Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 7


__ADS_3

"Bun, Deli berangkat ke kantor dulu, sarapannya di kantor aja, udah nggak ke kejar kalau Deli harus sarapan di rumah Bunda. Uang katupek gulai yang dua bungkus udah Deli masukin kotak. Jadi, Deli nggak ada utang uang katupek lagi ya Bunda." ucap Deli kepada bunda yang sedang sibuk membungkus pesanan katupek gulai paku, pesanan dari kantor lurah. Pesanan katupek gulai untuk sarapan luar biasa banyak berdatangan setiap harinya. Hal ini membuat keuangan keluarga menjadi semakin baik.


"Iya sayang hati hati. Kamu masih pake mobil kak Hendri?" tanya Bunda sambil mengelap tangannya yang terkena cipratan kuah gulai paku.


"Iya Bun. Dah Bun. Assalamualaikum" Kata Deli sambil.menyambar tiga kantong katupek gulai tunjang yang sudah dibungkusnya dari tadi. Deli bersalaman dengan Bunda, kebiasaan keluarga yang sudah dari dahulu di terapkan oleh Ayah.


Deli kemudian melajukan mobilnya menuju kantor. Deli melaju dengan kecepatan agak tinggi. Dia harus menyiapkan katupek yang di bawanya tadi untuk presiden direktur dan asisten yang terkenal galak itu. Deli tidak mau kena marah hanya gara - gara telat menyajikan katupek gulai tunjang pesanan kedua bos besarnya.


Deli memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus karyawan kantor. Setelah merapikan penampilannya di dalam mobil, Deli langsung masuk dan menuju pantry sebelum dia masuk keruangannya. Deli memindahkan katupek gulai tunjang ke atas dua piring. Setelah selesai Deli meletakkan dua piring katupek gulai tunjang dan sepiring kerupuk serta dua gelas kopi. Selesai merapikan sarapan untuk presiden direktur dan asisten Deli kambali menuju mejanya. Deli juga memindahkan katupek gulai toco untuk dirinya sendiri. Deli benar benar merasa lapar saat ini. Dia terakhir makan adalah sore sepulang dari kantor.


Belum sempat Deli menyuap katupek ke dalam mulutnya. Tiba tiba pintu lift terbuka. Deli meletakkan sendoknya kembali. Dia harus berdiri menyambut presiden direktur dan juga asisten. Itu adalah SOP bekerja di perusahaan ini.


"Deli jadi kamu bawakan saya sarapan seperti yang kamu makan kemaren" tanya Jero sambil menatap ke meja kerja Deli, dimana di sana sudah tersedia sepiring katupek gulai kuah toco.


" Sudah di meja Bapak, Saya menyiapkan dua piring, untuk Bapak dan asisten. Saya juga sudah menyiapkan dua gelas kopi sebagai minumannya." ujar Deli menyampaikan apa yang sudah disiapkannya untuk sarapan kedua petinggi di perusahaan itu.


Jero kemudian melangkah masuk kedalam ruangannya. Dia sudah tidak sabar pengen mencicipi Katupek gulai tunjang yang dibawa oleh Deli.


Tiba tiba Felix berhenti di meja Deli, Felix menatap lama ke sarapan Deli. "Kenapa punya kamu sekarang berbeda?" ucap Felix.


"Oh ini namanya katupek gulai toco pak Felix." kata Deli sambil mengangkat piring sarapannya. Kali ini Deli sengaja membawa menu yang berbeda supaya para karyawan di kantor bisa tahu kalau di kafenya banyak tersedia pilihan menu katupek gulai.

__ADS_1


"Ada berapa katupek dijual orang tua kamu di kafe itu?" Felix penasaran dengan macam macam katupek yang dijual bunda Deli.


"Macam macam Pak, kalau Bapak penarasan langsung aja ke kafe Bunda, Pak. Buka dari jam enam pagi sampai jam sebelas malam." promosi Deli kepada Felix.


"Kapan kapan" jawab Felix.


Felix kemudian melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Jero. Jero sedang menikmati katupek gulai tunjang disertai dengan kerupuk yang melimpah. Felix langsung saja melahap katupek gulai tunjang yang satu piring lagi. Mereka berdua benar benar menikmati katupek gulai tunjang yang dibawakan oleh Deli. Mereka sangat suka dengan rasa katupek tersebut.


"Enak Jer. Kapan kapan kita ke kafe Deli aja. Nanti gue minta alamatnya." ujar Felix yang ingin merasakan sensasi makan katupek gulai tunjang di tempat, pasti rasanya lebih nikmat dari pada di bungkus seperti ini. Belum lagi gorengan pendampingnya, Felix tidak sabar ingin makan ke sana.


"Sip. Sepertinya makan di sana lebih nikmat." Jero setuju dengan ide yang diberikan oleh Felix, dia juga penasaran dengan bagaimana sensasi makan di kafe Bunda Deli.


Jero dan Felix menikmati sarapan mereka dengan sangat lahap. Baru sekali ini mereka memakan sarapan yang nikmat seperti ini. Apalagi ini adalah sebenarnya makanan kampung bukan makanan seperti yang biasa mereka makan, tapi rasanya luar biasa nikmat. Membuat Jero dan Felix akan ketagihan dengan menu katupek dari kafe Bunda Deli.


"Deli keruangan sekarang" kata Jero melalui sambungan telepon kantor.


Deli kemudian masuk ke dalam ruangan Jero, ruangan presiden direktur yang ditata dengan warna hitam dan putih benar benar warna maskulin. Ruangan yang menggambarkan kepribadian penghuninya, dimana penghuninya sangat tegas dan disiplin dalam hal apapun. Deli menatap dan menghafal setiap sudut ruangan. Dia tidak ingin waktu Jero memintanya mengambil sesuatu di dalam ruangan, Deli tidak hafal ruangan tersebut.


" Ya Tuan. Ada perlu apa memanggil saya Tuan."


"Duduk dulu Del. Jadi minggu depan kamu tidak usah masuk kantor ya, selama seminggu?"

__ADS_1


Deli menatap tidak percaya kepada Jero. Apa kesalahannya baru pada hari ke lima bekerja sudah di pecat. Rasanya Deli tidak pernah salah dalam menyusun jadwal Jero dan Felix. Dia sudah bekerja dengan maksimal dan cekatan, Deli selalu berusaha meminimalisir kesalahan dalam pekerjaannya.


"Bapak pecat saya Pak, Apa salah saya Pak?" tanya Deli dengan air mata yang sudah menganak sungai.


"Tidak. Kami besok ada perjalanan bisnis ke negara I. Kebetulan saya tidak membawa kamu untuk pergi. Saya akan pergi dengan Felix. Makanya besok saya mintak kamu libur selama seminggu." ujar Jero menerangkan kenapa Deli bisa libur selama seminggu.


"Oh kirain saya di pecat Pak." ujar Deli dengan nafas lega, Deli tidak ingin memiliki CV yang didalamnya dipercat setelah lima hari kerja.


"Sekarang balik ke meja kamu. Siapkan seluruh berkas berkas yang akan saya bawa besok."


Deli kemudian menyiapkan semua keperluan Jero dan Felix perjalanan bisnis ke negara I. Deli dengan semangat mengemasi dokumen dokumen ynag dibutuhkan. Tak terasa jadwal makan siang datang. Deli mengeluarkan kotak bekalnya. Dia makan sambil tetap menyusun dokumen. Jero yang melihat dari cctv tersenyum melihat betapa gesitnya Deli saat bekerja.


Deli selesai menyusun semua dokumen dokumen yang diperlukan Jero bertepatan dengan bel pulang kerja para karyawan. Deli kemudian berdiri, dia bersiap siap untuk menyerahkan semua dokumen pekerjaannya itu.


"Permisi pak. Ini semua berkas yang akan bawa ke Negara I. Saya sudah mencek sebanyak dua kali. Serta satu kali dengan Pak Felix" ujar Deli sambil meletakkan semua dokumen itu di meja kerja Jero.


"Oke Deli. Kamu boleh pulang. Biarkan Felix mengerjakan tambahannya" kata Jero sambil menatap Deli


"Terimakasih pak" ujar Deli.


Deli kemudian mengemasi semua barangnya. Deli langsung saja turun ke lobby dan masuk kedalam mobilnya. Hari ini Deli akan kembali menjadi pelayan di kafe Bunda.

__ADS_1


Sebenarnya bunda sudah melarang, takut Deli kecapekan, tetapi Deli yang sudah biasa kerja keras tidak mempermasalahkan pekerjaannya. Dia sangat senang bekerja, bagi Deli waktu adalah untuk bekerja bukan untuk dibuang percuma, makanya sampai kapanpun Bunda melarang dia untuk bekerja tidak akan bisa.


__ADS_2