Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kembali berpisah


__ADS_3

Setelah pesta pernikahan Natasya dan Steve yang megah itu berakhir. Semua sibuk ke rutinitas masing-masing.


Natasya yang kini selalu ditemani oleh Steve kemanapun ia pergi, masih menjalani aktivitas seperti biasa sebagai ketua yayasan. Dia mengunjungi semua sekolah Puspa Tunggal setiap hari di berbagai daerah.


Dan semakin hari tubuhnya semakin lemah, penyakit yang dideritanya semakin parah. Namun Natasya tetap bersikukuh untuk tidak melakukan pengobatan.


Di sekolah, SMA Puspa Tunggal di kota A. Natasya bertemu dengan bu Desty dan juga Mia.


"Kenapa kau tetap bersikukuh untuk tidak melakukan pengobatan? Apa kau tak kasihan dengan Melisa dan Satria? Mereka masih sangat membutuhkanmu," ucap Desty yang kini dipercaya menjabat sebagai kepala sekolah SMA Puspa Tunggal.


"Sudahlah Des, kau berjanji tak akan mengatakan apapun soal pengobatan. Aku muak! Lagi pula Melisa dan Satria sudah dewasa, mereka bisa mengurus diri mereka masing-masing," jawab Natasya.


"Terserah kau sajalah, aku hanya belum siap jika harus kehilangan kamu," Desty menatap sedih pada Natasya.


"Sakit tidak sakit, semua juga pasti akan mati. Aku yang kelihatan sakit belum tentu umurnya akan lebih pendek darimu," Natasya menasihati Desty.


Sementara itu, Mia yang ada diantara mereka hanya terdiam. Ia juga ingin meminta Natasya untuk berobat, namun jika sahabatnya atau keluarganya saja yang meminta tak ia tanggapi apalagi dirinya.


"Sudahlah, jangan bahas soal penyakit ku lagi! Aku kesini mau memberi tau padamu Mia, kau pindah lah ke SMP Puspa Tunggal. Aku ingin mempercayakan sekolah itu padamu!"


"Saya nyonya?" Mia tak percaya.


"Iya, kau jadilah kepala sekolah di sana. Des, aku harap kau mau membantu Mia untuk membuat sekolah itu jadi semakin baik," pinta Natasya.


"Tentu saja, Mia kurasa kau sudah cocok untuk menjadi kepala sekolah. Terimalah tawaran itu, kesempatan tidak akan datang dua kali," saran Desty.


"Apakah nyonya yakin? Saya mampu memegang jabatan itu?" Mia tampak ragu.


"Tentu saja!" Jawab Natasya dan Desty kompak.


"Baiklah, jika memang nyonya Natasya dan bu Desty yakin saya bisa. Saya akan siap menjalankan tugas ini," Mia merasa semakin semangat karena mendapat dukungan dari dua wanita hebat di hadapannya itu.


Natasya merasa sangat lega, ia akhirnya bisa memberikan sekolah pada orang-orang kepercayaannya. Sebelum ia pergi meninggalkan dunia ini, ia harus yakin bahwa orang-orang yang nantinya memegang jabatan adalah orang yang tepat.


Setelah selesai dengan urusan di sekolah, Natasya bersama Steve menuju kantor notaris. Natasya ingin membuat wasiat selagi ia masih sempat.


Sementara itu, Satria kini tengah bersiap untuk kembali ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Dan Melisa juga mulai sibuk dengan urusan perusahaan, seorang diri tanpa Fredy yang membantunya. Melisa hanya mengangkat seseorang yang dirasa sudah sangat lama bekerja di sana dan dirasa cukup kompeten untuk menjadi sekertarisnya.

__ADS_1


Dua hari berlalu, Satria kini sudah siap untuk berangkat kembali ke negara tempatnya melanjutkan kuliah. Natasya menggelar acara makan malam bersama sebelum Satria pergi.


Acara makan malam sederhana keluarga kecil yang nampak sangat harmonis. Mereka berempat menikmati momen kebersamaan ini.


"Kamu yakin gak akan pulang sebelum lulus?" Tanya Natasya.


"Iya bu," jawab Satria singkat.


"Apa kamu tidak akan rindu pada Melisa?"


"Rindu itu pasti, tapi aku harus selesaikan dulu sekolahku setelah itu baru aku akan fokus pada kisah cintaku," ucap Satria sambil menatap Melisa dengan hangat.


Melisa tersenyum, ia sudah hafal tipikal Satria yang memang mementingkan sekolah dan karir dibanding percintaan. Bukan karena Satria tak menyayanginya, tapi bagi Satria ini adalah waktu yang tepat untuk Satria meningkatkan skill dirinya untuk menjadi lebih baik lagi.


Setelah dirinya semakin baik nanti, Satria tentu akan semakin siap untuk menjadi suami yang baik untuk Melisa.


"Kamu gak apa-apa Mel?" Kali ini Natasya bertanya pada Melisa.


"Tidak apa mah, lagi pula aku juga akan sibuk mengurus perusahaan tanpa ayah, tanpa Fredy," jawab Melisa.


"Oh iya, apa Gunawan sering mengabari kamu?"


Foto-foto kemesraan Gunawan dan Silvana yang tak pernah absen untuk masuk ke ponsel Melisa setiap hari. Melisa bersyukur, setidaknya Silvana sudah membuat ayahnya berubah menjadi lebih baik.


"Apa kau tak mengatakan bahwa aku akan melamarmu?" Tanya Satria pada Melisa.


"Sudah," Melisa mengangguk.


"Lalu apa responnya?"


"Dia bilang menikah saja, tapi dia tak akan datang."


"Kenapa?"


"Dia tak akan kembali ke negara ini," hanya itu yang bisa Melisa katakan.


"Kalau begitu kalian menikahlah di tempat Gunawan berada," usul Steve.

__ADS_1


"Tak masalah," ucap Satria.


Melisa sebenarnya merasa keberatan dengan usul Steve, ia lebih memilih untuk menikah tanpa kehadiran Gunawan. Ia tau, sebenarnya ayahnya merasa bersalah pada Satria, namun gengsinya terlalu tinggi hingga sulit untuknya meminta maaf.


...***...


Keesokan harinya, mereka semua mengantar Satria ke bandara.


Natasya memeluk Satria sangat erat, ia merasa berat melepas kepergian putra angkatnya itu. Entah mengapa Natasya merasa itu adalah pertemuan terakhir mereka.


Natasya bahkan menangis dalam pelukan Satria, rasanya ia tak mau melepas Satria saat ini dan melarangnya untuk melanjutkan sekolahnya. Namun ia tak mau egois, Satria harus mengasah kemampuannya agar siap menggantikannya sebagai ketua yayasan Puspa Tunggal.


Setelah beberapa saat, Natasya akhirnya melepas pelukannya.


"Jika aku meninggal nanti dan kau masih belum selesai kuliah, tetaplah di sana. Tidak perlu pulang," pesan Natasya.


"Kenapa?" Tanya Satria bingung.


"Karena aku tak mau melihatmu bersedih. Jadi tetaplah di sana seolah tak ada apapun yang terjadi padaku," ucap Natasya seraya menghapus air matanya.


Satria hanya terdiam, ia tau suatu saat hal itu mungkin saja akan terjadi. Namun ia tak mau mengiyakan permintaan Natasya itu.


Kini Satria beralih ke Steve, sosok yang kini sudah menjadi ayah angkatnya. Steve memeluk Satria dan menepuk punggungnya, seolah memberi semangat untuk terus menjadi seseorang yang lebih baik.


Dan terakhir, Satria beralih pada Melisa. Gadis itu sudah menangis sejak tadi, meski ia mengizinkan Satria untuk pergi namun tetap ia merasa berat ditinggalkan oleh Satria.


Bahkan Satria tak berniat untuk pulang sampai kuliahnya selesai.


"Mel, kau berjanji tak akan menangis," ucap Satria sambil mengusap air mata Melisa.


"Apa kau yakin tak akan pulang sampai kuliahmu selesai?"


"Iya, maafkan aku Mel. Aku tak ingin kita terus-terusan mengalami hal ini jika aku pulang."


"Hal apa?"


"Kau mengantarku ke bandara dengan tangisan. Cukup satu kali ini saja, karena aku tak sanggup melihatnya," jawab Satria dengan tatapan hangatnya.

__ADS_1


Melisa memeluk Satria dengan erat, ia tau Satria memang sangat menyayangi dirinya. Namun ia bukan orang yang akan hanyut dalam perasaan, Satria selalu berpikir logis. Maka dari itu, Satria memilih untuk berpisah sementara demi menjadi seseorang yang kelak akan pantas untuk Melisa.


__ADS_2