
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu oleh Natasya dan Steve pun tiba, hari dimana mereka akan mengikat janji setia sehidup semati.
Pagi-pagi sekali Natasya yang pagi itu diantar Satria ke sebuah gedung di mana mereka akan menggelar pesta pernikahan, kini sedang duduk manis untuk dirias.
"Anda cantik sekali nyonya, bahkan belum kami poles apapun anda sudah sangat cantik begini," puji wanita paruh baya yang akan merias Natasya.
Natasya hanya tersenyum menanggapi pujian yang dilontarkan oleh perias tersebut.
"Buat ibuku secantik dan senatural mungkin," pinta Satria yang masih belum beranjak dari ruang rias pengantin.
"Siap tuan muda," wanita paruh baya membungkuk hormat pada Satria.
"Kok kamu masih di sini? Gak mau jemput Melisa?"
"Aku mau lihat proses merias bu," Satria masih betah berada di ruangan itu.
"Nanti waktunya mepet, kita kan mulai acara pagi-pagi sekali. Cepat sana jemput Melisa," Natasya mengusir Satria agar segera pergi.
"Iya bu, iya..." Satria lalu pergi untuk menjemput Melisa di rumahnya.
Sudah dua hari terakhir ini Melisa kembali ke rumah Gunawan, setelah negosiasi yang mereka lakukan beberapa waktu yang lalu. Akhirnya Gunawan memperbolehkan Melisa untuk terus berhubungan dengan Satria.
Sampai di depan rumah Melisa, Satria membunyikan klakson mobilnya.
Tiinnn...
Tak perlu menunggu waktu lama, Melisa sudah keluar dari dalam rumahnya. Melihat Melisa yang keluar dari rumah, Satria turun dari mobil. Lalu ia membukakan pintu mobil agar Melisa bisa masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih," ucap Melisa sambil tersenyum senang.
"Sama-sama," jawab Satria. Ia lalu kembali ke kursi kemudi dan segera melajukan mobilnya ke tempat acara pernikahan Natasya dan Steve berlangsung.
Tiba di tempat tujuan, Melisa langsung menuju ruang rias agar bisa ikut dirias juga seperti ibunya. Kali ini Melisa akan menjadi pengiring sang ibu menuju pelaminan.
Satria yang memang penasaran dengan proses dandan nya perempuan, dengan Setia menunggu di samping Melisa. Ia penasaran akan seperti apa wajah Melisa saat di dandani nanti.
Melisa bukan tipe gadis yang suka berdandan, selama ini ia hanya memoles wajahnya dengan bedak tipis-tipis dan juga lipstik berwarna pink. Kulit wajahnya yang memang sudah bagus dari sananya tentu saja tak perlu membuat Melisa repot-repot melakukan perawatan ini dan itu.
"Kamu gak ganti baju?" Tanya Melisa yang menyadari Satria sejak tadi ada di sampingnya.
"Nanti saja, aku kan gampang tinggal pakai jas. Aku mau lihat kamu didandani," jawab Satria.
Melisa tersenyum mendengar jawaban dari Satria.
Setelah beberapa saat akhirnya Melisa selesai, ia pun berganti baju dengan gaun yang sudah di sediakan pihak acara.
"Aku mau ganti baju dulu, kamu mau tetap di situ?"
__ADS_1
"Emang gak boleh?" Satria sepertinya sudah nyaman duduk di tempatnya saat ini.
"Satria..." Melisa memberi kode dengan matanya untuk segera keluar.
Dengan malas akhirnya Satria berdiri dan berjalan mendekati Melisa.
"Aku kan sudah pernah lihat dalaman kamu, kenapa mesti malu?" Bisik Satria.
Melisa mencubit perut Satria.
"Aaawww... Sakit Mel," Satria memegang perutnya yang terkena cubitan dari Melisa.
Melisa tak menggubris, ia malah mengusir Satria dengan tangannya.
"Iya iya, aku pergi," dengan langkah kaki gontai Satria akhirnya pergi dari ruangan rias itu.
Setelah Satria pergi, seseorang yang merias wajah Melisa tersenyum saat membantu Melisa memakai gaunnya.
"Pacarnya tampan ya nona, dan sepertinya dia juga sangat menyukai anda."
"Oh ya? Apa terlihat seperti itu?" Melisa tersipu malu mendengar ucapan sang perias.
"Iya nona, saya jarang melihat ada laki-laki yang dengan setia menunggu pacarnya dirias. Kebanyakan dari mereka akan sibuk dengan ponselnya atau bahkan tak mau menemani."
Melisa merasa tersanjung, bukan hanya karena ucapan dari si perias. Tapi karena Satria yang memang dengan setia menunggunya selama dirias, tanpa mengalihkan perhatian kemanapun, matanya selalu tertuju pada Melisa saat Melisa dirias.
"Kamu belum ganti baju?"
"Aku mau lihat kamu dulu," ucap Satria sambil terus memandangi wajah Melisa yang terlihat sangat cantik saat ini.
"Sekarang kan sudah lihat, kamu ganti baju ya sana!" Melisa mendorong tubuh Satria agar segera mengganti pakaiannya.
Melisa merasa malu karena terus-terusan dipandangi oleh Satria.
Akhirnya Satria pergi untuk mengganti pakaiannya.
Pukul delapan pagi, acara pernikahan Natasya dan Steve pun dimulai. Setelah keduanya mengikat janji setia sehidup semati, yang disaksikan oleh banyak tamu undangan. Akhirnya pesta yang megah pun dimulai.
Natasya duduk di kursi pelaminan bersama dengan Steve, semua orang memuji kecantikan Natasya yang tak luntur termakan usia. Kecantikan itulah yang ia turunkan pada Melisa.
Sementara itu, Satria tak henti-hentinya menggoda Melisa. Membuat Melisa tersipu malu.
"Apa sih Satria, kamu dari tadi godain aku terus."
"Habis kamu cantik banget sih," pujian yang terus-terusan dilontarkan oleh Satria.
"Aku kan cuma pengiring pengantin, bagaimana jika nanti aku yang dirias jadi pengantin. Pasti jauh lebih cantik."
__ADS_1
"Haruskah kita menikah sekarang?" Pertanyaan Satria semakin membuat Melisa gemas.
"Kenapa buru-buru? Kamu kan masih harus melanjutkan kuliah, dan aku masih harus mengurus perusahaan. Aku tak mau setelah menikah kita malah hidup terpisah."
"Tapi setidaknya saat bertemu nanti kita bisa melepas rindu tanpa ragu-ragu," Satria semakin menggoda Melisa.
"Ragu-ragu gimana?" Tanya Melisa berlagak polos.
"Haruskah aku menjabarkannya?"
"Tentu saja, aku kan masih polos. Gak ngerti maksud kamu apa?"
"Kita bisa tidur sama-sama lagi," bisik Satria.
Melisa tersipu mendengarnya, ia menatap mata Satria yang selalu menatapnya dengan tatapan lembut.
"Kamu izin dulu sana sama ayahku!"
"Baiklah, beri tahu saja padaku dimana ayahmu. Aku akan menghampirinya dan mengatakan aku akan menikahimu," Satria menyanggupi tantangan dari Melisa.
"Benarkah?"
Satria mengangguk yakin.
"Hei, kalian!" Tiba-tiba suara seseorang terdengar dari arah belakang mereka.
"Kak Bobi?" Kompak Melisa dan Satria memanggil nama itu.
"Kalian ngapain di pojokan sini?" Tanya Bobi menatap curiga pada keduanya.
"Kak Bobi sendiri ngapain di sini? Emang kakak di undang?" Tanya Melisa dengan ketus karena Bobi mengganggu waktu berduaannya dengan Satria.
"Ya diundang dong," jawab Bobi membanggakan diri.
"Sendirian kak?" Tanya Satria kali ini.
"Sama Manda dong, seperti biasa kita kan tidak pernah terpisahkan," Bobi menyombongkan dirinya.
"Iya deh, iya..." Melisa tak mau memperpanjang urusannya dengan Bobi.
"Terus mana kak Amanda nya?" Tanya Satria lagi.
"Di depan, lagi ngobrol sama teman-temannya," jawab Bobi santai.
"Kita ke depan yuk, kalian jangan di pojokan aja. Nanti malah jadi pengen loh!" Ajak Bobi.
"Pengen apa kak?" Tanya Satria sambil tersenyum pada Melisa.
__ADS_1
"Pengen..." Belum selesai Bobi bicara, Melisa sudah menarik tangan Satria. Ia merasa tak baik jika mereka berlama-lama di sana. Lama-lama ia bisa habis di buli oleh Bobi dan Satria.