
Pagi ini mentari bersinar begitu cerah, sinarnya memasuki kamar Melisa yang sudah kosong. Penghuninya kini berada di halaman, asik dengan beberapa tanaman bunga yang tumbuh di pekarangan rumahnya.
Gadis itu terlihat sangat ceria pagi ini. Semalam, ia dan Satria bertelponan hingga tengah malam. Melisa mengungkapkan semua cerita tenang dirinya pada Satria.
Dengan tenang Satria mendengarkan cerita Melisa. Laki-laki itu bahkan menasihati Melisa, agar tidak mengungkit tentang kehidupan masa lalunya.
Satria berpesan, apa yang sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya jangan dijadikan alasan untuk Melisa membenci keduanya. Justru jadikan peristiwa itu sebagai pelajaran, bagi Melisa yang kelak juga akan menjadi orang tua.
Satria juga mengingatkan, agar Melisa kembali fokus pada dirinya. Memikirkan apa yang mau Melisa lakukan, apa mimpi dan cita-cita Melisa. Apa tujuan hidup Melisa saat ini? Fokuslah pada hal itu, sehingga Melisa tak perlu merasa terus bersedih dengan kondisi keluarganya yang tidak baik-baik saja.
Melisa terus saja menebar senyum pagi itu, ia sudah memutuskan apa tujuan hidupnya. Menjadi istri Satria.
Memikirkan hal itu sudah membuat Melisa sangat bahagia. Gadis itu terus saja menutup wajahnya karena malu dengan bayangannya sendiri.
"Aku tak ingin jadi apapun, aku hanya ingin jadi istrinya," gumam Melisa. Ia bertekad akan memberi tahu Satria saat nanti di sekolah.
Selesai dengan tanamannya, Melisa masuk ke dapur. Di sana sudah ada Fredy yang sedang sibuk membuat sarapan.
"Ayah belum bangun?" Tanya Melisa sambil membantu Fredy menyiapkan piring-piring untuk sarapan.
"Sudah nona, mungkin sedang mandi sekarang," jawab Fredy.
Kini ayahnya sudah tak lagi tinggal berpindah-pindah dari hotel satu ke hotel yang lain. Melisa yang memintanya untuk tinggal saja di rumah. Bahkan Fredy juga ikut tinggal bersama mereka.
"Selamat pagi..." Suara ceria Bobi terdengar saat laki-laki itu memasuki ruang makan.
Melisa dan Fredy hanya menoleh sesaat, lalu keduanya melanjutkan pekerjaan mereka.
"Udah mulai masuk sekolah ya?" Tanya Bobi seolah mengejek Melisa.
"Mmm..." Melisa menjawab singkat.
"Senangnya, masih pake seragam putih abu-abu," Bobi melirik Melisa yang sebenarnya belum memakai seragamnya.
"Kenapa? Kau iri ya? Masih pengen pake seragam abu-abu?" Tanya Gunawan yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Bobi.
"Hehe, engga om..." Bobi malu karena kepergok sedang meledek Melisa.
"Ga papa, nanti om tinggal bilang sama tante Natasya agar kamu bisa masuk lagi ke sekolah," ucap Gunawan.
"Oh, engga om.. terima kasih" Bobi mengangkat tangannya, menandakan penolakan.
"Bisa-bisa kali ini gue ga akan di kasih lulus," batin Bobi.
"Yah, nanti berangkat jam berapa?" Tanya Melisa.
"Jam tujuh sayang, kenapa?" Gunawan.
__ADS_1
"Aku nebeng ya," pinta Melisa.
"Loh, ga bawa mobil sendiri?" Gunawan.
Melisa menggeleng.
"Nanti pulangnya gimana?" Gunawan kembali bertanya.
"Bisa minta jemput kan," Melisa menunjuk Bobi.
"Aku?" Bobi menunjuk dirinya sendiri. "Oh, tidak bisa. Hari ini aku sibuk," Bobi menolak menjemput Melisa.
"Ya udah, nanti minta anter Satria aja," jawab Melisa.
"Dasar, gadis licik. Bilang aja mau bareng sama Satria." Batin Bobi.
Gunawan hanya mengangguk mendengar jawaban Melisa.
"Sarapan siap," Fredy datang membawa beberapa piring nasi goreng, lalu meletakkannya di atas meja.
"Wow, nasi goreng. Keliatannya enak nih," mata Bobi berbinar melihat makanan yang telah terhidang di depan matanya.
Sejak tinggal bersama, Fredy lah yang bertugas membuat sarapan untuk seluruh penghuni rumah. Karena Fredy sangat pintar memasak. Bobi bilang, masakan Fredy jauh lebih enak dibanding Melisa. Maka dari itu, Melisa sudah enggan membuat sarapan lagi. Ia menyerahkan tugasnya pada Fredy.
Selesai sarapan, Bobi yang bertugas mencuci piring.
"Mel, tidakkah kita butuh seorang pembantu?" Tanya Bobi saat ia selesai mencuci piring.
Bobi menggerutu mendengar jawaban Melisa.
"Benar Bob, kamu harus terbiasa dengan pekerjaan rumah. Pembantu itu hanya untuk orang-orang yang sibuknya luar biasa," Gunawan menimpali.
Bobi hanya tersenyum kecut mendengar ucapan ayah dan anak itu.
"Sudah yuk, kita berangkat," Melisa menggandeng tangan ayahnya meninggalkan Bobi seorang diri di ruang makan.
Fredy sudah siap dengan mobil tuannya. Membukakan pintu untuk Melisa dan Gunawan.
Saat mobil mulai melaju meninggalkan rumah, Gunawan melirik putri semata wayangnya itu.
"Kau pulang naik apa nanti?"
"Motor yah, Satria kan sekarang sudah punya motor," jawab Melisa.
"Oh ya?"
Melisa mengangguk. "Kak Amanda yang beliin?"
__ADS_1
Gunawan mengernyitkan dahinya.
"Dalam rangka apa?"
"Hadiah, karena Satria dapet juara dua seangkatan," Melisa tersenyum bangga.
Gunawan hanya mengangguk. "Kau tak apa ada perempuan lain yang memberi hadiah untuk Satria?"
"Tak masalah, lagian Satria juga sudah banyak membantu mengajari kak Amanda dan kak Bobi sebelum ujian. Jadi aku rasa Satria pantas mendapatkannya," Melisa menjelaskan pada ayahnya.
"Kenapa hanya Amanda yang memberi hadiah? Bobi tidak?" Gunawan penasaran.
"Kak Bobi gak punya uang," bisik Melisa ditelinga ayahnya.
Gunawan terkekeh mendengar jawaban Melisa. Ia lupa kini Bobi sudah diusir oleh kakaknya. Meski masih memegang kartu kredit, tapi Bobi tidak bisa menggunakannya dengan leluasa karena limitnya yang terbatas.
Sampai di sekolah, Melisa mencium pipi ayah sebelum turun dari mobil.
"Hati-hati ya sayang," Gunawan membelai lembut rambut putrinya.
Melisa mengangguk, "Ayah juga. Terima kasih Fredy," Melisa menepuk pundak Fredy yang duduk di depannya yang hanya dibalas anggukan oleh Fredy.
Setelah turun dari mobil, pak Dedi sang penjaga sekolah segera menghampiri Melisa. Pria tua itu sempat menyapa Gunawan dan sekertarisnya sebelum mereka pergi.
"Aku masuk kelas berapa?" Tanya Melisa sambil melangkah masuk ke gerbang sekolah.
"XII IPA 1," jawab pak Dedi cepat.
Melisa mengangguk paham, saat ia akan memasuki gedung sekolah pak Dedi menghentikan langkah kaki Melisa.
"Nona sekelas dengan Satria," bisik pak Dedi sambil tersenyum, pria tua itu lalu meninggalkan Melisa yang masih diam mematung seolah tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.
"Kok bisa?" Batin Melisa. Melisa melanjutkan perjalanan menuju lantai empat dimana kelas XII berada.
Dan benar saja, ternyata ia memang sekelas dengan Satria. Melisa segera menghampiri Satria.
"Hai Sat, kita sekelas," sapa Melisa.
Satria yang kaget melihat dirinya sekelas dengan Melisa memilih untuk menghampiri gadis itu.
"Kok bisa?" Tanya Satria.
"Entahlah, biarkan saja."
Meski keduanya merasa curiga, namun mereka lebih memilih diam.
Bel masuk berbunyi, semua murid berkumpul di lapangan upacara.
__ADS_1
Melisa tak mau jauh dari Satria, dan Satria juga terlihat tak peduli. Laki-laki itu sudah tak takut lagi dengan ancaman Natasya. Jika memang ia harus kehilangan beasiswa tak mengapa, asalkan Melisa berada di sisinya.
Dari balik ruangan kepala sekolah, seseorang memperhatikan Melisa dan Satria. Wanita itu tersenyum licik. Entah apa yang ada dipikirannya.