
Satu minggu sudah berlalu, kini saatnya Satria pulang kembali ke negara asalnya. Sejak semalam ia sudah merapihkan barang bawaannya.
Satria tak lupa membeli oleh-oleh untuk adik kesayangannya. Kemarin, saat mereka pergi ke taman hiburan. Ada banyak sekali sovenir dengan harga yang murah-murah. Satria membeli sebuah topi dan kaos untuk adik tercintanya itu.
Satria tak sabar ingin segera bertemu dengan keluarganya. Satu minggu berada di luar negeri saja sudah membuat Satria rindu, apalagi nanti saat ia sudah berkuliah di sini.
Satria sudah mengabari Rian melalui pesan singkat, bahwa pesawatnya akan berangkat pada pukul sebelas siang nanti. Rian yang menerima pesan itu segera memberi tahu ibu dan ayahnya.
Keluarga Satria juga sedang berada di perjalanan pulang menuju kota A. Acara pernikahan yang digelar sudah berakhir, semua sanak saudara juga akan kembali ke kota masing-masing tempat mereka tinggal.
Namun, cuaca hari ini sedang tidak baik. Sejak pagi ada berita yang mengatakan sejumlah wilayah di negara tersebut mengalami hujan deras bahkan ada juga yang terserang badai.
Pukul sembilan pagi, Natasya sudah membawa semua murid-muridnya itu untuk pergi meninggalkan hotel. Sebelum berangkat, Satria kembali menghubungi Rian.
Namun sayang, nomor Rian tak bisa dihubungi saat ini. Karena sedang berada dalam panggilan lain.
"Lagi telponan sama siapa?" Batin Satria.
Sementara di lain tempat, ponsel Rian yang tidak bisa dihubungi itu ternyata sedang menerima panggilan video dari Melisa. Setiap hari, Melisa selalu menghubungi bu Lastri. Entah mengapa gadis itu merasa sangat rindu dengan sosok ibu angkatnya itu.
"Ibu hati-hati ya di jalan, aku baru akan pulang besok lusa. Ibu mau oleh-oleh apa?" Tanya Melisa.
"Duh, apa aja deh terserah nak Melisa. Tapi beliinnya jangan banyak-banyak kaya kemaren ya," jawab bu Lastri.
"Kenapa bu?"
"Ibu ga enak, jadi ngabisin uang kamu."
"Ga papa bu, karena sekarang aku lagi liburan sama ayah. Jadi ayah yang akan bayarin," Melisa terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Wah, ibu jadi makin ga enak nih. Udahlah ga usah beliin ibu apa-apa. Mmm... ibu cuma mau dibawain bunga aja nanti."
"Bunga? Bunga apa bu? Bunga yang ada di sini?"
__ADS_1
"Apa aja, yang wangi pokoknya," ucap bu Lastri seraya tersenyum pada Melisa.
"Oke deh, nanti aku bawain bunga ke rumah ibu."
Bu Lastri memandangi wajah Melisa, gadis yang sangat menyukai putranya itu tampak sangat cantik. Bu Lastri merasa beruntung jika suatu saat Satria bisa mempersunting Melisa menjadi istrinya.
"Nak Melisa, kamu dan Satria baik-baik aja kan? Kalian gak lagi berantem kan?" Tanya bu Lastri tiba-tiba.
"Mmm... Kami baik-baik saja bu, kenapa ibu tanya begitu?" Melisa berbohong.
"Ibu pikir kalian bertengkar, soalnya kamu sudah lama ga main ke rumah. Dan lagi liburan kali ini kamu juga ga ikut Satria dan yang lainnya, jadi ibu pikir kalian bertengkar."
"Gak kok bu, kita berdua memang sama-sama sibuk aja. Aku bukannya ga mau ikut Satria, tapi ayahku sudah terlanjur memesan tiket untuk berlibur berdua saja. Sebenarnya aku ingin mengajak Satria ke sini, tapi Satria kan masih harus mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas ternama itu. Jadi mungkin lain kali aku akan ajak Satria ke tempat ini," ucap Melisa menenangkan bu Lastri.
"Syukurlah jika memang begitu, ibu harap kamu bisa memaklumi kesibukan Satria ya. Ibu senang sekali, melihat kamu begitu memperhatikan Satria. Ibu harap, kamu dan Satria bisa berjodoh," bu Lastri tersenyum menatap Melisa.
Sebenarnya Melisa ingin sekali menangis dan mengadukan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Satria. Namun melihat senyuman di wajah bu Lastri, Melisa menahannya karena tak tega untuk mengatakannya
"Sampai jumpa lagi ya nak Melisa. Ibu harap kamu selalu sehat dan selalu dikelilingi orang-orang baik. Meski tak selalu bersama Satria, ibu harap hubungan kalian baik-baik saja. Sampaikan salam ibu sama ayahmu ya nak," lanjut bu Lastri.
"Ibu sayang banget sama kamu," ucap bu Lastri sebelum benar-benar mematikan sambungan teleponnya.
Air mata Melisa tumpah setelah panggilan itu berakhir. Entah mengapa ia merasa sangat sedih karena bu Lastri mematikan panggilannya terlebih dahulu, padahal masih banyak hal yang ingin Melisa katakan pada bu Lastri.
Pukul sebelas siang, waktu yang sebelumnya ditentukan sebagai jadwal keberangkatan pesawat terpaksa di tunda karena cuaca yang semakin buruk. Satria kembali menghubungi Rian untuk mengabari tentang jadwal pulangnya yang terlambat.
"Halo kak? Bagaimana Sudah mau berangkat?" Tanya Rian saat telepon sudah terhubung.
"Belum dek, penerbangannya di tunda," jawab Rian.
"Loh kenapa kak?"
"Cuaca di sini tiba-tiba memburuk. Apa di sana baik-baik saja?"
__ADS_1
"Di sini juga mendung kak, sebentar lagi kami sampai di kota A. Ya sudah kakak kabari saja ya jika sudah mau berangkat," ucap Rian.
"Iya, hati-hati di jalan ya dek."
"Iya kak, kakak juga jaga diri ya. Sampai jumpa lagi," sambungan telepon terputus.
Satria merasa heran mengapa adiknya berkata demikian, tidak biasanya Rian berkata seperti itu saat mereka sedang terpisah jauh. Ada firasat tak enak yang dirasakan oleh Satria saat itu, hatinya mendadak gelisah.
Belum lagi penerbangan yang di tunda karena cuaca yang semakin siang semakin buruk. Satria berusaha menenangkan hatinya, setidaknya tadi Rian bilang mereka sudah hampir sampai.
Mungkin saat ini, waktu di tempat Rian sudah hampir sore. Satria memperkirakan keluarganya akan tiba di rumah sebelum malam hari.
Melihat Satria yang gelisah, Natasya segera menghampirinya.
"Kau tak perlu khawatir, cuaca buruk memang sering terjadi pada bulan-bulan ini," tangan Natasya menggenggam tangan Satria.
Dengan gerak reflek, Satria segera menariknya. Satria menoleh ke kanan dan kiri, khawatir Mia dan Astrid melihatnya. Untung saja mereka tidak ada di sana saat itu.
"Kamu pasti melamun sejak tadi, Mia dan Astrid sedang berbelanja makanan di sana," Natasya menunjuk sebuah toko oleh-oleh yang terdapat di dalam bandara.
"Tapi tetap saja nyonya, anda sudah berjanji tak akan begini padaku."
"Baiklah Satria, kenapa kau kejam sekali padaku," gerutu Natasya.
"Maaf nyonya, tapi firasat saya sedang tidak enak. Saya memikirkan keluarga saya," Satria nampak sangat cemas.
"Bukankah baru saja kamu menghubungi adikmu?"
"Iya nyonya, tapi entah mengapa saya merasa semakin gelisah setelah menghubunginya. Apa penundaan penerbangan ini akan sangat lama?"
"Tergantung cuaca, jika masih begini terus bisa sampai besok kita menunggu di sini," jawab Natasya.
Satria menghela nafas. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah dan bertemu dengan keluarganya.
__ADS_1
Satria melihat ke arah langit di luar jendela yang tengah gelap karena mendung. Firasatnya terus mengatakan hal yang tidak baik akan terjadi padanya.
"Semoga penerbangan kali ini baik-baik saja, kami bisa selamat sampai tujuan," batin Satria