Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Obrolan Ayah dan Anak


__ADS_3

Setelah Gunawan datang, Satria memang hendak pamit untuk pulang. Laki-laki itu tak lagi khawatir meninggalkan Melisa di rumahnya, karena sang ayah sudah pulang.


Setelah pamit, Satria beranjak pergi keluar rumah. Gunawan saat itu meminta putrinya untuk berganti pakaian karena ia akan mengajaknya makan malam di luar. Dan Gunawan lah yang mengantar Satria hingga ke depan rumah.


"Apa Natasya benar-benar tak mengancam mu?" Tanya Gunawan.


Satria tersenyum, "tidak tuan. Yang saya liat, nyonya terlihat galau saat itu."


"Menurutmu, kenapa dia galau?" Gunawan menanyakan pendapat Satria.


"Tuan, apakah tuan benar-benar ingin bercerai dari nyonya?" Satria memberikan jawaban dengan pertanyaan.


"Jika Melisa tidak memintaku, aku tak akan menceraikannya," jawab Gunawan.


"Apa tuan mencintai nyonya?" Tanya Satria lagi.


Gunawan terdiam, ia sendiri tak mengerti perasaan dengan wanita yang masih berstatus istrinya itu. Setelah kejadian malam panas itu, tak hanya Natasya yang merasa tak nyaman dengan hatinya. Gunawan pun merasakan hal yang sama.


Sebelumnya, Gunawan dan Natasya sama-sama tak peduli dengan kehidupan apalagi perasaan masing-masing. Namun setelah malam itu, semuanya berubah. Dalam hati keduanya selalu bertanya tentang perasaan mereka sebenarnya.


"Sejujurnya aku ragu dengan keputusanku ini," Gunawan menatap jauh ke atas langit senja.


Sepanjang perjalanan hidupnya, pria itu tak pernah ragu sekalipun dengan apa yang sudah menjadi keputusannya. Seandainya keputusannya itu berdampak tidak baik, ia akan menemukan banyak cara untuk memperbaikinya. Hal inilah yang menjadikan Gunawan menjadi seorang pria sukses.


Namun kali ini, baru kali ini ia merasa keputusan yang diambilnya membuatnya ragu.


"Apa yang membuat anda ragu tuan?" Satria memang melihat kegalauan di mata ayah Melisa itu. Wajah itu, ekspresi itu, nampak sama dengan ekspresi Natasya saat Satria bertemu dengannya beberapa waktu lalu.


"Sebenarnya aku tak ingin bercerai dengan Natasya, hanya saja aku ragu apakah Natasya bisa merubah perlakuannya terhadap Melisa?" Gunawan kini menoleh pada Satria.


Satria mengangguk, "mohon maaf tuan, izinkan saya bertanya."


"Ya silahkan," Gunawan menanti pertanyaan Satria.


"Bukankah... anda... seharusnya senang, bisa bercerai dengan nyonya. Anda kan bisa menikah lagi dengan..." ragu-ragu Satria bertanya. Namun belum selesai pertanyaannya, Gunawan sudah memotongnya dengan tawa lepas.


"Satria, sepertinya Melisa belum mengatakannya padamu," Gunawan masih menyisakan tawa di wajahnya.


Satria mengernyitkan dahinya, "apa tuan sudah putus dengan kekasihnya?" Batin Satria.


"Kekasihku itu sudah lama pergi," Gunawan kembali menatap langit yang mulai meredupkan cahayanya.


Satria terlihat berpikir.


"Kau tanyalah nanti pada Melisa, dia sudah tau semuanya," Gunawan menepuk bahu Satria.

__ADS_1


Satria tersenyum, lalu mengangguk. Ia segera menaiki motornya. "Saya pamit dulu tuan," pamit Satria seraya menundukkan kepalanya."


"Ya pulanglah, hati-hati di jalan. Lain kali tanyakan pada Melisa tentang kepergian kekasihku itu," Gunawan membalas senyuman Satria.


Saat Satria baru menjalankan motornya, Gunawan memanggil laki-laki itu.


"Satria..."


Sontak Satria menghentikan motornya, lalu menoleh ke arah dimana Gunawan berdiri.


"Lain kali, jangan panggil aku tuan. Aku kan bukan majikan mu, panggil saja aku om," ucap Gunawan.


Satria tersenyum lebar dan membungkukkan setengah badannya. Dan tak lama Satria pun sudah keluar dari halaman rumah mewah itu.


Gunawan sudah kembali masuk ke dalam rumah. Nampak Melisa sudah mengganti pakaiannya, rambutnya juga terlihat sedikit basah karena ia sempat mandi sebentar tadi.


"Satria sudah pulang?" Tanya Melisa.


"Sudah," jawab Gunawan.


"Lalu, kita mau makan malam dimana?" Melisa terlihat sudah tak sabar, gadis itu memang merasa sangat senang jika ayahnya mengajaknya makan malam di luar.


Gunawan mengambil kunci mobilnya yang tadi ia letakkan di atas meja.


Melisa hanya tersenyum, ia mengikuti langkah kaki ayahnya sambil sesekali mengayunkan tangannya yang digenggam erat oleh ayahnya.


Sampai di restoran, Gunawan memesan menu termahal di sana. Sepanjang perjalanan dari rumah hingga kini mereka duduk bersebrangan di meja restoran, mereka berdua hanya terlibat perbincangan ringan mengenai sekolah.


Saat makanan sudah terhidang, keduanya makan dengan tenang. Kali ini tak ada lagi obrolan diantara keduanya.


Meski memang Melisa merasa tak sedikitpun canggung pada ayahnya, namun ia memang bukan tipe orang yang mudah menemukan topik pembicaraan. Saat ini, Melisa hanya akan bicara jika dirinya ditanya oleh sang ayah.


Makanan di meja Gunawan sudah habis tak bersisa, begitupun dengan Melisa. Pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka mengambil piring yang sudah kosong itu. Lalu tak lama datang pelayan lainnya membawakan menu makanan penutup untuk mereka berdua.


Setelah pelayan itu pergi, Melisa baru menemukan topik pembicaraan dengan ayahnya.


"Apa ayah sering menginap di hotel ini?" Tanya Melisa, gadis itu belum menyentuh makanan penutupnya.


"Hotel ini sudah seperti rumahku," jawab Gunawan sambil tersenyum hangat pada putrinya.


"Aku tak tau ayah sampai sudah menganggap hotel ini seperti rumah ayah sendiri," ucap Melisa.


Gunawan hanya tersenyum menanggapi ucapan putrinya itu.


"Apa mamah tau, ayah sering menginap di hotel ini?" Tanya Melisa.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, ibumu kan sibuk dengan Steve. Dia benar-benar tak peduli denganku," Gunawan tersenyum getir.


"Jadi sampai saat ini, mamah belum tau tentang tante Silvana?" Melisa.


Gunawan menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa ayah tak ingin mengatakan yang sejujurnya pada mamah?" Melisa.


"Entahlah, menurutmu apa reaksinya jika tau selama ini Silvana sudah benar-benar pergi meninggalkanku?" Gunawan.


Melisa terdiam, ia sama sekali tak punya bayangan akan reaksi ibunya jika tau selama ini ayahnya hanya sibuk bekerja. Tapi tebakan yang paling bisa Melisa pikirkan adalah ibunya akan menertawakan ayahnya.


"Cih, wanita itu pasti akan menertawakan kesendirian ayah selama ini," batin Melisa.


"Haruskah ku katakan padanya?" Tanya Gunawan.


"Sebaiknya tak usah, dia pasti hanya akan menertawakan ayah," Melisa menggerutu.


Gunawan tersenyum. "Bisa saja kan dia malah iba dan merasa menyesal sudah meninggalkan kita?"


Melisa mendesah dengan kasar. "Tidak mungkin," batinnya.


"Kenapa? Kau pasti berpikir tak mungkin ibumu merasa menyesal kan?" Gunawan seolah bisa menebak isi hati putrinya.


Melisa hanya diam tak bergeming.


"Mel, ibumu juga manusia biasa. Dia juga punya hati yang bisa berubah-ubah. Kau tau, mengapa aku membiarkan ibumu pergi dengan Steve waktu itu?" Gunawan menatap Melisa dengan serius, tapi senyum hangat pria itu tak pernah hilang saat menatap Melisa.


"Karena ayah tak mencintainya?" Melisa mencoba menebak.


Gunawan menggeleng. "Ayah merelakannya, karena ayah tau Steve lebih bisa membuat ibumu bahagia dari pada ayah," Gunawan menatap lembut mata Melisa.


Melisa berpikir sejenak.


"Apakah ayah mencintai mamah?" Tanya Melisa.


"Entahlah, apa hal itu bisa disebut sebagai cinta?" Gunawan.


"Bukankah ayah masih mencari tante Silvana?" Melisa.


Gunawan hanya tersenyum dan mengangguk. Sebenarnya, sejak malam ia bertemu dengan Natasya terakhir kali. Gunawan kembali meragukan keputusannya. Akankah keputusannya mencari Silvana kembali adalah benar? Lalu jika ia berhasil menemukan kembali kekasihnya yang sudah lama menghilang itu, apa yang akan ia lakukan? Masihkah ia bisa mencintai wanita pujaannya itu seperti dulu? Sementara wanita itu sudah tak pernah terdengar kabarnya sama sekali.


Gunawan terus merasa bimbang hingga kini. Ia memang tak memerintahkan Fredy untuk menghentikan pencarian. Namun hatinya seperti sudah terkuras habis, Gunawan merasa sudah tak memiliki rasa lagi untuk Silvana.


Apakah akhirnya Gunawan benar-benar bisa merelakan kepergian Silvana?

__ADS_1


__ADS_2