Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kecewa


__ADS_3

Melisa sangat kecewa pada ayahnya, air matanya mengalir begitu saja di pipinya.


“Kau berjanji tak akan marah pada ayah,” Gunawan dengan tidak tau malunya mengatakan hal itu.


Melisa tertawa kecil, ia menghapus air mata yang terus mengalir tanpa mau dibendung.


“Kau memang luar biasa ayah, aku bahkan merasa sangat malu pada ibuku karena tak mempercayai ucapannya saat itu.”


“Kau masih berhubungan dengan Satria?” Selidik Gunawan.


“Kenapa? Kau mau membunuhnya?” Melisa menatap sinis.


“Ayolah Mel, ayah tidak sengaja. Ayah mana tau kalau kecelakaan seperti itu akan menewaskan mereka?”


Melisa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ayahnya.


“Apa kau tak merasa menyesal ayah?”


Gunawan terdiam sejenak.


“Tidak, yang penting bagi ayah adalah dirimu. Ayah harus menjauhkan hal-hal yang buruk bagimu,” jawab Gunawan dengan wajah datar.


Melisa tak percaya dengan jawaban ayahnya. Selama ini ia menahannya untuk tak bertanya pada ayahnya mengenai peristiwa itu. Karena Melisa sangat takut ayahnya akan membuatnya kecewa seperti saat ini.


Melisa menundukkan wajahnya, ia merasa sudah tak punya keberanian untuk bertemu dengan Satria. Bagaimana bisa ia menghadapi Satria nanti, sedangkan ayahnya lah dalang dibalik kematian keluarga Satria.


“Ayah, aku lelah. Aku ingin istirahat. Aku harap ayah segera menemui tante Silvana dan menikahinya,” Melisa meninggalkan ayahnya yang masih terus menatap serius ke arah Melisa.


Dalam raut wajah Gunawan, sama sekali tak ada rasa penyesalan. Yang ada, Gunawan malah merasa sangat lega. Ia tersenyum dengan senang.


“Jika begini, kamu pasti tak akan mau mendekati laki-laki itu karena malu kan?” Gumam Gunawan saat Melisa sudah tak terlihat lagi oleh pandangan matanya.


***


Keesokan harinya, Melisa sudah mulai mengikuti jadwal yang diberikan oleh Fredy. Mulai dari berkunjung ke semua cabang dan juga anak perusahaan, hingga berkenalan dengan para pejabat perusahaan.

__ADS_1


Fredy mengenalkan Melisa sebagai pengganti Gunawan. Gunawan memang sudah pernah membahas tentang dirinya yang akan digantikan oleh putrinya oleh para pemegang saham. Dan kini Melisa hanya tinggal bertemu secara langsung dengan para petinggi itu untuk sekedar mengucapkan salam.


Semua jadwal Melisa lakukan tanpa mengeluh ataupun protes. Namun hal ini membuat Fredy khawatir. Tidak biasanya Melisa yang dikenal sangat dingin dan angkuh, kini bisa terus-terusan memasang wajah ramah pada semua orang yang ia temui hari ini.


“Kamu baik-baik saja Mel?” Tanya Fredy di sela-sela istirahat mereka.


“Mmm... aku baik-baik saja,” jawab Melisa.


Tapi entah mengapa Fredy merasa Melisa sangat tidak baik-baik saja.


“Apa lagi jadwalku hari ini?”


“Untuk urusan perusahaan sudah selesai semua nona, sekarang saatnya anda mengerjakan skripsi anda. Biar saya bantu!”


“Tidak perlu, aku bisa mengerjakannya sendiri nanti di rumah,” tolak Melisa.


Fredy hanya menurut tanpa berkomentar apapun.


Hari sudah sangat gelap, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Melisa sudah sampai di rumahnya, diantar Fredy.


“Mmm...” Melisa merasa sangat malas menjawab pertanyaan ayahnya.


Sejak tadi malam, saat semua yang Melisa khawatirkan akhirnya terjawab. Melisa mulai menjaga jarak komunikasi dengan ayahnya. Namun meski begitu, Melisa tetap menuruti permintaan ayahnya menggantikannya menjadi pimpinan Laksmana Grup.


“Ini, kenalkan. Dia adalah Widia, calon adik tirimu,” Gunawan memperkenalkan seorang gadis yang berdiri di belakangnya.


“Hai…” Sapa gadis itu, tubuhnya sangat kurus itu. Tingginya mungkin hanya sekitar 150cm saja, namun kulitnya sangat putih. Wajahnya mungil, tapi tidak cantik bagi Melisa.


Melisa hanya tersenyum singkat, ia lalu meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Melisa nampak sangat tak peduli dengan siapapun saat ini. Sampai di dalam kamar, Melisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memejamkan matanya berusaha untuk segera tertidur, namun gagal. Ada banyak sekali hal yang ada dalam pikirannya, hingga membuatnya sulit memejamkan mata.


Melisa akhirnya memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum tidur. Namun usahanya sia-sia, ia masih saja tak bisa memejamkan matanya. Padahal tubuhnya sangat lelah, namun matanya seakan memaksanya untuk tetap terjaga.


Karena tak bisa juga memejamkan matanya, Melisa memutuskan untuk mulai mengerjakan skripsinya.


Tak terasa, waktu terus berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Akhirnya rasa kantuk yang teramat sangat kini menyerang Melisa. Ia tertidur dengan laptopnya yang masih menyala.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


Suara pintu diketuk membangunkan Melisa. Ia menatap sekeliling dan dilihatnya jam yang tergantung di dinding kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Melisa segera berdiri dan berlari menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


Tok... Tok... Tok...


“Kak Melisa,” suara seorang gadis terdengar dari balik pintu. Namun Melisa mengabaikannya saja, ia tak peduli dengan gadis itu. Yang ia tau saat ini ia sedang kesiangan, sehingga harus segera mandi dan bersiap untuk berangkat kerja.


Karena tak mendapat jawaban apapun dari dalam, Widia akhirnya menyerah dan meninggalkan kamar Melisa.


“Bagaimana? Apa Melisa masih tidur?” Tanya Gunawan pada Widia.


“Sepertinya begitu tuan, aku tak mendengar suara apapun di dalam.”


“Widia, sudah ku katakan berulang kali. Berhenti memanggilku tuan, panggil saja aku ayah,” pinta Gunawan.


Widia tersenyum. “Baik ayah,” ucapnya dengan canggung.


Tanpa disadari, Melisa sudah berdiri di belakang Widia. Ia menatap tajam pada ayahnya.


“Melisa, kau sudah bangun? Kemarilah, ayah sudah siapkan sarapan untukmu. Oh iya, Fredy sudah menunggumu di depan,” Gunawan menarik kursi agar Melisa bisa duduk di sana untuk menikmati sarapannya.


“Aku tak lapar, lagi pula aku sudah sangat terlambat,” Melisa melengos begitu saja.


Gunawan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, namun dari wajahnya terlihat ekspresi bangga pada Melisa. Sejatinya, Gunawan memang menyukai sikap Melisa yang dingin itu. Dibanding saat beberapa tahun terakhir, sikap Melisa yang selalu tersenyum dan nampak ceria membuat Gunawan merasa khawatir.


“Apa kak Melisa baik-baik saja? Dia tampak sangat lelah?”


“Dia baik-baik saja, ayo kita sarapan dulu!” Gunawan sudah duduk di kursi yang tadi ia tarik. Ia juga meminta Widia untuk segera sarapan.


Sementara itu, di dalam mobil Melisa sibuk mempelajari berkas-berkas yang diberikan Fredy padanya. Semua berkas itu berisi daftar nama klien dan juga mitra bisnis perusahaan. Hari ini jadwal Melisa untuk mengunjungi beberapa klien dan juga mitra perusahaan.


“Fredy, apa kau bisa kosongkan jadwalku dua hari saja? Aku harus segera menyelesaikan skripsiku, karena bulan depan ada jadwal wisuda,” pinta Melisa.


“Baik nona, nanti akan saya atur jadwal anda agar anda bisa segera menyelesaikan skripsi anda,” jawab Fredy.

__ADS_1


Melisa memang pulang ke kota A sebelum waktunya libur. Ini semua karena permintaan dari Gunawan, padahal skripsi Melisa sudah 50% hampir selesai. Tapi Gunawan tetap memaksa agar Melisa pulang, karena ia akan mencari kekasihnya yang sudah sangat lama ia rindukan.


__ADS_2