
Satu bulan berlalu sejak terkahir kali percakapan antara Natasya dan Gunawan. Kini keduanya sudah resmi bercerai.
Sebelumnya Gunawan sudah membujuk Natasya agar menyerahkan urusan beasiswa Satria pada dirinya. Namun Natasya dengan tegas menolaknya.
"Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi sekarang, kau tega masih mau mengambilnya dariku?" Ucap Natasya kala itu.
Gunawan yang memiliki hati yang baik, tentu saja tak tega. Gunawan sempat menitipkan pesan pada Satria, agar laki-laki itu bisa menguatkan hatinya agar tak mudah jatuh ke rayuan Natasya.
Satria yang memang sudah memantapkan hatinya merasa yakin ia akan baik-baik saja.
Dampak dari perceraian itu tentu saja menurunkan harga saham Laksmana Grup. Dan gosip yang beredar mengenai hubungan Satria dan Natasya juga semakin beredar luas. Hingga menurunkan citra yayasan Puspa Tunggal.
Kedua orang tua Natasya tentu saja tak bisa tinggal diam, mengetahui yayasannya kini mendapat reputasi yang buruk akibat perceraian antara Natasya dan Gunawan.
Namun dengan mulut manisnya, Natasya mampu menenangkan kedua orang tua dan keluarga besarnya. Natasya sangat yakin melalui Satria nanti ia bisa kembali membangun citra yayasan menjadi kembali naik.
Oleh sebab itu, kini ia juga memasukkan beberapa murid beasiswa lainnya termasuk mia ke dalam kelompok belajar yang dilakukan di rumah Natasya. Tentu hal itu Natasya lakukan atas saran dari Satria. Untuk meredam gosip mengenai perselingkuhan mereka dan juga untuk menciptakan peluang agar murid cerdas lainnya dari sekolah Puspa Tunggal juga bisa mendapat beasiswa ke luar negeri.
Di rumah belajar kini ada lima murid yang setiap hari datang ke rumah Natasya, untuk mendapat bimbingan langsung dari pembimbing yang ada di luar negeri. Mereka semua sama seriusnya dengan Satria yang ingin mendapat beasiswa ke luar negeri.
Meski sebenarnya Natasya keberatan dengan ide dari Satria, namun ia terpaksa menuruti. Dan benar saja, ide dari Satria itu perlahan menaikan citra sekolah Puspa Tunggal karena dinilai mampu memperhatikan murid-murid yang kurang mampu untuk bisa terus berprestasi dan menggapai mimpinya.
Dampak lain dari perceraian Natasya dan Gunawan tentu saja adalah Melisa. Kini ia menjadi bahan bulian di sekolah, terutama bagi Stella. Beruntung ada Dion yang selalu setia menemani kemanapun Melisa pergi.
Stella sebenarnya tak terlalu berani pada Melisa, ia hanya membuli Melisa melalui cibiran dengan suara yang keras saat Melisa ada di dekatnya. Stella hanya berani saat ada teman yang mendukungnya. Sedangkan jika harus dihadapkan satu lawan satu, tentu saja nyali Stella langsung menciut.
"Cih, beraninya main keroyokan," gerutu Melisa pada Dion saat gerombolan Stella sudah pergi.
"Ga usah di dengerin Mel, nanti juga capek sendiri. Lagian kalau cuma sebatas omongan mah abaikan aja," nasihat Dion.
__ADS_1
"Lama-lama gerah juga dengernya, harus dikasih pelajaran," ucap Melisa dengan tatapan mata tajam melihat ke arah Stella dan gerombolannya yang baru saja pergi meninggalkan kantin.
"Tapi Mel, kamu dan Satria beneran berantem?" Tanya Dion penasaran. Ia memang tak pernah tau cerita sebenarnya antara Melisa dan Satria.
Melisa menghela nafas. "Kami tidak bertengkar, dia memilih jalannya sendiri. Jalan yang sudah jelas-jelas aku tentang."
Meski bingung dengan jawaban Melisa, Dion hanya mengangguk-angguk seolah mengerti maksud dari perkataan Melisa itu.
Satria dan Melisa benar-benar seperti orang asing. Meski masing-masing dari dari mereka masih saling mengkhawatirkan satu sama lain, namun keduanya memilih untuk tak berkomunikasi sama sekali. Bahkan hanya sekedar saling tersenyum pun tidak.
Satria diam-diam masih memperhatikan Melisa, ia sering kali bertanya pada Dion apa Melisa baik-baik saja.
"Tentu dia baik-baik saja. Walaupun ia hampir kembali menjadi dirinya yang dulu, tapi yang ku lihat dia baik-baik saja," jawab Dion.
"Syukurlah, aku merasa sangat bersyukur kamu ada di dekatnya saat ini. Jagalah Melisa selalu di sisimu, jangan tinggalkan dia dan jangan lakukan hal-hal yang tidak dia suka."
"Tentu saja aku akan menjaganya tanpa kau minta pun aku akan selalu melindunginya," ucap Dion serius.
"Apa kau benar-benar akan merelakannya?"
"Untuk saat ini, hanya untuk sementara. Bersiaplah, karena kelak aku akan mengejarnya," Satria memegang bahu Dion.
Entah mengapa ucapan Satria saat itu terasa seperti sebuah ancaman bagi Dion. Seolah Satria ingin mengatakan bahwa Dion bisa bebas memiliki Melisa saat ini, tapi kelak jika suatu hari ia datang maka Dion harus menyerahkan Melisa pada Satria.
...***...
Ujian akhir semester ganjil akan segera datang. Semua murid tengah bersiap dengan serius belajar, terutama mereka murid-murid kelas XII.
Setelah selesai ujian semester ganjil nanti mereka akan segera berhadapan dengan berbagai macam ujian hingga ujian kelulusan nanti. Berbagai macam bimbingan belajar mereka ikuti, baik yang disediakan pihak sekolah maupun dari luar sekolah.
__ADS_1
Semua murid berusaha keras agar bisa lulus dengan nilai yang bagus, agar mereka juga bisa masuk ke universitas ternama baik di dalam maupun luar negeri.
Sore ini, Melisa dan Dion pergi bersama ke tempat bimbingan belajar yang berasal dari luar sekolah. Tempat ini adalah tempat yang biasa Dion datangi.
"Bagaimana tempat bimbingan belajar ini? Nyaman kan tempatnya?" Tanya Dion.
"Lumayanlah," jawab Melisa singkat.
"Kamu kenapa ga ikutan bimbingan belajar di sekolah saja? Ibumu kan pemilik yayasan," ucap Dion.
"Aku bosan belajar di sekolah, jadi aku mau cari tempat belajar yang lain," ucap Melisa memberi alasan.
Sementara itu di rumah belajar milik Natasya, ia tengah memperhatikan murid-murid yang belajar di rumahnya. Tapi tentu saja fokusnya tetap pada Satria.
Natasya teringat percakapannya terakhirnya dengan Gunawan. Saat Gunawan memberikan surat cerai padanya.
Flashback
"Kau yakin ingin tetap bersama anak itu? Kau sadarkan usia kalian terpaut sangat jauh, apa kau tak takut suatu saat dia akan meninggalkanmu karena kau sudah sangat tua?"
"Tentu saja aku tau itu. Aku tak peduli jika ia menyukai perempuan lain, aku hanya mau dia selalu di sisiku. Meskipun hatinya bukan milikku," ucap Natasya.
"Kau benar-benar sudah terobsesi padanya Nat, kau tau? Kau bisa saja melukainya," ucap Gunawan.
"Aku tak peduli, selagi dia ada di sisiku. Aku jamin hidupnya akan baik-baik saja," Natasya berkata dengan percaya diri.
"Baiklah Nat, jika keputusanmu memang sudah bulat. Aku tak bisa menghentikannya, satu hal yang aku pinta darimu. Jika kamu tak bisa menyayangi Melisa, jangan sakiti hatinya. Jika suatu saat Satria berkata padamu ingin kembali menemui Melisa kau tak boleh melarangnya," pesan Gunawan pada Natasya.
Natasya terdiam, mungkinkah hari itu akan terjadi? Hari ini dimana Satria akan melangkahkan kaki pergi meninggalkan dirinya, dan menemui seseorang yang selalu memenuhi isi hati Satria.
__ADS_1
Flashback end.