Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 99


__ADS_3

Jero mengemudikan mobilnya dalam kecepatan penuh. Dia ingin cepat sampai di mansion keluarganya. Jero benar benar kesal dan sedang dalam keadaan marah, akibat permintaan dari Dina.


Jero berbelok dengan sangat kuat sampai sampai ban mobilnya berderit saat Jero berbelok masuk ke dalam gerbang utama mansion. Satpam yang berada di posnya menatap mobil mewah milik Tuan mudanya yang melaju dengan kecepatan tinggi itu.


"Ada apa dengan Tuan Muda? Tidak biasanya dia seperti itu membawa mobil? Apa Tuan Muda sedang punya masalah berat?" ujar Satpam yang kembali menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Jero.


Tuan Mudanya itu memarkir mobil yang dipakainya sembarangan saja. Padahal Jero terkenal sangat rapi saat memarkir mobil yang telah digunakan oleh dirinya. Tetapi kali ini sama sekali tidak terjadi, lain dari pada biasanya.


Jero masuk ke dalam mansion dengan keadaan marah besar. Dia sama sekali tidak menyapa orang yang ada di dalam mansion. Walaupun itu sudah sangat biasa. Tetapi kali ini selain tidak menyapa wajah Jero juga wajah marah. Sehingga siapapun akan takut saat melihat Jero dalam keadaan seperti itu.


Jero sampai juga di dalam kamarnya. Dia kemudian membuka pakaian kerjanya dengan sangat kasar. Jero kemudian menuju ringan gym pribadi miliknya. Dia meninju samsak yang ada diruangan itu dengan penuh emosi. Jero meninju berkali kali samsak itu dengan sekuat tenaganya.


"Deli, loe akan Terima balasannya nanti" ujar Jero dengan sangat emosi.


Buah. Sebuah tinju mendarat di samsak dengan sangat keras. Andaikan samsak itu manusia, maka dia akan merasakan kesakitan yang amat sangat karena tinju yang diberikan oleh Jero.


"Loe akan rasakan akibat dari tindakan yang telah diminta oleh sahabat baik loe itu. Loe akan merasakannya Deli" ujar Danu berbicara sendirian sambil mengeluarkan emosinya.


"Loe akan mendapatkan balasannya. Gue janji akan hal itu Deli" teriak Jero sekali lagi.


Jero terus meninju samsak dan terus memaki maki Deli setiap tinjunya tepat mengenai sasaran. Jero terus melakukan hal itu sampai dia benar benar lelah. Jero berhenti setelah hatinya puas melakukan tindakan tersebut.


Setelah puas dengan apa yang dilakukannya di ruangan gym. Jero kemudian memilih untuk berendam di bartup kamar mandinya. Jero ingin merilekskan otaknya dan dia akan mulai berpikir bagaimana caranya dia membalas apa yang telah dilakukan oleh Dina dan Deli kepada dirinya.


KAFE BUNDA DELI


"Jadi, Jero sudah minta maaf sama elo?" tanya Dina kepada Deli.


"Sudah, dihadapan Demian lagi, kalau loe nggak percaya sama gue" ujar Deli menjawab pertanyaan yang diberikan untuk kedua kalinya oleh Dina.

__ADS_1


"Syukur deh. Jadi, besok besok dia tidak lagi berbuat hal yang sama kepada karyawannya yang lain" ujar Dina yang sebenarnya ingin memberikan Jero pelajaran bukan ingin mempermalukan Jero.


Tetapi bagi Jero yang terjadi bukan sebaliknya, Jero menganggap kalau Dina sengaja melakukan hal itu kepada dirinya. Jero beranggapan kalau Dina ingin membuat malu Jero di depan orang ramai yang ada di kafe saat itu.


Demian yang sudah merasa terlalu lama di situ berdiri dari duduknya.


"Deli semuanya saya pulang dulu ya. Sudah terlalu malam" ujar Demian sekaligus menyindir Felix yang masih betah duduk di kursinya.


"Sama Demian. Saya juga mau pulang" ujar Felix yang tersindir oleh ucapan Demian.


Dua pria tampan itu kemudian berjalan keluar kafe. Mereka sempat berpamitan dengan Ayah dan Bunda Deli serta Hendri yang baru datang dari arah depan.


Deli, Dina dan Dian kemudian membantu Bunda untuk menutup kafe. Mereka mengambil semua yang terletak di atas meja dan menyusunnya di dalam sebuah keranjang yang memang dikhususkan untuk meletakkan barang barang tersebut.


Setelah selesai dengan semua urusan kafe. Keluarga Bramantya, Dina dan Dian kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka akan menghitung berapa penghasilan kafe hari ini.


"Alhamdulillah Ayah, penghasilan hari ini setengahnya bisa kita tabung" ujar Bunda saat sudah menghitung dan mengurangi dengan modal yang dibelanjakan tadi pagi.


"Kalian bertiga sana istirahat, besok juga akan bekerja kan ya" ujar Ayah meminta Deli, Dina dan Dian untuk beristirahat.


"Ayah, Bunda sebentar ada yang mau Dian sampaikan. Seharusnya yang menyampaikan adalah Papi. Tapi Papi tadi sedang ada urusan jadi tidak bisa datang ke mari. Mungkin besok Papi akan datang" ujar Dian dengan nada formalnya.


"Ada apa Yan, sepertinya serius sekali?" ujar Ayah bertanya kepada Dian.


Ayah bertanya seperti itu karena nada bicara Dian yang terdengar sangat serius saat berbicara sebentar ini.


"Begini Ayah, mulai besok, Kak Hendri sudah harus bekerja di perusahaan sebagai CEO" ujar Dian mengatakan hal penting tersebut kepada keluarga Bramantya.


"Wah keren kamu Hendri. Berarti mulai besok Ayah sendirian dong bekerja di kafe yang pria" ujar Ayah dengan wajah memelas.

__ADS_1


Bunda memukul pundak Ayah.


"Ayah harusnya bangga, anak laki laki Ayah satu satunya bisa menjadi CEO, kenapa harus masang wajah sesedih itu" ujar Bunda kepada Ayah.


"Haha haha, nggak ada Ayah sedih Bunda. Ayah malahan bangga dengan Hendri." ujar Ayah sambil menatap anak laki lakinya itu.


"Hendri, kamu bekerja harus serius. Kamu harus menganggap perusahaan Sanjaya sama dengan perusahaan kita waktu dulu. Kamu harus kerja keras di sana. Ayah tidak mau di bawah kepemimpinan kamu perusahaan Sanjaya semakin mundur" ujar Ayah memberikan wejangan kepada Hendri.


"Ayah maunya di tangan kamu perusahaan Sanjaya semakin maju. Ayah berharap dengan bangkrutnya perusahaan kita bisa menjadi pelajaran bagi kamu saat memimpin perusahaan Sanjaya" lanjut Ayah mengingatkan Hendri akan kegagalan perusahaan Bramantya.


"Kamu jangan sekali sekali percaya dengan orang lain. Percayalah dengan kemampuan diri kamu sendiri. Ayah sangat yakin, kamu bisa memimpin dan membawa perusahaan itu setaea dengan perusahaan Perez, Wijaya Kusuma dan Edwardo" ujar Ayah yang sangat tahu bagaimana kemampuan bisnis seorang Hendri.


"Terimakasih Ayah. Aku tidak akan mengecewakan keluarga kita da juga keluarga Sanjaya. Itu janji aku Ayah" ujar Hendri dengan sangat mantap dan yakin dengan kemampuan dirinya sendiri.


"Terus pakaian kamu gimana Kak? Apa sudah ada?" tanya Deli yang teringat dengan pakaian Hendri yang terbatas itu.


"Tenang aja loe Deli. Gue sebagai kekasih Hendri tidak akan melupakan hal penting itu. Loe bantu gue yuk" ujar Dian mengajak Deli untuk mengambil paperback yang ada di dalam mobil milik Dian.


Deli dan Dian pergi mengambil semua pakaian dan juga sepatu untuk Hendri. Mereka membawa paperback yang sangat banyak itu ke dalam rumah.


"Sayang, ini semuanya untuk kamu." ujar Dian kepada Hendri.


"Kok banyak banget?" tanya Hendri yang heran melihat paperback yang dibawa oleh Dian dan Deli.


"sebenarnya sedikit. Cuma tadi Mami juga ikut membelikan untuk kamu sayang. Makanya jadi banyak seperti ini" kata Dian menjelaskan kepada Hendri kenapa begitu banyak barang yang dibeli oleh Dian.


"Bilang Mami terimakasih ya" ujar Hendri sambil tersenyum.


"Ayuk sudah malam, mari kita beristirahat. Besok semua kalian mau berangkat kerja pagi. Kami juga akan kerja dari pagi" ujar Ayah meminta semua anggota keluarganya untuk beristirahat.

__ADS_1


Keluarga Bramantya kemudian berjalan ke kamar masing masing. Mereka akan beristirahat di dalam kamar. Besok pagi mereka akan kembali melakukan aktifitas seperti biasanya.


__ADS_2