
Satu minggu berlalu, Melisa sudah kembali ke negara tempatnya berkuliah selama ini. Sejak pagi Melisa dan Mia sudah datang ke salon yang letaknya tidak jauh dari kampus. Mia memakai dress dibawah lutut berwarna biru langit dengan model yang simpel namun tetap elegan. Ditambah sepatu high heels berwarna putih membuatnya terlihat makin cantik.
Sementara Melisa memakai dress yang panjang hingga ke mata kakinya, dress berwarna putih yang sangat ngepas di tubuhnya. Bagian atasnya berlengan panjang namun kainnya menerawang, hingga kulit putih mulus Melisa dapat terlihat dengan jelas. Melisa memakai sepatu kaca yang dibelikan oleh Gunawan minggu lalu.
“Kamu cantik sekali Melisa,” puji Mia.
“Kamu juga cantik Mia,” Melisa tersenyum pada sahabatnya itu.
“Baju ini dibelikan nyonya Natasya, aku mana sanggup membelinya,” Mia mengamati dengan seksama dress yang tengah dipakainya saat ini. Setelah sebelumnya ia dan Melisa pergi untuk memilih baju, akhirnya Natasya dengan baik hati membelikannya baju yang sangat mahal menurut Mia.
“Oh ya? Mmm... bagus tapi kok, cocok denganmu.”
“Kamu juga cocok pake baju itu, jadi keliatan seksi,” bisik Mia.
Melisa tersenyum malu, dress yang ia pakai saat ini sebenarnya pemberian dari Dion. Katanya sebagai permohonan maaf karena kemarin telah membelikan dress yang terlalu mini. Tapi Melisa tak mau mengatakan apapun pada Mia, ia juga belum bercerita jika Dion sudah melamarnya.
“Setelah wisuda nanti kamu mau pulang atau mau tetap di sini?” Tanya Mia.
“Pulang dong, kamu tau kan aku sekarang sudah menggantikan posisi ayahku di perusahaan. Kamu sendiri?”
“Aku mau ngapain di sini? Sudah pasti aku mau pulang lah, sudah empat tahun aku sama sekali tak pulang ke rumah. Aku rindu keluargaku. Lagi pula, aku sudah harus mulai bekerja di sekolah sebagai guru,” ucap Mia.
Melisa mengangguk. “Mia, ada yang belum aku ceritakan padamu.”
“Apa itu?”
“Dion melamarku,” bisik Melisa.
“Apa?” Mia terkejut mendengar ucapa Melisa.
“Dion melamarku,” Melisa mengulangi jawabannya.
“Kok bisa?”
“Entahlah,” Melisa enggan menjelaskan peristiwa malam itu.
“Kamu dijodohin ya?” Tebak Mia.
“Mmm...”
“Terus kamu terima?”
“Ya mau gimana? Ayahku bilang gak etis kalau menolak lamaran orang,” jawab Melisa dengan wajah yang murung.
“Emang kamu suka sama Dion?”
__ADS_1
Melisa menggeleng.
“Terus kenapa kamu terima? Bagaimana dengan Satria?”
“Satria?”
Mia mengangguk.
“Ah, dia mungkin sudah punya pacar saat ini. Kamu lihatkan dia setiap hari dikelilingi wanita-wanita cantik,” ucap Melisa dengan nada yang kesal.
“Tapi Satria masih menyukai kamu Melisa,” ucap Mia.
Melisa terdiam sejenak. “Dari mana kamu tau?”
“Dia sendiri yang mengatakannya padaku,” jawab Mia.
“Apa katanya?”
“Waktu itu, aku tak sengaja bertemu dengannya. Aku meledeknya karena setiap hari dia selalu dikelilingi banyak wanita cantik. Namun tiba-tiba ia berkata, meski banyak wanita cantik di sampingku tapi hanya ada Melisa di hatiku,” Mia menirukan ucapan Satria sambil mendramatisir seolah sedang berada di sebuah drama.
“Ah, kamu bisa aja,” Melisa tersipu malu mendengar cerita sahabatnya itu.
“Sungguhan Mel, Satria bilang dia sangat merindukanmu.”
Melisa tersenyum, ia tak menyangka Satria masih suka memikirkannya.
Acara wisuda berjalan dengan lancar, dan Satria menerima penghargaan sebagai salah satu mahasiswa yang mendapatkan nilai cumlaude. Bersama dengan beberapa mahasiswa lainnya. Tentu saja hal itu membuat Natasya tersenyum bangga.
Natasya datang sebagai perwakilan orang tua Satria tentunya, bersama dengan Steve yang selalu setia menemani. Setelah lelah mengejar Satria yang selalu menolaknya, Natasya memutuskan untuk kembali bersama dengan Steve. Dan menjadikan Satria sebagai anak angkatnya.
Natasya juga melihat kehadiran Gunawan bersama dengan seorang wanita yang sepertinya tak asing baginya.
“Silvana?”
Ternyata dalam satu bulan ini, Gunawan berhasil membawa kembali Silvana ke hidupnya. Tepat sehari sebelum Melisa kembali ke kampusnya, Gunawan membawa Silvana kembali ke rumahnya.
Tubuh Silvana terlihat sangat pucat dan juga sangat kurus sehinggga yang terlihat hanya kulit yang berbalut tulang saja. Entah apa yang terjadi pada Silvana selama ini, tapi hal itu bisa membuat Natasya merasa sangat iba melihatnya.
Selesai acara wisuda, Natasya dengan bangga menyambut Satria di luar gedung. Ia memeluk Satria dengan perasaan penuh haru dan bahagia karena bangga atas keberhasilan yang diraih oleh Satria. Saat ini, Satria bahkan mendapatkan tawaran untuk melanjutkan sekolah pasca sarjana di universitas yang sama. Dengan beasiswa full tentunya.
“Aku bangga sama kamu Satria,” Natasya melepaskan pelukannya.
“Selamat ya Sat, kamu benar-benar hebat,” puji Steve.
“Iya om, terima kasih.” Satria tersenyum pada Steve.
__ADS_1
“Jangan panggil om dong, sebentar lagi kan aku akan menikah dengan Natasya,” ucap Steve sambil terus menatap mesra pada Natasya.
“Oh ya?” Satria menatap Natasya mempertanyakan kebenaran berita bahagia itu.
“Benar Satria, aku rasa sudah waktunya aku dan Steve menjalani hubungan yang lebih serius,” ucap Natasya malu-malu.
“Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya.”
“Maka dari itu, kamu tak usah memanggilku om lagi. Kamu panggil aku ayah, oke?”
“Siap om, eh... ayah,” Satria nampak sangat senang saat ini.
Ditengah kebahagiaan itu, datanglah Mia yang menggandeng tangan Melisa. Mia sengaja membawa Melisa pada ibunya, karena ingin memberikan kabar bahagia yang sudah ia tau lebih dulu sebelum acara wisuda dimulai.
“Melisa?” Sapa Steve.
“Hai om,” Melisa tersenyum. Ia merasa sangat canggung ada di sekitar mereka, terutama karena ada keberadaan Satria di sana.
“Selamat ya Melisa,” ucap Natasya pada putrinya itu. ucapan selamat dari Natasya itu tentu saja membuat Melisa terkejut. Karena ucapan selamat itu terdengar sangat tulus, dan itu tidak nampak seperti Natasya yang biasanya.
“Terima kasih mah,” balas Melisa singkat.
“Mamah dengar, kamu sekarang sudah jadi pimpinan Laksamana Grup.”
“Iya benar,” jawab Melisa dengan suara yang sangat pelan.
Tanpa disangka, Natasya menghampiri Melisa lalu memeluknya. Melisa tertegun mendapat pelukan dari Natasya.
“Selamat ya sayang, kamu benar-benar hebat. Maafkan mamah karena tidak pernah menjadi ibu yang baik untukmu,” ucapan Nataysa berhasil membuat Melisa terharu.
Natasya melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata yang mengalir perlahan di pipi Melisa.
“Kamu anak yang hebat,” Natasya tersenyum bangga pada Melisa.
“Ada apa ini?” Gunawan tiba-tiba datang bersama dengan Silvana, Widia, dan juga Dion.
“Hai Gunawan,” sapa Natasya.
“Hai, lama tak bertemu,” balas Gunawan.
“Kau kembali lagi padanya?” Tanya Natasya sambil menatap Silvana.
Silvana hanya tersenyum malu-malu.
“Syukurlah, tapi apa yang terjadi padamu hingga kau seperti ini?” Natasya kini berjalan menghampiri Silvana. Meski wajah Silvana sudah dipoles make up, namun Silvana masih terlihat seperti orang sakit. Mungkin karena tubuhnya yang sangat kurus.
__ADS_1
“Dia baik-baik saja,” Gunawan segera merangkul Silvana.
“Hei, kau pikir aku akan meyakitinya?” Natasya mendelik pada Gunawan.