
Malam hari tiba, semua para pemuda dan pemudi yang tinggal di desa diundang untuk makan malam bersama dengan Satria dan Melisa.
Seorang pemuda yang dikenal sebagai ketua para pemuda memimpin untuk dimulainya acara.
"Baiklah, teman-teman semuanya. Malam ini kita diundang makan malam bersama oleh putra putri dari bapak Steve. Terima kasih tuan muda Satria dan nona Melisa, karena telah mengundang kami malam ini," ucap seorang ketua pemuda yang dikenal bernama Arya.
"Jangan panggil tuan muda, panggil Satria saja," ucap Satria yang merasa sungkan karena dipanggil dengan sebutan tuan muda.
"Ternyata anda seperti nyonya Natasya dan tuan Steve yang rendah hati," puji Arya.
Satria hanya tersenyum menanggapi ucapan Arya.
"Aku juga keberatan dipanggil nona, lagi pula kami mengundang teman-teman semua malam ini hanya sekedar untuk berkenalan lebih dekat," tambah Melisa.
"Iya benar, saya harap kalian semua jangan ada yang merasa sungkan pada kami," pinta Satria.
Semua orang mengangguk, mereka tampak sangat senang berkenalan dengan putra dan putri dari Steve. Sebelumnya mereka hanya sekedar saling sapa tanpa pernah berbincang-bincang lebih dalam.
Malam ini, melalui acara yang dibuat oleh Melisa dan Satria. Mereka ingin membuat semua pemuda dan pemudi semakin mengenalnya.
"Ayo, silahkan dimulai acara makan-makannya," ajak Satria.
Mereka semua dengan semangat menyantap hidangan yang dibuat oleh Satria dan Melisa.
"Wah, enak sekali... Apa ini kalian sendiri yang membuatnya?" Tanya salah seorang pemuda.
"Iya, bagaimana, kalian suka?" Tanya Melisa.
"Tentu saja, ini enak sekali. Kami belum pernah makan makanan seenak ini," timpa yang lainnya.
"Benar, makanan ini mirip seperti makanan yang ada di televisi. Ini makanan orang kaya," tambah seorang lagi.
Satria dan Melisa hanya tersenyum senang melihat kebahagiaan yang nampak pada raut wajah para muda mudi itu.
"Makan yang banyak, kami sengaja membuat ini untuk kalian semua," ucap Melisa.
"Wah, kami sungguh merasa sangat tersanjung, atas jamuan yang kalian berikan," ucap Arya.
"Tak masalah, lagi pula sebenarnya ada yang ingin kami katakan pada kalian semua," Satria akhirnya mengutarakan maksud dan tujuan ia dan Melisa mengundang para muda mudi itu.
"Ada apa? Apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya Arya selaku perwakilan muda mudi itu.
"Sebelumnya kami mau meminta maaf pada teman-teman semua jika permintaan kami mungkin akan merepotkan teman-teman semua," Melisa memulai percakapan serius.
__ADS_1
"Tak masalah, lagi pula pak Steve dan ibu Natasya juga sangat baik pada kami. Katakanlah apa yang bisa kami lakukan untuk membantu kalian?"
"Begini, ayah kami ini kan hanya tinggal seorang diri di rumah ini. Dan kami berdua tidak bisa datang menjenguk setiap hari. Kami juga sudah mengajak ayah untuk kembali tinggal di kota bersama kami. Namun ayah menolaknya," jelas Satria.
"Benar, dan kami juga tidak bisa berlama-lama tinggal di sini karena kami memiliki pekerjaan di kota. Untuk itulah kami meminta bantuan pada kalian untuk menjaga ayah kami di rumah ini," Melisa melanjutkan.
"Menjaga itu maksudnya?"
"Kami ingin kalian tinggal di rumah ini bersama ayah kami," ucap Satria.
"Hah? Kami? Tinggal di rumah ini?" Mereka bertanya seolah tak percaya mereka diminta tinggal di rumah besar ini.
"Iya, kalian bisa menginap di sini secara bergantian," ucap Melisa.
Para muda mudi desa saling bertatapan satu sama lain.
"Tapi, apa pak Steve memperbolehkan kami menginap di sini?" Tanya Arya.
"Tentu saja, kami sudah meminta izin pada ayah sebelum mengatakannya pada kalian," jawab Satria.
"Kami sih tidak keberatan jika hanya sekedar diminta menemani pak Steve di rumah ini. Hanya saja kami takut pak Steve merasa keberatan dengan kehadiran kami di rumah ini," ucap Arya seraya perwakilan para muda mudi.
"Kami sangat senang dan sangat berterima kasih jika teman-teman semua bersedia membantu kami menemani ayah kami selagi kami tak ada," ucap Melisa.
Mereka akhirnya sama-sama sepakat untuk menemani Steve di rumah besar itu secara bergantian. Tapi hal ini hanya berlaku untuk para pemuda saja, sedangkan para pemudi hanya diminta untuk membantu menyiapkan makanan dan bersih-bersih rumah saja.
"Tapi ngomong-ngomong, pak Steve ada dimana ya? Kok kami tak melihatnya sejak tadi," Tanya Arya.
"Ayah kami sudah tidur sejak tadi," jawab Satria.
"Wah, kenapa kalian tidak mengatakannya sejak tadi? Kami jadi tak enak hati karena sejak tadi kami berisik sekali," ucap salah seorang dari mereka.
"Tak apa, ayah malah merasa senang jika rumah ini ramai," Melisa menenangkan.
"Oh..." Semua orang serempak mengangguk paham.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, para pemuda dan pemudi desa pun akhirnya berpamitan.
"Syukurlah... Aku merasa lega sekarang, setidaknya aku bisa fokus bekerja karena ayah sudah ada yang menemani di sini," ucap Satria.
"Jadi selama ini kamu terus memikirkan ayah yang tinggal sendirian di sini?"
"Tentu saja, memangnya kau tidak?"
__ADS_1
"Aku? Biasa saja," jawab Melisa.
"Hah, susah memang. Ku pikir kau sudah berubah, ternyata kau masih saja dingin seperti dulu," ucap Satria sambil menggoda Melisa.
"Kau ini..." Melisa menggerutu lalu berjalan menghentakkan kaki meninggalkan Satria.
"Hei, itu kenyataan kan?" Satria mengejar Melisa yang sudah masuk ke kamarnya.
"Kenapa kau ikut masuk?" Tanya Melisa.
"Hehe..." Satria malah nyengir saat sadar dirinya sudah masuk ke dalam kamar Satria.
"Kau merindukanku?" Melisa berbalik dan ingin mencoba menggoda Satria.
"Hehe, aku kan sedang berjumpa denganmu. Kenapa aku merindukanmu?"
"Maksudku, apa kau rindu dengan kehangatan tubuhku?" Melisa berjalan semakin mendekati Satria.
"Apa? Kehangatan? Aku tak mengerti maksudmu!" Satria perlahan berjalan mundur keluar dari kamar Melisa.
Melisa dengan sigap menarik tangan Satria, hingga membuat Satria kembali berada di dalam kamar Melisa.
"Mel, jangan macam-macam."
"Aku tidak macam-macam. Aku hanya semacam saja," Melisa masih terus menggoda Satria.
"Mel, sabarlah... Sebentar lagi aku akan menemui ayahmu untuk meminta izinnya menikahimu," Satria nampak sedikit panik saat Melisa semakin giat menggodanya.
"Kau mau menemui ayahku? Kapan?"
"Mmm... Bagaimana kalau besok?" Usul Satria.
"Besok? Kau yakin?" Tanya Melisa.
"Mmm..." Satria mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu sekarang juga kita harus pergi ke bandara agar bisa ikut penerbangan pagi," ucap Melisa.
"Mmm... Maksudku besok baru kita berangkat dari sini, kita kan harus pamit terlebih dahulu pada ayah Steve."
"Kau bukan sedang menghindariku kan?"
"Mel, maaf... Aku hanya tak yakin bisa menahannya jika terus bersama denganmu," Satria semakin gugup.
__ADS_1
"Kalau begitu lepaskan saja," Melisa semakin menjadi-jadi.
"Tidak Mel, aku tak ingin mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya," Satria berkata serius meyakinkan Melisa.