Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Tak Bisa Fokus


__ADS_3

"Mereka sudah pergi?" Natasya yang duduk di belakang Satria bertanya.


"Sudah nyonya," jawab Satria.


"Kalau begitu pergilah, kau tau kan harus berkata apa?"


"Iya nyonya," Satria mengambil tasnya, setelah pamit ia bergegas pergi meninggalkan rumah itu.


Satria tau Melisa dan Dion membuntutinya sejak ia masuk ke dalam rumah misterius itu. Lebih tepatnya Natasya yang memberi tahunya.


Satria jadi teringat percakapannya dengan Mia saat keluar dari kelas tambahan tadi.


"Melisa dan Dion bertanya padaku mengapa kau selalu mengantarku pulang saat ada kelas tambahan."


"Lalu kau jawab apa?" Tanya Satria sedikit terkejut bagaimana Melisa bisa tau kalau ia sering mengantar Mia pulang.


"Ku bilang karena kau yang mengajakku pulang bersama. Apa jawabanku salah?" Mia terlihat ragu dengan jawabannya.


"Tidak, memang benar aku yang mengajakmu kan?" Satria tersenyum.


"Iya sih, tapi kalau boleh tau kenapa? Bukan karena kau menyukaiku kan?" Mia bertanya dengan hati-hati.


Satria tertawa, "kenapa kalau aku menyukaimu?"


"Sebaiknya buang jauh-jauh perasaanmu. Aku tau kau orang yang disukai Melisa, aku hanya takut semua ini akan berdampak pada beasiswaku," Mia mengancam Satria.


"Melisa bukan orang yang seperti itu, kalau ibunya bisa jadi."


"Apa kau terancam kehilangan beasiswamu karena dekat dengan Melisa?" Tebakan Mia tepat.


Satria mengangguk.


"Lalu kenapa kau masih dekat dengan Melisa, kau bilang kalian tidak pacaran," Mia terlihat bingung.


"Aku tak tega jika harus pergi meninggalkannya. Melisa bukan orang yang mudah bergaul, aku berada di dekatnya agar dia tak merasa sendirian," jelas Satria.


"Kau menyukainya?"


Satria tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Kau masih punya nyali untuk menyukainya bahkan ketika beasiswamu terancam dicabut?" Tanya Mia tak percaya.


"Mmm..."


"Hebat," Mia bertepuk tangan lalu mengacungkan jempolnya. Ia kagum pada keberanian Satria.


Satria hanya tersenyum. Andai saja Mia tau jalan yang harus ditempuhnya akibat dari perasaannya itu.

__ADS_1


Satria sengaja memperlambat laju motornya. Ia membiarkan Melisa sampai di rumahnya lebih dulu.


Di rumah Melisa.


"Cepat pergilah!" Pinta Satria pada Dion.


"Mmm... Baiklah," Dion sebenarnya enggan berpisah dengan Melisa.


"Terima kasih Dion," Melisa tersenyum pada Dion.


Melihat senyuman itu, Dion menjadi kembali bersemangat setelah sebelumnya ia merasa lemas karena tak menemukan bukti yang berarti yang menunjukkan sesuatu yang akan membuat hubungan Melisa dan Satria berakhir.


Setelah Dion pergi, Melisa bergegas masuk ke rumahnya. Menyiram tubuhnya sebentar, lalu memakai pakaian yang rapih. Satria tak suka jika melihat Melisa mengenakan pakaian sembarangan. Apalagi pakaian yang menunjukkan bagian tubuhnya yang seharusnya tertutup.


Tak lama setelah Melisa siap menyambut kedatangan Satria. Ia mendengar bel rumahnya berbunyi.


Sebenarnya Satria sudah datang sejak tadi, dia sengaja menunggu beberapa saat di depan rumah Melisa. Memberi waktu untuk Melisa agar bisa mandi dan berganti pakaian.


"Kau sudah datang?" Melisa tersenyum senang melihat sosok Satria yang ada di hadapannya. Namun seketika senyumnya hilang, ketika melihat Satria sudah tak memakai seragam sekolah.


Seingat Melisa tadi saat ia membuntutinya, Satria masih mengenakan seragam sekolah. Tapi mengapa kini ia sudah berganti pakaian? Benarkah rumah itu rumah Satria? Satria sudah pindah?


"Kenapa bengong? Kau tak mau aku masuk ke dalam?" Satria membuyarkan lamunan Melisa.


"Ah, maaf. Masuklah," Melisa mempersilahkan Satria masuk ke rumahnya.


"Kau juga belum mengerjakannya?" Melisa mengambil buku yang sudah ia siapkan.


"Tentu saja, aku kan baru pulang dari kelas tambahan," jawab Satria.


"Oh iya, hehe..."


Satria sudah dalam mode fokusnya, ia menjelaskan pada Melisa materi dari setiap soal yang ada. Melisa berusaha memperhatikan apa yang dijelaskan Satria. Namun Melisa benar-benar tak bisa fokus, dalam pikiran Melisa ada banyak pertanyaan mengenai Satria. Entah sejak kapan Satria jadi sosok yang misterius baginya?


"Mel?" Lagi-lagi Satria membuyarkan lamunan Melisa.


"Eh, iya?" Melisa tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa? Kok dari tadi gak fokus?"


Satria padahal tau pasti apa yang membuat Melisa tak bisa fokus. Dia hanya pura-pura tidak tau, agar tak membuat Melisa merasa malu karena ketahuan membuntutinya.


"Sat, aku boleh nanya sesuatu sama kamu?" Melisa mencoba mengeluarkan apa yang mengganjal di pikirannya.


Satria mengangguk.


"Kamu sering anter Mia pulang?" Tanya Melisa ragu-ragu.

__ADS_1


"Iya," jawab Satria tanpa ragu-ragu.


"Kenapa?"


"Aku kasihan sama dia, setiap hari dia pulang jalan kaki dari sekolah ke rumahnya. Makanya aku ajak pulang bareng," Satria menjelaskan.


Ada sedikit kelegaan di wajah Melisa. Gadis itu tersenyum pada Satria.


Satria masih menunggu pertanyaan selanjutnya dari Melisa. Namun gadis itu seakan ragu untuk bertanya lebih lanjut.


"Kau tau dari mana aku sering mengantar Mia pulang?" Akhirnya Satria yang memberi pertanyaan pada Melisa.


"Dari pak Dedi," jawab Melisa.


Satria mengangguk. Sejenak ia lupa bahwa pak Dedi penjaga sekolah adalah orang yang setia pada pak Gunawan. Pria tua itu diam-diam selalu menjaga Melisa saat di sekolah.


Satria teringat dengan kejadian di parkiran motor beberapa hari yang lalu. Ia jadi berusaha mengingat-ingat apa waktu itu pak Dedi ada di sana atau tidak. Tapi Satria merasa yakin saat itu di sekitarnya tak ada siapa-siapa.


Satria masih menunggu pertanyaan selanjutnya dari Melisa. Namun gadis itu seolah mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.


Waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah semakin malam. Satria sudah selesai dengan tugasnya, meski pada akhirnya Melisa hanya menyalin jawaban dari Satria karena ia tak bisa fokus pada apa yang sudah dijelaskan Satria.


"Aku pulang dulu ya," ucap Satria.


"Pulang kemana?" Tanya Melisa.


"Ke rumahku, kemana lagi?" Satria.


"Rumahmu yang mana?" Melisa.


"Memang aku punya berapa rumah?" Satria berlagak bingung.


Melisa hanya tersenyum, "baiklah, hati-hati ya."


Satria tertawa melihat tingkah Melisa yang terlihat tak memiliki keberanian untuk bertanya pada dirinya.


"Kamu juga hati ya sendirian di rumah," Satria mengacak-acak rambut Melisa dengan gemas.


Melisa mengangguk, ia tersenyum senang melihat perlakuan Satria pada dirinya yang sudah kembali seperti dulu.


Satria sudah pergi meninggalkan rumah Melisa. Namun Melisa masih terdiam di teras rumah. Meski hatinya sedikit lega, tapi di dalam pikirannya masih ada sesuatu yang mengganjal.


Melisa menghela nafas, salahnya sendiri tak berani bertanya lebih dalam pada Satria. Rasa takut akan kemarahan Satria lebih besar dari pada rasa penasarannya.


Satria memang tak pernah menunjukkan amarahnya pada Melisa, namun ia ingat pesan Bobi laki-laki yang tak pernah marah akan sangat menakutkan saat ia marah. Karena marahnya lelaki yang sabar itu akibat marah yang sudah diambang batas, karena ia sudah tak sanggup menahan amarahnya. Itu artinya, kemarahannya sangat besar hingga tak bisa dibendung lagi.


Dan Melisa tak tau pasti apa yang nantinya akan menjadi pemicu kemarahan besar Satria. Karena itulah ia lebih memilih memendam rasa penasarannya dibanding mengungkapkannya pada Satria.

__ADS_1


__ADS_2