
Satria sebenarnya tak enak jika harus meminta bantuan pada Melisa. Ia masih merasa canggung pada Melisa karena hubungannya tak sedekat dulu. Namun mau bagaimana lagi? Sekalipun ia mengumpulkan uang dari saudara-saudaranya di kota B, jumlah ini tak akan pernah terkumpul.
Satria akhirnya mencoba menghubungi Melisa. Berkali-kali Satria menghubungi nomor Melisa namun tak ada jawaban dari Melisa. Melisa tak mengangkat panggilan masuk dari Satria.
“Gak diangkat,” Satria menjadi lemas. Harapannya seakan pupus karena Melisa tak kunjung menerima panggilan darinya.
“Gak diangkat? Kok bisa?” Semua yang ada di sana saling menatap, terutama Stella dan geng nya. Mereka saling menatap dengan tatapan penuh arti, mereka seolah berpendapat Melisa sengaja tak mengangkat panggilan dari Satria.
“Mungkin Melisa lagi gak pegang ponsel, coba aja kamu kirim pesan Satria. Minta dia buat menghubungi kamu saat dia sudah memegang ponselnya,” usul Mia.
Satria mengangguk. “Benar, mungkin Melisa sedang sibuk saat ini,” batin Satria.
Paman dan bibi satria juga tak tinggal diam, mereka berusaha menghubungi beberapa saudara yang dirasa mampu untuk sekedar membantu menyumbang meski hanya satu persen atau bahkan tak sampai satu persen. Semua keluarga yang dihubungi tak bisa membantu, saat ini mereka juga sedang kesulitan uang. Ditambah lagi beberapa hari yang lalu salah seorang saudara mereka habis melakukan pesta pernikahan, uang mereka habis untuk menyumbang di acara tersebut.
Satria sudah menduganya, keluarga besarnya di kampung bukanlah dari kalangan ekonomi atas. Mayoritas dari mereka berasal dari kalangan menengah kebawah. Bahkan sebenarnya keluarga pak Joni merupakan salah satu yang bisa dibilang ekonominya lebih bagus dari yang lainnya. Meski mereka harus menanggung biaya pengobatan Rian, namun mereka tak pernah kekurangan uang.
Satria memijat keningnya perlahan, kesedihan yang kemarin ia rasakan kini berubah menjadi kepanikan. Ia tak tau apa yang akan terjadi pada dirinya jika sampai sore ini ia tak mampu memperoleh uang sebanyak nominal yang dimaksud.
“Coba di telpon lagi Melisanya,” pinta Mia.
Satria menurut, ia segera menghubungi Melisa. Namun nihil, Melisa masih belum juga mengangkat telepon dari Satria.
“Coba pake nomor lain,” usul Stella.
“Iya Satria, ini pake nomorku aja,” Mia menyerahkan ponsel miliknya.
Satria menatap ponsel milik Mia, hatinya sedikit bimbang. Ada sedikit ketakutan dalam dirinya, bagaimana jika saat ia menghubungi Melisa menggunakan nomor Mia dan diangkat oleh Melisa? Namun Satria tak punya pilihan lain, saat ini ia sedang membutuhkan Melisa. Satria akhirnya menekan nomor Melisa di ponsel milik Mia. Tak perlu menunggu lama, panggilan itu diterima.
Tentu saja Stella dan gerombolannya langsung kompak menyeringai. Mereka seakan berkata, “benarkan? Melisa memang menghindari Satria.”
Satria tak peduli, ia berusaha mengabaikan demi bantuan yang akan di dapatnya.
“Halo, Melisa?” Satria menyapa Melisa lebih dulu karena gadis itu tak kunjung bicara setelah menerima panggilan masuk.
__ADS_1
“Halo?” Terdengar suara pria di seberang sana.
Semua yang ada di sana mendengar suara itu karena Satria menyalakan pengeras suara. Mereka semua saling menatap heran, itu bukan suara Melisa.
“Maaf, apa benar ini nomor Melisa?” Stella menyambar ponsel milik Mia. Ia mengambil alih panggilan itu.
“Iya benar, maaf ini siapa?” Tanya penerima itu.
“Ah, saya Mia. Melisanya ada?” Stella mengaku dirinya adalah Mia.
“Melisa sedang sakit, saat ini ia sedang tidur. Jadi dia tak bisa menerima panggilan ini.”
“Sakit? Dimana?” Lanjut Stella.
“Iya sakit, di rumah sakit. Maaf, Melisa harus beristirahat selama beberapa hari kedepan. Mohon untuk tidak menghubunginya terlebih dahulu,” Pria itu mengakhiri panggilannya.
Semua yang mendengar itu saling menatap heran.
Satria menggeleng perlahan. Ia sama sekali tak kenal suara siapa itu. Itu bukan suara Gunawan, dan seingat Satria itu juga bukan suara Fredy.
Satria mencari-cari nama salah seorang di kontaknya. Ia ingat pernah menyimpan nomor Gunawan. Dan benar saja, ada nomor Gunawan di sana. Satria lalu segera menghubungi nomor itu. Ini adalah harapan terakhirnya, meski sedikit ragu tapi Satria yakin Gunawan akan membantunya. Setau Satria, Gunawan adalah orang yang baik. Selama ini perlakuan Gunawan padanya sangat baik.
Namun sayang, Satria lagi-lagi harus merasa pupus harapan. Nomor yang dihubunginya ternyata sudah tidak aktif, entah bagaimana nomor itu sudah tidak terdaftar lagi.
Satria semakin bingung, ia tak tau harus bagaimana saat ini?
“Stell, apa kamu bisa pinjamkan uang ke orang tuamu? Aku yakin orang tuamu pasti punya uang sebanyak ini,” Satria dengan terpaksa memohon pada Stella.
“Maaf Satria, aku hanya bisa bantu seperempatnya saja. Dan itu aku pakai dengan uang pribadiku. Aku tak berani meminta pada orang tuaku, kau tak tau kan? Orang tuaku sangat galak,” ucap Stella dengan sedikit rasa bersalah. Semua anggota geng nya Stella mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan stella.
Satria kembali membuka kontak di ponselnya. Amanda. Benar, Amanda pasti bisa membantunya. Satria mencoba menghubungi nomor Amanda, namun sayang nomornya juga sedang tidak aktif saat ini. Tak menyerah, Satria mencoba menghubungi Dion, Reynold, dan beberapa nomor lain yang ada di kontaknya yang merupakan murid VIP. Namun tak ada satupun nomornya yang aktif.
“Kamu menghubungi teman-teman sekolah kita?” Tanya Stella.
__ADS_1
Satria mengangguk.
“Percuma, sebagian dari mereka pasti nomornya tak akan aktif. Mereka semua pasti sedang berlibur ke luar negeri,” Stella melanjutkan.
Satria jadi semakin kehilangan harapan. Ia tak tau lagi harus meminta bantuan pada siapa?
Waktu terus berlalu, tanpa mereka sadari saat itu jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Para pria yang tadi pagi datang sudah kembali muncul di rumah Satria.
Satria pasrah, ia hanya akan menyerahkan tubuhnya karena ia tak punya apa-apa saat ini.
“Bagimana? Sudah siap uangnya?” Tanya pria bernama Edward.
“Belum pak, saya mohon pak beri kami keringanan. Beri kami waktu hingga beberapa bulan untuk mencicilnya,” Satria memohon pada pria itu.
Paman, bibi, dan juga mereka yang ada di sana ikut memohon. Meski sebagian dari mereka terlihat tak benar-benar memohon karena gengsi.
“Tidak bisa, bukankah kami sudah memberikan waktu tadi? Sekarang sudah tidak bisa meminta tambahan waktu lagi,” Edward menjawab tanpa belas kasih sedikitpun.
“Tapi kami belum mendapatkan uangnya,” kini paman yang maju untuk berbicara.
“Ya kita tidak mau tau, kalian harus siapkan uangnya saat ini juga,” Edward dengan emosi menendang paman hingga jatuh tersungkur.
Semua orang berteriak saat Edward menendang paman, tentu saja teriakan itu berhasil membuat tetangga sekitar datang karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi di rumah Satria. Namun pria-pria berpakaian hitam lainnya dengan sigap mencegat agar mereka tak bisa masuk ke dalam.
“Pak, jangan main kasar dong,” protes Satria. Paman sudah dibantu berdiri oleh bibi dan putranya Arya.
“Kenapa? Kamu gak terima? Kalau begitu sediakan uangnya sekarang juga!” Para pria itu seolah tak mau tau lagi, mereka terlihat siap memukuli siapa saja yang menentang mereka.
Dan benar saja, dalam sekejap para pria itu menghajar semua laki-laki dan hanya menyisakan para perempuan.
Ditengah kekacauan itu, sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti di depan rumah Satria. Seorang wanita dengan gaya yang elegan keluar dari mobil, itu adalah Natasya. Ia menatap heran pada karena banyak orang berkerumun di depan rumah Satria.
“Ada apa ini?”
__ADS_1