
Wangi harum tumisan bumbu tercium menyerbak di mansion utama keluarga Sanjaya. Mami terlihat sangat sibuk di dapur sendirian menyiapkan sarapan untuk keluarga besarnya. Mami pagi ini membuat sarapan berupa nasi goreng spesial dengan tambahan ayam goreng tepung dan juga kerupuk udang. Kami membuat semuanya dengan begitu telaten, dan sudah bisa dipastikan rasanya tidak akan mengecewakan lidah keluarga besarnya itu.
Tepat jam setengah tujuh, Mami telah menyelesaikan memasak semua menu sarapan dan juga sudah menatanya di atas meja makan tidak lupa mami telah membuatkan lemon tea kesukaan semua orang.
Ting tong tong tong, bunyi bel mansion yang ditekan seseorang dari luar. Seorang Maid yang sedang merapikan ruang tamu berjalan membukakan pintu.
"Siapa maid?" tanya Mami dari arah meja makan.
"Tuan Muda Hendri, Nyonya besar" jawab Maid sambil membuka pintu mansion lebar lebar.
Hendri dengan langkah kakinya yang panjang panjang dan berwibawa berjalan masuk ke dalam mansion. Hendri langsung menuju ruang makan, dimana Mami dilihatnya berada di sana.
"Oh Pagi Hendri" ujar Mami saat melihat Hendri sudah berada di ruang makan.
Hendri menyalami calon mertuanya itu.
"Kau udah sarapan?" tanya Mami kepada Hendri.
"Belum Mami. Aku yakin Mami pasti masak sarapan. Makanya aku dari rumah nggak makan sama sekali" ujar Hendri yang memang sengaja tidak makan tadi di rumah karena di larang oleh Bunda.
Bunda mengatakan kepada Hendri kalau Mami ada di mansion, Mami akan selalu memasak untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam. Makanya tadi Bunda melarang Hendri untuk sarapan di rumah. Hendri yang pertamanya tidak mengerti, tetap ingin makan di rumah. Tetapi, setelah dijelaskan oleh Bunda, Hendri menjadi paham dan memilih untuk makan di mansion keluarga Sanjaya.
Semua anggota keluarga akhirnya keluar dari kamar mereka masing masing. Mereka sudah berjalan menuju meja makan.
"Hay sayang. Sudah siap untuk ke perusahaan hari ini?" tanya Dian sambil menyalami tangan Hendri.
__ADS_1
Deli juga melakukan hal yang sama dengan Dian. Dina yang biasanya tidak bersalaman dengan Hendri, akhirnya kali ini juga menyalami Hendri.
"Jadi sayang. Aku akan mulai bekerja besok. Biarkan Papi dan Mami menikmati masa pensiunnya" ujar Hendri yang semalam sudah memikirkan semuanya. Dia sudah memutuskan untuk mulai masuk kantor hari ini.
"Serius Hendri, kamu mulai ke perusahaan hari ini?" tanya Papi dengan sangat antusias.
"Benar Papi. Aku akan ikut rapat dengan Papi dan Dian hari ini di perusahaan. Aku tidak akan memikirkan omongan orang orang." ujar Hendri yang bisa memutuskan semua itu berkat konsultasi dengan kedua orang tuanya di rumah semalam.
"Akhirnya Hendri. Papi sangat senang mendengar keputusan kamu. Kita akan menyelesaikan permasalahan ini sekarang juga. Besok kamu akan Papi umumkan sebagai CEO baru secara sah, dengan mengahadirkan semua manager dan karyawan perusahaan. Baik perusahaan pusat maupun perusahaan cabang" ujar Papi dengan nada bangganya sudah menemukan pengganti dirinya untuk ke depan
"Baik Papi. Hendri menyerahkan semuanya kepada Papi. Bagi Hendri yang paling penting adalah, bisa membenahi dulu semua laporan laporan dan cara kerja karyawan yang sangat longgar itu. Target pertama Hendri adalah itu" ujar Hendri yang kemaren juga sempat membaca grafik jadwal kedatangan para karyawan dan jam pulang mereka.
"Oke.Papi percayakan semuanya kepada kamu. Papi tidak akan ikut campur lagi. Saat kamu butuh Papi sebagai seorang presiden direktur, maka Papi akan membantu. Tapi sembilan puluh lima persen semua keputusan untuk perusahaan ada di tangan kamu" ujar Papi kepada Hendri.
"Jangan seperti itu Papi. Jangan langsung sembilan puluh lima persen" ujar Hendri menolak kepercayaan yang diberikan oleh Papi seutuhnya kepada dirinya.
"sayang" ujar Dian yang tidak mau Hendri berdebat lagi dengan Papi tentang permasalahan angka angka kepercayaan dalam mengambil keputusan.
"Udah lah jangan diributkan lagi hal sepele itu. Terpenting sekarang Hendri sudah akan masuk kantor. Papi dan Mami jadi bisa menikmati hari hari kami. Kami akan selalu mengganggu Ayah dan Bunda Bramantya." ujar Mami yang sudah bisa membayangkan dia akan setiap hari hadir di kafe milik sahabatnya itu.
"Mami jangan gangguin Bunda terus. Nanti bisa bisa Bunda gagal jualan gara gara Mami. Mami nggak boleh gitu" ujar Dian menasehati Mami nya. Serta mencegah keinginan Mami untuk ke rumah Bunda setiap hari.
"Tenang aja kamu Dian. Mami tidak akan menyusahkan dan merepotkan Bunda. Mami akan bantu Bunda untuk berjualan. Kamu tenang saja uajr Mami yang paham kenapa Dian melarang Mami untuk melakukan hal itu.
"Ya lah semoga apa yang Mami katakan akan terbukti kebenarannya" ujar Dian mengalah dan memilih untuk tidak memperpanjang percakapannya dengan Mami. Percakapan yang non faedah dan hanya buang buang energi saja.
__ADS_1
"Sudah ayuk makan. Bentar lagi Papi harus berangkat ke perusahaan dengan Hendri dan Dian" ujar Papi mulai menyuap sesendok sarapannya ke dalam mulut.
Deli menatap Hendri. Dia memberikan dua jempolnya kepada Kakak satu satunya itu. Kakak yang akhirnya diterima dengan baik di keluarga Sanjaya. Salah satu keluarga pebisnis hebat. Deli berharap kakaknya akan kembali di pandang oleh orang lain. Bukan seperti sekarang yang hanya di pandang sebelah mata saja.
Mereka akhirnya selesai juga menikmati sarapan pagi yang luar biasa enak itu.
"Deli, loe langsung ke perusahaan atau ke rumah Bunda dulu?" tanya Dina yang sudah mendapatkan pesan chat dari Felix tentang permasalahan yang sedang terjadi antara Deli dengan Felix dan Jero.
"Ke perusahaan Din. Emang kenapa?" tanya Deli penasaran. Deli tidak mau Dina mengetahui apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Deli tidak mau Dina marah kepada Jero dan membatalkan perjanjian bisnis yang telah mereka buat.
Deli sangat mengetahui bagaimana sifat Dina. Dina akan lebih memilih kehilangan proyek dari pada sahabatnya di hina oleh orang lain.
"Oo oo oo ke perusahaan. Gue kira ke rumah Bunda dulu" ujar Dina nampak kecewa karena Deli tidak pulang ke rumah dan memilih untuk pergi ke perusahaan.
"Emang ada apa dengan rumah? Gue nanti rencana makan siang ke rumah." jawab Deli yang memang berencana untuk izin pulang cepat hari ini kepada kedua bos besarnya itu.
"Oo oo. Okelah kalau gitu." ujar Dina.
Empat buah mobil bergerak meninggalkan mansion keluarga Sanjaya. Mereka menuju tujuan masing masing. Dua mobil akan menuju perusahaan Sanjaya sedangkan yang dua lagi dengan tujuan yang berbeda pula.
"semoga mereka semua bisa menyelesaikan permasalahan di perusahaan Sanjaya" ujar Mami berdoa dalam hatinya saat sudah memastikan keempat mobil telah hilang di telan tikungan jalan.
"Gue pastiin Jero akan menerima akibat ucapannya kepada elo Deli" ujar Dina dalam hatinya sambil mengcengkram erat kemudi nya.
"gue akan pastikan kalian berlima mengakui kesalahan kalian" ujar Hendri yang aura kepemimpinan dan CEO nya sudah kembali lagi.
__ADS_1
Aura yang dahulu sangat ditakuti oleh rekan bisnis dari perusahaan Bramantya. Semua orang tau siapa Hendri, makanya perusahaan Sanjaya sangat bersyukur bisa menempatkan Hendri sebagai seorang CEO.