
"Kalau boleh tau, saya terlihat cocok dari mananya ya?"
"Pak Steve kan sudah sering membantu warga. Apalagi dengan mereka yang bermasalah dengan keuangan, jadi saya rasa pak Steve cocok untuk mengemban tugas ini."
Steve diam sejenak, ia memikirkan ucapan pak kepala desa barusan.
"Pak Steve tak usah menjawab sekarang, silahkan di pikirkan dulu. Saya rasa juga warga desa akan senang jika pak Steve yang menjadi kepala desa."
Steve tersenyum.
"Baiklah pak kepala desa, saya akan mendiskusikan hal ini dulu kepada anak-anak saya."
Pak kepala desa pun pamit, dan keluar rumah kembali mengikuti jamuan makan malam.
Acara yang sebenarnya dirancang sangat sederhana oleh Melisa dan Satria, namun tetap saja terasa mewah bagi warga-warga desa. Kemeriahan terus berlanjut hingga tengah malam.
Menjelang subuh, barulah semua warga kembali ke rumah masing-masing.
"Aku lelah..." Keluh Melisa seraya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kamu kenapa ikut-ikutan sampai pagi?" Tanya Satria.
"Aku gak mau tidur sendirian," jawab Melisa dengan manja.
"Ya ampun, baru juga berapa hari jadi istriku sudah gak mau tidur sendirian. Bukannya kemarin-kemarin juga kamu tidur sendirian, bahkan di rumah yang besar."
"Itu kan kemarin-kemarin. Semenjak jadi istrimu, aku berjanji tidak akan pernah mau tidur sendirian lagi," ucap Melisa.
"Baiklah... Ya sudah, ayo kita tidur."
"Sudah mau langsung tidur?"
"Iya, emang mau apa lagi?"
"Udah berapa hari loh kita gak itu..."
"Gak apa?"
"Kamu gak kepengen?"
Satria paham maksud pembicaraan Melisa.
"Tapi aku lagi capek banget Mel, besok aja ya?"
Melisa pun tersenyum sambil mengangguk. Ia mengerti bahwa Satria mungkin kondisi kesehatannya masih belum sembuh total. Sehingga ia tak mau membicarakannya lagi.
__ADS_1
Meski sebenarnya ia sedang sangat ingin melakukannya.
"Tapi bener besok ya," bujuk Melisa.
"Iya sayang," jawab Satria sambil menarik tubuh Melisa ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu," bisik Satria di telinga Melisa.
Melisa yang mendengarnya seketika merasa tersipu malu.
"Aku juga mencintaimu," balas Melisa.
Keduanya saling memberi kecupan sebelum tidur, hingga akhirnya mereka pun terlelap di waktu yang sudah hampir pagi.
...***...
Pagi hari, suasana desa masih sangat sepi. Hanya ada beberapa warga yang sudah mulai beraktivitas. Mereka yang semalam pulang lebih dulu, kini sudah mulai beraktivitas kembali.
Sedangkan mereka yang semalam masih terus mengikuti acara hingga selesai tentunya saat ini masih berada dalam dunia mimpinya masing-masing.
Untung saja hari itu hari minggu, anak-anak pun libur sekolahnya. Sehingga mereka tak masalah untuk bangun lebih siang, karena sebagian dari mereka juga semalam mengikuti acara hingga selesai.
Berbeda dengan Steve, ia yang sudah bangun sejak subuh saat ini tengah asik berolah raga meregangkan otot di halaman belakang rumahnya. Karena di halaman depan masih ada tenda dan kursi-kursi yang belum sempat dibereskan.
Di sana hanya ada dua orang pengawal yang giliran jaga di pagi hari. Satria dan Melisa jangan ditanya, tentu mereka berdua masih tertidur lelap.
Steve terpaksa menyantap sarapannya seorang diri. Karena setelah ia selesai berolah raga, semua orang di rumahnya masih juga tidur.
"Mereka mau tidur sampai kapan?" Gumam Steve.
Selesai sarapan, Steve pun bersiap untuk berjalan-jalan keliling kampung. Niatnya, pagi ini ia ingin mengajak Melisa dam Satria berkenalan dengan warga-warga desa.
Meski sebelumnya mereka sudah pernah beberapa kali bertemu warga desa, namun Steve ingin kedua anak angkatnya itu bisa semakin akrab dengan warga desa.
Namun mau bagaimana lagi, nyatanya dipukul sembilan pagi pun mereka masih tertidur lelap. Jadi Steve akan berangkat seorang diri, sambil membawa amplop berisi uang untuk dibagikan kepada warga yang sudah bersedia membantunya kemarin.
Di sepanjang jalan desa pun, Steve hanya bisa bertemu dengan beberapa warga saja. Karena sebagian dari mereka pun juga masih tertidur.
Hingga pukul sebelas siang, Steve akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Anak-anak sudah pada bangun belum ya?" Gumam Steve.
Tiba di rumah, ia melihat Melisa dan Satria yang sedang mengobrol santai di teras rumah.
"Kalian sudah bangun?"
__ADS_1
"Ayah... Dari mana saja? Tadi kami mencari mu," Tanya Melisa.
"Aku sedang keliling desa membagikan amplop untuk para warga," jawab Steve.
"Amplop untuk apa?" Tanya Melisa lagi.
"Untuk tanda terima kasih untuk warga yang sudah bersedia membantu di acara kemarin."
"Oh..." Melisa dan Satria hanya mengangguk dengan kompak.
"Kalian sudah makan?"
"Sudah," Melisa dan Satria menjawab bersamaan.
"Baguslah, oh iya... Ada hal yang ingin ayah diskusikan dengan kalian berdua," ucap Steve seraya duduk diantara Melisa dan Satria.
"Ada apa yah?" Tanya Satria.
"Begini, semalam bapak kepala desa menawari ayah untuk menggantikannya sebagai kepala desa."
"Apa?" Lagi-lagi Melisa dan Satria menjawab kompak.
"Iya, menjadi kepala desa. Bagaimana menurut kalian?"
"Kenapa bertanya pada kami? Kan ayah yang akan menjalaninya. Kami sih akan selalu mendukung apapun keputusan ayah," ucap Melisa.
"Iya aku juga begitu," tambah Satria.
"Justru itu ayah sangat bingung."
"Yang membuat ayah bingung apa? Kalau ayah mau ya ayah ambil saja tawaran itu. Kalau ayah tidak suka, ya sudah ditolak saja," ucap Satria.
Steve mengangguk, memang benar apa yang dikatakan Satria. Sebenarnya ini bukan hal yang sulit, ia hanya tinggal menjawab iya atau tidak saja.
Namun tetap saja pertanyaan itu terasa sangat berat baginya. Ia sendiri bahkan tak pernah terpikirkan untuk menjadi bagian dari organisasi.
"Ayah sebenarnya tidak mau, ayah merasa ayah tak cocok menjadi seorang pemimpin. Namun di sisi lain ayah juga gak enak hati jika harus menolak."
"Kalau ayah tidak mau ya sudah, tinggal katakan saja kalau ayah tak mau. Ayah cukup hanya menjadi orang terkaya di desa yang senantiasa membantu warga-warga desa. Untuk urusan mengatur desa, ayah serahkan saja pada ahlinya," Satria memberi komentar.
"Kamu benar Satria. Baiklah kalau begitu nanti akan ayah sampaikan kepada kepala desa."
Steve merasa lega sekarang, setelah ia berbagi pemikiran kepada kedua anak angkatnya.
Sebelumnya ia sempat terus menerus kepikiran, karena memang sebenarnya Steve tak enak jika harus menolak tawaran pak kepala desa. Namun berkat dukungan dari Melisa dan Satria, Steve jadi merasa lebih yakin sekarang.
__ADS_1
"Kalau begitu ayah masuk dulu ke kamar ya, ayah mau ganti baju. Ternyata gerah juga sehabis jalan-jalan muter-muter desa. Habis ini ayah akan mengatakannya langsung pada pak kepala desa."
Steve pun berjalan menuju kamarnya.