
Pagi hari, semua anggota keluarga pak Joni sudah duduk di ruang makan. Mereka menikmati sarapan pagi dengan obrolan ringan. Saat semua sibuk membicarakan rencana mereka hari ini, Satria hanya diam membisu. Wajahnya terlihat masam.
"Kamu kenapa nak?" Tanya bu Lastri pada putra sulungnya itu.
"Aku gak papa bu," jawab Satria singkat.
Bu Lastri melirik Melisa, dan Melisa hanya mengangkat kedua bahunya menandakan ia tak tau kenapa Satria begitu.
"Lagi dapet kali bu?" Tebak Melisa iseng.
"Dapet apa?" Pak Joni menanggapi dengan serius.
"Masa iya? Satria kan laki-laki," bu Lastri segera meluruskan candaan Melisa yang dianggap serius oleh pak Joni.
Pak Joni mengernyitkan dahinya, menoleh ke kanan dan kirinya seolah meminta penjelasan akan humor aneh pagi ini.
Melisa dan Rian bukannya menjawab malah tertawa cekikan melihat reaksi pak Joni.
"Udah, ayah pura-pura gak denger aja," ucap bu Lastri pada suaminya.
"Gak denger gimana bu? Ayah denger kok," pak Joni semakin serius.
"Sudah ah, ga usah dibahas. Ayah kan harus antar Melisa dan Satria sekolah juga, jadi berangkat dari sekarang aja. Nanti takut terlambat," bu Lastri mengalihkan pembicaraan. Dan berhasil, pak Joni menyudahi makannya dan bersiap untuk berangkat.
Satria, Melisa, dan Rian juga ikut bersiap. Tanpa komando mereka semua sudah berada di halaman rumah.
"Ayah berangkat dulu ya bu," pamit pak Joni pada istrinya.
"Iya, hati-hati ya yah," jawab bu Lastri.
Satria, Melisa, dan Rian juga ikut berpamitan pada bu Lastri.
"Meskipun udah sering liat, tapi tetep seneng liat adegan romantis ayah dan ibu pagi-pagi," ucap Melisa saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kenapa kak? Kakak juga mau ya kaya begitu?" Ledek Rian.
"Ya mau lah," Melisa melirik Satria yang duduk di sebelahnya.
"Tuh kak, denger. Kak Melisa pengen adegan romantis pagi-pagi, nanti kalau udah jadi suami kak Melisa jangan lupa ya," ucap Rian pada Satria.
"Ya kamu bilang aja nanti sama suaminya," jawab Satria ketus.
__ADS_1
"Emang siapa suami aku?" Melisa menggoda Satria.
"Ya mana aku tau?" Satria terlihat masih jengkel karena kejadian semalam.
Rian menatap Melisa, "Kenapa?" Tanya Rian tanpa bersuara pada Melisa.
Sambil tersenyum Melisa menggeleng tidak tau pada Rian.
Pak Joni hanya diam saja melihat kelakuan anak-anaknya. Ia hanya fokus pada kemudinya. Pagi itu lalu lintas sangat ramai karena banyak orang yang berangkat kerja dan sekolah.
Sampai di sekolah, Satria berjalan cepat meninggalkan Melisa yang hanya tersenyum melihat tingkah Satria.
Selama jam pelajaran pun Satria hanya diam, dan menjawab setiap pertanyaan Melisa seadanya.
Sampai jam pulang sekolah, Satria berjalan menuju parkiran motor seorang diri. Ia menyalakan motornya yang kemarin ia tinggal di sekolah.
Dari parkiran Satria melihat Melisa berjalan menuju gerbang sekolah. Di belakang Melisa ada Dion yang mengikuti.
"Pulang sendiri Mel?" Tanya Dion.
Melisa menoleh ke arah Dion, dan Melihat Satria di kejauhan yang memperhatikan mereka.
"Mau aku anter pulang?" Dion tak mau melewatkan kesempatan.
"Boleh kalau kamu ga keberatan," jawab Melisa. Matanya masih melihat ke arah Satria yang kini melihatnya dengan tatapan tajam.
"Ya pastinya enggak lah, yuk..." Dion mengarahkan Melisa ke tempat dimana mobilnya di parkir.
Melisa dengan senang hati masuk ke dalam mobil Dion, tentu saja dengan pintu yang dibukakan sebelumnya oleh Dion. Dengan perlahan juga Dion menutup pintu mobil.
Berjalan dengan riang, Dion melangkahkan kakinya memutari mobil menuju kursi kemudi. Kini Dion juga sudah berada di dalam mobil, dan perlahan ia melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.
Sebelum mobil keluar area sekolah, Melisa menoleh sekali lagi ke arah Satria. Dengan tatapan tajam mata Satria terus mengikuti pergerakan mobil. Namun ia tetap diam di tempatnya. Satria menghela nafas panjang.
"Jadi semalam kamu berkirim pesan dengan Dion?" Gumam Satria. Ia terlihat lesu setelah kepergian Melisa. Satria terlihat sangat tak bersemangat. Ia duduk di atas motornya yang masih distandar dua.
Cukup lama Satria duduk di atas motor itu, ia terus terhanyut dalam lamunannya. Kenapa Melisa malah pergi dengan Dion? Apa dia sengaja untuk membuatnya cemburu? Atau Dion cuma alat agar dia bisa keluar dari sekolah dan menemui Steve di suatu tempat?
Sekolah sudah sepi, murid-murid sudah tak terlihat di lingkungan sekolah. Tanpa disadari seorang wanita duduk menyamping di belakang Satria. Kedua tangannya sudah melingkari pinggang Satria.
"Kamu kenapa melamun?" Bisik wanita itu dengan dagu yang sudah menempel di bahu Satria.
__ADS_1
Satria tertegun, ia terdiam membeku tak berani menoleh. Dari aroma parfum yang ia hirup, Satria tau pasti siapa yang duduk dibelakangnya.
Melihat Satria yang hanya diam membisu, wanita itu menyandarkan kepalanya di punggung Satria.
"Kenapa kau tak menemui aku lagi?" Wanita itu masih berbisik.
"Ny... Nyonya..." Satria terbata. Ia menelan air liurnya, melihat tangan Natasya yang sudah mulai bergerak-gerak menyentuh pahanya. Tubuhnya masih belum bisa ia gerakkan.
Ketika itu ponsel Satria berdering, seperti baru mendapatkan kembali kesadaran dan tenaganya. Satria berusaha melepaskan tangan Natasya yang dengan mudahnya lepas. Satria merogoh saku celananya, ia mengeluarkan ponselnya dan tertera nama ibu di layar ponsel.
"Ibumu?" Bisik Natasya di telinga Satria. Satria yang kaget mendengar suara Natasya di telinganya, tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya.
Dengan canggung Satria turun dari motornya, mengambil ponselnya yang terjatuh di bawah motor.
"Ups, layarnya pecah," Natasya menutup mulutnya dengan tangannya.
"Tidak apa nyonya, ini masih bisa nyala," jawab Satria polos.
"Aduh bagaimana ini? Gara-gara aku ponselmu jadi rusak," Natasya menunjukkan wajah iba pada Satria.
"Tidak apa nyonya," Satria memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya.
"Tidak apa bagaimana? Layarnya pecah, ponsel itu pasti sudah tidak bisa dipakai," Natasya berdiri di hadapan Satria.
"Coba sini, biar aku liat," Natasya hendak merogoh saku celana Satria, untung saja Satria dengan cepat melangkah mundur.
"Benar tidak apa nyonya," Satria memegangi saku celananya.
"Coba aku liat dulu," Natasya menengadahkan tangannya pada Satria.
Karena takut Natasya akan merogoh saku celananya lagi. Satria akhirnya mengeluarkan ponsel miliknya dan menyerahkan pada Natasya.
"Aduh, ini sih parah. Biar aku ganti ya," Natasya langsung memasukkan ponsel Satria ke dalam tasnya. Ia mengeluarkan satu dari dua ponsel miliknya yang ada di dalam tasnya. "Ini, kau pakai ini saja dulu. Biar ponsel ini aku perbaiki dulu, oke?"
Tanpa meminta persetujuan Satria, Natasya sudah menaruh ponsel miliknya ke saku baju Satria. Lalu Natasya pergi meninggalkan Satria yang bingung dengan apa yang terjadi.
Ketika Natasya sudah tak ada di hadapannya, Satria gelagapan sendiri. "Nyonya, tak perlu diperbaiki. Itu masih bisa dipakai," teriak Satria.
Natasya tak menggubris perkataan Satria, ia berlalu masuk ke dalam gedung sekolah. Meninggalkan Satria yang diam mematung memandang kepergian Natasya.
"Menarik," ucap Natasya sambil tersenyum saat ia sudah berada di dalam gedung.
__ADS_1