Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Amanda Menghilang?


__ADS_3

Pukul 6 sore, Melisa, Satria, dan Bobi sudah sampai di tempat pendaftaran. Bobi mencari sekeliling, namun tak menemukan Amanda di sana.


"Pak, tadi temen saya yang pake jaket putih, cewe, udah sampai sini belum?" Tanya Bobi pada salah satu petugas yang sedang berjaga.


"Jaket putih? Namanya siapa dek?" Bapak penjaga tersebut membuka buku registrasi.


"Amanda pak," jawab Bobi.


"Sebentar ya, saya cek dulu," bapak penjaga mencari nama Amanda di daftar tamu yang hari ini datang.


"Sudah, 30 menit yang lalu," jawab bapak penjaga.


"Oh, udah pergi atau masih di sini pak?" Bobi.


"Wah, saya kurang tau ya dek. Soalnya saya juga baru datang."


"Oh ya sudah, terima kasih ya pak."


Bobi kembali mencari Amanda di sekitar tempat pendaftaran. Namun tak juga menemukan Amanda.


"Udah balik ke hotel duluan kali kak?" Satria.


"Iya ya, semoga dia bener udah balik ke hotel." Bobi.


"Lagian kenapa kakak biarin kak Amanda jalan sendirian sih? Kan kakinya lagi sakit," protes Melisa.


"Dia lagi pengen sendiri katanya Mel," jawab Bobi.


"Haduh, kak Bobi nih. Kalau dia bilang kaya gitu, artinya... dia lagi butuh kakak, jangan pernah tinggalin dia," jelas Melisa.


"Hah? gimana bisa?" Bobi tak mengerti maksud Melisa.


"Ya udah sekarang kita coba pulang dulu ke hotel, kakak udah coba telpon ke ponselnya?" Tanya Satria.


"Ga usah ditanya, udah berkali-kali tapi ga ada jawaban. Ya udah yuk, kita balik dulu ke hotel," Bobi.


Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke hotel.


"Dia ke hotel naik apa ya?" Gumam Bobi khawatir.


"Naik ojek, atau angkutan umum bisa jadi," Satria.


"Ya semoga aja," Bobi mempercepat laju kendaraannya.


Setelah sampai di hotel, mereka bergegas masuk menuju kamar. Tapi Amanda tidak ada di dalam kamar.


"Ga ada kak, apa masih di jalan?" Melisa.


"Mungkin, ya udah gue cari dulu di sekitaran hotel, kalau ga ada gue bakal cari keluar," Bobi.


"Kak Bobi cari keluar aja, biar kita cari di sekitaran hotel," Satria.


"Ya udah, kita berpencar biar cepet," Bobi.


"Iya, nanti saling kabarin kalau udah ketemu," Satria.


Akhirnya mereka berpencar untuk mencari Amanda.


Bobi pergi keluar hotel dengan membawa mobil, menelusuri setiap jalan di pulau Y. Melisa mencari di setiap lantai hotel, sedangkan Satria mencari di area pantai.


Tiga puluh menit pencarian belum juga ada hasil. Hingga Satria menemukan jaket putih milik Amanda tergeletak di bebatuan di area pantai.


"Ini kan punya kak Amanda," Satria celingukan, matanya melihat setiap sudut di sekitar jaket itu. Dan akhirnya ia melihat seorang gadis yang duduk di salah satu batu yang berada di dekat perairan.


Satria melihat dengan seksama, memastikan siapa gadis yang sedang duduk itu.


"Kak Amanda," panggil Satria.

__ADS_1


Amanda menoleh, "Satria?"


Setelah yakin bahwa itu adalah Amanda, Satria bergegas menghampirinya.


"Kakak ngapain disini? Kita semua nyariin kakak dari tadi," Satria.


"Gue lagi pengen sendirian, udah lu sana balik lagi ke hotel," Amanda mengusir Satria.


Namun Satria malah mengambil posisi duduk di samping Amanda.


"Gue lagi pengen sendiri, lu ga denger," Amanda.


"Ya udah anggap aja aku ga ada, aku capek kak. Nyariin kakak dari ujung sana sampe ke sini. Sekarang malah suruh balik lagi" Satria mengeluarkan ponselnya hendak memberi tahu Bobi dan Melisa.


"Mau ngapain?" Amanda menatap ponsel Satria.


"Mau ngabarin Melisa sama kak Bobi, mau ngasih tau kalau aku udah nemuin kakak," jawab Satria polos.


"Kasih tau Melisa aja, Bobi ga usah di kasih tau," Amanda.


"Kenapa?" Satria.


Amanda tak menjawab, ia hanya diam memandangi lautan.


Satria sebenarnya bingung, tak mengerti apa yang harus ia lakukan? Ia hanya mengetikkan pesan pada Melisa, bahwa Amanda sudah ketemu dan berada ditepian pantai.


Namun karena lokasinya cukup jauh dari hotel, Satria meminta Melisa untuk tak menyusulnya. Karena ia tau, Melisa pasti sangat lelah.


Lima belas menit berlalu, Satria masih setia duduk di samping Amanda yang terus saja menatap lautan. Hingga akhirnya Amanda menoleh ke arah Satria.


"Lu masih di sini?" Amanda.


"Emang kenapa kak?" Satria.


"Udah ilang kali capeknya, udah sana balik," Amanda kembali mengusir Satria.


"Emang aku ganggu ya kak di sini?" Satria.


"Anggap aja aku ga ada kak, aku mau di sini dulu, mau puas-puasin liat lautan. Kan besok mau pulang. Aku ga tau kapan lagi bakal bisa ketemu sama laut," Satria.


Amanda terkekeh mendengar ucapan Satria.


Satria melirik Amanda, ia juga ikutan tertawa. Namun suasana kembali hening dalam seketika.


"Keluarin aja kak unek-uneknya. Buang semua isi hati kakak ke laut," Satria.


"Iya bener, kenapa gue diem aja ya dari tadi? Hah..." Amanda menghembuskan nafas dengan kasar. "Sat."


"Iya kak?" Satria.


"Kalau Melisa yang ada di posisi gue, apa lu juga bakal kecewa?" Amanda.


"Kecewa sih pasti kak, cuma kan mau gimana lagi kalau memang udah begitu, ya kita bisa apa?" Satria.


Amanda mengangguk.


"Tapi aku ga akan tinggalin dia kak," ucapan Satria membuat Amanda menatap lekat laki-laki di sampingnya itu.


"Kenapa?" Amanda.


"Bukannya kalau kita udah sayang sama seseorang, kita akan bisa terima segala kekurangan dia? Aku yakin, kakak juga pasti begitu. Apapun kekurangan dia, ketika kita sayang dengan orang itu, kita tidak akan mempermasalahkannya," Satria.


"Jadi lu sayang sama Melisa?" Amanda menggoda Satria.


Satria hanya mengangguk.


"Terus, kenapa lu ga mau pacaran sama Melisa?" Amanda.

__ADS_1


"Karena aku ga mau bikin Melisa jadi seperti kakak," Satria.


Jawaban Satria membuat Amanda tersenyum kecut. Amanda kembali mengalihkan pandangannya ke laut lepas.


"Aku yakin, kak Bobi juga bisa nerima kekurangan kakak. Wajar kalau kecewa, tapi itu ga akan bikin dia pergi dari kakak," Satria.


Amanda yang mendengar kata-kata Satria, merasakan hatinya perlahan kembali hangat. Tak terasa air matanya mengalir kembali. Meski ia sendiri tau Bobi tak akan meninggalkannya, namun perasaan bersalah karena sudah membuat Bobi kecewa jauh lebih besar.


"Amanda..." terdengar suara Bobi yang memanggil Amanda. Membuat Satria dan Amanda menoleh bersamaan.


"Lu bilang ke dia gue ada di sini?" Amanda.


"Engga, aku cuma kasih tau Melisa," Satria.


Bobi berlari ke arah Amanda, ia memeluk Amanda sangat erat.


"Maafin gue Man, maaf," Bobi.


Amanda hanya terdiam, ia masih shock dengan kehadiran Bobi yang tiba-tiba.


Satria berdiri, meninggalkan Amanda yang kini sudah bersama Bobi. Ia menghampiri Melisa yang tengah berdiri menatapnya.


"Lu baik-baik aja kan Man?" Bobi memeriksa Amanda dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kaki lu masih sakit?"


Amanda hanya mengangguk.


"Ayo sini naik," Bobi menepuk punggungnya sendiri, meminta Amanda naik ke atas punggungnya.


Amanda menggeleng.


"Kenapa? Ayo balik ke hotel, lu pasti capek kan? Sini biar gue gendong," Bobi kembali meminta Amanda untuk naik ke punggungnya.


Namun Amanda hanya diam menatap Bobi.


"Man, ayo..." bujuk Bobi.


"Gue bisa jalan sendiri," Amanda berdiri dan mulai melangkahkan kakinya, berjalan perlahan dengan kaki yang sedikit pincang.


Bobi mengikuti Amanda. Tak tahan dengan pemandangan di depannya, ia bergegas menggotong Amanda.


"Turunin Bobi, gue bisa jalan sendiri," pinta Amanda.


Bobi tak menggubrisnya, ia tetap berjalan sambil menggotong Amanda melewati Satria dan Melisa yang berjalan perlahan. Tak memperdulikan Amanda yang terus saja meronta minta diturunkan


"Kamu ngapain aja sama kak Amanda?" Melisa.


"Ga ngapa-ngapain, cuma nemenin dia aja," Satria.


"Emang dia mau ditemenin kamu?" Melisa.


"Engga, aku dari tadi juga di usir," Satria.


"Kok kamu ga pergi?" Melisa.


"Kamu bilang, kalau cewe bilang pengen sendiri itu artinya dia minta ditemenin?" Satria.


"Iya sih," Melisa.


"Ya berarti aku bener dong?" Satria.


"Tapi aku kok ga suka ya?" Melisa.


Satria memegang tangan Melisa. "Ga suka kenapa? Cemburu?"


Melisa hanya diam menatap Satria.


"Aku cuma kasih kak Amanda semangat, supaya hubungannya dengan kak Bobi baik-baik aja," Satria.

__ADS_1


Melisa tersenyum, "aku capek, gendong aku," Melisa mengangkat kedua tangannya ke arah Satria.


Satria kemudian menggendong Melisa di punggungnya. Mereka berjalan perlahan menyusuri tepian pantai. Menikmati indah langit malam yang bertaburan bintang-bintang.


__ADS_2