
Pagi itu, berita tentang penangkapan Hendry tersebar luas di berbagai berita nasional.
Bobi yang sudah kembali ke kamar hotel mendapat telepon dari pak Gunawan.
"Halo om," jawab Bobi dengan suara berat karena baru saja membuka mata saat ponselnya berdering.
"Kamu dimana?" Pak Gunawan.
"Di hotel om," Bobi.
"Kamu sudah dengar berita tentang anaknya pak Hendrawan?" Pak Gunawan.
"Berita apa om?" Bobi.
"Dia ditangkap polisi semalam," pak Gunawan.
"Hah? Kok bisa? Kenapa?" Bobi.
"Kamu beneran ga tau atau pura-pura ga tau?" Pak Gunawan.
"Beneran ga tau om," Bobi.
"Semalam ia ditangkap karena kedapatan memiliki obat terlarang di sakunya," pak Gunawan.
"Oh," Bobi manggut-manggut.
"Bukan kamu kan Bob?" Pak Gunawan.
"Bukan apanya om?" Bobi.
"Ini bukan ulah kamu kan? Bobi, dia itu anaknya pak Hendrawan yang kuliah di luar negeri, dan kini sedang pulang untuk liburan semester. Dan katanya ia juga akan bertunangan dengan salah satu anak pejabat pemerintahan," pak Gunawan.
"Ya bukanlah om, aku ga kenal juga siapa dia? Buat apa aku bikin gara-gara? Lagian juga aku kan ada disini," Bobi.
"Tapi kemaren om denger kamu sempet pulang?" Pak Gunawan.
"Oh, itu... aku pikir kemaren itu jadwal tes masuk akademi ternyata masih minggu depan. Hehe..." Bobi.
"Bener kan kamu ga ikut terlibat?" Pak Gunawan.
"Bener om," Bobi.
"Syukur deh kalau begitu. Kamu tau kan bagaimana watak Hendrawan. Jika keluarganya tersandung masalah, orang yang pertama dicurigai adalah keluarga kita. Jika sampai ada bukti kalau keluarga kita terlibat dalam masalah mereka, mereka tak segan-segan untuk membalas dengan lebih kejam," pak Gunawan.
"Iya om tenang aja, aku ga terlibat kok," Bobi.
"Baguslah kalau begitu. Maaf ya, om cuma khawatir kalau itu perbuatan kamu dan kelak akan berimbas pada Melisa," pak Gunawan mengakhiri panggilannya.
"Jadi ini yang dimaksud bruno, ah... terserah lah," Bobi kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Ini pasti ulah kakak kan?" Tanya Satria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Lu nguping Sat?" Bobi kaget melihat Satria keluar dari kamar mandi.
"Engga, kak Bobi aja yang ngomongnya kenceng sampe terdengar ke kamar mandi," jawab Satria.
"Oh ya?" Bobi.
Satria mengangguk.
"Jadi ini ulah kakak?" Tanya Satria lagi.
"Bukan," jawab Bobi.
Duk... duk... duk...
__ADS_1
Terdengar suara gedoran pintu, Satria segera menghampiri dan membuka pintu masuk. Amanda sudah berdiri di depan, menerobos masuk diikuti oleh Melisa.
"Bobi..." panggil Amanda.
"Apa Man?" Sahut Bobi dari dalam kamar.
Amanda segera menghampiri Bobi yang masih duduk malas di atas ranjang.
"Ini pasti perbuatan elu kan?" Amanda.
"Apa?" Bobi.
"Kak Hendry dipenjara pasti ini ulah elu kan?" Amanda terlihat marah.
"Engga," Bobi menggelengkan kepalanya.
"Jangan bohong Bob, elu kemaren balik ngapain?" Selidik Amanda.
"Ada deh, mau tau aja..." jawab Bobi cuek.
"Ih Bobi yang bener," Amanda memukul kepala Bobi dengan bantal.
"Iya, apa sih? Dia ditangkap karena apa? Kok lu jadi nyalahin gue sih?" Bobi tak terima.
"Ya, karena kena razia sih. Tapi ini pasti ulah elu kan?" Amanda menatap Bobi penuh curiga.
"Apa sih Man? Gue aja ga kenal sama dia, mana ada gue yang bikin dia masuk penjara? Dia aja yang emang pemakai dan ada barang bukti jadi ketangkap," jawab Bobi tak terima dirinya disalahkan.
"Tapi kok bisa tiba-tiba ada razia? Ini pasti elu yang laporin kan?" Amanda terus mendesak Bobi.
"Engga Manda, beneran deh, gue ga tau apa-apa," Bobi.
Sebenarnya Bobi sendiri tak menyangka Bruno akan memakai cara ini, niat awal Bobi hanya ingin merekam aksi bejat Hendry lalu menyebarkan video itu pada publik. Namun ternyata semua terjadi diluar rencana Bobi. Jadi Bobi memang berkata jujur soal dirinya yang tak tau tentang penangkapan Hendry.
Amanda menangis dihadapan Bobi, "Harusnya kan hari ini dia tunangan Bob."
"Iya tapi kan tetep aja," Amanda menangis sesenggukan.
"Hah, dasar bucin," gumam Bobi.
...***...
Karena Bobi sudah kembali, Melisa dan Satria memilih untuk berenang di pantai berdua. Mereka membiarkan Amanda di urus oleh Bobi.
"Sat, menurut kamu, itu ulahnya kak Bobi bukan ya?" Melisa.
"Aku ga tau Mel, tapi tadi malam kak Bobi sudah sampai di kamar jam 10 malam," Satria.
"Ya kan bisa aja dia nyuruh orang lain," Melisa.
"Bisa jadi," Satria mengangguk.
"Kalau sekarang aku yang ada diposisi kak Amanda, apa yang bakal kamu lakuin?" Melisa.
Satria terdiam menatap Melisa.
"Kok diem? Kamu pasti langsung tinggalin aku karena kecewa kan?" Melisa.
Satria menggeleng.
"Kalau itu kamu? Aku yakin kamu gak akan begitu," jawab Satria yakin.
"Tau dari mana?" Melisa.
Satria tersenyum, ia menarik hidung Melisa.
__ADS_1
"Aku percaya sama kamu Mel, lagi pula kamu kan ga punya temen cowo. Jadi kamu mau ngelakuin itu sama siapa?" Satria.
"Sama kamu..." Rayu Melisa.
"Hah?" Satria yang kaget membuka mulutnya.
"Emang kamu ga mau?" Melisa semakin menggoda Satria.
"Bukan ga mau Mel, eh... ya aku juga laki-laki, mmm... tapi ya bukan begini..." Satria tergagap berusaha mengalihkan pandangannya dari Melisa.
"Terus maunya gimana?" Melisa belum menyerah.
"Mel," Satria mendekap Melisa yang terus menggodanya, ia menenggelamkan kepala Melisa ke dalam dadanya. "Kalau sama laki-laki lain jangan begini ya," pinta Satria.
"Kenapa?" Melisa mendongakkan wajahnya.
"Mereka ga akan kuat, kamu pasti udah habis sama mereka," Satria menjawab tanpa menatap mata Melisa.
"Oh, kalau kamu kuat?" Melisa.
"Gak juga," Satria.
"Oh, udah ga kuat," Melisa tersenyum geli melihat ekspresi Satria.
"Ehem..." Satria melepaskan pelukannya. Ia berjalan meninggalkan Melisa yang masih tertawa geli.
"Satria mau kemana? Tunggu aku..." Melisa berjalan mengikuti Satria.
"Satria..." Melisa memanggil-manggil nama Satria namun tak mendapat respon.
"Marah ya?" Melisa kini berhasil mensejajari langkah kaki Satria.
Satria berhenti, menghadap Melisa, "Pokoknya lain kali kamu ga boleh begini sama siapa pun, termasuk sama aku."
"Justru karena sama kamu, aku berani," Melisa.
Satria mengernyitkan dahinya.
"Karena aku tau, kamu pasti bisa jagain aku dari diri kamu," Melisa.
"Ya tapi kan ga harus dirayu juga Melisa..." Satria memegang kedua pipi Melisa gemas.
"Hehe, iya maaf... Ga lagi-lagi deh," Melisa menyatukan kedua telapak tangannya.
Satria tersenyum mengacak-acak rambut Melisa.
"Satria, kita kesana yuk," Melisa menunjuk gundukan batu karang besar.
"Ngapain?" Satria.
"Kita naik ke atasnya," ajak Melisa.
"Gak ah, udah yuk mandi, udah lengket nih," Satria beranjak meninggalkan pantai.
"Yuk, bareng ya," ucapan Melisa membuat Satria kembali menghentikan langkahnya.
"Mel," Satria.
"Apa sih? Ya kita mandi bareng. Kamu di kamar kamu, aku di kamar aku... cuma kita barengan mandi. Hihihi..." Melisa cekikikan melihat Satria yang sedang menahan emosi.
Ia memilih untuk lari sebelum Satria kembali menceramahinya.
"Mau kemana Mel?" Satria.
"Mau duluan," teriak Melisa.
__ADS_1
"Tadi bilangnya mau bareng," Satria.
Melisa tak menggubris ucapan Satria, ia terus saja berlari sambil tertawa meninggalkan Satria.