Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Pesan Ancaman


__ADS_3

Keesokan harinya, Satria sudah datang ke rumah Melisa bersama dengan Mia untuk mengantarnya ke bandara. Bobi dan Amanda juga sudah siap.


Setelah sarapan, mereka akan langsung berangkat menuju bandara. Pesawat yang akan mereka tumpangi akan berangkat pukul sepuluh pagi.


"Semua sudah siap Mel?" Tanya Bobi.


"Iya kak, aku cuma bawa sebagian pakaian saja. Sisanya akan ada orang yang datang untuk membersihkan tempat ini, dan membawa sisa barang-barangku," jawab Melisa.


"Oke, kalau begitu ayo kita berangkat!"


Bobi sudah mengembalikan mobil yang ia sewa beberapa hari terakhir, jadilah mereka naik taksi untuk sampai di bandara.


Karena barang-barang Amanda yang sangat banyak, mereka memutuskan untuk memakai dua buah taksi.


Tiba di bandara, Satria membantu Melisa membawa koper miliknya.


"Kalau kamu pulang nanti, kabari aku ya!" Pinta Melisa.


"Iya Mel," jawab Satria.


"Janji!"


"Aku pasti akan kabarin kamu kalau aku mau pulang," Satria meyakinkan Melisa.


Melisa menghembuskan nafas perlahan, rasanya berat harus berpisah dengan Satria.


"Aku antar sampai sini ya," ucap Satria.


"Sampai dalam aja yuk!" Melisa kembali merengek.


"Ga bisa masuk aku Mel, lagi pula ini sudah jam setengah sepuluh. Kamu nanti bisa ketinggalan pesawat," Satria harus kembali membujuk Melisa.


"Ayo Mel, nanti juga kan dia bakal pulang. Kalian bakal ketemu lagi, ini bahaya urusannya kalau sampai ketinggalan pesawat," bujuk Bobi.


"Kakak masuk duluan aja, biar aku yang bujuk Melisa," pinta Satria.


Akhirnya Bobi dan Amanda masuk terlebih dahulu, sedangkan Melisa masih setia berdiri di samping Satria.


"Mel, kamu gak boleh begini. Kasian kak Bobi dan kak Amanda, mereka berdua pasti akan dimarahi ayahmu kalau sampai kamu gak ikut pulang," bujuk Satria.


"Kamu khawatir sama mereka?"


"Aku juga khawatir sama kamu Mel, lagi pula sekarang kan kamu sudah dipercaya memegang perusahaan. Itu artinya kamu harus bertanggung jawab sama perusahaan yang kamu pimpin. Kamu gak bisa tinggalin lama-lama," Satria berusaha memberi Melisa pengertian.


"Kamu benar," Melisa menundukkan wajahnya.


"Tenang Melisa, aku yang akan menjaga Satria untukmu," ucap Mia.


"Kenapa jadi kamu yang harus menjagaku?" Satria bingung dengan ucapan Mia.

__ADS_1


"Karena banyak sekali gadis-gadis yang akan memangsa kamu, setelah Melisa pergi," jawab Mia.


Mendengar itu Melisa jadi semakin khawatir.


"Kamu percaya sama aku kan?" Tanya Satria pada Melisa.


Melisa mengangguk perlahan.


"Ya udah, kamu masuk ya sayang. Nanti kamu setiap malam boleh telpon aku," rayu Satria.


Mendengar kata sayang yang terlontar dari mulut Satria untuk Melisa, tentu saja berhasil membuat Melisa tersipu malu.


"Kalau begitu aku akan sering-sering menelpon kamu!"


Satria mengangguk tanda setuju.


Melisa akhirnya menurut, tapi sebelum pergi ia memeluk Satria dengan sangat erat. Dalam hati Melisa sebenarnya ia merasa sangat takut, takut tidak bisa lagi menikmati momen indah bersama Satria.


Namun ia juga tidak bisa terus menerus berada di samping Satria, bisa-bisa ayahnya akan curiga dan kelak akan mencelakai Satria.


"Aku pergi dulu ya, Satria!" Melisa melepaskan pelukannya.


"Iya, hati-hati ya sayang. Kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar," Satria membelai lembut rambut Melisa sebelum mereka benar-benar berpisah.


Tak lupa Melisa juga memeluk Mia, sahabatnya yang sudah menemaninya selama empat tahun terakhir.


"Aku akan sangat merindukan kamu," bisik Melisa.


Melisa melangkah menjauhi Satria dan Mia sambil melambaikan tangannya. Ia masih tersipu malu karena Satria menyebut panggilan sayang untuk dirinya tadi.


Pesawat yang Melisa tumpangi berangkat tepat pukul sepuluh pagi. Satria dan Mia masih berada di Bandara hingga saat itu. Saat kakinya hendak melangkah meninggalkan bandara, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


'Jauhi Melisa jika kau ingin selamat.'


Pesan yang sama yang ia terima sejak kemarin. Pesan itu terus masuk ke nomor ponselnya meski menggunakan nomor yang berbeda.


Ia tau, dirinya sedang berada dalam ancaman saat ini. Satria melihat ke sekeliling, siapa tau ada orang yang mencurigakan. Pengirim pesan ini pasti tengah mengintai dirinya saat ini.


"Pesan itu lagi?" Tanya Mia yang melihat juga isi pesan masuk di ponsel Satria.


"Mmm..."


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Entahlah, ayo bersiap! Malam ini kita akan pulang," ucap Satria sambil terus melangkahkan kaki keluar bandara.


"Pulang malam ini?"


"Mmm..."

__ADS_1


"Kamu tak memberi tahu Melisa?"


"Apa aku harus memberi tahunya setelah mendapat pesan ini?"


"Satria, apa kali ini kamu akan berhubungan serius dengan Melisa?"


"Entahlah, jika aku melanjutkan hubungan ini bisa saja besok aku sudah tidak ada lagi di bumi ini," jawab Satria.


"Lalu kamu akan menjauhinya?"


"Mia, untuk sementara jangan katakan apapun pada Melisa. Jangan beri tahu dia, bahwa aku sudah pulang."


"Baiklah, terserah padamu saja!"


Satria lalu mengirim pesan pada Natasya, mengabarinya bahwa ia akan pulang malam ini.


Sebenarnya urusan Satria sudah beres, ia sengaja tak ingin pulang bersama dengan Melisa karena pesan yang terus-terusan ia terima itu. Satria khawatir, jika si pengirim pesan tak hanya akan melukai dirinya tapi juga Melisa.


Malam hari, Satria dan Mia sudah berada di pesawat. Sesuai janji, Mia tak memberi tahu Melisa tentang kepulangan mereka.


"Kamu masih dapat pesan itu?"


"Mmm... Lihat ini yang lima kalinya untuk hari ini," Satria menunjukkan isi pesan di ponselnya pada Mia.


"Satria, bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?"


"Mmm... Tanyakan saja!"


"Selama empat tahun terakhir kalian tidak saling berhubungan, lalu kini kalian kembali dekat. Apa selama itu kamu memang sudah melupakan Melisa atau memang sengaja menjauhinya hingga kalian lulus?"


"Aku ingin melupakannya, tapi gara-gara kamu aku jadi harus memiliki hubungan dengannya lagi," jawab Satria.


"Maaf, ku pikir kamu masih belum bisa melupakannya," Mia sedikit menyesal.


"Tidak apa," Satria tersenyum pada Mia.


Melihat senyuman itu, jantung Mia berdetak tak karuan.


"Satria, apa kamu akan tetap melanjutkan hubungan dengan Melisa?"


"Entahlah, aku akan memikirkannya," Satria menjawab dengan tatapan lurus ke depan. Ia sendiri juga tak tau harus bagaimana dengan hubungan ini.


Di sisi lain, ia ingin menjauhi Melisa karena ia tak mau berurusan lagi dengan Gunawan yang selalu bersikap sok baik di depan namun mencelakai di belakang. Tapi di sisi lainnya, ia juga merasa bersalah pada Melisa karena sudah merenggut kesuciannya.


Tak mungkin Satria meninggalkan Melisa begitu saja, sementara dirinya sudah pernah menikmati tubuh Melisa.


"Kalau aku boleh kasih saran, sebaiknya kamu tinggalin Melisa. Jika terjadi sesuatu padamu..." Mia tak melanjutkan ucapannya. Mia tak sanggup mengatakan bahwa mungkin saja hal buruk akan terjadi pada Satria.


Satria menoleh. "Aku akan baik-baik saja," Satria menggenggam tangan Mia, agar gadis di sampingnya itu tenang.

__ADS_1


"Tidak bisakah kamu bersamaku saja? Tidak akan ada pertentangan jika kita memiliki hubungan," batin Mia.


__ADS_2