
Di luar rumah, Satria melihat paman dan bibinya berbicara dengan seseorang. Satria segera menghampiri mereka.
"Kamu kok keluar lagi?" Tanya bibi.
"Aku mau tau bi, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Satria.
"Begini Satria, sepertinya dugaan kita benar. Ini adalah ulah Vino," ucap paman.
"Bagaimana paman bisa yakin?"
"Paman yakin dari bapak ini, dia penjual bensin eceran di sekitar sini," paman memperkenalkan seorang pria paruh baya yang sejak tadi bicara dengan paman dan bibinya.
"Bapak melihat Vino menyiram bensin ke tenda?" Tanya Satria.
"Tidak nak, tapi tadi Vino membeli banyak sekali bensin. Dia bilang ingin mengisi bensin mobilnya, karena sudah kosong jadi dia beli dalam jumlah yang banyak. Lalu saya dengar ada kebakaran di pesta kamu Satria, saya langsung teringat pada Vino. Karena tadi pagi saat keributan di pesta, saya juga ada di sana," cerita penjual bensin.
"Jadi karena dia beli bensin dengan jumlah yang banyak, paman jadi yakin kalau Vino pelakunya?"
"Lalu siapa lagi? Kita harus lapor pada polisi," ucap paman.
Lalu paman, bibi, beserta si penjual bensin pun pergi.
"Satria!" Panggil seseorang, itu adalah sahabat mereka yang tadi pagi membela Satria dan Ardi. Ia biasa dipanggil Banu.
"Hei, ada apa?" Tanya Satria.
Banu datang dengan wajah panik. Dari kejauhan, Ardi melihat Satria sedang bicara dengan sahabat mereka. Namun ada yang aneh dengan wajah Banu saat itu. Banu akan membawa Satria pergi entah kemana?
Ardi pun meminta beberapa sepupu dan juga temannya untuk diam-diam pergi mengikuti mereka.
"Satria!" Panggil Ardi sambil mengejar keduanya yang sudah berjalan menjauh.
Satria dan Banu pun berhenti.
"Kalian mau kemana?" Tanya Ardi.
"Tidak apa, kamu tunggu saja di sini," ucap Banu. Namun wajahnya masih menampakkan kepanikan.
"Tadi dia bilang, dia melihat Vino di sana," jawab Satria.
Banu langsung menoleh ke arah Satria dan menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya ada apa? Apa Vino mengancam mu?" Tanya Ardi.
Banu yang panik tak tau harus berbuat apa, ia akhirnya mengakui perbuatannya.
"Satria, maafkan aku... Akulah yang sudah menyiram tenda di acara pernikahanmu," Banu menangis di depan Satria dan Ardi.
"Kamu yakin kamu yang melakukannya? Kamu pasti sedang diancam seseorang kan?" Ardi mencengkram kerah baju sahabat.
__ADS_1
Banu duduk bersimpuh di kaki Satria dan Ardi. Ia mohon agar mereka membantunya.
"Aku tidak tau kalau ibuku ternyata memiliki hutang pada keluarga Vino. Dan sudah beberapa bulan ini ibuku tak bisa membayarnya, oleh karena itu ia menyuruhku untuk melakukan perbuatan itu. Jika aku tak mau maka rumahku lah yang akan dibakarnya," Banu memohon sambil terus menangis.
"Lalu maksudmu apa meminta Satria untuk ikut padamu?" Tanya Ardi kesal.
"Vino ingin menghajar Satria bersama gerombolannya," Banu tertunduk lesu.
Ardi mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa-apaan si Vino itu? Cepat katakan ada dimana dia sekarang?" Tanya Ardi lagi.
"Di gudang belakang sekolah, dia menunggu kedatangan Satria. Tapi jika ketahuan Satria datang bersama orang lain, maka Vino tak segan-segan akan memukuli adik-adikku. Sekarang Vino menawan ketiga adikku yang semuanya adalah perempuan itu. Aku mohon Satria, datanglah bersamaku," Banu menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia memohon dengan sangat agar Satria mau membantunya.
"Jadi maksudmu kau mau Satria berkorban untukmu?" Ardi masih emosi ingin menghajar Banu. Namun segera dicegah oleh Satria.
Satria terdiam sejenak, ia tau saat ini dirinya sedang dalam bahaya, tapi ia tak mungkin membiarkan Vino berbuat seenaknya pada Banu dan keluarganya.
"Begini saja, Ardi... Kamu antar Banu ke kantor polis, laporkan apa yang sudah terjadi padamu dan juga keluargamu. Katakan semua yang sudah Vino lakukan pada kalian," ucap Satria.
"Tapi Satria..." Banu tampak ragu-ragu.
"Kenapa? Kamu takut kalau kamu juga akan masuk penjara karena sudah membakar tenda pernikahan Satria?" Tanya Ardi.
Banu hanya bisa tertunduk lesu.
"Satria... Kau tak tau Vino itu punya banyak anak buah. Kamu gak mungkin bisa menang melawan mereka, lagipula kamu kan gak bisa berantem," Ardi mencegah Satria pergi seorang diri.
"Tak apa, aku punya rencana. Kalian pergilah dulu ke kantor polisi, dan minta beberapa polisi untuk datang ke tempat Vino!"
Setelah berkata begitu, Satria pergi meninggalkan sepupu dan sahabatnya.
"Kau tidak sedang membohongi Satria kan?" Tanya Ardi saat Satria sudah pergi.
"Tidak Ardi, sungguh Vino telah mengancam aku dan keluargaku," jawab Banu.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke kantor polisi," Ardi menarik tangan Banu dan membawanya ke kantor polisi dengan mengendarai motor.
Di tempat lain, Satria berjalan seorang diri menuju gudang di belakang sekolah. Meski ia sedikit lupa dengan jalannya, karena banyak bangunan yang sudah berubah. Namun akhirnya ia bisa menemukan gudang itu.
Sebelum Satria berbelok masuk ke jalan yang menuju gudang. Satria menghubungi Melisa terlebih dahulu.
"Halo... Satria..." Suara Melisa terdengar panik di seberang sana.
"Mel, dengarkan aku baik-baik. Tolong kamu sampaikan pesanku pada paman..."
Satria menyampaikan beberapa pesan ada Melisa yang masih menunggunya di kamar pengantin mereka. Setelah dirasa cukup, Satria mematikan sambungan teleponnya.
Ia menarik nafas dalam-dalam, dan mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia tau, Vino memiliki banyak anak buah. Sudah pasti jika ia datang begitu saja ke sana ia akan menjadi sasaran empuk Vino dan anak buahnya.
__ADS_1
Di waktu yang singkat itu, Satria memikirkan cara untuk bernegosiasi dengan Vino. Setelah menenangkan dirinya dan merasa yakin, ia pun melangkahkan kaki ke sarang harimau.
Satria tanpa ragu berjalan seorang diri menuju gudang yang berisi banyak sekali berandalan kota yang semuanya adalah anak buah Vino.
"Itu Satria datang!" Teriak salah satu anak buah Vino.
Vino pun yang sedang duduk bersandar pun segera berdiri. Ia menyambut kedatangan Satria di markasnya.
Prok... Prok... Prok...
"Selamat datang Satria..." Ucap Vino sambil bertepuk tangan karena Satria bersedia datang ke tempat itu seorang diri.
"Ada apa kau menginginkanku ke sini?"
"Wah... Wah... Kenapa kau berwajah tegang begitu? Kemarilah, kita sudah lama tak bertemu. Kita harus minum-minum santai sambil menikmati gadis-gadis ini," Vino membelai rambut salah satu gadis yang tangan dan kakinya diikat. Gadis itu duduk tersungkur di hadapan Vino.
"Apa itu adiknya Banu?" Batin Satria, ia melihat ke arah belakang Vino dan di sana masih ada dua gadis lagi juga diikat dan duduk di sudut gudang.
Satria berjalan perlahan menghampiri Vino. Ia pun duduk di tempat duduk yang ada di hadapan Vino.
"Siapa gadis-gadis itu?" Tanya Satria.
"Mereka? Mereka masih orisinil Satria, kau mau? Jika kau mau, bergabunglah bersama kami. Dan aku akan memberikan satu untukmu," tawar Vino.
"Bergabung? Kenapa aku harus bergabung denganmu?"
"Hahaha... Satria... Satria... Tentu saja karena kita ini selevel sekarang, aku tau kau sangat sukses. Orang sukses sepertimu mana cukup jika hanya memiliki satu wanita?"
Satria tertawa mendengar ucapan Vino.
"Apa kau gila? Kau mau mengajakku tapi kau membakar tenda pernikahanku?"
"Aku tidak membakarnya, itu semua ulah Banu. Kau tau Satria, awalnya aku hanya ingin membakar rumah Banu karena bisa-bisanya dia membela kamu padahal keluarganya punya hutang pada keluargaku. Benar-benar tidak tau diri kan?"
"Berapa hutang yang dia punya?"
"Apa ini? Apa kau mau membayarnya?"
"Cepat, katakan saja. Berapa nominalnya? Aku akan kirimkan segera, tapi bebaskan dulu gadis-gadis tak bersalah ini," Satria siap dengan ponselnya.
Vino menyeringai, "kau tak akan bisa membayarnya Satria. Karena aku tak mau kamu membayarkannya. Aku mau tubuh mereka ini yang jadi bayarannya."
Vino tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah, kalau begitu biar ku beli tubuh tiga gadis itu!"
Vino berhenti tertawa, ia menatap Satria tak percaya.
"Wah, ternyata kau nafsu juga ya pada daun muda? Padahal istrimu itu masih sangat cantik dan muda, dan kau masih ingin tambah tiga lagi? Baiklah, kemarilah... Mari kita bicarakan harga mereka!"
__ADS_1