Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Negosiasi


__ADS_3

Pagi yang cerah.


Seperti biasa, pagi itu Melisa di antar oleh Satria sampai ke kantornya. Namun ada yang berbeda pagi itu, yang menyambut kedatangan Melisa bukanlah Fredy seperti biasa, melainkan Gunawan.


Gunawan tersenyum ramah, ia bersikap seolah tak masalah melihat adegan Melisa yang turun dari motor Satria.


"Mel, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gunawan dengan senyum hangatnya.


"Ayah tak lihat aku jauh lebih baik dari sebelumnya?"


"Tentu ayah melihatnya, kamu masih belum mau pulang sayang?"


Melisa menggelengkan kepalanya, ia masih setia berdiri di samping Satria.


"Kenapa? Apa ibumu memperlakukan kamu dengan baik?"


"Sangat baik," jawab Melisa dengan malas. Ia masih enggan bertemu dengan ayahnya.


"Syukurlah, kalau begitu kenapa kamu masih di sini? Kamu tidak mau masuk dan mulai bekerja?"


"Tidak, setelah ayah pergi," jawab Melisa tanpa melihat ke arah Gunawan.


"Tapi ini sudah hampir jam masuk sayang, kamu harus memberi contoh pada seluruh karyawan bahwa kamu orang yang disiplin," nasihat Gunawan.


Melisa diam saja tak menanggapi.


"Ayolah Melisa, apa kamu masih marah sama ayah?"


"Apa aku harus menjawabnya? Bukankah ayah bisa dengan jelas melihatnya?"


Gunawan menghela nafas.


"Baiklah, katakan pada ayah. Bagaimana kita memperbaiki hubungan ini?"


"Mudah, ayah minta maaf pada Satria dan restui hubungan kami. Maka aku akan pulang ke rumah dan tak akan marah lagi pada ayah," jawab Melisa.


Satria yang masih duduk di atas motor di belakang Melisa hanya diam saja, ia tak mau ikut campur urusan ayah dan anak itu.


"Mel, bisakah kita bicarakan ini berdua?"


"Bicarakan saja di sini! Kenapa? Ayah tak mau Satria tau?"


"Bukan begitu, ayolah Mel. Ada banyak hal yang ingin ayah sampaikan padamu," Gunawan memohon pada putrinya itu.


"Baiklah, tapi Satria harus tetap ikut!"


"Mel, kenapa kamu bawa-bawa aku? Kamu harus selesaikan urusanmu dengan ayahmu sendiri," pinta Satria.


Melisa lalu berbalik menghadap Satria.


"Aku takut ayahku akan mencelakai aku," bisik Melisa di telinga Satria.


Gunawan melihat adegan itu emosinya mulai naik kembali. Namun sekuat tenaga ia menahannya agar Melisa tak melihatnya.


"Tak mungkin ayahmu mencelakai kamu Mel, dia kan sangat menyayangimu. Tapi kalau mencelakai aku sih itu bisa saja," ucap Satria dengan suara yang keras.

__ADS_1


Sengaja agar Gunawan dan orang-orang di sekitar yang saat itu sedang berlalu lalang untuk masuk ke dalam gedung kantor mendengar ucapan mereka.


Gunawan tertegun mendengar ucapan Satria yang setengah berteriak itu. Ia melihat sekeliling, dan nampak orang-orang sedang berbisik seperti membicarakannya.


"Jadi kamu gak mau ikut?" Tanya Melisa dengan raut wajah sedih.


"Nanti aku datang lagi setelah kamu pulang kerja, aku mau ke sekolah dulu ya," ucap Satria sambil memakai helmnya. Lalu tak lama, Satria pun pergi sambil melambaikan tangannya ke arah Melisa.


Melisa dengan berat hati membiarkan Satria pergi.


"Sopan sekali pacarmu itu," sindir Gunawan.


"Apa perlu menyapa orang yang telah membunuh keluarganya?" Wajah Melisa seketika berubah menjadi dingin.


Gunawan terdiam, baru kali ini ia merasakan aura dingin yang Melisa pancarkan untuknya.


Melisa pun melengos pergi meninggalkan Gunawan.


Gunawan yang masih ingin berbicara dengan Melisa segera mengikutinya.


Di dalam lift, saat itu sedang ramai karena banyak karyawan yang baru datang. Para karyawan itu membungkuk, memberi hormat pada Gunawan dan Melisa.


Gunawan membalasnya dengan senyuman ramah, sementara Melisa hanya diam saja tanpa respon apapun.


"Apa kamu biasanya seperti ini?" Bisik Gunawan di telinga Melisa.


Melisa lagi-lagi tak merespon. Dan Gunawan hanya bisa menghela nafas.


Sampai di lantai dimana ruangannya berada, Melisa turun dari lift disusul oleh Gunawan di belakangnya.


Sebelum turun dari lift, Gunawan sempat menyapa beberapa karyawan yang masih tertinggal di dalam lift.


"Benar, tuan Gunawan sangat ramah. Beda sekali dengan nona Melisa yang sejak pertama bekerja menggantikan posisi ayahnya tak pernah terlihat tersenyum sedikitpun."


"Dia dikenal sebagai gadis dingin sejak masih bersekolah dulu."


"Kau tau dari mana?"


"Aku pernah mendengarnya, tetangganya teman dari adik sepupuku pernah satu sekolah dengannya. Katanya, di sekolah pun nona Melisa tak pernah memiliki teman."


"Tapi sepertinya nona sudah punya pacar, apa pacarnya selalu memakai jaket saat bersama dengan nona ya?"


semua yang berada di dalam lift heran dengan pertanyaan salah satu karyawan itu.


"Bukankah nona itu dingin? Pasti pacarnya juga akan kedinginan kan?"


"Ah... kau ini, aku pikir apa?"


Begitulah, gosip terus berlanjut diantara para karyawan.


Masuk ke dalam ruangannya, Melisa masih diikuti oleh Gunawan. Namun ada satu hal yang janggal, ia tak melihat kehadiran Fredy pagi itu.


"Ayah memecat Fredy?" Tanya Melisa seketika ia sampai di ruangannya.


"Buat apa aku memecat karyawan kompeten dengan loyalitas tanpa batas itu?"

__ADS_1


"Lalu kemana dia sekarang?"


"Aku memintanya mengurus cabang di luar negeri," jawab Gunawan sambil berjalan menuju sofa di ruangan itu.


"Lalu bagaimana denganku?" Melisa jadi semakin kesal pada Gunawan.


"Kamu harus mulai bekerja sendiri Mel, jangan mengandalkan siapapun!"


"Ayah sengaja melakukannya?"


"Tidak sayang, akhir-akhir ini kita memang tak pernah mengecek cabang yang berada di luar, karena terlalu sibuk dengan yang di dalam. Mulai sekarang kamu harus bisa mandiri Mel, kelak perusahaan besar ini akan benar-benar menjadi milikmu."


"Apa ayah sudah tidak mau bekerja? Kenapa aku harus melakukan ini sendirian?"


"Ayah sudah lelah, sesegera mungkin ayah akan menikah dan hanya akan hidup bersama dengan Silvana."


"Aku tak setuju!" Melisa langsung menentangnya.


"Kenapa?"


"Dia seorang janda, aku tak suka!"


"Mel, kau masih mau berontak pada ayah?"


"Tentu saja, memang hanya ayah yang bisa mengancamku?"


"Kapan ayah mengancammu Mel?"


Melisa menyeringai.


"Ayah akan mencelakai Satria jika aku tak putus dengan Satria, ia kan?"


Gunawan terdiam.


"Cepat katakan, ayah bilang ada yang ingin ayah katakan padaku!"


"Bolehkan ayah bertanya sesuatu padamu?"


"Apa perlu meminta izin untuk bertanya?"


"Apa kamu yakin, Satria bisa menjagamu dengan baik? Apa kamu yakin, Satria tak akan menyentuhmu hingga kalian menikah nanti?"


"Aku yakin, sangat yakin!" Jawab Melisa dengan lantang. "Kalaupun ada sesuatu yang terjadi diantara kami, itu adalah ulahku."


Gunawan terdiam sesaat menatap Melisa.


"Jadi apa yang dikatakan oleh Dion itu, nyata atau rekayasa?"


Melisa mengernyitkan dahinya, ia tak tau apa yang dikatakan Dion pada ayahnya.


"Kau bilang apa pada Dion?"


"Bilang apa?" Melisa malah balik bertanya.


"Apa Satria pernah memperkosaku?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak!" Melisa langsung membantahnya.


"Dia tak memperkosaku, kami melakukannya atas dasar suka sama suka. Itupun karena ulahku," batin Melisa.


__ADS_2