Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Ingin Merasakannya Juga


__ADS_3

Saat jam istirahat, Melisa memilih untuk makan di dalam kantornya saja. Ia malas untuk keluar saat cuaca sedang terik-teriknya.


Fredy membelikan satu porsi ayam bakar untuk santap siang Melisa. Ia juga membeli menu yang sama untuk dirinya.


Baru saja selesai makan siang, Fredy mendapat kabar bahwa Dion pingsan di kantornya. Dan saat ini sedang dibawa ke rumah sakit.


"Nona, tuan Dion dilarikan ke rumah sakit," ujar Fredy memberi kabar pada Melisa.


"Dion sakit? Sakit apa?"


"Entahlah, menurut kabar yang beredar saat ini tuan Dion sedang dibawa ke rumah sakit dengan ambulance," jawab Fredy.


Melisa berpikir sejenak, mungkinkah ini karena pertengkarannya semalam?


"Apa nona mau menjenguknya?"


"Baiklah, ayo kita ke sana," Melisa yang merasa bersalah pada Dion setuju untuk menjenguk Dion di rumah sakit.


Tiba di rumah sakit, Melisa dan Fredy segera menuju IGD. Di sana nampak Dion tengah berbaring lemah di atas salah satu ranjang pasien. Melisa dan Fredy menghampirinya.


"Dion," Melisa sudah berdiri di samping ranjang Dion.


Dion tak memberi reaksi apapun, hingga tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri mereka. Itu adalah asisten Dion, ia ditugaskan untuk menjaga Dion selama di kantor.


"Tuan muda belum sadar, tapi dokter sudah memberinya obat melalui cairan infus," jelas wanita itu.


"Dion sakit apa?" Tanya Melisa khawatir.


"Masih belum keluar hasil pemeriksaannya, tapi dugaan sementara tuan muda hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran," jawab wanita itu.


Melisa mengangguk paham, nampaknya ia tau penyebab Dion sakit adalah karena dirinya yang sudah berkata sembarangan hingga menyakiti hati Dion.


Melisa meminta izin untuk keluar dari IGD sebentar, ia ingin menghubungi Satria.


Di luar IGD, Melisa membuka ponselnya dan segera menghubungi Satria.


"Satria?"


"Ya Mel?"


"Kamu dimana?"


"Aku masih di sekolah, ada apa?"


"Dion masuk rumah sakit, dia pingsan di kantor. Aku jadi merasa bersalah," ucap Melisa perlahan.


"Kenapa kamu harus merasa bersalah? Dia sudah menamparmu tadi malam," Satria mengingatkan kembali apa yang sudah Dion lakukan pada Melisa tadi malam.


"Aku tau, tapi biarkan aku di sini sementara waktu. Saat dia sadar, aku ingin mengakhiri hubungan ini baik-baik dengannya."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku akan menyusul kamu setelah mengantar ibu pulang."


"Tak perlu Satria."


"Aku khawatir Mel, dia mungkin saja melakukan sesuatu yang buruk padamu."


Meski awalnya menolak, Melisa akhirnya memperbolehkan Satria untuk datang ke rumah sakit.


Cukup lama Melisa berdiam diri di luar IGD, bahkan setelah pembicaraannya di telepon dengan Satria berakhir pun ia masih menunggu di luar ruangan.


Meski sebenarnya ia tak peduli dengan perasaan Dion, namun melihatnya terbaring lemah membuat Melisa jadi sedikit tidak enak hati.


"Nona? Sedang apa di sini?" Suara Fredy membuyarkan lamunan Melisa.


"Kenapa keluar?"


"Tuan Dion sudah dipindahkan ke ruang perawatan."


"Di kamar berapa? Ku ingin menemuinya sebentar," tanya Melisa.


Fredy lalu menemani Melisa menuju ruangan tempat Dion di rawat. Dan ternyata Dion sudah siuman. Ia melihat ke arah Melisa yang baru saja masuk ke ruangan tempat ia di rawat.


"Dion, kau kenapa?" Tanya Melisa.


Dion hanya terdiam sambil terus menatap Melisa.


"Kamu kenapa ke sini?"


"Aku mengkhawatirkan kamu," jawab Melisa sambil terus mendekati ranjang pasien tempat Dion berbaring kini.


"Sungguh?"


"Mmm..."


Dion lalu melirik asistennya dan juga Fredy. Mereka berdua paham akan maksud dari lirikan itu, lalu keduanya pergi bersamaan.


Kini di ruangan hanya ada Melisa dan Dion, wajah Dion sudah tak pucat seperti tadi saat Melisa menjenguknya di IGD.


Dion berbaring di ranjangnya sambil memegang kedua kepalanya.


"Kamu kenapa? Pusing?"


"Sedikit."


"Dion, aku ingin minta maaf karena telah menyakiti hatimu tadi malam. Aku..."


Greb...


Dion menarik tubuh Melisa hingga tubuh gadis itu menimpa tubuh Dion.

__ADS_1


"Dion..." Melisa ingin berontak namun segera ditahan oleh Dion.


"Sssttt..." Dion menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Kau mau apa?" Melisa sudah melotot ke arah Dion dan hampir berteriak. Namun dengan cepat Dion menarik tengkuk leher Melisa agar mendekatkan wajah Melisa ke wajahnya.


Satu buah ciuman berhasil mendarat di bibir mereka. Melisa dengan sigap mendorong Dion dan ingin melarikan diri. Namun dengan gerakan cepat Dion segera duduk dan menarik kembali tubuh Melisa dan menidurkannya di atas ranjang pasien.


Kini tubuh Melisa sudah berada di bawah tubuh Dion.


"Kau mau apa? Lepaskan atau aku teriak!"


"Ayolah Mel, kamu kan pernah melakukannya. Tentu kamu sudah tak perawan lagi kan? Izinkan aku merasakannya satu kali saja, setelah itu kau mau memutuskan aku terserah."


"Tidak Mau! Kenapa aku harus melakukan itu denganmu?"


"Supaya kau juga bisa merasakan bagaimana rasanya aku Mel, jadi kamu bisa memilih mana yang lebih baik di atas ranjang?"


"Menjijikkan! Minggir!"


Melisa terus mendorong tubuh Dion sekuat tenaga, namun entah bagaimana tubuh Dion seperti batu besar yang tak mau bergeser sedikit pun. Dion kembali memulai aksinya, mencium bibir Melisa.


Namun kali ini Melisa tak membiarkannya, ia menggigit bibir Dion hingga kesakitan.


"Aaahhh..."


Tak mau kehilangan kesempatan, Melisa mendorong tubuh Dion dengan sekuat tenaga. Melisa turun dari ranjang secepat yang ia bisa. Beruntung, karena satu tangan Dion sedang di infus hingga menyulitkan gerakan tangannya.


Melisa sudah berada jauh dari hadapan Dion. Ia tampak sangat marah mendapat perlakuan kasar dari Dion. Sebelumnya ia tak pernah menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari Dion.


Dimatanya, Dion adalah sosok lembut yang penyayang dan penyabar. Melisa tak mengira bahwa Dion memiliki sisi bringas juga. Tak cukup menamparnya tadi malam, bahkan kini laki-laki itu ingin memperkosanya. Padahal saat ini mereka tengah berada di dalam rumah sakit.


"Kau gila Dion!"


Dion menyeringai.


"Aku tidak gila, jika Satria yang kelihatannya bisa menahan nafsunya saja melakukan itu padamu, kenapa aku tidak?" Dion turun dari ranjangnya dan berjalan perlahan menuju tempat Melisa.


"Tapi aku tak sudi menyerahkan tubuhku padamu!"


"Cih, munafik! Rasanya akan sama saja, kenapa kau tak coba dulu? Lagi pula aku tak mengira bahwa kau juga gadis murahan seperti yang lainnya. Jika tau begini, aku sudah lebih dulu meniduri kamu," Dion berjalan semakin dekat dengan Melisa.


"Coba saja, karena sampai kapanpun kamu tak akan pernah bisa merasakan tubuhku!"


Melisa bersiap ketika Dion sudah ada di jarak yang hampir dekat dengannya. Tadi saat melarikan diri, ia salah mengambil langkah. Bukannya berlari menuju pintu keluar, ia malah berlari ke arah balkon.


Kini Melisa tersudut di antara pintu kaca yang menuju balkon dan Dion yang sebentar lagi sampai. Satu detik kemudian, seseorang membuka pintu kamar Dion.


"Kalian sedang apa?"

__ADS_1


__ADS_2