Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Menerima Tawaran


__ADS_3

Akhir pekan, seharusnya menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi para pelajar. Setidaknya mereka akan istirahat sejenak dari rutinitas belajar yang menjenuhkan.


Namun tidak bagi Satria, ia masih terus semangat membuka bukunya meski akhir pekan. Ditambah cuaca hari ini sangat mendukung untuk kembali menarik selimut dan kembali bermimpi.


Satria sudah bertekad akan mulai merajut mimpinya mulai saat ini. Kedua orang tuanya sudah mendukungnya, ditambah ada donatur yang selalu setia memberikan dukungan baik moril maupun materil.


Satria memajang sebuah poster di dinding kamarnya, poster yang bergambar sebuah universitas ternama. Universitas yang menjadi dambaan para pelajar berprestasi seperti Satria. Tempat dimana berkumpulnya orang-orang cerdas dan jenius. Banyak orang-orang ternama dunia yang merupakan lulusan universitas itu.


Satria terus memandangi poster itu, semangatnya selalu membara ketika membayangkan dirinya bisa menjadi salah satu mahasiswa di universitas nomor satu dunia itu. Cita-citanya saat ini adalah bisa diterima di sana. Oleh sebab itu, ia belajar matia-matian untuk menghadapi saingan dari seluruh dunia.


Ada setumpuk buku latihan soal untuk tes masuk universitas, buku itu ia dapat dari Reni sekertaris Natasya. Tak hanya buku latihan soal, beberapa buku biografi tentang perjalanan hidup orang-orang sukses juga terpajang rapi di kamarnya. Buku-buku yang akan terus menjadi sumber inspirasinya untuk lebih semangat menggapai mimpinya.


Jika ditanya, apa cita-cita Satria? Ia sendiri bahkan tak pernah berani memikirkan sebuah cita-cita. Bisa bersekolah saja sudah sangat beruntung baginya. Namun seolah ada angin segar yang datang ke dalam hidupnya, meski dengan cara yang aneh tapi angin segar itu sudah cukup membuat Satria merasa bisa memiliki cita-cita seperti orang-orang lain di sana.


Ponsel Satria berdering, ada nama Melisa tertera di layar ponselnya.


"Halo," sapa Satria.


"Sat, kamu lagi apa?" Melisa.


"Belajar," Satria.


"Belajar terus, gak capek?" Melisa.


"Mana boleh capek? Perjalanan masih panjang Mel, belum saatnya buat mengeluh capek," Satria.


"Iya, aku tau. Kamu beneran Sat mau kuliah di luar negeri?" Melisa.


"Iya Mel, aku mau ikut program beasiswa ke sana makanya sekarang aku belajar keras biar bisa dapet beasiswa itu," Satria.


"Oh gitu," Melisa menghela nafas. "Tapi ya udahlah, dari pada kamu dapet beasiswa dari Puspa Tunggal. Mending sekalian kamu dapet beasiswa di luar negeri biar kamu jauh dari ibu aku," Melisa.


Satria hanya diam tak menanggapi ucapan Melisa.


"Nanti kalau kamu keterima di sana, aku juga mau cari Universitas di sekitaran kampus kamu deh. Biar kita bisa tetep sama-sama waktu kuliah nanti," Melisa.


"Kamu kenapa ga ikutan masuk di universitas yang aku tuju?" Satria.


"Aduh, enggak ah. Berat banget kayanya di sana, isinya pasti kutu buku semua. Baru ngebayangin aja aku udah pusing," Melisa.


Satria tersenyum, "ada-ada aja kamu. Ya gak semua orang pinter itu kutu buku."


"Tapi tetep aja, identiknya mereka itu kutu buku," Melisa.


"Mel, aku mau terusin belajar dulu ya. Kamu juga belajar sedikit-sedikit. Kita sebentar lagi kan ujian tengah semester," Satria.


"Enggak ah, aku mau ketemuan sama om Steve," Melisa.


"Kamu masih suka nemuin om Steve?" Satria.


"Iya, tapi kamu ga usah cemburu. Aku nemuin dia sama Dion kok," Melisa.

__ADS_1


"Aku gak cemburu Mel, aku cuma mau kamu hati-hati. Gak tau kenapa aku masih punya firasat ga enak soal dia," Satria.


"Iya Satria, iya..." Melisa lalu menutup sambungan teleponnya sambil tersenyum senang karena Satria masih menunjukkan rasa cemburunya meski tak mau mengakui. Tapi yang aneh, mengapa Satria tak sedikit pun terlihat cemburu saat melihat ia bersama Dion.


Satria sebenarnya merasa sedikit khawatir saat tau Melisa akan menemui Steve hari ini, namun ia berusaha menenangkan pikirannya. Setidaknya Melisa tak menemui Steve seorang diri.


Satria kembali fokus pada buku latihan soalnya. Satria teringat pesan Reni saat memberikan buku-buku itu.


"Ini kesempatan emas yang tak bisa kau temukan dimana pun, nyonya Natasya membantumu untuk bisa ikut program beasiswa internasional. Kau tau kan, tak semua orang bisa dengan mudah mendapat kesempatan ini. Kau benar-benar beruntung."


Satria menghela nafas panjang, mengingat bagaimana dirinya bisa menerima tawaran itu.


Flashback


Setelah menerima pesan yang berisikan sebuah alamat, Satria pergi menuju ke alamat yang di maksud. Tapi sebelumnya ia mengantar Melisa pulang terlebih dahulu, Satria tak ingin Melisa tau jika ia berhubungan dengan ibunya.


Sampai di alamat yang dituju, Satria memarkirkan motornya di halaman yang tidak terlalu luas. Halaman yang penuh dengan tanaman hias. Dari luar, rumah itu nampak begitu nyaman dan asri.


Satria memencet bel yang terletak di samping pintu masuk rumah. Selang beberapa menit, Natasya membukakan pintu.


"Maaf ya lama, aku baru saja mengganti pakaian. Kau bilang kau tak suka jika aku memakai pakaian seksi," Natasya tersenyum ramah pada Satria.


"Tidak apa nyonya," Satria mengangguk. Ia melihat baju yang dikenakan Natasya, sebuah gaun yang panjangnya hingga menutupi kakinya, meski bagian lengan sedikit terbuka namun Natasya menutupinya dengan selendang. Sehingga tak membuat Satria merasa risih.


"Masuklah," Natasya mengajak Satria masuk ke dalam rumahnya.


"Ini rumahku, sebelumnya aku tinggal di rumah ini bersama Steve. Namun Steve sudah tak lagi tinggal di sini, kau tau kan bahwa kami sudah putus?"


"Duduklah," Natasya mempersilahkan Satria duduk.


Satria duduk di hadapan Natasya.


"Bagaimana? Sudah kau pikirkan tawaranku semalam?" Natasya.


"Sebelumnya saya mohon maaf nyonya, saya hanya ingin memastikan satu hal. Semalam anda bilang ingin berinvestasi pada saya, namun saya masih belum tau apa yang harus saya berikan pada anda sebagai hasil dari investasi itu?" Satria.


"Simpel saja, aku hanya ingin kau berada di pihakku selamanya," Natasya.


Satria mengernyitkan dahinya, Natasya melihat Satria masih belum paham dengan maksud perkataannya.


"Hah, kau tak mengerti maksudku? Begini saja, jika kau lulus nanti. Bekerjalah padaku," Natasya sebenarnya tak mau berbelit-belit memberi penjelasan pada Satria. Intinya ia hanya ingin mengikat Satria, ia tak rela melepaskan Satria begitu saja.


"Hanya itu?" Tanya Satria.


Natasya mengangguk, ia juga memberikan selebaran yang berisi profil sebuah universitas ternama di negara N. Itu adalah universitas terbaik, nomor satu sedunia.


"Apa kau berniat masuk ke sini?" Natasya menunjuk brosur itu.


Satria memandang dengan seksama, "ini bukannya universitas nomor satu dunia? Saya tak pernah memimpikannya nyonya."


"Kenapa? Bukankah kau orang yang kompeten? Lagi pula di sana juga ada program beasiswanya," lanjut Natasya.

__ADS_1


"Sekalipun saya berhasil mendapat beasiswanya, tapi untuk tinggal di luar negeri juga butuh biaya yang besar," ucap Satria lirih.


"Kau lupa padaku? Aku adalah investormu," Natasya menunjuk dirinya sendiri.


Satria terdiam.


"Kenapa? Kau tak masuk ke sana?" Natasya.


"Bukan begitu nyonya, tapi bukankah sulit sekali masuk ke universitas ini?" Satria terlihat ragu.


"Hey, hey... Kau benar-benar lupa padaku?" Natasya menjentikkan jarinya.


"Anda bisa membantuku masuk ke universitas ini?" Satria.


"Tentu saja," jawab Natasya percaya diri.


Satria menatap Natasya tanpa ekspresi.


"Bagaimana? Kau mau?" Natasya memberi penawaran lagi.


"Dan imbalannya saya hanya bekerja untuk nyonya?" Satria.


"Mmm..." Natasya menganggukkan kepalanya.


"Anda tak akan menggoda saya kan?" Satria.


Natasya menghela nafas, seolah ia hendak membuat suatu keputusan yang berat. "Ya, aku tak akan menggodamu. Aku hanya akan menemanimu setiap hari belajar di sini "


"Hanya menemani?" Satria meragukan ucapan Natasya.


"Kenapa kau tak percaya padaku?" Natasya.


Satria mengangguk.


Natasya mendesah.


"Ayolah Satria, kau tak lihat. Aku sudah memenuhi keinginanmu hari ini," Natasya menunjuk baju yang dikenakannya hari ini, sudah sangat tertutup baginya.


Satria menghela nafas. "Baiklah, tapi anda harus berjanji tak akan menggoda saya lagi."


"Tentu saja, asal kau belajar di sini setiap hari. Aku akan memberikan segala kebutuhan yang kau perlukan. Kau butuh guru les? Aku akan membawanya. Kau butuh buku? Aku akan memberinya. Kau butuh apa lagi?" Natasya terlihat berpikir.


"Terima kasih nyonya," Satria tersenyum pada Natasya.


"Kau menerima tawaranku?" Natasya sudah mulau sumringah.


Satria kembali mengangguk membuat Natasya bersorak gembira.


"Tapi apa yang harus saya katakan pada orang tua saya?" Tanya Satria.


"Katakan saja ini program dari sekolah," Natasya benar-benar merasa senang. Ia tak tau kedepannya akan bagaimana, setidaknya kali ini ia bisa menikmati waktu bersama dengan Satria setiap hari.

__ADS_1


Flashback end.


__ADS_2