
Felix kemudian kembali ke kamarnya. Sedangkan Dina masuk ke kamar dan beristirahat. Dia sangat tau kalau Felix terkejut mendengar semuanya Tetapi Dina tidak mau Felix tidak mengetahui semua yang terjadi dalam keluarganya.
Dina akan menerima semuanya. Kalau Felix ingin mengakhiri hubungan mereka Dina akan menerimanya, Dina tidak akan membiarkan Juan melakukan sesuatu kepada Felix dan keluarga Edwardo yang lainnya.
Kalau Felix ingin lanjut Dina akan sangat bahagia karena sudah tidak menyimpan cerita apa apa lagi. Semua sudah dikatakan oleh Dina kepada Felix. Semua sudah dibukakan oleh Dina kepada Felix. Cerita masa lalu keluarganya yang hanya segelintir orang yang tau.
Sore harinya hujan deras yang mengguyur negara J sudah berhenti. Angin yang berhembus dengan kencang juga sudah tidak ada lagi.
Jero telah memutuskan untuk makan malam mereka akan diadakan di restoran bukan lagi dengan memanfaatkan room service seperti saat mereka sarapan dan makan siang.
"Felix, loe chat Dina, bilang kalau kita akan makan malam di restoran hotel." ujar Jero memberitahukan kepada Felix dimana mereka akan makan malam.
"Oke Jer" jawab Felix dengan padat dan singkat.
Felix semenjak mendengar cerita Dina tadi agak sedikit syok membayangkan kehidupan Dina di negara A. Kehidupan yang luar biasa menurut Felix. Tapi Felix dapat memaklumi kenapa semua itu terjadi. Felix juga akan melakukan hal yang sama apabila itu terjadi pada keluarganya. Tapi bagaimanapun itu Felix tetap tidak habis pikir dengan semua kejadian yang diceritakan oleh Dina
Felix kemudian mengambil ponsel miliknya. Felix mengetik sesuatu di layar ponsel tersebut.
'Sayang, kita akan makan malam di restoran' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Felix kepada Dina.
'Jam berpa?' Dina membalas pesan chat dari Felix.
"Jero jam berapa?" tanya Felix kepada Jero yang terlihat sudah rebahan di atas ranjang.
"Jam delapan lah. Gue rencana mau tidur bentar" ujar Jero yang merasakan kantuk yang cukup berat di matanya.
Jero memejamkan matanya, dia benar benar sangat luar biasa mengantuk. Dia dari tadi berkutat dengan dokumen dokumen yang di dalamnya terdapat kecurangan yang dengan sengaja dilakukan oleh orang orang yang ada di dalam perusahaan Edwardo. Tak lama nafas Jero sudah teratur, menandakan kalau Jero memang sudah tertidur lelap.
'Sayang, kata Jero jam delapan. Kamu istirahat lagi aja dulu. Aku juga mau tidur sebentar' Felix mengirim pesan chat kepada Dina yang berisi jam berapa mereka akan pergi makan malam.
'Sip sayang. Aku mau tidur sebentar' balas pesan chat dikirimkan oleh Sari kepada Felix.
Felix juga berbaring di ranjang. Dia juga akan beristirahat sebentar menjelang acara makan malam yang direncanakan pukul delapan malam.
Felix berusaha untuk memejamkan matanya, tetapi perkataan perkataan dan cerita cerita Dina terngiang ngiang di telinga Felix. Felix menjadi tidak bisa tidur saat mengingat semua cerita Dina.
__ADS_1
"Gue nggak habis pikir, kekuasaan mereka di negara A benar benar besar. Gimana cara gue masuk ke dalam kehidupan Dina dan Juan?" ujar Felix yang kembali duduk di sofa kamar.
Felix memijit kepalanya yang terasa pusing itu. Dia benar benar tidak habis pikir dengan semua keadaan yang ada.
Jero yang terbangun karena hawa dingin kamar melihat Felix yang sedang memijit kepalanya.
"Kenape loe?" ujar Jero sambil berdiri dan duduk di sofa sebelah Felix.
"Lagi sakit kepala." ujar Felix menjawab jujur pertanyaan dari Jero.
"Tumben loe sakit kepala. Biasanya juga ndak pernah. Segitu banyak kerjaan elo nyantai aja. Sekarang kenapa bisa sakit kepala loe" ujar Jero sambil menatap mata Felix.
"Kayaknya telat makan" lanjut Felix.
"Hah telat makan? Emang loe ibu ibu hamil muda telat makan langsung sakit kepala. Loe jangan pake boong ke gue" kata Jero yang mengetahui kalau Felix sedang menyimpan sesuatu dari dia.
"Nggak ada yang dibohongin" ujar Felix menjawab perkataan Jero.
"Yakin loe?" tanya Jero yang tidak yakin dengan jawaban Felix.
"Oke" ujar Jero yang tidak mau memaksa Felix untuk menceritakan apa yang membuat dia menjadi sakit kepala.
Jero kemudian berdiri dan mengambil handuknya. Dia ingin berendam sebentar di batu up. Jero ingin merilekskan pikirannya yang sedang mumet karena dokumen dokumen yang dibacanya tadi siang.
Sedangkan Felix tetap setia dengan pusing di kepalanya. Tanpa disadari Felix, dia sudah terlelap tidur. Sedangkan Jero masih setia berendam dalam bathup.
Kamar sebelah Deli dan Dina juga masih tertidur. Mereka sama sekali tidak ada yang berniat untuk bangun. Rasa malas memenuhi pikiran mereka.
Tepat pukul tujuh sore, ponsel milik Dina berdering cukup nyaring. Dina melihat siapa yang menghubunginya.
"Felix" ujar Dina.
Dina kemudian melihat jam di ponselnya. Ternyata sudah pukul tujuh malam.
"Hallo sayang" Dina menyapa Felix saat dia baru mengangkat panggilan telpon itu.
__ADS_1
"Kalian berdua udah mandi?" tanya Felix kepada Dina.
"Belum sayang. Kami baru aja bangun. Kami mandi bentar ya. Apa Jero dan kamu sudah siap sayang?" tanya Dina.
" Ini mau mandi" jawab Felix.
"Ya udah kamu mandi dulu sana. Aku juga akan mandi" ujar Dina.
Dina memutuskan panggilan telepon nya dengan Felix. Dina tau Felix sedang bimbang. Semua itu tergambar nyata dari jawaban Felix yang singkat singkat.
"Terserah lah apa yang terjadi ke depannya." ujar Dina.
Dina kemudian mengambik handuk. Dia akan mandi sebentar dan akan langsung bersiap siap.
"Deli, Deli bangun Deli udah jam tujuh lewat. Kita janjian makan malam dengan Jero dan Felix jam delapan" ujar Dina membangunkan Deli yang masih terlelap itu.
Deli mengusap matanya. Dia berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih bertebaran dimana mana. Deli kemudian melihat Dina yang sudah memakai pakaian untuk pergi makan malam.
"Jam berapa Din?" tanya Deli.
"Tujuh lewat dua puluh" jawab Dina sambil melihat jam yang ada di ponselnya.
"Waduh. Gue mandi kucing ajalah. Dari pada mereka bedua teriak teriak pula nanti" ujar Deli yang langsung bangun dari ranjang dan menyambar handuknya.
Deli mendi dengan sangat lihat. Dia benar benar hanya mandi kucing saja. Setelah itu Deli memakai pakaian untuk makan malam. Dia merias wajahnya dengan riasan natural. Deli tidak ingin ribet dengan makeupnya saat waktu sudah mepet seperti sekarang ini. Mereka tepat selesai bersiap siap jam delapan kurang seperempat.
Mereka berdua kemudian menuju kamar Felix dan Jero. Mereka malas menunggu Felix dan Jero di kamar. Jadi, mereka memutuskan untuk mendatangi kamar Felix dan Jero.
Jero dan Felix juga telah selesai. Mereka berdua membuka pintu kamar dan melihat Deli dan Dina yang sudah menunggu di depan kamar mereka.
"Udah dari tadi?" tanya Jero kepada Deli.
"Tidak Tuan. " jawab Deli.
Mereka be
__ADS_1