
Setelah beberapa puluh meter keluar dari rumah Melisa, Bobi menarik tangannya yang masih digenggam Amanda.
"Ada apa sih Man?"
"Kamu gak liat itu mukanya Satria udah merah karena malu kepergok sama kita?"
"Oh ya? Aku gak liat, coba aku mau liat dulu," Bobi hendak berjalan kembali menuju rumah Melisa. Amanda segera menariknya.
"Eit, mau ngapain sih? Udah jangan ganggu mereka!" Amanda kembali menarik tangan Bobi, mengajaknya masuk ke dalam sebuah rumah makan.
"Kita pesen makan dulu ya, aku lapar banget!" Pinta Amanda.
"Ya udah kamu pesen aja. Tapi ada apa sih? Masa cuma gara-gara kamu liat muka Satria merah, trus kita harus keluar dari rumah Melisa?"
"Aku tadi liat di kamar Melisa, dia masih tidur dan..."
"Dan?"
"Gak pake baju," bisik Amanda.
"Hah? Serius?"
Amanda mengangguk.
"Makanya, aku ajak kamu pergi. Kita jangan ganggu mereka," jelas Amanda.
"Kenapa?"
"Takut ganggu!"
"Mmm..." Bobi hanya mengangguk-angguk.
"Terus, menurut kamu mereka abis ngapain?" Tanya Bobi penasaran.
"Ih... Kamu kaya gak tau aja!"
"Ya apa? Aku gak tau," Bobi pura-pura polos.
"Kan kamu juga pernah sayang," jawab Amanda sambil menahan rasa kesalnya.
"Pernah apa sayang? Aku gak tau tuh! Coba contohin kaya gimana?"
"Ish..." Amanda mencubit perut Bobi.
"Awww... Sakit sayang," Bobi meringis kesakitan.
"Makanya gak usah bawel, kita makan aja yuk!"
Bobi dan Amanda menyantap sarapan pagi mereka.
Di rumah Melisa.
Satria membawa sarapan, roti Sandwich dan segelas susu ke kamar Melisa.
"Mel, bangun... Sarapan dulu yuk!"
"Emmmhhh..." Melisa meregangkan tangannya lalu duduk menatap Satria.
Selimut yang menutupi tubuhnya terjatuh, hingga bagian atas tubuhnya yang polos terlihat jelas.
"Mel... Kamu mau godain aku pagi-pagi gini?"
"Hah?" Melisa tak sadar ia tak mengenakan baju saat ini.
Satria mendesah, ia meletakkan nampan berisi sarapan Melisa ke meja di samping tempat tidur. Lalu Satria mendekati Melisa dan menarik selimut hingga menutupi tubuh bagian atas Melisa.
Melisa akhirnya menyadari dimana letak kesalahannya, dan kini ia merasa malu. Melisa menarik selimut hingga menutupi kepalanya karena malu.
"Gak usah malu, semalam kan aku udah liat semuanya," goda Satria.
Melisa mengintip dari balik selimut.
"Ayo sarapan, apa mau mandi dulu?"
__ADS_1
Melisa mengangguk.
"Ya sudah, aku bawa keluar lagi ya sarapannya."
Satria membawa kembali nampan berisi sarapan Melisa ke ruang makan. Ia lalu duduk di kursi makan, sambil memakan sandwich miliknya yang belum sempat ia habiskan.
"Satria..." Melisa memanggil Satria dari dalam kamar.
"Kenapa Mel?"
"Sakit... Aku gak bisa jalan..." keluh Melisa.
Satria bergegas menghampiri Melisa.
"Apa yang sakit?"
Melisa memegang ke maluan nya sambil menunduk karena malu.
"Masih sakit?"
Melisa mengangguk.
"Terus gimana? Mau aku mandiin?"
Melisa menggeleng.
"Gak mau, malu!"
"Ya udah, aku gendong ya ke kamar mandinya."
Satria lalu membopong tubuh Melisa menuju kamar mandi, dan menurunkannya pelan-pelan. Setelah itu ia mengambil handuk dan memberikannya pada Melisa.
"Nanti kalau sudah selesai mandi, panggil aku aja ya!"
Melisa hanya mengangguk. Sebenarnya ia sangat malu, tapi mau bagaimana? Sakit yang ia rasakan saat ini juga karena ulah Satria.
Satria sudah menyiapkan baju ganti untuk Melisa. Ia dengan setia menunggu Melisa di atas tempat tidur sambil sesekali memainkan ponselnya.
"Sat, aku udah selesai," panggil Melisa.
Satria melihat ke arah kamar mandi, ia lalu bergegas menghampiri Melisa dan kembali membopong Melisa menuju tempat tidur tempat ia meletakkan baju ganti Melisa.
"Kamu pakai baju dulu ya," ucap Satria.
Melisa mengangguk.
Satria lalu meninggalkan kamar Melisa dan menutup pintunya, ia menunggu di ruang makan kali ini.
Setelah memakai pakaiannya yang dipilihkan oleh Satria Melisa berjalan perlahan keluar kamar.
Melihat Melisa membuka pintu kamarnya Satria bergegas menghampiri Melisa dan kembali membopongnya lalu membawanya ke meja makan.
"Aku bisa jalan sendiri Sat," bisik Melisa.
"Bukannya masih sakit?"
"Iya, tapi sedikit doang. Ga papa kok!"
"Yakin gak papa?"
Melisa mengangguk perlahan. Ia melihat menu sarapan yang sudah terhidang di meja makan.
"Ini kamu yang buat?"
"Mmm..." jawab Satria sambil mengangguk.
"Aku coba ya!"
"Cobalah," Satria memberikan sepotong sandwich kepada Melisa.
"Mmm... Enak!"
"Kamu suka?"
__ADS_1
Melisa mengangguk-angguk dengan semangat.
"Oh iya, tadi kak Bobi sama kak Amanda dateng ke sini," ucap Satria sambil mengusap sisa roti di bibir Melisa.
"Hah?"
"Kak Bobi sama kak Amanda datang ke sini," Satria mengulangi ucapannya.
Melisa terdiam, ia mengedip-ngedipkan matanya.
"Dia tau kalau kamu semalem nginep di sini?"
Satria mengangguk perlahan.
"Terus dia juga tau dong kita abis ngapain?"
Satria berpikir sejenak, "mmm... Mungkin?"
"Haduh... Moga-moga kak Bobi gak bilang ke ayahku," Melisa merasa tak tenang.
"Apa kak Bobi akan memberi tahu ayahmu?"
"Entahlah, semoga saja tidak."
Satria memperhatikan raut wajah Melisa dengan seksama.
"Kalau pun kak Bobi bilang, aku akan tanggung jawab Mel," Satria menggenggam tangan Melisa. Meyakinkan gadis itu bahwa ia tak akan lari.
"Tapi Satria..."
"Kenapa? Karena kamu sekarang sudah punya tunangan? Itu kan baru tunangan, belum menikah."
"Kamu benar, tapi aku yakin kak Bobi gak akan bilang-bilang ke ayah," Melisa meyakinkan dirinya sendiri.
Melisa melanjutkan sarapannya, dan tak lama kemudian Bobi dan Amanda kembali datang ke rumah Melisa.
"Hai Mel, kamu sudah bangun?" Sapa Amanda saat mereka sudah berada di dalam rumah setelah Satria membukakan pintunya.
"Sudah kak, maaf ya tadi aku gak tau kalau kakak datang ke sini," ucap Melisa.
"Gak papa, kamu pasti capek semalem," goda Amanda.
"Apa sih kak," Melisa tersipu malu.
"Ih... Ga usah malu kali, kan cuma ada kita berdua di sini. Cerita aja!" Amanda menoleh ke sekeliling. Ia tak menemukan sosok Satria dan Bobi ada di sana. Mungkin keduanya tengah berbincang di teras rumah.
"Semalam itu yang pertama kalinya buat kamu?" Tanya Amanda penasaran.
Melisa mengangguk sambil menahan malunya.
"Terus buat Satria juga?"
Melisa kembali mengangguk.
"Iiihhh... Gemes banget sih kalian, jadi sekarang kamu tau kan kalau Satria masih suka sama kamu?"
"Iya kak... Sebenarnya tadi malam Satria sempat menolak melakukan itu denganku. Tapi aku bilang, aku tak tau kapan lagi akan bisa menemuinya. Aku juga tak tau hidupku kedepannya seperti apa? Apa aku masih punya kesempatan untuk menikah dengan Satria atau tidak? Jadi aku memintanya memberikan hadiah padaku," cerita Melisa.
"Hadiah? Malam pertama gitu?"
Melisa tersipu malu dengan pertanyaan Amanda.
"Bisa aja kamu Mel," goda Amanda. "Terus kalian pake pengaman gak semalam?"
"Pengaman?"
"Gak pake ya? Awas hamil loh Mel," Amanda menakut-nakuti Melisa.
"Mana bisa? Kan baru sekali," Melisa berusaha untuk tak termakan tipu daya Amanda.
"Ih, bisa aja. Kalau kalian berdua lagi subur. Kenapa engga?"
Melisa terdiam, ia memikirkan ucapan Amanda barusan.
__ADS_1