
Melisa setelah mendapat telepon dari Satria, ia segera mencari paman dan bibi. Namun sosok paman tak juga ia temukan, Melisa hanya melihat bibi di teras rumah yang mondar mandir dengan wajah panik.
"Bi, paman mana?" Tanta Melisa.
"Paman sedang ke kantor polisi nak," jawab bibi.
"Apa bibi bisa menghubungi paman? Ada pesan yang dari Satria yang harus ku sampaikan," ucap Melisa.
"Sebentar ya," bibi mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi paman.
"Tapi suamimu ada dimana Mel?" Tanya bibi dengan khawatir.
"Entahlah bi," Melisa sendiri tak tau Satria saat ini berada dimana.
Setelah telepon tersambung, bibi segera menyerahkannya pada Melisa.
"Paman?"
"Iya nak Melisa, ada apa?"
"Paman, aku mendapat pesan dari Satria. Paman sekarang harus ke rumah orang tua Vino."
"Ke rumah orang tua Vino?"
"Iya paman, paman ajak juga beberapa polisi dan juga beberapa warga."
"Baiklah Melisa, kebetulan paman baru saja membuat laporan ke kepolisian tentang pembakaran tenda. Paman dan para polisi akan segera ke rumah Vino untuk mencarinya," paman pun segera menutup sambungan teleponnya.
"Apa Satria hanya berkata begitu?" Tanya bibi khawatir.
"Tidak bi, setelah ini Satria akan melakukan panggilan video padaku. Dan tugasku adalah merekamnya," jawab Melisa.
"Syukurlah, bibi khawatir jika hanya menghubungi orang tuanya saja mereka tidak akan mau menerima anaknya disalahkan. Mereka orang berduit jadi mereka akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan anaknya, bahkan rasanya percuma jika melapor ke polisi. Karena sepertinya mereka punya kenalan orang berkuasa di kepolisian," cerita bibi.
Melisa terdiam.
"Orang dalam kepolisian?" Batin Melisa.
Melisa menyeringai.
"Kalau orang dalam aku juga punya," gumam Melisa.
Melisa pun berjalan keluar rumah, ia menerima pesan dari Satria yang berisikan titik lokasi dimana dirinya berada saat ini.
"Nak Melisa, kamu mau kemana?" Teriak bibi yang melihat Melisa pergi begitu saja.
"Menjemput suamiku bi," jawab Melisa sambil melambaikan tangannya.
Bibi ingin mengejar Melisa, namun langkah kaki Melisa terlalu cepat. Di perjalanan, Melisa menghubungi ayahnya.
__ADS_1
"Ada apa Mel? Kamu ada dimana itu?" Tanya Gunawan. Melisa sengaja melakukan panggilan video agar ayahnya bisa melihat apa yang terjadi.
"Seseorang menghancurkan pesta pernikahanku yah, dia orang yang iri karena Satria sudah sukses sekarang. Tapi dia bukan orang sembarangan, katanya dia memiliki seseorang di kepolisian. Sehingga dia jadi kebal hukum."
"Siapa dia? Lalu dimana Satria sekarang?"
"Satria sedang di culik, ayah aku butuh bantuanmu. Apa kau sudah tak lagi memperkerjakan seseorang untuk membuntuti ku?"
Gunawan terdiam, ia tak tau kalau Melisa ternyata tau bahwa ia mengirim seseorang untuk membuntutinya selama ini.
"Baiklah, katakan saja lokasimu dimana. Aku akan kirimkan segera orang-orang ku ke sana," ucap Gunawan.
Melisa pun mematikan sambungan teleponnya, ia mengirimkan lokasi yang telah Satria berikan padanya ke Gunawan. Sambil menunggu panggilan video, Melisa terus berjalan mengikuti instruksi dari ponselnya menuju tempat Satria berada.
Di tempat lain, Gunawan yang baru saja mendapat panggilan dari Melisa tentu merasa geram.
"Siapa orang yang berani-beraninya mengganggu kebahagiaan putriku?" Ucap Gunawan dengan geram.
Ia lalu menghubungi anak buahnya, dan memintanya datang ke titik lokasi yang tadi dikirimkan Melisa.
Sebenarnya Gunawan sudah tak lagi mengirim mata-mata untuk mengawasi Melisa. Namun ia tetap menaruh beberapa anak buahnya di kota dimana Melisa berada.
Meski ia tak pernah menyangka hal ini kan terjadi, namun setidaknya Gunawan merasa lega karena akhirnya anak buahnya busa berguna juga.
Dengan cepat, anak buah Gunawan datang ke titik lokasi.
Tangkap dia yang katanya kebal hukum itu. Dia telah mengganggu kebahagiaan putri semata wayangku!
Isi pesan Gunawan pada Bob. Gunawan juga mengirimkan Lokasi dimana Satria berada.
Kembali ke Satria, saat ini ia tengah berhadapan dengan beberapa orang anak buah Vino. Satria memang tak bisa berkelahi, ia hanya menghindari pukulan dan membalas dengan kayu yang dipegangnya.
Negosiasi dengan Vino gagal. Ia tak menyangka Vino memberikan harga sangat tinggi untuk tiga orang gadis yang ingin ia selamatkan itu.
"Sudahlah Satria, menyerahlah... Kau pikir kau bisa menghadapi anak buah ku?"
Vino masih berusaha untuk negosiasi.
"Kau tunggulah Vino, polisi sedang dalam perjalanan menuju rumahmu!"
"Apa? Polisi? Hahaha... Kau pikir aku akan takut? Kau sepertinya tak tau siapa aku, polisi tak akan bisa menangkapku!" Vino dengan sombongnya tertawa terbahak-bahak.
Satria terdiam, ia mencerna perkataan Vino yang mengatakan bahwa polisi tak bisa menangkapnya. Ia jadi cemas, karena mungkin saja rencananya untuk membawa polisi juga adalah hal yang salah.
Karena Satria terus melamun, tanpa ia sadari salah satu anak buah Vino sudah berhasil memeganginya. Anak buah yang lain datang dan ingin menghajar Satria.
"Tunggu... Tunggu..." Pinta Satria.
Anak buah Vino yang hendak memukul pun jadi terhenti, ia menoleh ke arah Vino meminta persetujuan untuk melanjutkan aksinya.
__ADS_1
Namun belum sempat mendapat persetujuan apapun dari Vino Satria segera memotongnya.
"Kalian boleh memukulku, tapi tolong jangan di wajahku!" Tawar Satria.
"Hahaha... Disaat seperti ini pun kau masih mementingkan wajahmu? Hajar saja dia!" Perintah Vino.
Anak buah Vino pun langsung menghajar Satria. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menutupi wajahnya. Karena ia masih harus mengadakan resepsi pernikahan Lusa.
Saat Satria tengah berjuang menahan serangan agar tak ada pukulan yang menyentuh wajahnya, saat itu juga Melisa datang.
"Hei! Kalian berani-beraninya bermain api denganku!" Teriak Melisa dari pintu gudang.
Semua orang menoleh ke arah Melisa, termasuk Satria.
"Mel, kenapa kamu ke sini?" Gumam Satria.
"Wah, wah... Siapa ini yang datang? Istri cantik dan kaya rayamu ternyata ikut menyusul ke sini ya?" Vino berjalan mendekati Melisa.
Melisa menghitung jumlah orang yang berada di sana.
"Cih, punya anak buah sepuluh orang saja bangganya bukan main," gumam Melisa.
Melisa masih berdiri di pintu gudang, sedangkan Vino terus berjalan mendekat.
"Hai wanita cantik, kenapa kau datang ke tempat seperti ini? Jika kau memang ingin bertemu denganku, aku akan menyediakan tempat yang layak untukmu," ucap Vino sambil terus berjalan mendekat.
Melisa menyeringai, ia senang karena Vino datang menghampirinya.
"Menjijikkan, wajah buruk rupa begitu saja mau sok menggodaku," batin Melisa.
Tibalah Vino di pintu gudang. Saat ini ia berhadapan langsung dengan Melisa.
"Tapi, kemana perginya anak buah ku yang berjaga di depan?" Tanya Vino.
Melisa menoleh ke kanan dan kirinya, ia melihat anak buah Vino sudah terkapar di lantai. Vino menyadari Melisa tak datang sendirian, ia pun hendak berjalan mundur.
Namun telat, Melisa sudah lebih dulu menendang perut Vino hingga Vino jatuh tersungkur di lantai.
Melisa menarik rambut Vino, dan ia pun menampar wajah Vino dengan sangat keras.
Anak buah Vino yang berada di dalam pun berbondong-bondong menghampiri Vino. Benar saja, Melisa datang bersama dua orang anak buah Gunawan. Meski hanya berdua, tapi mereka adalah yang paling ahli bela diri.
Sepuluh orang yang datang menyerang, tak ada apa-apanya bagi dua orang anak buah Gunawan. Mereka menghajar kesepuluh preman itu dengan mudahnya.
Sementara Melisa masih betah menghajar Vino, tak cukup hanya menendang perut Vino, Melisa bahkan menginjak wajah Vino yang tengah jatuh tersungkur.
"Sekali lagi kau berani mengganggu suamiku dan orang-orang terdekatnya. Aku habisi kau!" Ucap Melisa geram.
"Ah, satu hal lagi. Jangan pikir kau bisa lari dari hukum, karena aku juga punya orang dalam yang jauh lebih berkuasa," ejek Melisa.
__ADS_1