seperti ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Mel, tenang Mel. Ayo kamu duduk dulu," ajak Gunawan pada putrinya.


"Ayah, ibu mana yah? Kok aku gak liat ibu yah? Apa ibu ada di kamarnya yah? Apa ibu udah tidur?"


"Ibuku, ayahku, dan adikku sudah meninggal Melisa," akhirnya Satria mengatakannya juga pada Melisa.


"Kamu jangan bohong Satria, kemarin aku masih bicara sama ibu di telepon. Ibu sehat-sehat aja, ayah juga, Rian juga. Bagaimana bisa mereka...??"


"Mereka kecelakaan Mel, kemarin sore. Aku juga baru tau pagi ini," jawab Satria. Saat ini Satria sedang berusaha untuk tenang, ia tak mau terlihat menyedihkan di depan Melisa.


Melisa menggeleng tak percaya. "Terus sekarang dimana mereka Satria? Kalau memang mereka meninggal, dimana jenazah mereka sekarang?"


Satria terdiam, dia terus menatap Melisa yang seolah tak percaya dengan kabar kematian keluarga Satria.


"Kamu pasti bohongin aku kan Satria, kamu sekarang lagi ngerjain aku kan? Hahaha... Oke kamu berhasil, aku benar-benar kaget dan hampir menangis," Melisa tertawa hambar. Berharap ini semua hanyalah keisengan Satria yang ingin mengerjainya.


Satria masih terdiam menatap Melisa.


"Kamu becanda kan?" Sekali lagi Melisa bertanya meyakinkan apa yang ia dengar barusan hanyalah sebuah candaan.


"Kamu mau ketemu ibuku? Ayo, biar aku antar," Satria meraih tangan Melisa dan menggandengnya. Satria membawa Melisa ke tempat pemakaman yang letaknya tak jauh dari rumah Satria.


Melisa dengan pasrah hanya mengikuti kemana Satria membawanya. Di belakang Melisa, Gunawan juga turut serta mengikuti kedua remaja itu.


"Ini Mel, ibuku sedang tidur di sini. Sekarang kamu bisa kasih bunga yang ibuku pesan darimu," ucap Satria saat mereka sudah sampai di makam bu Lastri.


Melisa menatap gundukan tanah yang masih basah itu, terdapat batu nisan di atasnya bertuliskan nama bu Lastri. Makam bu Lastri dihimpit oleh dua makam lainnya, yaitu milik pak Joni dan Rian.


Seketika tubuh Melisa seperti tak bertenaga. Ia merasa lemas dan jatuh ke tanah. Melisa menghadap makam bu Lastri, ia memegang gundukan tanah di hadapannya itu.


"Ibu, ibu kenapa tidur di sini? Ibu ga kedinginan? Ayo bu kita pulang, aku udah datang bu. Ibu kenapa malah disini?" Melisa menangis tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Gunawan segera memeluk putrinya, yang mulai menangis histeris di depan makam bu Lastri.


"Ibu... Melisa kangen, kenapa ibu malah pergi..." Melisa menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Satria hanya diam menatap Melisa yang menangis histeris, ia sendiri sudah lelah menangis sejak pagi. Satria sangat tau, bagaimana Melisa sangat menyayangi ibunya. Oleh karena itu, ia tak tau harus bagaimana menenangkan Melisa sementara dirinya sendiri masih belum baik-baik saja.


__ADS_2