
"Ah..." Natasya meringis kesakitan.
"Maaf nyonya, maafkan saya..." Satria berjongkok di hadapan Natasya. Ia terlihat sangat panik, maksud hati ingin melepaskan pelukan namun ia malah mengeluarkan seluruh tenaganya hingga Natasya jatuh terjerembab.
"Sakit..." keluh Natasya.
"Bagaimana ini? Apa mau saya panggilkan dokter?" Tanya Satria.
Natasya menggeleng. "Bawa aku ke dalam kamar," pinta Natasya.
Satria mencoba membangunkan Natasya. Namun Natasya sulit berdiri. Hingga terpaksa Satria membopongnya masuk ke dalam kamar. Dengan hati-hati Satria menurunkan Natasya ke atas kasur.
Namun wanita itu dengan licik menarik tubuh Satria hingga kini posisi tubuh Satria menindih tubuh Natasya.
"Maaf nyonya," Satria segera berdiri.
Natasya menyeringai. "Kamu mau cari kesempatan ya?"
"Tidak nyonya, tidak sama sekali," Satria menggelengkan kepalanya.
"Licik juga kamu ya?" Natasya masih terlentang di atas kasur.
Satria menjadi gugup sesaat, ia benar-benar tak tau akan jatuh dan menimpa tubuh Natasya.
Dengan mudahnya Natasya bangkit dan berdiri, membuat Satria terkejut.
Natasya berjalan mengitari Satria. Ia lalu berhenti di belakang Satria, Natasya memeluk Satria dari belakang.
"Kau mau main-main denganku?" Bisik Natasya di telinga Satria.
Satria segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kenapa?" Masih berbisik.
"Kita tak seharusnya melakukan ini nyonya," Satria melepaskan diri dari pelukan Natasya.
Natasya tertawa terbahak-bahak.
"Duh Satria, kenapa kamu polos sekali? Kamu tau, sikapmu ini semakin membuatku gemas dan tak ingin melepaskan kamu," Natasya kembali mendekati Satria.
Kini tangan wanita licik itu sudah berada di dada Satria. Perlahan ia membuka kancing baju Satria, namun dengan cepat Satria memegang tangan Natasya agar segera menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Kumohon, hentikan nyonya," Satria memberanikan diri menatap Natasya.
Natasya sekali lagi menyeringai.
"Bagaimana kalau kita melakukan sekali saja, setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi. Aku bahkan akan merelakan Melisa, dan beasiswamu... Tentu saja akan kuberikan sampai kau lulus kuliah nanti," Natasya memberi penawaran pada Satria.
"Maaf nyonya, saya tidak bisa!" Satria dengan tegas menolak.
"Jadi kau lebih suka diganggu olehku? Menarik, aku juga suka mengganggumu. Kau tau kenapa? Karena kau menggemaskan. Rasakan debaran jantungku," Natasya meletakkan tangan Satria di dadanya.
Satria hendak menarik tangannya, namun ternyata tenaga Natasya sangat kuat. Sambil tersenyum Natasya menatap dalam mata Satria.
"Rasakanlah, aku benar-benar berdebar-debar karenamu."
Satria terdiam membalas tatapan Natasya, tangannya ia biarkan berada di dada Natasya karena Natasya tak melepaskan tangan Satria.
"Mengapa anda seperti ini nyonya? Saya ini seumuran dengan putri nyonya, apa anda tak malu pada putri anda sendiri melakukan hal menjijikan ini dengan teman putri anda?" Satria menatap nanar pada Natasya.
"Buat apa harus malu? Aku menyukaimu," jawab Natasya santai.
Wanita itu kembali berjalan mengitari Satria. Jari telunjuknya ia letakkan di tubuh Satria. Jari telunjuk itu mengikuti gerakan kaki Natasya yang mengitari tubuh Satria.
"Dengan sikapmu yang seperti ini, aku jadi semakin menyukaimu," Natasya berhenti tepat dihadapan Satria.
"Melisa kan memang belum berpengalaman, tapi aku? Kau benar-benar tak mau mencobanya?"
"Tidak nyonya," jawab Satria tegas. "Lagipula bukankah anda sudah kembali bersama tuan Gunawan, kenapa nyonya masih merayu saya?"
"Karena aku sudah bosan dengan Gunawan, dia mudah sekali ditaklukan. Sedangkan kamu, kenapa sulit sekali aku mendapatkan tubuh ini," Natasya meraba dada bidang Satria.
"Maaf nyonya, anda harus tau. Sampai kapanpun anda tak akan pernah bisa merasakan tubuh ini, sekalipun anda mengancam akan mengeluarkan saya dari sekolah," Satria menurunkan tangan Natasya yang menempel di dadanya dengan kasar.
"Oh ya? Aku jadi semakin bersemangat," Natasya seolah mengancam Satria.
"Jika sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, saya permisi nyonya." Satria membungkukkan badannya. Satria berlalu keluar dari kamar. Namun sebelum Satria benar-benar keluar dari ruang 1301, Natasya sekali lagi memanggilnya.
"Satria, simpan ponsel milikku baik-baik. Dan nantikan apa yang akan aku berikan padamu lewat ponsel itu," ucap Natasya yang sudah bersandar di pintu kamarnya.
Satria hanya diam tak membalikkan badannya sama sekali. Setelah mendengar Natasya selesai bicara, Satria bergegas keluar dari ruangan itu.
"Ah, bagaimana ini? Bagaimana bisa ada laki-laki yang menolakku? Aku jadi semakin menginginkannya," Natasya meraba pintu kamar, seolah itu adalah Satria.
__ADS_1
Di lantai dua belas, masih di depan pintu kamar 1201. Melisa berjalan mondar mandir dengan gelisah. Ia berkali-kali ingin menggedor pintu itu namun ditahan oleh Dion.
"Jangan buat keributan di sini," Dion mengingatkan.
Melisa mendesah kesal, lagi dan lagi ia mencoba menguping dari pintu kamar. Namun tak terdengar sedikitpun suara dari dalam kamar.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika Satria melakukan hal yang tidak-tidak di dalam sana?" Melisa benar-benar sangat khawatir.
"Tenang saja, Satria bukan orang yang mudah si rayu," Dion kini sudah tau masalah yang dihadapi Satria.
Melisa menceritakannya selama mereka menunggu di depan pintu. Dion mendengarkan dengan seksama cerita Melisa, dalam hatinya ia berharap Satria tak bisa tahan dengan godaan Natasya. Ia yakin, Satria pasti akan goyah. Jika ia yang berada di posisi Satria, sudah pasti ia akan goyah.
Meski Natasya sudah tak lagi muda, namun wajahnya masih cantik dan tubuhnya masih seksi. Terlebih Natasya sudah sangat berpengalaman, ia pasti tau titik mana yang akan membuat pria takluk padanya.
Dion benar-benar berharap dalam hatinya, agar ia bisa memiliki kesempatan semakin dekat dengan Melisa.
Saat mereka sedang asik menguping, tiba-tiba pintu lift terbuka. Gunawan muncul dari dalam lift. Ia heran melihat putrinya bersama dengan seseorang yang tak ia kenal berada di depan pintu kamarnya.
"Kamu sedang apa Melisa?" Suara Gunawan mengagetkan Melisa.
Melisa menatap Dion. "Bagaimana ini?" Batin Melisa.
"Kenapa kalian diam di sini? Kamu tak mau masuk Mel?" Tanya Gunawan lagi.
Melisa gugup seketika, ia gugup bukan karena ketahuan berada di depan pintu kamar tempat ayah dan ibunya menginap. Tetapi ia gugup karena khawatir ayahnya akan memergoki ibunya sedang bersama dengan Satria di dalam.
"Kamu kenapa diam begitu? Ayo masuk," Gunawan sudah membuka pintu kamar.
"Ayo masuk Mel," Dion menggoyangkan tubuh Melisa yang membeku.
"Ah iya," Melisa buru-buru masuk ke dalam kamar. Ia mengamati setiap sudut ruangan, ia bahkan masuk terlebih dahulu ke dalam kamar dan kamar mandi. Namun sosok Satria dan ibunya tak ada di sana.
"Kau cari apa Mel?" Tanya Gunawan yang melihat tingkah aneh putrinya.
"Enggak yah, aku mau ke kamar mandi." Melisa lalu segera memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Gunawan menggelengkan kepalanya, ia tersenyum melihat tingkah lucu putrinya.
Dion sudah duduk di sofa, matanya menatap sekeliling. Mencari jejak Satria dan Natasya.
Melisa sudah selesai, ia duduk di samping Dion.
__ADS_1
"Mereka tidak ada," bisik Melisa.