Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Hati Yang Sensitif


__ADS_3

"Satria..." Melisa merasa seluruh tubuhnya sangat lemas. Tubuhnya bergetar hebat karena terkejut mendapati berita tentang kepergian ibunya.


"Tenangkan dirimu Mel," Satria memberikan air mineral pada Melisa. Meski Satria juga merasa syok, namun dia masih bisa mengendalikan dirinya.


Satria yang sudah tau dari Steve bahwa kesehatan Natasya semakin memburuk, tentu saja sudah mempersiapkan diri sejak lama. Tapi meski begitu, ia juga merasa terpukul.


Satria tak menyangka akan kehilangan seorang ibu untuk kedua kalinya. Namun setidaknya kali ini, ia sudah bersiap untuk ditinggalkan.


Sementara itu, Melisa menangis sejadi-jadinya. Ia merasa belum puas menghabiskan waktu dengan ibunya, tapi kini ibunya sudah pergi meninggalkannya.


Ada sedikit perasaan sesal dalam diri Melisa, mengapa ia tak menuruti nasihat Satria sejak dulu? Setidaknya mungkin ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama ibunya.


Satria memeluk Melisa yang terus-terusan menangis.


"Ayo Mel, kita harus segera ke sana. Kali ini biar aku yang menyetir," ucap Satria.


Melisa hanya mengangguk.


Satria lalu turun dari mobil, ia lalu membuka pintu dimana Melisa berada.


"Kau bisa turun Mel?"


"Bisa," jawabnya dengan lemah.


Namun baru saja kakinya menapak di tanah, Melisa sudah jatuh terkulai. Seolah kakinya tak mampu menahan berat tubuhnya.


Beruntung Satria sangat sigap menangkap tubuh Melisa, jadi tubuh Melisa tak sampai jatuh ke bawah. Satria membopong tubuh Melisa menuju kursi penumpang di samping kursi kemudi. Perlahan Satria menutup pintu mobil dan kembali berjalan mengitari mobil.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Satria mengirim pesan pada Mia.


Mia, ibuku telah tiada. Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju rumah ibu. Kau beri tau yang lain ya, jika kau tau alamat rumah ibuku segera lah datang. Jika tidak, nanti aku akan berbagi lokasi setelah sampai di sana.


Setelah mengirim pesan, Satria masuk ke dalam mobil. Ia bergegas melajukan mobilnya agar segera sampai di rumah duka.


Hati dan pikiran Satria tak karuan rasanya, meski begitu ia harus tetap fokus agar bisa selamat sampai tempat tujuan.


"Kau mengabari siapa tadi?" Tanya Melisa saat ia sudah mulai tenang.


"Mia," jawab Satria singkat.

__ADS_1


Melisa hanya mengangguk, ia sendiri juga sudah lama tak bertemu dengan Mia. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat pesta pernikahan Natasya. Namun kala itu mereka tak bisa berbincang lebih lama, karena Mia juga harus pergi ke tempat lain bersama dengan keluarganya.


"Kamu masih berhubungan dengannya?"


"Terkadang," lagi-lagi Satria menjawab dengan singkat.


"Satu minggu sekali?"


Satria terdiam, ia juga tak yakin dan tak pernah mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka berkomunikasi.


"Aku tau, kalau Mia itu menyukaimu," ucap Melisa tiba-tiba.


Tentu saja ucapan Melisa itu membuat Satria terkejut.


"Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu?"


"Aku hanya ingin tau, seberapa dekat hubungan kalian?" Melisa berbicara tanpa menatap ke arah Satria.


Satria diam saja, ia tak menjawab pertanyaan Melisa atau sekedar menanggapi. Baginya, apa yang dikatakan Melisa saat ini hanyalah sebuah pengalihan pikiran agar tak terus menerus memikirkan kepergian ibunya.


"Kau tak tau dia menyukaimu?"


"Oh ya? Tapi bagiku jelas sekali kalau dia sangat menyukaimu," kali ini Melisa menatap Satria dengan wajah yang sedih.


Mungkin karena suasana duka yang kini tengah Melisa rasakan, ditambah dengan ucapan Satria yang mengatakan bahwa orang pertama yang ia beri kabar adalah Mia tentu hal itu membuat Melisa semakin merasa sedih dan berpikir yang tidak-tidak.


"Kenapa kau membahas ini Mel?"


"Bolehkah aku bertanya padamu?"


"Tanyakan saja."


"Kenapa Mia orang yang terlintas dalam pikiranmu tadi? Bukannya orang lain?"


Satria mengernyitkan dahinya, ia semakin bingung dengan sikap Melisa saat ini.


"Jadi kau ingin aku mengabari siapa? Kau kan sudah tau, tak mungkin aku mengabari ayah Steve kan? Berita ini bahkan datang darinya. Tak mungkin juga aku mengabari ayahmu, kau tau kan hubungan kami seperti apa meski ayahmu sudah merestui hubungan kita," ucap Satria panjang lebar.


Melisa terdiam, sesaat ia lupa bahwa memang tak banyak orang yang dekat dengan Satria yang juga mengenal ibunya.

__ADS_1


"Maaf, aku terlalu sensitif," Melisa menundukkan wajahnya


"Hubunganmu dan Mia baik-baik saja kan?"


"Mmm..."


"Kalian tidak baik-baik saja?"


"Kami baik-baik saja, entah mengapa aku merasa tak suka saat tau orang pertama yang kau beri tau adalah Mia. Aku jadi teringat bahwa Mia juga menyukaimu."


"Bukan Mia orang yang pertama ku beri tau, kamu lupa? Sebelum itu aku kan memberi tau kamu lebih dulu."


"Kamu benar," Melisa memalingkan wajah ke arah luar jendela mobil. Ia lebih memilih memejamkan mata dari pada berpikir yang tidak-tidak tentang Satria.


Meski hatinya sempat kesal, Melisa merasa sangat beruntung. Karena saat ia sedang merasa sensitif seperti sekarang ini, Satria menanggapinya dengan sabar.


Melisa jadi teringat dengan Dion, seandainya saja Dion yang ada di posisi Satria saat ini, entah apa yang akan terjadi padanya?


Sementara bagi seorang perempuan, kondisi perasaan yang sensitif itu kerap kali mereka rasakan. Tak terbayang jika mendapatkan pasangan yang tempramental, maka yang ada hanyalah pertengkaran.


Satria diam-diam melihat Melisa yang memejamkan mata, ia tersenyum memandang wajah Melisa yang tetap cantik meski dalam keadaan lelah dan habis menangis.


Satria memperlambat laju kendaraannya, ia sengaja melakukan itu agar Melisa bisa tidur pulas selama perjalanan.


Pukul tiga dini hari, mobil yang Satria kendarai sudah keluar dari jalur kota. Di kanan dan kirinya saat ini hanya ada sawah yang membentang. Tak jauh di depan, jalur yang mereka lalui memasuki kawasan hutan yang cukup rimbun.


"Apa ini tidak salah?" Gumam Satria. Ia tak ingin membangunkan Melisa yang tertidur pulas, tapi ia yakin Melisa sudah memasukan titik lokasi yang tepat tadi.


"Mengapa mereka memilih tinggal di tempat seperti ini?"


Dalam sunyi nya malam yang mencekam, hanya suara angin dan beberapa hewan malam yang terdengar selain bunyi mesin kendaraan yang dikendarai Satria.


Satria terus mengikuti jalan setapak yang menuntunnya semakin jauh menuju ke dalam hutan.


Karena ia tadi memperlambat laju kendaraannya, maka perjalanan jadi lebih lama. Harusnya mungkin mereka sudah tiba saat ini, namun sekarang mereka malah masih di jalan yang Satria sendiri tak tau dimana persisnya jalan ini.


Setelah beberapa menit, Satria akhirnya melihat sebuah rumah dengan penerangan yang sangat minim. Dan tak jauh dari rumah itu, ada rumah yang lainnya.


Masuk semakin dalam, kini Satria bisa melihat pemukiman warga di depannya. Satria mengecek titik lokasi dan nampaknya mereka tiba di desa yang tepat.

__ADS_1


"Mel, sepertinya kita sudah sampai," ucap Satria.


__ADS_2