
Melisa masih merenungi cerita Satria, ia tak tau harus berbuat apa saat ini. Di sisi lain, Melisa juga merasa tak enak hati karena ulah ayahnya lah, Satria menderita saat ini.
“Apa mungkin, kecelakaan keluargamu itu juga ulah ayahku?” Saking syoknya, Melisa sampai berpikir terlalu jauh.
“Hei, jangan berpikir seperti itu. Aku tak mau berasumsi begitu, kejadian yang menimpa keluargaku adalah murni kecelakaan,” Satria segera menepis pikiran Melisa.
“Tapi kan bisa saja, apa yang tak mungkin dilakukan oleh ayahku? Jika berpura-pura baik saja dia bisa, apalagi...” Melisa tak mau meneruskan ucapannya.
“Melisa, aku tak mau kau berpikir seperti itu. Keluargaku meninggal karena murni kecelakaan, dan aku ingin mempercayai itu,” Satria berusaha untuk menenangkan Melisa. Ia juga tak ingin beranggapan bahwa Gunawan lah penyebab orang tuanya meninggal. Lagi pula tidak ada bukti yang mengarah ke sana.
Satria hanya ingin menganggap, Gunawan mengambil kesempatan dari musibah yang kini dialami oleh Satria. Agar bisa membuat Satria semakin menderita.
Saat keduanya masih sama-sama larut dalam pikiran masing-masing, seseorang memasuki rumah itu.
“Kau sedang apa di sini?” Itu suara Natasya.
Melisa mendengar suara ibunya segera berdiri, ia tak menyangka ibunya akan datang saat ia berada di sana.
“Kau bilang ibuku tak pernah datang ke rumah ini lagi,” ucap Melisa sambil terus menatap Natasya.
“Memang benar, dan ini pertama kalinya ibumu datang setelah terakhir kali ia mengantarku ke rumah ini,” jawab Satria.
Satria segera berdiri menghampiri Natasya. Satria melihat beberapa kantong belanja yang Natasya bawa.
“Apa ini nyonya?”
“Untuk makan malam kamu. Maaf Mel, mamah tidak tau kalau kamu ada di rumah ini. Jadi mamah tak membelikannya untukmu juga,” ucap Natasya sambil tersenyum sinis pada Melisa.
“Tak masalah, lagi pula aku tak merasa lapar sama sekali,” balas Melisa.
“Aku tak tau kalau kalian masih saling berhubungan,” Natasya menyerahkan kantong belanja pada Satria.
Satria menerimanya, ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Natasya. Satria lalu berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makanan yang dibawa Natasya.
__ADS_1
“Kenapa? Tak boleh?” Melisa bertanya dengan nada kesal.
“Tidak apa, kapan aku melarangmu?”
“Kau dulu pernah melarang Satria mendekati aku, kau lupa?”
Natasya menyeringai, “kau pikir kenapa aku melakukan itu? Karena aku peduli padamu? Aku melakukan itu karena ayahmu yang memintaku, si munafik itu selalu memintaku melakukan hal-hal yang jahat padamu. Sedangkan dia sendiri selalu bersikap sok baik di hadapanmu,” Natasya mencoba membongkar fakta pada Melisa.
“Kau pasti berbohong padaku! Kau ingin mengadu domba aku dan ayahku kan? Agar aku juga membenci ayahku seperti aku membenci dirimu?” Melisa tak terima dengan apa yang dikatakan Natasya.
Natasya berjalan mendekati Melisa.
“Aku tak peduli kau percaya padaku atau tidak, namun perlu kau tau. Ayahmu tidak sebaik itu,” bisik Natasya.
Melisa menatap tajam pada ibunya, ia masih berpikir serangan apa yang kini ibunya berikan padanya. Melisa merasa ibunya senang sekali memberikan serangan mental pada dirinya.
“Sebenarnya apa mau mu?” Melisa nampak sangat geram kali ini.
Satria yang melihat aura pertengkaran ibu dan anak itu segera menghampiri mereka. Satria memegang lengan Melisa, agar emosi Melisa sedikit mereda.
Satria menarik tangan Melisa dan membawanya ke sofa yang tak jauh dari meja belajar Satria. Natasya hanya memperhatikan keduanya sambil terus menyeringai.
“Duduklah,” Satria meminta Melisa untuk duduk. “Anda juga nyonya, duduklah di sini. Aku rasa kalian sebaiknya saling bicara, agar tak ada lagi salah paham diantara kalian.”
“Salah paham? Salah paham apa? Kau pikir selama ini aku hanya salah paham pada ibuku?” Melisa tersulut emosinya.
Satria mengangguk. “Benar Mel, perlu kau tau. Ibumu tidak sejahat itu,” Satria menggenggam tangan Melisa.
Melisa segera menepis tangan Satria. “Kenapa kau membela ibuku? Apa yang sudah ibuku lakukan padamu?”
“Tidak ada, ibumu hanya menceritakan padaku apa yang ia tau tentang ayahmu,” Satria berusaha untuk tetap tenang menghadapi Melisa.
“Dan kamu percaya?” Melisa menatap Satria tak percaya.
__ADS_1
Satria terdiam, ia hanya menundukkan wajahnya.
“Wanita itu sudah membohongimu Satria, bisa saja dia yang menyuruh orang-orang itu untuk mengusir kamu! Bukankah dia juga masih punya kekuasaan di Laksmana Grup? Ayolah Satria, kamu jangan terpancing olehnya! Bisa saja semua ini dia lakukan agar dia bisa terus bersamamu, dia hanya pura-pura menjadi pahlawan yang menolongmu agar hatimu bisa luluh padanya,” Melisa mengeluarkan semua yang ada dalam pikirannya secara berapi-api.
“Bukan seperti itu Melisa,” Satria berkilah.
“Lalu apa? Kamu mau bilang kalau ayahku yang jahat padamu? Dan wanita itu adalah orang baik? Kamu mau aku percaya itu?”
“Aku tak memintamu untuk percaya, tapi setidaknya dengarkan dulu penjelasan ibumu,” Satria meminta agar Melisa tetap tenang.
“Sudahlah Satria, biarkan dia pergi. Sekalipun aku berkata sebenarnya, dia tak akan pernah percaya padaku,” ucap Natasya dengan santai.
“Baguslah kalau kau sadar diri, sampai kapan pun aku tak akan pernah percaya padamu!” Melisa segera berdiri dan pergi meninggalkan rumah itu. Melisa tak percaya, Satria bisa dengan mudah diperdaya oleh ibunya.
“Nyonya, bukan kah ini kesempatanmu untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Melisa? Bagaimana pun Melisa berhak tau,” Satria tampak kecewa pada Natasya.
“Percuma, dia sudah menutup pintu untukku rapat-rapat,” Natasya sama sekali tak peduli.
“Jadi sebenarnya, anda menyayangi Melisa atau tidak?”
“Entahlah, aku sebenarnya tak peduli padanya. Tapi bagaimana pun dia adalah anakku. Aku terkadang berpikir, bagaimana jika suatu saat aku menyesali apa yang telah ku perbuat padanya? Apakah suatu saat aku akan mendapat hukuman karena sikapku ini?”
Natasya menerawang jauh ke langit-langit ruangan. Ia nampak sedang berandai-andai, apa yang akan terjadi padanya karena mengabaikan anaknya sendiri?
Satria hanya bisa menghela nafas, melihat sikap ibu dan anak yang sama-sama keras kepala. Di satu sisi, Melisa sudah sangat kecewa dengan sikap Natasya. Dan di sisi lain, Natasya juga merasa kecewa pada Gunawan sehingga menjadikan Melisa sebagai pelampiasan.
Bagi Satria, Natasya hanya tak tau bagaimana mengekspresikan rasa sayangnya pada Melisa. Perasaan kecewa pada Gunawan lah penyebabnya.
“Nyonya, apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?”
“Tanyakanlah!”
“Mengapa saat tuan Gunawan ingin menceraikan anda saat itu, anda tidak mau? Apa karena harta?”
__ADS_1
Natasya tertawa mendengar pertanyaan Gunawan. “Satria, apa kau pikir aku adalah orang yang gila harta? Aku bukan orang miskin, tanpa Gunawan aku juga masih sangat kaya. Saat itu, aku hanya sekedar mengetes. Apa Gunawan masih bisa menyampingkan permintaan putri kesayangannya jika aku merayunya? Dan ternyata, aku bisa! Hahaha...”
Satria hanya menggelengkan kepalanya sambil sesekali mendesah. Ia memang tak pernah bisa mengerti jalan pikiran Natasya. Tapi semakin lama Satria mengenal Natasya, semakin ia merasa bahwa Natasya tidak sejahat itu. Masih ada sisi baik dalam diri Natasya, meski sisi jahatnya masih lebih dominan.