Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Isi Hati Natasya


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Melisa tidak menemukan keberadaan Natasya.


"Sepertinya ibumu sudah pergi," ucap Bobi.


"Ayo kita ganti kode sandi pintu masuk, biar wanita itu tidak bisa keluar masuk seenaknya," Melisa berjalan ke arah pintu dan mengganti kodenya.


Ponsel Melisa berdering, pak Gunawan yang menelepon.


"Halo ayah," Melisa menyapa ayahnya.


"Kamu dimana Mel? Fredy bilang mau nyusul ayah ke sini?" Pak Gunawan.


"Maaf yah, aku ga jadi ke sana. Sekarang aku ada di rumah sama kak Bobi," Melisa.


"Ibu kamu?" Pak Gunawan.


"Entahlah, mungkin sudah pergi..." Melisa.


"Maafin ayah Mel, ayah tak pernah memberi tahu hal ini padamu. Karena ayah takut kamu akan membencinya," pak Gunawan.


"Aku memang membencinya yah, selama ini aku memang sudah membencinya. Hanya saja ku pikir wanita itu punya sedikit rasa sayang padaku, sehingga aku menahannya tak sampai hati untuk menyakitinya. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa aku dicintai oleh orang tuaku. Tapi mengetahui bahwa kehadiranku hanya untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaanku membuatku semakin membencinya," Melisa.


"Maafkan ayah Mel, ayah benar-benar minta maaf," pak Gunawan merasa sangat bersalah pada putri semata wayangnya itu.


"Aku tidak marah pada ayah," Melisa.


"Tapi ayah tetap merasa bersalah," pak Gunawan.


"Kalau ayah memang merasa bersalah, ceraikan wanita itu sekarang juga," pinta Melisa.


"Ayah memang berniat akan menceraikannya Mel, tapi saat ini ayah dan Fredy masih sibuk. Minggu depan ayah akan kembali dan segera mengurus perceraian," pak Gunawan.


"Baiklah," Melisa menutup sambungan telepon itu. Ia menoleh ke arah Bobi yang terlihat sudah sangat lelah.


"Ayo Mel, kita istirahat dulu. Udah ngantuk banget ini," Bobi memelas pada Melisa.


Melisa mengangguk. Ia berjalan menuju sofa, membaringkan diri di sana. Matanya perlahan terpejam. Ia memang lelah. Tak lama ia pun tertidur.


Bobi juga sudah ikut terlelap di sebelah Melisa.


...***...


Di sisi lain, Gunawan yang merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa putrinya mencoba berpikir tenang.


"Apa sebaiknya kita percepat saja Fredy?" Gunawan meminta saran pada Fredy.


"Memang lebih cepat lebih baik, tapi apa tuan sudah memikirkan efek samping yang mungkin akan terjadi nanti? Dan apa tuan sudah memikirkannya bagaimana nanti akan menangani itu?" Fredy.


"Entahlah, aku tak bisa berpikir jernih saat ini. Tapi yang pasti aku tak tega melihat Melisa menderita," Gunawan.


"Baiklah, jika memang tuan sudah membuat keputusan. Saya akan atur ulang jadwal tuan," Fredy.

__ADS_1


"Atur ulang jadwal hari sampai besok, dan segera pesankan tiket pesawat. Kita pulang hari ini, aku ingin bertemu dengan Melisa," perintah Gunawan.


Fredy mengangguk, ia segera keluar dari ruangan Gunawan. Mengatur ulang jadwal mereka hari ini dan besok.


Setelah Fredy pergi, Gunawan mengambil ponselnya. Ia mencoba menghubungi Natasya, namun teleponnya tak kunjung diterima oleh wanita itu.


Ia mencoba sekali lagi menelpon Natasya, menunggu dengan sabar mungkin saja Natasya memang sedang sibuk pagi itu. Hingga akhirnya, seseorang menjawab teleponnya.


"Halo..." Terdengar suara berat seorang pria di sana.


Gunawan diam sejenak, "Steve?"


"Iya?"


"Natasya mana?" Tanya Gunawan.


"Ah, dia sedang mandi. Ada apa?" Steve.


"Kau bersamanya semalam?" Gunawan.


"Tidak, sekitar jam tiga dia menghubungiku dan memintaku untuk menjemputnya di rumah anaknya," Steve.


Gunawan mengangguk. "Kalian dimana?"


"Kami di penginapan," Steve.


"Di kota A?" Gunawan.


"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" Gunawan.


"Tidak, dia hanya tertawa sesekali. Aku bertanya apa yang terjadi tapi dia tidak menjawab," Steve.


"Baiklah, sampaikan saja padanya hari ini aku akan ke kota A dan aku ingin menemuinya," Gunawan.


"Hanya itu?" Steve.


"Ya, hanya itu," Gunawan lalu memutuskan sambungan teleponnya.


"Memang sebaiknya kita segera bercerai," gumam Gunawan.


Setelah mematikan ponselnya Steve merebahkan dirinya di atas ranjang. Menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Tak lama pintu itu terbuka, Natasya keluar hanya dengan berbalut sehelai handuk yang menutupi tubuhnya.


"Suamimu menelpon," Steve menatap Natasya dengan wajah sedih.


"Gunawan?" Tanya Natasya.


"Mmm..."


Natasya menyeringai, "ternyata Melisa sudah memberi tau ayahnya, aku penasaran apa yang dia katakan pada Gunawan."

__ADS_1


"Dia ingin bertemu denganmu," Steve bangun dari tidurnya. Ia kini duduk di tepian ranjang menatap kekasihnya yang sedang mengeringkan rambut.


Natasya menoleh, "itukah yang membuat wajahmu muram?"


Steve tak menjawab, ia masih menatap Natasya dengan wajah muramnya.


"Sudah lama aku memang tak bertemu dengannya, aku penasaran apa yang akan dia katakan padaku?" Natasya terkekeh membayangkan mungkin saja Gunawan akan murka karena sudah menyakiti anaknya, atau mungkin juga Gunawan akan bersujud memohon padanya seperti dulu agar ia tak lagi menyakiti Melisa dan memperlakukan Melisa dengan baik.


"Memang apa yang harus aku lakukan sebagai seorang ibu? Jika dia tak patuh padaku, bukannya aku harus memberinya pelajaran?" Gumam Natasya.


Steve menghampiri Natasya, memijat lembut pundak Natasya yang masih terbuka lebar.


"Tidak bisakah kalian bercerai saja?" Tanya Steve.


"Kenapa? Kau cemburu aku akan bertemu dengannya?" Natasya menatap mata Steve dari cermin.


Steve mengangguk.


"Ayolah sayang, hubunganku dengan laki-laki itu hanya sebuah status," Natasya memegang jemari Steve. Meyakinkan pria di belakangnya bahwa ia tak memiliki perasaan apapun pada Gunawan.


"Tetap saja, aku tak suka..." gerutu Steve. "Aku bisa saja menerima Melisa, tapi tidak dengan dia. Bukankah sudah cukup waktu kalian untuk menjadi suami istri? Melisa sudah besar, bukankah kalian bisa bercerai sekarang?"


"Kau mau menerima Melisa?" Natasya menghentikan aktivitasnya. Iya meletakkan pengering rambut dan kemudian berdiri menghadap Steve.


Steve mengangguk, "dia anakmu, tentu saja aku akan menerimanya."


Natasya tertawa, "aku yang ibunya saja tidak bisa menerimanya, bagaimana bisa kau yang bukan siapa-siapanya akan bisa menerima Melisa?"


Steve membelai rambut Natasya menatap mata wanita itu dengan lembut, "kenapa kau tak bisa menerima anakmu sendiri?"


"Dia sudah membuatku menderita, 9 bulan dia berada dalam perutku sungguh menyiksa. Dan saat aku mengeluarkannya ke dunia ini, kau tak tau betapa sakitnya itu? Karena anak itu tubuhku sakit, karena anak itu aku menderita. Lalu setelah penderitaan itu? Apa aku juga harus berbelas kasih kepadanya?" Natasya meluapkan amarahnya di depan Steve.


Steve menarik tubuh Natasya, ia memeluk Natasya ke dalam dekapannya.


"Bukankah memang seperti itu menjadi seorang ibu?" Steve kembali mengusap rambut Natasya dengan lembut.


"Aku tidak mau jadi seorang ibu, buat apa aku harus menderita demi seseorang yang bahkan tidak tau balas budi padaku?" Natasya menatap mata Steve, "apa aku salah?"


Steve tak menjawab. Ia menatap lembut mata kekasihnya itu.


"Jadi aku tak akan pernah bisa memiliki anak darimu?" Batin Steve.


"Akhir-akhir ini anak itu mulai membangkang, dia sekarang sudah punya teman yang mempengaruhinya. Dia bahkan dekat dengan laki-laki yang bukan levelnya." Natasya melepaskan pelukan Steve, ia menatap mata lelaki yang sudah bertahun-tahun menjadi kekasihnya. "Bukankah ia harus ku beri pelajaran?"


"Pelajaran?" Steve mengernyitkan dahinya.


"Iya, jika dia ingin mendapatkan kasih sayangku bukankah dia harus menurut padaku? Jika dia tidak menurut bukankah harus aku beri pelajaran? Ah, atau aku beri hukuman?" Natasya menatap Steve dengan harapan dia akan memberi jawaban yang memuaskan.


"Kau tidak harus seperti itu, bukankah dengan tidak adanya dirimu di sisinya sudah membuatnya menderita? Haruskah kau menambahkannya lagi?" Steve mencoba menasihati Natasya.


Ekspresi Natasya seketika berubah, ia menatap sinis pada Steve. "Tentu saja, bagiku itu tidak cukup. Kau tak usah membelanya di hadapanku, karena kau tak punya hubungan apa-apa dengan anak itu."

__ADS_1


Natasya meninggalkan Steve yang masih berdiri mematung, ia segera mengenakan pakaiannya dan pergi keluar kamar.


__ADS_2