
Hari-hari berlalu, Melisa dan Satria terus berkomunikasi melalui ponsel yang diberikan Satria pada Melisa. Satria hanya akan menghubungi Melisa saat malam hari, itupun saat Gunawan belum pulang ke rumah. Jika ada Gunawan di rumah, Melisa dan Satria hanya akan berkirim pesan.
Melisa benar-benar mengikuti saran Satria, untuk kembali bersikap dingin seperti dulu. Melisa sudah seperti aktris profesional, ia mampu berakting di depan orang-orang seolah dirinya sedang sedih dan tertekan. Padahal sebenarnya yang ia rasakan adalah sebaliknya, saat ini justru Melisa merasa sangat berbunga-bunga. Karena ia bisa kembali berhubungan dengan Satria meski hanya sebatas hubungan rahasia.
Meski begitu, sampai saat ini Satria masih belum mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Mengapa ia bisa sampai tinggal di rumah Natasya. Satria bilang, ia belum siap mengatakannya pada Melisa. Satria sendiri sebenarnya masih ragu dengan informasi yang dimilikinya. Selama ini ia diam-diam menyelidiki siapa mata-mata yang dimiliki Gunawan di sekolah, dan apa benar semua hal yang diterimanya saat ini adalah ulah Gunawan?
Flashback.
Kejadian ini bermula saat Satria masih berduka, satu hari setelah hari pemakaman keluarganya. Pagi itu, Satria dan beberapa sepupunya tengah membersihkan rumah. Niatnya, paman dan bibi Satria serta para sepupunya akan membawa sebagian barang-barang milik ayah dan ibu Satria kembali ke kota B. Tak lupa juga barang-barang Rian yang akan ikut dibawa ke kota B.
Satria berniat hanya akan menyisakan barang-barangnya saja di rumah. Agar bisa memudahkannya nanti saat Satria sudah lulus. Ia tak perlu lagi membawa barang-barang milik keluarganya yang lumayan banyak itu.
Saat Satria sedang sibuk membereskan barang-barang, tiba-tiba datanglah Stella dan gerombolannya ke rumah Satria. Mereka memang datang karena mendengar kabar meninggalnya orang tua dan adik Satria. Stella dan teman-temannya ingin mengucapkan bela sungkawa pada Satria.
Tak hanya Stella dan geng nya yang datang, Mia dan Astrid juga ikut datang untuk mengucapkan bela sungkawa mereka pada Satria. Dan saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah beberapa pria berpakaian hitam yang mengaku orang dari perusahaan Harpa Jaya. Mereka datang untuk mencari ahli waris dari pak Joni, yang tak lain adalah Satria.
“Mohon maaf, bapak dari mana ya?” Tanya paman pada para pria berpakaian hitam itu.
“Saya Edward dari PT. Harpa Jaya, ingin bertemu dengan ahli waris dari bapak Joni,” ucap salah seorang dari mereka yang memiliki badan paling besar.
“Iya saya pak,” Satria maju mendekati pria bertubuh besar itu.
“Begini, pak Joni sembilan hari yang lalu meminjam mobil perusahaan dan menurut pendataan mobil seharusnya sudah dikembalikan kemarin pagi. Namun sampai saat ini, mobil tersebut belum juga dikembalikan.” Pria yang mengaku bernama Edward itu menjelaskan maksud kedatangannya pada Satria.
__ADS_1
Tentu saja ucapan pria itu membuat semua orang yang berada di sana kebingungan. Bagaimana bisa saat orang sedang berduka, perusahaan tempat pak Joni bekerja malah menanyakan mobil yang dipinjam. Mereka seakan tidak peduli dengan musibah yang tengah menimpa pak Joni sekeluarga.
“Mohon maaf pak, apa bapak sudah mendapat info tentang kecelakaan yang dialami oleh kakak saya dan keluarganya?” Tanya paman turut andil dalam pembicaraan.
“Sudah, oleh karena itu kami minta ahli warisnya untuk mengganti rugi akibat dari kecelakaan itu,” jawab pria itu dengan santainya.
Semua orang yang berada di sana langsung tercengang, mereka tak percaya bagaimana bisa perusahaan setega itu pada karyawannya.
“Jadi kedatangan bapak kesini bukan untuk memberi kompensasi atau uang asuransi pada ahli waris? Atau bahkan sekedar mengucap bela sungkawa?” Tanya paman tak percaya.
“Benar, memang sebenarnya ada uang duka dan asuransi namun jumlahnya tidak cukup untuk mengganti kerugian atas kecelakaan ini,” pria bernama Edward itu masih bicara dengan santainya.
“Memang sebesar apa kerugian yang dialami perusahaan akibat kecelakaan ini pak?” Satria dengan perasaan yang campur aduk memberanikan diri bertanya pada Edward.
Satria mengambilnya dan melihat nominal yang tertera pada kertas dalam amplop itu, jumlah yang sangat fantastis. Satria sampai berulangkali menghitung jumlah digit yang tertera di sana. Jumlah yang sangat besar, uang sebesar itu tentu saja ia tak tau dari mana harus mendapatkannya?
“Pak, yang benar saja. Apa benar jumlahnya sebanyak ini?” Satria bertanya pada Edward.
“Anda bisa lihat sendiri, semua sudah sesuai dengan perhitungan di data perusahaan kami. Dan jumlah yang tertera di sana adalah jumlah yang harus anda bayarkan saat ini juga,” Edward berkata dengan tegasnya.
“Tapi uang sebanyak ini darimana saya dapatkan pak?” Satria nampak sangat bingung.
Paman dan beberapa sepupu Satria ikut kaget melihat nominal yang sangat besar yang tertera pada dokumen itu. Stella dan geng nya juga ikutan mengintip, dan nominal yang tertera di sana berhasil membuat mereka ternganga.
__ADS_1
“Bagaimana bisa anda memaksa orang yang sedang berduka untuk membayar uang sebanyak itu?” Stella ikut angkat bicara.
“Saya tidak mau tau dari mana uangnya, yang jelas uang ini harus ada sore ini juga. Nanti saya akan kembali pukul empat sore hari. Dan satu hal lagi, sebaiknya anda segera mengosongkan rumah ini, karena akan segera ditempati oleh pengganti pak Joni," Edward dan orang-orang berbaju hitam itu membungkukkan badan seraya pamit. Mereka lalu memasuki mobil dan meninggalkan rumah dinas itu.
“Satria, bagaimana ini?” Tanya Bibi yang baru muncul saat orang-orang mengerikan itu sudah pergi.
Satria tak menjawab, ia sendiri masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Tega banget sih, masa orang lagi berduka gini malah ditagih uang ganti rugi?” Mia kini angkat bicara.
“Iya, kok bukannya datang trus mengucapkan bela sungkawa. Malah nagih uang ganti rugi,” Astrid juga ikut kesal.
“Tapi mau bagaimana? Ayahku memang pergi membawa mobil perusahaan, dan aku tau mobil itu harganya sangat mahal,” Satria tertunduk lemah.
“Tapi gak harus begini juga dong? Bagaimana bisa mereka tega melakukan ini pada orang yang baru saja terkena musibah?” Timpa salah seorang anggota geng Stella.
“Tenang Satria, aku akan bantu kamu. Tapi nominal segitu terlalu besar, aku paling Cuma bisa bantu seperempatnya.” Stella berusaha menghibur Satria.
Meskipun Stella anak yang terlihat sombong, tapi sebenarnya ia juga memiliki hati yang baik. Stella tak tega melihat Satria yang kini tengah berduka harus tambah menderita karena orang-orang dari Harpa Jaya.
“Kamu minta tolong aja sama Melisa, siapa tau dia bisa bantu. Kamu kan dekat sama Melisa, mungkin Melisa bisa bantu bicara pada ayahnya yang merupakan direktur utama Laksmana Grup untuk menyelesaikan masalah ini,” usul Mia.
“Iya benar,” semua setuju. Sebagaimana mereka tau, Gunawan ayah Melisa merupakan direktur utama Laksmana Grup. Dan Harpa Jaya adalah salah satu anak perusahaannya. Sudah pasti Gunawan memiliki power untuk membantu masalah Satria ini.
__ADS_1