
Di rumah keluarga pak Joni, semua anggota keluarga beserta dua anak angkatnya sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Melisa..." panggil pak Joni.
"Iya yah?" Melisa menoleh pada pak Joni.
"Ayah dengar, pak Gunawan dan istrinya bercerai. Apa benar?" Tanya pak Joni.
"Iya yah benar," jawab Melisa.
"Ya ampun nak," bu Lastri mengelus punggung Melisa. "Yang sabar ya."
"Aku ga papa bu, lagian juga emang aku yang minta," Melisa menjawab tanpa ekspresi.
"Emang ayah tau dari mana?" Tanya Bobi.
"Kalau berita kaya begini pasti cepat nyebarnya. Semua orang di kantor sibuk membicarakan mereka," jawab pak Joni.
Melisa terlihat tak peduli, dia lebih memilih fokus pada televisi.
Satria dan Bobi memperhatikan gerak gerik Melisa, dan bu Lastri masih terus mengelus punggung Melisa dengan lembut.
"Kamu benar ga papa nak?" Tanya bu Lastri khawatir.
"Aku ga papa bu, malah aku senang mereka pisah," Melisa meyakinkan bu Lastri bahwa dirinya memang baik-baik saja, sangat baik bahkan.
"Mel, kita pulang dulu yuk," ajak Bobi.
"Loh kenapa?" Tanya bu Lastri pada Bobi. Semua orang juga beralih menatap Bobi.
"Waduh, kok pada ngeliatin gini? Ya mumpung ayahmu lagi ada di sini, siapa tau beliau lagi butuh temen curhat. Kasian kan kalau sama Fredy terus, mungkin dia butuh sosok kamu Mel sebagai anaknya. Ya bagaimana pun ini pasti tak mudah bagi ayahmu," Bobi mencoba menasihati Melisa.
"Benar nak Melisa, ayahmu mungkin butuh tempat untuk mengeluarkan keluh kesahnya. Pada siapa lagi kalau bukan pada kamu anaknya," pak Joni juga ikut menasihati.
"Apa sulitnya menceraikan wanita itu?" Melisa terlihat tak acuh.
"Pasti sulit Mel, kalau tidak mungkin sudah dari dulu ayahmu menceraikannya," jawab Bobi.
"Benar nak, temui dulu ayahmu. Dia mungkin butuh kamu untuk menemaninya di saat-saat sulit seperti ini," bu Lastri menambahkan.
Melisa terdiam, ia tak mengerti kenapa ayahnya harus merasa kesulitan? Bukankah mereka tak saling cinta? Apa ini berhubungan dengan harta gono gini? Jika memang iya, kenapa harus dia yang ditemui ayahnya? Bukankah Fredy jauh lebih berguna dibanding dirinya?
__ADS_1
Berbagai pertanyaan terus menerus muncul dari dalam pikirannya. Meski begitu Melisa lebih memilih diam, ia tak mau mempermasalahkan hal ini terlalu jauh.
Mungkin memang seharusnya ia menemui ayahnya, meski ia tak tau apa yang harus dilakukan nantinya. Setidaknya ia mau mencoba menuruti nasihat dua orang yang kini ia anggap sebagai orang tuanya itu.
Satria masih memperhatikan raut wajah Melisa. Gadis itu terlihat tenang, sangat tenang. Satria membayangkan jika dia yang ada di posisi Melisa, ia pasti merasa sangat sedih. Membayangkan bagaimana ia akan hidup dengan orang tua yang terpisah.
Tapi itu mungkin bukan hal yang sulit bagi Melisa, karena selama ini ia memang sudah hidup terpisah dari kedua orang tuanya. Perceraian kedua orang tua Melisa tak ada pengaruh yang berarti bagi hidup Melisa.
"Haruskah kita pulang malam ini?" Tanya Melisa pada Bobi.
Bobi berpikir sejenak, "ide bagus, besok mungkin ayahmu akan sangat sibuk. Lagipula, besok aku sudah harus memulai tes untuk masuk akademi."
"Loh, bukannya kakak ga perlu tes?" Tanya Melisa.
"Ayolah, meski ini cuma formalitas. Tapi aku juga harus tau kemampuanku sampai dimana?" Bobi.
"Masuk jalur eksklusif ya kak?" Rian yang sedari tadi sibuk bermain ponsel akhirnya ikutan berkomentar juga.
"Sssttt..." Bobi menempelkan jari telunjuknya di depan bibir.
Pak Joni dan bu Lastri hanya menggelengkan kepala. Meski sebenarnya mereka tak setuju dengan cara Bobi masuk ke Akademi. Namun mereka tak bisa melakukan apa-apa.
Ini sudah menjadi keputusan mutlak ibunya Bobi agar anaknya bisa meneruskan karir sang ayah.
Bob, tak sedikitpun tertarik dengan dunia bisnis. Begitu juga dengan istrinya, ia menikmati sekali perannya sebagai ibu bayangkari.
Jadilah beban itu semua jatuh pada Gunawan.
"Baiklah, ayo pulang sekarang," ajak Bobi.
Melisa mengangguk, mereka lalu berpamitan pada keluarga pak Joni. Satria yang mengantar Melisa dan Bobi keluar menuju halaman.
Sampai di teras rumah, Satria menarik Melisa ke dalam pelukannya. Kemarin malam sebelum tidur Bobi bercerita bagaimana kejamnya perlakuan Natasya pada Melisa. Hal itu membuat Satria merasa sangat iba pada gadis dalam pelukannya itu.
"Ada apa?" Melisa mendongakkan wajahnya.
"Ga mau di peluk?" Satria malah balik bertanya.
Melisa tak menjawab, ia kembali menenggelamkan wajahnya di dada Satria. Mengeratkan pelukannya.
"Ini namanya transfer energi," ucap Satria.
__ADS_1
Melisa tersenyum senang.
"Terima kasih," Melisa melepaskan pelukan Satria. Ia terpaksa melepaskannya karena Bobi berkali-kali menyalakan klakson motornya.
Melisa berjalan ke arah Bobi dengan mata yang melotot. Bobi bukannya takut malah menjulurkan lidahnya, meledek Melisa.
"Ganggu aja," ucap Melisa saat sudah duduk di belakang Bobi.
Bobi tertawa puas karena sudah mengganggu romantisme sesaat Melisa dan Satria.
Kedua saudara sepupu itu akhirnya pergi meninggalkan kediaman pak Joni. Satria masih mematung menatap kepergian Melisa. Ia tak tau harus bagaimana memberikan dukungan untuk gadis yang disukainya itu.
Hanya kesiapan diri yang bisa ia berikan, siap jika suatu saat ia dipanggil bu Natasya karena beasiswanya di cabut. Ia tau, ini pasti akan berat bagi dirinya. Tapi menjauhi Melisa saat ini yang sedang butuh dukungan jauh lebih sulit.
"Maaf nyonya, aku tak bisa menepati janjiku menjauhi Melisa. Kurasa dia lebih butuh diriku. Dan beasiswa mungkin bisa aku dapatkan di tempat lain," gumam Satria.
Sampai di rumah, Melisa dan Bobi segera masuk. Pak Gunawan dan sekertaris nya sedang sibuk dengan pekerjaan kantor yang mereka bawa pulang ke rumah.
"Loh, kamu kok pulang?" Tanya Gunawan saat melihat kedatangan Melisa dan Bobi.
"Iya, kak Bobi kan besok mau tes masuk akademi yah," jawab Melisa duduk di samping ayahnya.
"Kamu jadi masuk ke kepolisian Bob?" Tanya Gunawan pada Bobi.
"Iya om, mamah yang mau," jawab Bobi.
"Terus kamu juga mau?" Tanya Gunawan lagi.
"Mau aja om, lagian aku pikir, aku lebih cocok jadi polisi. Kalau masuk manajemen otakku ga akan sanggup om," Bobi terkekeh dengan jawabannya sendiri.
Gunawan menghela nafas, "Terus siapa yang mau meneruskan bisnis perusahaan kita ini?"
"Melisa..." Bobi menunjuk Melisa.
Melisa melotot pada Bobi. "Engga yah, aku juga ga sanggup kayanya," Melisa mengangkat kedua tangannya.
"Kamu pikir ayah dulu berpikir bahwa ayah sanggup? Ayah juga sama, takut salah langkah, takut salah ambil keputusan, takut gagal. Tapi ayah lebih takut, jika ayah tak mencoba. Kakek kalian selalu meyakinkan bahwa ayah pasti bisa. Dan lihat, perusahaan kita sudah banyak buka cabang di luar negeri."
Melisa dan Bobi kompak bertepuk tangan lalu mengacungkan dua ibu jari mereka.
"Om memang terbaik," puji Bobi.
__ADS_1
"Itu sebabnya, kalian juga pasti bisa," Gunawan memberi semangat pada putri dan keponakannya itu.
Melisa tersenyum, ia tau betul ayahnya sangat sibuk mengurus dan mengembangkan perusahaan. Ia jadi sanksi, apa ayahnya punya waktu dengan kekasihnya jika ia sesibuk ini? Apa kekasihnya tak marah lalu meninggalkannya?